PENATALAKSANAAN LUKA BAKAR (COMBUSTIO)
PENATALAKSANAAN LUKA BAKAR (COMBUSTIO)
Oleh :
Tutik Rahayuningsih, S. Kep.,Ns.
A. DEFINISI
Luka bakar (combustio/burn)
adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak langsung atau terpapar
dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik (electrict), zat
kimia (chemycal), atau radiasi (radiation
B. INSIDENSI
B. INSIDENSI
Perawatan luka
bakar mengalami perbaikan/kemajuan dalam dekade terakhir ini, yang
mengakibatkan menurunnya angka kematian akibat luka bakar. Pusat – pusat
perawatan luka bakar telah tersedia cukup baik, dengan anggota team yang
menangani luka bakar terdiri dari berbagai disiplin yang saling bekerja sama
untuk melakukan perawatan pada klien dan keluarganya.
Luka bakar
merupakan penyebab kematian ketiga akibat kecelakaan pada semua kelompok umur.
Laki-laki cenderung lebih sering mengalami luka bakar dari pada wanita,
terutama pada orang tua atau lanjut usia ( diatas 70 th).
C. ETIOLOGI
Luka bakar dikategorikan menurut
mekanisme injurinya meliputi:
1. Luka Bakar Termal
Luka bakar thermal (panas) disebabkan
oleh karena terpapar atau kontak dengan api, cairan panas atau objek-objek
panas lainnya.
2. Luka Bakar Kimia
Luka bakar
chemical (kimia) disebabkan oleh kontaknya jaringan kulit dengan asam atau basa
kuat. Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan banyaknya jaringan yang
terpapar menentukan luasnya injuri karena zat kimia ini. Luka bakar kimia dapat
terjadi misalnya karena kontak dengan zat – zat pembersih yang sering
dipergunakan untuk keperluan rumah tangga dan berbagai zat kimia yang digunakan
dalam bidang industri, pertanian dan militer. Lebih dari 25.000 produk zat
kimia diketahui dapat menyebabkan luka bakar kimia.
3. Luka Bakar Elektrik
Luka bakar
electric (listrik) disebabkan oleh panas yang digerakan dari energi listrik
yang dihantarkan melalui tubuh. Berat ringannya luka dipengaruhi oleh lamanya
kontak tingginya voltage dan cara gelombang elektrik itu sampai mengenai tubuh.
4. Luka Bakar Radiasi
Luka bakar
radiasi disebabkan oleh terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe injuri ini
seringkali berhubungan dengan penggunaan radiasi ion pada industri atau dari
sumber radiasi untuk keperluan terapeutik pada dunia kedokteran. Terbakar oleh
sinar matahari akibat terpapar yang terlalu lama juga merupakan salah satu tipe
luka bakar radiasi.
D.
EFEK
PATOFISIOLOGI LUKA BAKAR
1. Pada Kulit
Perubahan
patofisiologik yang terjadi pada kulit segera setelah luka bakar tergantung
pada luas dan ukuran luka bakar. Untuk luka bakar yang kecil (smaller burns),
respon tubuh bersifat lokal yaitu terbatas pada area yang mengalami injuri.
Sedangkan pada luka bakar yang lebih luas misalnya 25 % dari total permukaan
tubuh (TBSA : total body surface area) atau lebih besar, maka respon
tubuh terhadap injuri dapat bersifat sistemik dan sesuai dengan luasnya injuri.
Injuri luka bakar yang luas dapat mempengaruhi semua sistem utama dari tubuh,
seperti :
2. Sistem kardiovaskuler
Segera setelah
injuri luka bakar, dilepaskan substansi vasoaktif (catecholamine,
histamin, serotonin, leukotrienes, dan prostaglandin) dari jaringan
yang mengalami injuri. Substansi – substansi ini menyebabkan meningkatnya
permeabilitas kapiler sehingga plasma merembes (to seep) kedalam sekitar
jaringan. Injuri panas yang secara langsung mengenai pembuluh akan lebih
meningkatkan permeabilitas kapiler. Injuri yang langsung mengenai membran sel
menyebabkan sodium masuk dan potasium keluar dari sel. Secara keseluruhan akan
menimbulkan tingginya tekanan osmotik yang menyebabkan meningkatnya cairan
intracellular dan interstitial dan yang dalam keadaan lebih lanjut menyebabkan
kekurangan volume cairan intravaskuler. Luka bakar yang luas menyebabkan edema
tubuh general baik pada area yang mengalami luka maupun jaringan yang tidak
mengalami luka bakar dan terjadi penurunan sirkulasi volume darah
intravaskuler. Denyut jantung meningkat sebagai respon terhadap pelepasan
catecholamine dan terjadinya hipovolemia relatif, yang mengawali turunnya
kardiac output. Kadar hematokrit meningkat yang menunjukan hemokonsentrasi dari
pengeluaran cairan intravaskuler. Disamping itu pengeluaran cairan secara
evaporasi melalui luka terjadi 4-20 kali lebih besar dari normal. Sedangkan
pengeluaran cairan yang normal pada orang dewasa dengan suhu tubuh normal
perhari adalah 350 ml.
