Iklan adsense

Disqus Shortname

designcart

ASKEP LUKA DAIBETES ETN CENTER



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Penderita Diabetes Mellitus Di Indonesia Yang Telah Dilaporkan 12,5 Juta Orang Pada Tahun 2000 Akan Meningkat Kira-Kira Menjadi 19,4 Juta Pada Tahun 2010. Penyakit Diabetes Mellitus Jarang Tertangani Dengan Benar Karena Kurangnya Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Tersebut. Penyakit Ini Dapat Menimbulkan Komplikasi Yang Serius Jika Tidak Tertangani Dengan Benar Seperti Penyempitan Pembuluh Darah Kapiler, Koma Diabetik, Pembersihan Luka Yang Tidak Tepat Dapat Memperparah Luka Pada Penderita Diabetes Mellitus.
Kurangnya Kesadaran Masyarakat Untuk Memeriksa Gula Darah Ke Rumah Sakit Atau Ke Puskesmas Terutama Bagi Masyarakat Ekonomi Ke Bawah Yang Merasa Malas Dan Kekurangan Biaya. Diabetes Militus Bukanlah Penyakit Yang Mudah Ditangani, Penyakit Yang Bisa Menyerang Semua Kalangan Manusia Ini Memiliki Efek Yang Mendukung Timbulnya Penyakit Lain Yang Menyertai. Penyakit Atau Keadaan Merugikan Lain Yang Bisa Terjadi Akibat Diabetes Militus Ini Antara Lauin Adalah Ulkus Diabetik.
Ulkus diabetika merupakan luka terbuka pada permukaan kulit karena adanya komplikasi makroangiopati sehingga terjadi vaskuler insusifiensi dan neuropati, yang lebih lanjut terdapat luka pada penderita yang sering tidak dirasakan, dan dapat berkembang menjadi infeksi disebabkan oleh bakteri aerob maupun anaerob (Anonym, 2012).
Penyembuhan Untuk Diabetes Militus Bukanlah Hal Yang Mudah, Selain Uang Penderita Juga Harus Mampu Mengontrol Nafsu Makan Juga Aktivitasnya. Untuk Itulah Penulis Menulis Makalah Ini Sebagai Bentuk Kepedulian Penulis Terhadap Penyakit Diabetes Militus Beserta Penyakit Yang Menyertai Terutama Ulkus Diabetik.





B. Tujuan
v  Tujuan Umum:
Mahasiswa dapat melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan Ulkus Kaki Diabetik
v  Tujuan Khusus:
1.    Mahasiswa dapat memahami definisi, penyebab, tanda-tanda, gejala, patofisiologi, penatalaksanaan pada kasus Ulkus Kaki Diabetik.
2.    Mahasiswa memahami proses keperawatan pada klien dengan Ulkus Kaki Diabetik





















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.      TINJAUAN UMUM ULKUS DIABETIK
A.   Defenisi Ulkus Diabetik
      Ulkus diabetikus adalah salah satu bentuk komplikasi kronik Diabetes mellitus berupa luka terbuka pada permukaan kulit yang dapat disertai adanya kematian jaringan setempat (Anonim, 2012).
      Kaki diabetik adalah infeksi, ulserasi, dan atau destruksi jaringan ikat dalam yang berhubungan dengan neuropati dan penyakit vaskuler perifer pada tungkai bawah (Decroli, 2008).
      Ulkus diabetika merupakan luka terbuka pada permukaan kulit karena adanya komplikasi makroangiopati sehingga terjadi vaskuler insusifiensi dan neuropati, yang lebih lanjut terdapat luka pada penderita yang sering tidak dirasakan, dan dapat berkembang menjadi infeksi disebabkan oleh bakteri aerob maupun anaerob (Anonym, 2012).
B.   Bagaimana fisiologis terjadinya ulkus kaki diabetik ?
Ulkus terjadi karena arteri menyempit dan selain itu juga terdapat gula berlebih pada jaringan yang merupakan medium yang baik sekali bagi kuman, ulkus timbul pada daerah yang sering mendapat tekan-an ataupun trauma pada daerah telapak kaki ulkus berbentuk bulat biasa berdiameter lebih dari 1 cm berisi massa jaringan tanduk lemak, pus, serta krusta di atas (Handaya, 2009).