Keadaan ini
dapat mengakibatkan penurunan pada perfusi organ. Jika ruang intravaskuler
tidak diisi kembali dengan cairan intravena maka shock hipovolemik dan ancaman
kematian bagi penderita luka bakar yang luas dapat terjadi.
Kurang lebih
18-36 jam setelah luka bakar, permeabilitas kapiler menurun, tetapi tidak
mencapai keadaan normal sampai 2 atau 3 minggu setelah injuri. Kardiac output
kembali normal dan kemudian meningkat untuk memenuhi kebutuhan hipermetabolik
tubuh kira-kira 24 jam setelah luka bakar. Perubahan pada kardiak output ini
terjadi sebelum kadar volume sirkulasi intravena kembali menjadi normal. Pada
awalnya terjadi kenaikan hematokrit yang kemudian menurun sampai di bawah
normal dalam 3-4 hari setelah luka bakar karena kehilangan sel darah merah dan
kerusakan yang terjadi pada waktu injuri. Tubuh kemudian mereabsorbsi cairan
edema dan diuresis cairan dalam 2-3 minggu berikutnya.
3. Sistem Renal dan Gastrointestinal
Respon tubuh
pada mulanya adalah berkurangnya darah ke ginjal dan menurunnya GFR (glomerular
filtration rate), yang menyebabkan oliguri. Aliran darah menuju usus juga
berkurang, yang pada akhirnya dapat terjadi ileus intestinal dan disfungsi
gastrointestia pada klien dengan luka bakar yang lebih dari 25 %.
4. Sistem Imun
Fungsi sistem
immune mengalami depresi. Depresi pada aktivitas lymphocyte, suatu penurunan
dalam produksi immunoglobulin, supresi aktivitas complement dan
perubahan/gangguan pada fungsi neutropil dan macrophage dapat terjadi pada
klien yang mengalami luka bakar yang luas. Perubahan-perubahan ini meningkatkan
resiko terjadinya infeksi dan sepsis yang mengancam kelangsungan hidup klien.
5. Sistem Respiratori
Dapat mengalami hipertensi arteri
pulmoner, mengakibatkan penurunan kadar oksigen arteri dan “lung compliance”.
a.
Smoke
Inhalation.
Menghisap asap
dapat mengakibatkan injuri pulmoner yang seringkali berhubungan dengan injuri
akibat jilatan api. Kejadian injuri inhalasi ini diperkirakan lebih dari 30 %
untuk injuri yang diakibatkan oleh api.
Manifestasi
klinik yang dapat diduga dari injuri inhalasi meliputi adanya LB yang mengenai
wajah, kemerahan dan pembengkakan pada oropharynx atau nasopharynx, rambut
hidung yang gosong, agitasi atau kecemasan, takhipnoe, kemerahan pada selaput
hidung, stridor, wheezing, dyspnea, suara serak, terdapat carbon dalam sputum,
dan batuk. Bronchoscopy dan Scaning paru dapat mengkonfirmasikan diagnosis.
Patofisiologi pulmoner yang dapat terjadi pada injuri inhalasi berkaitan dengan
berat dan tipe asap atau gas yang dihirup.
b.
Keracunan
Carbon Monoxide.
CO merupakan
produk yang sering dihasilkan bila suatu substansi organik terbakar. Ia
merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, yang dapat
mengikat hemoglobin 200 kali lebih besar dari oksigen. Dengan terhirupnya CO,
maka molekul oksigen digantikan dan CO secara reversibel berikatan dengan
hemoglobin sehingga membentuk carboxyhemoglobin (COHb). Hipoksia jaringan dapat
terjadi akibat penurunan secara menyeluruh pada kemampuan pengantaran oksigen
dalam darah. Kadar COHb dapat dengan mudah dimonitor melalui kadar serum darah.
Manifestasi dari keracunan CO adalah sbb (lihat tabel 1)
Tabel 1. Manifestasi klinik
keracunan CO (Carbon Monoxida) Kadar
CO (%)
|
Manifestasi Klinik
|
5 – 10
|
Gangguan tajam penglihatan
|
11 – 20
|
Nyeri kepala
|
21 – 30
|
Mual, gangguan ketangkasan
|
31 – 40
|
Muntah, dizines, sincope
|
41 – 50
|
Tachypnea, tachicardia
|
> 50
|
Coma, mati
|
Diambil dari Cioffi W.G., Rue L.W. (1991).
Diagnosis and treatment of inhalation injuries. Critical Care Clinics of North
America, 3(2), 195.
E.