C.   Alasan Klien Diabetes Berisiko Terjadi Luka
Ada banyak alasan mengapa klien diabetes beresiko tinggi terhadap kejadian luka dikaki diantaranya diakibatkan karena kaki yang sulit bergerak terutama jika klien dengan obesitas, neoropati sensorik, iskhemia sehingga proses penyembuhan menjadi lambat akibat konstriksi pembuluh darah. Adanya gannguan sistem imunitas, pada klien diabetes menyebabkan luka mudah terinfeksi dan jika terkontaminasi bakteri akan menjadi ganren sehingga makin sulit pada perawatannya serta beresiko terhadap amputasi (Anonym, 2012)

D.   Klasifikasi Ulkus Diabetik.
Untuk tujuan klinis praktis, kaki diabetika dapat dibagi menjadi 3 katagori, yaitu kaki diabetika neuropati, iskemia dan neuroiskemia. Pada ulkus yang dilatar belakangi neuropati ulkus biasanya bersifat kering, fisura, kulit hangat, kalus, warna kulit normal dan lokasi biasanya di plantar, lesi sering berupa punch out. Sedangkan lesi akibat iskemia bersifat sianotik, gangren, kulit dingin dan lokasi tersering adalah di jari. Bentuk ulkus perlu digambarkan seperti; tepi, dasar, ada atau tidak pus, eksudat, edema, kalus, kedalaman ulkus perlu dinilai dengan bantuan probe steril. Probe (penyeledikan) dapat membantu untuk menentukan adanya sinus, mengetahui ulkus melibatkan tendon, tulang atau sendi. Diabetic iskemik Pada DM dengan iskemik terjadi vaskuler iskemik → terjadi penyempitan pembuluh darah karena terebentuk plak aterosklerosis pada dinding pembuluh darah → asupan darah berkurang → agregat platelet juga berkurang → proses penyembuhan luka sukar terjadi (Anonym, 2012).
Klasifikasi Ulkus diabetika pada penderita Diabetes mellitus menurut Wagner, terdiri dari 6 tingkatan (Anonim 2012) :
                     0 : Tidak ada luka terbuka, kulit utuh.
                     1 : Ulkus Superfisialis, terbatas pada kulit.
                     2 : Ulkus lebih dalam sering dikaitkan dengan inflamasi jaringan.
                     3 : Ulkus dalam yang melibatkan tulang, sendi dan formasi abses.
                    4 : Ulkus dengan kematian   jaringan tubuh terlokalisir seperti   pada ibu   jari kaki, bagian depan kaki atau tumit.
                     5 : Ulkus dengan kematian jaringan tubuh pada seluruh kaki.
E.   Tanda dan Gejala
  Tanda dan gejala ulkus diabetika (Anonym, 2012) yaitu :
©      Sering kesemutan.
©      Nyeri kaki saat istirahat.
©      Sensasi rasa berkurang.
©      Kerusakan Jaringan (nekrosis).
©      Penurunan denyut nadi arteri dorsalis pedis, tibialis dan poplitea.
©      Kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal.
©      Kulit kering.
F.    Diagnosis Ulkus diabetic
Meliputi pemeriksaan Fisik : inspeksi kaki untuk mengamati terdapat luka atau ulkus pada kulit atau jaringan tubuh pada kaki, pemeriksaan sensasi vibrasi/rasa berkurang atau hilang, palpasi denyut nadi arteri dorsalis pedis menurun atau hilang. Pemeriksaan Doppler ultrasound adalah penggunaan alat untuk memeriksa aliran darah arteri maupun vena. Pemeriksaan ini ntuk mengidentifikasi tingkat gangguan pada pembuluh darah arteri maupun vena. Dengan pemeriksaan yang akurat dapat membantu proses perawatan yang tepat. Pemeriksaan ini sering disebut dengan Ankle Brachial Pressure Index (ABPI). Pada kondisi normal, tekanan sistolik pada kaki sama dengan di tangan atau lebih tinggi sedikit. Pada kondisi terjadi gangguan di area kaki, vena ataupun arteri, akan menghasilkan tekanan sistolik yang berbeda. hasil pemeriksaan yang akurat dapat membantu diagnostic ke arah gangguan vena atau arteri sehingga manajemen perawatan juga berbeda (Anonym, 2012).