KLASIFIKASI
BERATNYA LUKA BAKAR
1. Faktor yang mempengaruhi berat
ringannya luka bakar
Beberapa
faktor yang mempengaruhi berat - ringannya injuri luka bakar antara lain
kedalaman luka bakar, luas luka bakar, lokasi luka bakar, kesehatan umum,
mekanisme injuri dan usia. Berikut ini akan dijelaskan tentang faktor-faktor
tersebut di atas:
a. Kedalaman luka bakar
Kedalaman luka bakar dapat dibagi ke
dalam 5 kategori yang didasarkan pada elemen kulit yang rusak, meliputi :
1) Superfisial (derajat 1)
2) Superfisial – Kedalaman Partial (Partial Thickness)
3) Dalam – Kedalaman Partial (Deep Partial Thickness)
4) Kedalaman Penuh (Full Thickness)
5) Subdermal
b. Luas luka bakar
Terdapat
beberapa metode untuk menentukan luas luka bakar meliputi (1) rule of nine, (2)
Lund and Browder, dan (3) hand palm. Ukuran luka bakar dapat
ditentukan dengan menggunakan salah satu dari metode tersebut. Ukuran luka
bakar ditentukan dengan prosentase dari permukaan tubuh yang terkena luka
bakar. Akurasi dari perhitungan bervariasi menurut metode yang digunakan dan
pengalaman seseorang dalam menentukan luas luka bakar.
Metode rule
of nine mulai diperkenalkan sejak tahun 1940-an sebagai suatu alat
pengkajian yang cepat untuk menentukan perkiraan ukuran / luas luka bakar.
Dasar dari metode ini adalah bahwa tubuh di bagi kedalam bagian-bagian
anatomic, dimana setiap bagian mewakili 9 % kecuali daerah genitalia 1 % (lihat
gambar 1).
Pada metode Lund
and Browder merupakan modifikasi dari persentasi bagian-bagian tubuh
menurut usia, yang dapat memberikan perhitungan yang lebih akurat tentang luas
luka bakar (lihat gambar 2)
Gambar 2. Luas Luka Bakar
Selain dari kedua metode tersebut di atas,
dapat juga digunakan cara lainnya yaitu mengunakan metode hand palm.
Metode ini adalah cara menentukan luas atau persentasi luka bakar dengan
menggunakan telapak tangan. Satu telapak tangan mewakili 1 % dari permukaan
tubuh yang mengalami luka bakar
c. Lokasi luka bakar (bagian tubuh yang
terkena)
Berat
ringannya luka bakar dipengaruhi pula oleh lokasi luka bakar. Luka bakar yang
mengenai kepala, leher dan dada seringkali berkaitan dengan komplikasi
pulmoner. Luka bakar yang menganai wajah seringkali menyebabkan abrasi kornea.
Luka bakar yang mengenai lengan dan persendian seringkali membutuhkan terapi
fisik dan occupasi dan dapat menimbulkan implikasi terhadap kehilangan waktu
bekerja dan atau ketidakmampuan untuk bekerja secara permanen. Luka bakar yang
mengenai daerah perineal dapat terkontaminasi oleh urine atau feces. Sedangkan
luka bakar yang mengenai daerah torak dapat menyebabkan tidak adekwatnya ekspansi
dinding dada dan terjadinya insufisiensi pulmoner.
d. Mekanisme injuri
Mekanisme
injury merupakan faktor lain yang digunakan untuk menentukan berat ringannya
luka bakar. Secara umum luka bakar yang juga mengalami injuri inhalasi
memerlukan perhatian khusus. Pada luka bakar elektrik, panas yang dihantarkan
melalui tubuh, mengakibatkan kerusakan jaringan internal. Injury pada kulit
mungkin tidak begitu berarti akan tetapi kerusakan otot dan jaringan lunak
lainnya dapat terjad lebih luas, khususnya bila injury elektrik dengan voltage
tinggi. Oleh karena itu voltage, tipe arus (direct atau alternating), tempat
kontak, dan lamanya kontak adalah sangat penting untuk diketahui dan
diperhatikan karena dapat mempengaruhi morbiditi.
Alternating
current (AC) lebih
berbahaya dari pada direct current (DC). Ini seringkali berhubungan
dengan terjadinya kardiac arrest (henti jantung), fibrilasi ventrikel,
kontraksi otot tetani, dan fraktur kompresi tulang-tulang panjang atau
vertebra. Pada luka bakar karena zat
kimia keracunan sistemik akibat absorbsi oleh kulit dapat terjadi.
e. Usia
Usia klien
mempengaruhi berat ringannya luka bakar. Angka kematiannya (Mortality rate)
cukup tinggi pada anak yang berusia kurang dari 4 tahun, terutama pada kelompok
usia 0-1 tahun dan klien yang berusia di atas 65 th.