Cara pemeriksaan ABPI adalah sebagai berikut (Anonym, 2012) :
1.    Baringkan klien kurang lebih selama 20 menit.
2.    Pastikan area kaki tidak ada sumbatan atau hambatan dari pakaian ataupun posisi.
3.    Tutup area luka dengan lapisan melindungi cuff yang menekan.
4.    Tempatkan cuff di atas ankle.
5.    Doppler probe letakkan di dorsalis pedis dan anterior tibial pulse (dengan konekting gel). Arah probe Doppler 450
6.    Tekan cuff hingga bunyi pulse menghilang
7.    Tekan cuff perlahan untuk menurunkan tekanan sampai terdengar bunyi pulse lagi. Point ini disebut tekanan sistolik ankle.
8.    Pindahkan cuff ke lengan di sisi yang sama dengan ekstremitas bawah.
9.    Cari pulse brachial dengan dopler probe ( konekting gel).
10. Tekan cuff hingga bunyi pulse menghilang
11. Turunkan tekanan perlahan hingga terdengar bunyi pulse lagi, point ini disebut tekanan sistolik brachial.
12. Hitung ABPI dengan membagi hasil sistolik ankle dengan hasil sistolik brachial.
ABPI= Tekanan sistolik ankel ÷ Tekanan sistolik brachial
      Hasil perhitungan di atas di interpretasi pada tabel di bawah ini.
< 0.5
0.5-0.7
0.7-0.8
> 0.8
> 1.2
Arterial ulcer
Arterial dan venus ulcer
Arterial dan venous ulcer
Venous ulcer
Calcified
Gangguan pembuluh arteri
Gangguan arteri dan vena
Gangguan arteri dan vena
Gangguan pembuluh vena
Periksa ulang

Hasil pemeriksaan APBI tidak hanya berfungsi mendeteksi pulse pada pasien diabetes tetapi juga sebagai panduan dalam “Bandaging” pada kasus “leg ulcer” atau luka kaki.
Pemeriksaan Penunjang : X-ray, EMG dan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui apakah ulkus diabetika menjadi infeksi dan menentukan kuman penyebabnya.
G.   Patogenesis Ulkus Diabetik
Salah satu akibat komplikasi kronik atau jangka panjang Diabetes mellitus adalah ulkus diabetika. Ulkus diabetika disebabkan adanya tiga faktor yang sering disebut Trias yaitu: Iskemik, Neuropati, dan Infeksi. Pada penderita DM apabila kadar glukosa darah tidak terkendali akan terjadi komplikasi kronik yaitu neuropati, menimbulkan perubahan jaringan syaraf karena adanya penimbunan sorbitol dan fruktosa sehingga mengakibatkan akson menghilang, penurunan kecepatan induksi, parastesia, menurunnya reflek otot, atrofi otot, keringat berlebihan, kulit kering dan hilang rasa, apabila diabetisi tidak hati-hati dapat terjadi trauma yang akan menjadi ulkus diabetika (Anonym, 2012).
Iskemik merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh karena kekurangan darah dalam jaringan, sehingga jaringan kekurangan oksigen. Hal ini disebabkan adanya proses makroangiopati pada pembuluh darah sehingga sirkulasi jaringan menurun yang ditandai oleh hilang atau berkurangnya denyut nadi pada arteri dorsalis pedis, tibialis dan poplitea, kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal. Kelainan selanjutnya terjadi nekrosis jaringan sehingga timbul ulkus yang biasanya dimulai dari ujung kaki atau tungkai (Anonym, 2012).
Aterosklerosis merupakan sebuah kondisi dimana arteri menebal dan menyempit karena penumpukan lemak pada bagian dalam pembuluh darah. Menebalnya arteri di kaki dapat mempengaruhi otot-otot kaki karena berkurangnya suplai darah, sehingga mengakibatkan kesemutan, rasa tidak nyaman, dan dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan kematian jaringan yang akan berkembang menjadi ulkus diabetika. Proses angiopati pada penderita Diabetes mellitus berupa penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah perifer, sering terjadi pada tungkai bawah terutama kaki, akibat perfusi jaringan bagian distal dari tungkai menjadi berkurang kemudian timbul ulkus diabetika (Anonym, 2012).
Pada penderita DM yang tidak terkendali akan menyebabkan penebalan tunika intima (hiperplasia membram basalis arteri) pada pembuluh darah besar dan pembuluh kapiler bahkan dapat terjadi kebocoran albumin keluar kapiler sehingga mengganggu distribusi darah ke jaringan dan timbul nekrosis jaringan yang mengakibatkan ulkus diabetika. Eritrosit pada penderita DM yang tidak terkendali akan meningkatkan HbA1C yang menyebabkan deformabilitas eritrosit dan pelepasan oksigen di jaringan oleh eritrosit terganggu, sehingga terjadi penyumbatan yang menggangu sirkulasi jaringan dan kekurangan oksigen mengakibatkan kematian jaringan yang selanjutnya timbul ulkus diabetika. Peningkatan kadar fibrinogen dan bertambahnya reaktivitas trombosit menyebabkan tingginya agregasi sel darah merah sehingga sirkulasi darah menjadi lambat dan memudahkan terbentuknya trombosit pada dinding pembuluh darah yang akan mengganggu sirkulasi darah (Anonym, 2012).
Penderita Diabetes mellitus biasanya kadar kolesterol total, LDL, trigliserida plasma tinggi. Buruknya sirkulasi ke sebagian besar jaringan akan menyebabkan hipoksia dan cedera jaringan, merangsang reaksi peradangan yang akan merangsang terjadinya aterosklerosis. Perubahan/inflamasi pada dinding pembuluh darah, akan terjadi penumpukan lemak pada lumen pembuluh darah, konsentrasi HDL (highdensity-lipoprotein) sebagai pembersih plak biasanya rendah. Adanya faktor risiko lain yaitu hipertensi akan meningkatkan kerentanan terhadap aterosklerosis. Konsekuensi adanya aterosklerosis yaitu sirkulasi jaringan menurun sehingga kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal. Kelainan selanjutnya terjadi nekrosis jaringan sehingga timbul ulkus yang biasanya dimulai dari ujung kaki atau tungkai. Pada penderita DM apabila kadar glukosa darah tidak terkendali menyebabkan abnormalitas lekosit sehingga fungsi khemotoksis di lokasi radang terganggu, demikian pula fungsi fagositosis dan bakterisid menurun sehingga bila ada infeksi mikroorganisme sukar untuk dimusnahkan oleh sistem phlagositosis-bakterisid intra selluler (Anonym, 2012).
Pada penderita ulkus diabetik, 50 % akan mengalami infeksi akibat adanya glukosa darah yang tinggi, yang merupakan media pertumbuhan bakteri yang subur. Bakteri penyebab infeksi pada ulkus diabetika yaitu kuman aerobik Staphylokokus atau Streptokokus serta kuman anaerob yaitu Clostridium perfringens, Clostridium novy, dan Clostridium septikum. Hampir 2/3 pasien dengan ulkus kaki Diabetik memberikan komplikasi osteomielitis. Osteomielitis yang tidak terdeteksi akan mempersulit penyembuhan ulkus. Oleh sebab itu setiap terjadi ulkus perlu dipikirkan kemungkinan adanya osteomielitis. Diagnosis osteomielitis tidak mudah ditegakkan. Secara klinis bila ulkus sudah berlangsung >2 minggu, ulkus luas dan dalam serta lokasi ulkus pada tulang yang menonjol harus dicurigai adanya osteomielitis. Spesifisitas dan sensitivitas pemeriksaan rontgen tulang hanya 66% dan 60%, terlebih bila pemeriksaan dilakukan sebelum 10–21 hari gambaran kelainan tulang belum jelas. Seandainya terjadi gangguan tulang hal ini masih sering sulit dibedakan antara gambaran osteomielitis atau artropati neuropati. Pemeriksaan radiologi perlu dilakukan karena di samping dapat mendeteksi adanya osteomielitis juga dapat memberikan informasi adanya osteolisis, fraktur dan dislokasi, gas gangren, deformitas kaki. Uji probe to bone menggunakan probe logam steril dapat membantu menegakkan osteomielitis karena memiliki nilai prediksi positif sebesar 89%. Untuk lebih memastikan osteomielitis pemeriksaan MRI sangat membantu karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih dari 90%.Namun diagnosis pasti osteomielitis tetap didasarkan pada pemeriksaan kultur tulang (Anonym, 2012).