Tingginya
statistik mortalitas dan morbiditas pada orang tua yang terkena luka bakar
merupakan akibat kombinasi dari berbagai gangguan fungsional (seperti lambatnya
bereaksi, gangguan dalam menilai, dan menurunnya kemampuan mobilitas), hidup
sendiri, dan bahaya-bahaya lingkungan lainnya. Disamping itu juga mereka lebih
rentan terhadap injury luka bakar karena kulitnya menjadi lebih tipis, dan
terjadi athropi pada bagian-bagian kulit lain. Sehingga situasi seperti ketika
mandi dan memasak dapat menyebabkan terjadinya luka bakar.
F. MANAGEMENT PENATALAKSANAAN
Berbagai macam
respon sistem organ yang terjadi setelah mengalami luka bakar menuntut perlunya
pendekatan antar disiplin. Perawat bertanggung jawab untuk mengembangkan
rencana perawatan yang didasarkan pada pengkajian data yang merefleksikan
kebutuhan fisik dan psikososial klien dan keluarga atau orang lain yang
dianggap penting. Secara klinis klien luka bakar dapat dibagi kedalam 3 fase,
yaitu :
1. Fase Emergent (Resusitasi)
Fase emergensi
dimulai pada saat terjadinya injury dan diakhiri dengan membaiknya
permeabilitas kapiler, yang biasanya terjadi pada 48-72 jam setelah injury.
Tujuan utama pemulihan selama fase ini adalah untuk mencegah shock hipovolemik
dan memelihara fungsi dari organ vital. Yang termasuk ke dalam fase emergensi
adalah (a) perawatan sebelum di rumah sakit, (b) penanganan di bagian
emergensi dan (c) periode resusitasi
Hal
tersebut akan dibahas berikut ini :
a. Perawatan sebelum di
rumah sakit (pre-hospital care)
Perawatan
sebelum klien dibawa ke rumah sakit dimulai pada tempat kejadian luka bakar dan
berakhir ketika sampai di institusi pelayanan emergensi. Pre-hospital care
dimulai dengan memindahkan/menghindarkan klien dari sumber penyebab LB dan atau
menghilangkan sumber panas (lihat tabel).
Tabel 2 : Petunjuk
perawatan klien luka bakar sebelum di rumah sakit
1) Jauhkan penderita dari sumber LB
a) Padamkan pakaian yang terbakar
b) Hilangkan zat kimia penyebab LB
c) Siram dengan air
sebanyak-banyaknya bila karena zat kimia
d) Matikan listrik atau buang sumber
listrik dengan menggunakan objek yang kering dan tidak menghantarkan arus
(nonconductive)
2) Kaji ABC (airway, breathing,
circulation):
a) Perhatikan jalan nafas (airway)
b) Pastikan pernafasan (breathibg)
adekwat
c) Kaji sirkulasi
3) Kaji trauma yang lain
4) Pertahankan panas tubuh
5) Perhatikan kebutuhan untuk
pemberian cairan intravena
6) Transportasi (segera kirim klien
ka rumah sakit)
|
b. Penanganan dibagian emergensi
Perawatan di
bagian emergensi merupakan kelanjutan dari tindakan yang telah diberikan pada
waktu kejadian. Jika pengkajian dan atau penanganan yang dilakukan tidak
adekuat, maka pre hospital care di berikan di bagian emergensi. Penanganan luka
(debridemen dan pembalutan) tidaklah diutamakan bila ada masalah-masalah lain
yang mengancam kehidupan klien, maka masalah inilah yang harus diutamakan
1) Penanganan Luka Bakar Ringan
Perawatan
klien dengan LB ringan seringkali diberikan dengan pasien rawat jalan. Dalam
membuat keputusan apakah klien dapat dipulangkan atau tidak adalah dengan
memperhatikan antara lain a) kemampuan klien untuk dapat menjalankan atau
mengikuti intruksi-instruksi dan kemampuan dalam melakukan perawatan secara
mandiri (self care), b) lingkungan rumah. Apabila klien mampu mengikuti
instruksi dan perawatan diri serta lingkungan di rumah mendukung terjadinya
pemulihan maka klien dapat dipulangkan.
Perawatan di
bagian emergensi terhadap luka bakar minor meliputi : menagemen nyeri,
profilaksis tetanus, perawatan luka tahap awal dan pendidikan kesehatan.
a)
Managemen
nyeri
Managemen nyeri seringkali
dilakukan dengan pemberian dosis ringan morphine atau meperidine dibagian
emergensi. Sedangkan analgetik oral oleh pasien rawat jalan.
b)
Profilaksis
tetanus
Petunjuk untuk pemberian
profilaksis tetanus adalah sama pada penderita LB baik yang ringan maupun tipe
injuri lainnya. Pada klien yang pernah mendapat imunisasi tetanus tetapi tidak
dalam waktu 5 tahun terakhir dapat diberikan boster tetanus toxoid. Untuk klien
yang tidak diimunisasi dengan tetanus human immune globulin dan karenanya harus
diberikan tetanus toxoid yang pertama dari serangkaian pemberian imunisasi
aktif dengan tetanus toxoid.