H.   Faktor-Faktor Risiko Terjadinya Ulkus Diabetik
     Adapun faktor-faktor risiko terjadi ulkus diabetic adalah (Anonym, 2012) :
1.    Umur ≥ 60 tahun.
      Umur ≥ 60 tahun berkaitan dengan terjadinya ulkus diabetik karena pada usia tua, fungsi tubuh secara fisiologis menurun karena proses aging terjadi penurunan sekresi atau resistensi insulin sehingga kemampuan fungsi tubuh terhadap pengendalian glukosa darah yang tinggi kurang optimal. Pada lansia umur > 60 tahun, didapatkan hanya 12% saja pada usia tua dengan DM yang kadar glukosa darah terkendali, 8% kadar kolesterol normal, hipertensi 40%, dan 50% mengalami gangguan pada aterosklerosis, makroangiopati, yang factor-faktor tersebut akan mempengaruhi penurunan sirkulasi darah salah satunya pembuluh darah besar atau sedang di tungkai yang lebih mudah terjadi ulkus diabetik.
2.    Lama DM ≥ 10 tahun.
Ulkus diabetik terutama terjadi pada penderita Diabetes mellitus yang telah menderita 10 tahun atau lebih, apabila kadar glukosa darah tidak terkendali, karena akan muncul komplikasi yang berhubungan dengan vaskuler sehingga mengalami makroangiopati-mikroangiopati yang akan terjadi vaskulopati dan neuropati yang mengakibatkan menurunnya sirkulasi darah dan adanya robekan/luka pada kaki. Penderita diabetik yang sering tidak dirasakan.
3.    Neuropati.
Kadar glukosa darah yang tinggi semakin lama akan terjadi gangguan mikrosirkulasi, berkurangnya aliran darah dan hantaran oksigen pada serabut saraf yang mengakibatkan degenerasi pada serabut syaraf yang lebih lanjut akan terjadi neuropati. Syaraf yang rusak tidak dapat mengirimkan sinyal ke otak dengan baik, sehingga penderita dapat kehilangan indra perasa selain itu juga kelenjar keringat menjadi berkurang, kulit kering dan mudah robek. Neuropati perifer berupa hilangnya sensasi rasa berisiko tinggi terjadi ulkus diabetika. Keberadaan neuropati berkaitan dengan kejadian ulkus diabetika.
4.    Obesitas.
Pada obesitas dengan IMT ≥ 23 kg/m2 (wanita) dan IMT ≥ 2 kg/m2 (pria) atau BBR lebih dari 120 % akan lebih sering terjadi resistensi insulin. Apabila kadar insulin melebihi 10 μU/ml, keadaan ini menunjukkan hiperinsulinmia yang dapat menyebabkan aterosklerosis yang berdampak pada vaskulopati, sehingga terjadi gangguan sirkulasi darah sedang/besar pada tungkai yang menyebabkan tungkai akan mudah terjadi ulkus/ganggren diabetika.