c)
Perawatan
luka awal
Perawatan luka untuk LB
ringan terdiri dari membersihkan luka (cleansing) yaitu debridemen jaringan yang mati;
membuang zat-zat yang merusak (zat kimia, tar, dll); dan pemberian/penggunaan
krim atau salep antimikroba topikal dan balutan secara steril. Selain itu juga
perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan tentang perawatan luka di rumah
dan manifestasi klinis dari infeksi agar klien dapat segera mencari
pertolongan. Pendidikan lain yang diperlukan adalah tentang pentingnya
melakukan latihan ROM (range of motion) secara aktif untuk
mempertahankan fungsi sendi agar tetap normal dan untuk menurunkan pembentukan
edema dan kemungkinan terbentuknya scar. Dan perlunya evaluasi atau penanganan
follow up juga harus dibicarakan dengan klien pada waktu itu.
d)
Pendidikan / penyuluhan kesehatan
Pendidikan
tentang perawatan luka, pengobatan, komplikasi, pencegahan komplikasi, diet,
berbagai fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat yang dapat di kunjungi jika
memmerlukan bantuan dan informasi lain yang relevan perlu dilakukan agar klien
dapat menolong dirinya sendiri.
2) Penanganan Luka Bakar
Berat.
Untuk
klien dengan luka yang luas, maka penanganan pada bagian emergensi akan
meliputi reevaluasi ABC (jalan nafas, kondisi pernafasan, sirkulasi ) dan
trauma lain yang mungkin terjadi; resusitasi cairan (penggantian cairan yang
hilang); pemasangan kateter urine; pemasangan nasogastric tube (NGT);
pemeriksaan vital signs dan laboratorium; management nyeri; propilaksis
tetanus; pengumpulan data; dan perawatan luka.
Berikut
adalah penjelasan dari tiap-tiap penanganan tersebut, yakni sebagai berikut.
a)
Reevaluasi jalan nafas, kondisi pernafasan, sirkulasi dan
trauma lain yang mungkin terjadi.
Menilai kembali keadaan jalan nafas, kondisi pernafasan, dan
sirkulasi unutk lebih memastikan ada tidaknya kegawatan dan untuk memastikan
penanganan secara dini. Selain itu melakukan pengkajian ada tidaknya trauma
lain yang menyertai cedera luka bakar seperti patah tulang, adanya perdarahan
dan lain-lain perlu dilakukan agar dapat dengan segera diketahui dan ditangani.
b)
Resusitasi cairan (penggantian cairan yang hilang)
Bagi klien dewasa dengan luka bakar lebih dari 15 %, maka resusitasi cairan intravena
umumnya diperlukan. Pemberian intravena perifer dapat diberikan melaui kulit
yang tidak terbakar pada bagian proximal dari ekstremitas yang terbakar.
Sedangkan untuk klien yang mengalami luka bakar yang cukup luas atau pada klien
dimana tempat – tempat untuk pemberian intravena perifer terbatas, maka dengan
pemasangan kanul (cannulation) pada vena central (seperti subclavian,
jugular internal atau eksternal, atau femoral) oleh dokter mungkin diperlukan. Luas
atau persentasi luka bakar harus ditentukan dan kemudian dilanjutkan dengan
resusitasi cairan. Resusitasi cairan dapat menggunakan berbagai formula yang
telah dikembangkan.
c)
Pemasangan
kateter urine
Pemasangan kateter harus
dilakukan untuk mengukur produksi urine setiap jam. Output urine merupakan
indikator yang reliable untuk menentukan keadekuatan dari resusitasi cairan.
d)
Pemasangan
nasogastric tube (NGT)
Pemasangan NGT bagi klien
LB 20 % -25 % atau lebih perlu dilakukan untuk mencegah emesis dan mengurangi
resiko terjadinya aspirasi. Disfungsi ganstrointestinal akibat dari ileus dapat
terjadi umumnya pada klien tahap dini setelah luka bakar. Oleh karena itu semua
pemberian cairan melalui oral harus dibatasi pada waktu itu.
e)
Pemeriksaan
vital signs dan laboratorium
Vital signs merupakan
informasi yang penting sebagai data tambahan untuk menentukan adekuat tidaknya
resuscitasi. Pemeriksaan laboratorium dasar akan meliputi pemeriksaan gula
darah, BUN (blood ures nitrogen), creatini, elektrolit serum, dan kadar
hematokrit. Kadar gas darah arteri (analisa gas darah), COHb juga harus
diperiksa, khususnya jika terdapat injuri inhalasi. Tes-tes laboratorium
lainnya adalah pemeriksaan x-ray untuk mengetahui adanya fraktur atau trauma
lainnya mungkin perlu dilakukan jika dibutuhkan. Monitoring EKG terus menerus
haruslah dilakukan pada semua klien dengan LB berat, khususnya jika disebabkan
oleh karena listrik dengan voltase tinggi, atau pada klien yang mempunyai
riwayat iskemia jantung atau dysrhythmia.