5.    Hipertensi.
Hipertensi (TD > 130/80 mm Hg) pada penderita Diabetes mellitus karena adanya viskositas darah yang tinggi akan berakibat menurunnya aliran darah sehingga terjadi defesiensi vaskuler, selain itu hipertensi yang tekanan darah lebih dari 130/80 mm Hg dapat merusak atau mengakibatkan lesi pada endotel. Kerusakan pada endotel akan berpengaruh terhadap makroangiopati melalui proses adhesi dan agregasi trombosit yang berakibat vaskuler defisiensi sehingga dapat terjadi hipoksia pada jaringan yang akan mengakibatkan terjadinya ulkus. Penelitian studi kasus kontrol oleh Robert di Iowa menghasilkan bahwa riwayat hipertensi akan lebih besar 4 X terjadi ulkus diabetika dengan tanpa hipertensi pada DM15.



6.    Glikolisasi Hemoglobin (HbA1C) dan kadar glukosa darah tidak terkendali
Glikosilasi Hemoglobin adalah terikatnya glukosa yang masuk dalam sirkulasi sistemik dengan protein plasma termasuk hemoglobin dalam sel darah merah. Apabila Glikosilasi Hemoglobin (HbA1c) ≥ 6,5 % akan menurunkan kemampuan pengikatan oksigen oleh sel darah merah yang mengakibatkan hipoksia jaringan yang selanjutnya terjadi proliferasi pada dinding sel otot polos subendotel. Kadar glukosa darah tidak terkontrol (GDP > 100 mg/dl dan GD2JPP > 144 mg/dl) akan mengakibatkan komplikasi kronik jangka panjang, baik makrovaskuler maupun mikrovaskuler salah satunya yaitu ulkus diabetika.
7.    Kolesterol Total, HDL, Trigliserida tidak terkendali.
Pada penderita Diabetes mellitus sering dijumpai adanya peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol plasma, sedangkan konsentrasi HDL (highdensity-lipoprotein) sebagai pembersih plak biasanya rendah (≤ 45 mg/dl). Kadar trigliserida ≥ 150 mg/dl , kolesterol total ≥ 200 mg/dl dan HDL ≤ 45 mg/dl akan mengakibatkan buruknya sirkulasi ke sebagian besar jaringan dan menyebabkan hipoksia serta cedera jaringan, merangsang reaksi peradangan dan terjadinya aterosklerosis. Konsekuensi adanya aterosklerosis adalah penyempitan lumen pembuluh darah yang akan menyebabkan gangguan sirkulasi jaringan sehingga suplai darah ke pembuluh darah menurun ditandai dengan hilang atau berkurangnya denyut nadi pada arteri dorsalis pedis, tibialis dan poplitea, kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal. Kelainan selanjutnya terjadi nekrosis jaringan sehingga timbul ulkus yang biasanya dimulai dari ujung kaki atau tungkai. Penelitian kasus kontrol oleh Pract, pada penderita DM dengan kolesterol, HDL, trigliserida tidak terkontrol mempunyai risiko ulkus diabetika 3 kali lebih tinggi dari pada kadar kolesterol, trigliserida normal



8.    Kebiasaan merokok.
Penelitian case control di California oleh Casanno dikutip oleh WHO pada penderita Diabetes mellitus yang merokok ≥ 12 batang per hari mempunyai risiko 3 X untuk menjadi ulkus diabetika dibandingkan dengan penderita DM yang tidak merokok. Kebiasaan merokok akibat dari nikotin yang terkandung di dalam rokok akan dapat menyebabkan kerusakan endotel kemudian terjadi penempelan dan agregasi trombosit yang selanjutnya terjadi kebocoran sehingga lipoprotein lipase akan memperlambat clearance lemak darah dan mempermudah timbulnya aterosklerosis. Aterosklerosis berakibat insufisiensi vaskuler sehingga aliran darah ke arteri dorsalis pedis, poplitea, dan tibialis juga akan menurun.
9.    Ketidakpatuhan Diet DM
Kepatuhan Diet DM merupakan upaya yang sangat penting dalam pengendalian kadar glukosa darah, kolesterol, dan trigliserida mendekati normal sehingga dapat mencegah komplikasi kronik, seperti ulkus diabetika. Kepatuhan Diet DM mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu mempertahankan berat badan normal, menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, menurunkan kadar glukosa darah, memperbaiki profil lipid, meningkatkan sensitivitas reseptor insulin dan memperbaiki sistem koagulasi darah.
10. Kurangnya aktivitas Fisik.
Aktivitas fisik (olah raga) sangat bermanfaat untuk meningkatkan sirkulasi darah, menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas terhadap insulin, sehingga akan memperbaiki kadar glukosa darah. Dengan kadar glukosa darah terkendali maka akan mencegah komplikasi kronik Diabetes mellitus. Olah raga rutin (lebih 3 kali dalam seminggu selama 30 menit) akan memperbaiki metabolisme karbohidrat, berpengaruh positif terhadap metabolisme lipid dan sumbangan terhadap penurunan berat badan. Salah satu penelitian tentang efek olah raga pada penderita DM menunjukkan bahwa olah raga akan menurunkan kadar trigliserida. Penelitian di Swiss oleh Rocher dikutip oleh Wibisono pada penderita DM dengan neuropati, hasil penelitian olah raga tidak teratur akan terjadi Ulkus diabetika lebih tinggi 4 kali dibandingkan dengan olah raga yang teratur.
11. Pengobatan tidak teratur.
Pengobatan rutin pada penderita Diabetes mellitus tipe I, menurut hasil penelitian di Amerika Serikat dikutip oleh Minadiarly didapatkan bahwa pengobatan intensif akan dapat mencegah dan menghambat timbulnya komplikasi khronik, seperti ulkus diabetika.
12. Perawatan kaki tidak teratur.
Perawatan kaki diabetisi yang teratur akan mencegah atau mengurangi terjadinya komplikasi kronik pada kaki. Penelitian di Spain yang dilakukan oleh Calle dkk. pada 318 diabetisi dengan neuropati dilakukan edukasi perawatan kaki kemudian diikuti selama 3-6 tahun dihasilkan pada kelompok I (223 responden) melaksanakan perawatan kaki teratur dan kelompok II (95 responden) tidak melaksanakan perawatan kaki, pada kelompok I terjadi ulkus sejumlah 7 responden dan kelompok II terjadi ulkus sejumlah 30 responden. Kelompok I dilakukan tindakan amputasi sejumlah 1 responden dan kelompok II sejumlah 19 responden. Hasil penelitian pada diabetisi dengan neuropati yaitu kelompok yang tidak melakukan perawatan kaki 13 kali risiko terjadi ulkus diabetika dibandingkan kelompok yang melakukan perawatan kaki secara teratur.
13. Penggunaan alas kaki tidak tepat.
Diabetes tidak boleh berjalan tanpa alas kaki karena tanpa menggunakan alas kaki yang tepat memudahkan terjadi trauma yang mengakibatkan ulkus diabetika, terutama apabila terjadi neuropati yang mengakibatkan sensasi rasa berkurang atau hilang. Penelitian eksperimental oleh Gayle tentang tekanan pada kaki karena penggunaan alas kaki yang tidak tepat dengan kejadian ulkus diabetika, menghasilkan bahwa penggunaan alas kaki tidak tepat menyebabkan tekanan yang tinggi pada kaki sehingga risiko terjadi ulkus diabetika 3 kali dibandingkan dengan penggunaan alas kaki yang tepat.

14. Pencegahan dan Pengelolaan Ulkus diabetic
Pencegahan dan pengelolaan ulkus diabetik untuk mencegah komplikasi lebih lanjut adalah :
1.    Memperbaiki kelainan vaskuler.
2.    Memperbaiki sirkulasi.
3.    Pengelolaan pada masalah yang timbul ( infeksi, dll).
4.    Edukasi perawatan kaki.
5.    Pemberian obat-obat yang tepat untuk infeksi (menurut hasil laboratorium lengkap) dan obat vaskularisasi, obat untuk penurunan gula darah maupun menghilangkan keluhan/gejala dan penyulit DM.