f)
Management
nyeri
Penanganan
nyeri dapat dicapai melalui pemberian obat narcotik intravena, seperti
morphine. Pemberian melalui intramuskuler atau subcutan tidak dianjurkan karena
absorbsi dari jaringan lunak tidak cukup baik selama periode ini bila
hipovolemia dan perpindahan cairan yang banyak masih terjadi. Demikian juga
pemberian obat-obatan untuk mengatasi secara oral tidak dianjurkan karena
adanya disfungsi gastrointestial.
g)
Perawatan
luka
Luka
yang mengenai sekeliling ekstremitas dan torak dapat mengganggu sirkulasi dan
respirasi, oleh karena itu harus mendapat perhatian. Komplikasi ini lebih mudah
terjadi selama resusitasi, bila cairan berpindah ke dalam jaringan interstitial
berada pada puncaknya. Pada LB yang mengenai sekeliling ekstremitas, maka
meninggikan bagian ekstremitas diatas jantung akan membantu menurunkan edema
dependen; walaupun demikian gangguan sirkulasi masih dapat terjadi. Oleh karena
pengkajian yang sering terhadap perfusi ekstremitas bagian distal sangatlah
penting untuk dilakukan.
Perawatan
luka dibagian emergensi terdiri dari penutupan luka dengan sprei kering, bersih
dan baju hangat untuk memelihara panas tubuh. Klien dengan luka bakar yang
mengenai kepala dan wajah diletakan pada posisi kepala elevasi dan semua
ekstremitas yang terbakar dengan menggunakan bantal sampai diatas permukaan
jantung. Tindakan ini dapat membantu menurunkan pembentukan edema dependent.
Untuk LB ringan kompres dingin dan steril dapat mengatasi nyeri. Kemudian
dibawa menuju fasilitas kesehatan.
2. Fase Akut
Fase akut
dimulai ketika pasien secara hemodinamik telah stabil, permeabilitas kapiler
membaik dan diuresis telah mulai. Fase ini umumnya dianggap terjadi pada 48-72
jam setelah injuri.
Fokus
management bagi klien pada fase akut adalah sebagai berikut : mengatasi
infeksi, perawatan luka, penutupan luka, nutrisi, managemen nyeri, dan terapi
fisik.
a. Mengatasi infeksi ; Sumber-sumber
infeksi pada klien dengan luka bakar
meliputi autocontaminasi dari:
1) Oropharynx
2) Fecal flora
3) Kulit yg tidak terbakar dan
4) Kontaminasi silang dari staf
5) Kontaminasi silang dari pengunjung
6) Kontaminasi silang dari udara
Kegiatan
khusus untuk mengatasi infeksi dan tehnik isolasi harus dilakukan pada semua
pusat-pusat perawatan LB. Kegiatan ini berbeda dan meliputi penggunaan sarung
tangan, tutp kepala, masker, penutup kaki, dan pakaian plastik. Membersihkan
tangan yang baik harus ditekankan untuk menurunkan insiden kontaminasi silang
diantara klien. Staf dan pengunjung umumnya dicegah kontak dengan klien jika ia
menderita infeksi baik pada kulit, gastrointestinal atau infeksi saluran nafas.
b.
Perawatan
luka
Perawatan luka diarahkan untuk
meningkatkan penyembuhan luka. Perawatan luka sehari-hari meliputi membersihkan
luka, debridemen, dan pembalutan luka.
1)
Hidroterapi
Membersihkan luka dapat dilakukan
dengan cara hidroterapi. Hidroterapi ini terdiri dari merendam(immersion)
dan dengan shower (spray). Tindakan ini dilakukan selama 30 menit atau
kurang untuk klien dengan LB acut. Jika terlalu lama dapat meningkatkan
pengeluaran sodium (karena air adalah hipotonik) melalui luka, pengeluaran panas,
nyeri dan stress. Selama hidroterapi, luka dibersihkan secara perlahan dan atau
hati-hati dengan menggunakan berbagai macam larutan seperti sodium
hipochloride, providon iodine dan chlorohexidine. Perawatan haruslah
mempertahankan agar seminimal mungkin terjadinya pendarahan dan untuk
mempertahankan temperatur selama prosedur ini dilakukan. Klien yang tidak
dianjurkan untuk dilakukan hidroterapi umumnya adalah mereka yang secara
hemodinamik tidak stabil dan yang baru dilakukan skin graft. Jika hidroterapi
tidak dilakukan, maka luka dapat dibersihkan dan dibilas di atas tempat tidur
klien dan ditambahkan dengan penggunaan zat antimikroba.
2)
Debridemen
Debridemen luka meliputi pengangkatan
eschar. Tindakan ini dilakukan untuk meningkatkan penyembuhan luka melalui
pencegahan proliferasi bakteri di bagian bawah eschar. Debridemen luka pada LB
meliputi debridemen secara mekanik, debridemen enzymatic, dan dengan tindakan
pembedahan.
a)
Debridemen
mekanik
Debridemen mekanik yaitu
dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan gunting dan forcep untuk memotong
dan mengangkat eschar. Penggantian balutan merupakan cara lain yang juga
efektif dari tindakan debridemen mekanik. Tindakan ini dapat dilakukan dengan
cara menggunakan balutan basah ke kering (wet-to-dry) dan pembalutan kering
kepada balutan kering (wet-to-wet). Debridemen mekanik pada LB dapat
menimbulkan rasa nyeri yang hebat, oleh karena itu perlu terlebih dahulu
dilakukan tindakan untuk mengatasi nyeri yang lebih efektif.
b)
Debridemen
enzymatic
Debridemen
enzymatik merupakan debridemen dengan menggunakan preparat enzym topical
proteolitik dan fibrinolitik. Produk-produk ini secara selektif mencerna
jaringan yang necrotik, dan mempermudah pengangkatan eschar. Produk-prduk ini
memerlukan lingkungan yang basah agar menjadi lebih efektif dan digunakan
secara langsung terhadap luka. Nyeri dan perdarahan merupakan masalah utama
dengan penanganan ini dan harus dikaji secara terus-menerus selama treatment
dilakukan.
c)
Debridemen
pembedahan
Debridemen pembedahan luka
meliputi eksisi jaringan devitalis (mati). Terdapat 2 tehnik yang dapat
digunakan : Tangential Excision dan Fascial Excision.
Pada
tangential exccision adalah dengan mencukur atau menyayat lapisan eschar yang
sangat tipis sampai terlihat jaringan yang masih hidup. sedangkan fascial
excision adalah mengangkat jaringan luka dan lemak sampai fascia. Tehnik ini
seringkali digunakan untuk LB yang sangat dalam.
3) Balutan
a)
Penggunaan
penutup luka khusus
Luka
bakar yang dalam atau full thickness pada awalnya dilakukan dengan menggunakan
zat / obat antimikroba topikal. Obat ini digunakan 1 - 2 kali setelah
pembersihan, debridemen dan inspeksi luka. Perawat perlu melakukan kajian
terhadap adanya eschar, granulasi jaringan atau adanya reepitelisasi dan adanya
tanda – tanda infeksi. Umumnya obat – obat antimikroba yang sering digunakan
tampak pada tabel dibawah. Tidak ada satu obat yang digunakan secara umum, oleh
karena itu dibeberapa pusat pelayanan luka bakar ada yang memilih krim silfer
sulfadiazine sebagai pengobatan topikal awal untuk luka bakar.
b)
Metode
terbuka dan tertutup
Luka pada LB dapat
ditreatmen dengan menggunakan metode/tehnik belutan baik terbuka maupun
tertutup. Untuk metode terbuka digunakan / dioleskan cream antimikroba secara
merata dan dibiarkan terbuka terhadap udara tanpa dibalut. Cream tersebut dapat
diulang penggunaannya sesuai kebutuhan, yaitu setiap 12 jam sesuai dengan
aktivitas obat tersebut. kelebihan dari metode ini adalah bahwa luka dapat
lebih mudah diobservasi, memudahkan mobilitas dan ROM sendi, dan perawatan luka
menjadi lebih sederhana/mudah. Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah
meningkatnya kemungkinan terjadinya hipotermia, dan efeknya psikologis pada
klien karena seringnya dilihat.
Pada perawatan luka dengan
metode tertutup, memerlukan bermacam-macam tipe balutan yang digunakan. Balutan
disiapkan untuk digunakan sebagai penutup pada cream yang digunakan. Dalam
menggunakan balutan hendaknya hati-hati dimulai dari bagian distal kearah
proximal untuk menjamin agar sirkulasi tidak terganggu. Keuntungan dari metode
ini adalah mengurangi evavorasi cairan dan kehilangan panas dari permukaan luka
, balutan juga membantu dalam debridemen. Sedangkan kerugiannya adalah
membatasi mobilitas menurunkan kemungkinan efektifitas exercise ROM. Pemeriksaan
luka juga menjadi terbatas, karena hanya dapat dilakukan jika sedang mengganti
balutan saja.
c)
Penutupan
luka
Penutupan
Luka Sementara sering digunakan sebagai pembalut luka. Setiap produk penutup
luka tersebut mempunyai indikasi khusus. Karakteristik luka (kedalamannya,
banyaknya eksudat, lokasi luka pada tubuh dan fase penyembuhan/pemulihan) serta
tujuan tindakan/pengobatan perlu dipertimbangkan bila akan memilih penutup luka
yang lebih tepat.
c.
Terapi
fisik
Tindakan-tindakan
yang digunakan untuk mencegah dan menangani kontraktur meliputi terapi posisi,
ROM exercise, dan pendidikan pada klien dan keluarga.
1)
Posisi
Terapeutik
Tabel dibawah ini merupakan daftar
tehnik-tehnik posisi koreksi dan terapeutik untuk klien dengan LB yang mengenai
bagian tubuh tertentu selama periode tidak ada aktifitas (inactivity periode)
atau immobilisasi. Tehnik-tehnik posisi tersebut mempengaruhi bagian tubuh
tertentu dengan tepat untuk mengantisipasi terjadinya kontraktur atau
deformitas.
2)
Exercise
Latihan ROM aktif dianjurkan segera
dalam pemulihan pada fase akut untuk mengurangi edema dan mempertahankan
kekuatan dan fungsi sendi. Disamping itu melakukan kegiatan/aktivitas
sehari-hari (ADL) sangat efektif dalam mempertahankan fungsi dan ROM. Ambulasi
dapat juga mempertahankan kekuatan dan ROM pada ekstremitas bawah dan harus
dimulai bila secara fisiologis klien telah stabil. ROM pasif termasuk bagian
dari rencana tindakan pada klien yang tidak mampu melakukan latihan ROM aktif.
3)
Pembidaian
(Splinting)
Splint digunakan untuk mempertahankan
posisi sendi dan mencegah atau memperbaiki kontraktur. Terdapat dua tipe splint
yang seringkali digunakan, yaitu statis dan dinamis. Statis splint merupakan
immobilisasi sendi. Dilakukan pada saat immobilisasi, selama tidur, dan pada
klien yang tidak kooperatif yang tidak dapat mempertahankan posisi dengan baik.
Berlainan halnya dengan dinamic splint. Dinamic splint dapat melatih persendian
yang terkena.
4)
Pendidikan
Pendidikan pada klien dan keluarga
tentang posisi yang benar dan perlunya melakukan latihan secara kontinue.
Petunjuk tertulis tentang berbagai posisi yang benar, tentang
splinting/pembidaian dan latihan rutin dapat mempermudah proses belajar klien
dan dapat menjadi lebih kooperatif.
3. Fase Rehabilitasi
Fase rehabilitasi adalah fase
pemulihan dan merupakan fase terakhir dari perawatan luka bakar. Penekanan dari
program rehabilitasi penderita luka bakar adalah untuk peningkatan kemandirian
melalui pencapaian perbaikan fungsi yang maksimal. Tindakan-tindakan untuk
meningkatkan penyembuhan luka, pencegahan atau meminimalkan deformitas dan
hipertropi scar, meningkatkan kekuatan dan fungsi dan memberikan support
emosional serta pendidikan merupakan bagian dari proses rehabilitasi.
G.
PERHATIAN
KHUSUS ASPEK PSIKOSOSIAL
Rehabilitasi
psikologis adalah sama pentingnya dengan rehabilitasi fisik dalam keseluruhan
proses pemulihan. Banyak sekali respon psikologis dan emosional terhadap injuri
luka bakar yang dapat diidentifikasi, mulai dari “ketakutan sampai dengan
psikosis” . Respon penderita dipengaruhi oleh usia, kepribadian (personality),
latar belakang budaya dan etnic, luas dan lokasi injuri, dan akibatnya pada
body image. Disamping itu, berpisah dari keluarga dan teman-teman, perubahan
pada peran normal klien dan tanggungjawabnya mempengaruhi reaksi terhadap
trauma LB.
DAFTAR
PUSTAKA
Doenges, M.E.,
et al. (1995). Nursing care plans guidelines for planning patient care. (2nd
ed.). Philadelphia: F.A. Davis Co.
Luckmann &
Sorensen. (1993). Medical-surgical nursing a psychophysiologic approach, (4th
ed.). Philadelphia: W.B. Saunder Co.
Nettina, S.
(1996). The Lippincott manual of nursing practice. (6th ed.).
Lippincott: Lippincott-Raven Publisher.



Mohegan Sun Pocono - JSM Hub
ReplyDeleteMohegan 전라남도 출장마사지 Sun 대전광역 출장마사지 Pocono - 원주 출장마사지 Adults Only. 3131 통영 출장샵 South Wilkes-Barre, 고양 출장안마 PA 18702. Phone: 860-226-7777. Toll Free: 800-226-7777. Website: www.mohegansun.com.
Casino, Gaming, Poker & More | DrmCD
ReplyDeleteCasino, Gaming, Poker & More | DrmCD.org. Dr. 광주광역 출장안마 M.C.A. Casino has a 김제 출장마사지 variety 울산광역 출장샵 of video slots, table games, and 파주 출장샵 bingo games. The casino is also one 양산 출장안마 of