6.    Olah raga teratur dan menjaga berat badan ideal.
7.    Menghentikan kebiasaan merokok.
8.    Merawat kaki secara teratur setiap hari, dengan cara :
a.        Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih.
b.        Membersihkan dan mencuci kaki setiap hari dengan air, suam-suam kuku dengan memakai sabun lembut dan mengeringkan dengan sempurna dan hati-hati terutama diantara jari-jari kaki.
c.        Memakai krem kaki yang baik pada kulit yang kering atau tumit yang retak-retak, supaya kulit tetap mulus, dan jangan menggosok antara jari-jari kaki (contoh: krem sorbolene).
d.        Tidak memakai bedak, sebab ini akan menyebabkan kulit menjadi kering dan retak-retak.
e.        Menggunting kuku hanya boleh digunakan untuk memotong kuku kaki secara lurus dan kemudian mengikir agar licin. Memotong kuku lebih mudah dilakukan sesudah mandi, sewaktu kuku lembut.
f.         Kuku kaki yang menusuk daging dan kalus, hendaknya diobati oleh podiatrist. Jangan menggunakan pisau cukur atau pisau biasa, yang bias tergelincir; dan ini dapat menyebabkan luka pada kaki. Jangan menggunakan penutup kornus/corns. Kornus-kornus ini seharusnya diobati hanya oleh podiatrist.
g.        Memeriksa kaki dan celah kaki setiap hari apakah terdapat kalus, bula, luka dan lecet.
h.        Menghindari penggunaan air panas atau bantal panas.
i.          Penggunaan alas kaki tepat, dengan cara :
©      Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir.
©      Memakai sepatu yang sesuai atau sepatu khusus untuk kaki dan nyaman dipakai.
©      Sebelum memakai sepatu, memerika sepatu terlebih dahulu, kalau ada batu dan lain-lain, karena dapat menyebabkan iritasi/gangguan dan luka terhadap kulit.
©      Sepatu harus terbuat dari kulit, kuat, pas (cukup ruang untuk ibu jari kaki) dan tidak boleh dipakai tanpa kaus kaki.
©      Sepatu baru harus dipakai secara berangsur-angsur dan hati-hati.
©      Memakai kaus kaki yang bersih dan mengganti setiap hari.
©      Kaus kaki terbuat dari bahan wol atau katun. Jangan memakai bahan sintetis, karena bahan ini menyebabkan kaki berkeringat.
©      Memakai kaus kaki apabila kaki terasa dingin.
©      Menghindari trauma berulang, trauma dapat berupa fisik, kimia dan termis, yang biasanya berkaitan dengan aktivitas atau jenis pekerjaan.
j.          Menghidari pemakaian obat yang bersifat vasokonstriktor misalnya adrenalin, nikotin.
k.        Memeriksakan diri secara rutin ke dokter dan memeriksa kaki setiap control walaupun ulkus diabetik sudah sembuh.







II.    TINJAUAN UMUM TENTANG MODERN DRESING
A.   Pengertian Modern Dresing
Perawatan luka modern adalah teknik perawatan luka dengan menciptakan kondisi lembab pada luka sehingga dapat membantu proses epitelisasi dan penyembuhan luka (Schulitz, et al. 2005; Hana,2009 ; saldy, 2010).
B.   Manfaat Bagi Perewatan Luka
1.      Mencegah luka menjadi kering dan keras.
2.      Menurunkan nyeri saat ganti balutan.
3.      Meningkatkan laju epitelisasi.
4.      Mencegah pembentukan jaringan parut.
5.      Dapat menurunkan kejadian infeksi.
6.      Balutan tidakperlu diganti tiap hari (Cost effective).
7.      Memberikan keuntungan psikologis.
8.      Mudah digunakan dan aman. (Schulitz, et al. 2005; Hana,2009 ; saldy, 2010).
C.   Jenis Dresing Yang Digunakan
1.    Metcovazin
Jenis tropical theraphy dengan paten wocare klinik, sangat mudah digunakan karena hanya tinggal mengoles saja, bentuk salep berwarna putih dalam kemasan. Berfungsi untuk support autolysis debridement, menghindari  trauma saat membuka balutan, mengurangi bau tidak sedap, mempertahankan suasana lembab dan support granulasi. Metcovazin keunggulan karena dapat dipakai untuk semua warna dasar luka dan mempersiapkan dasar luka menjadi sehat.
Ada beberapa jenis metcovaszin, diantaranya adalah :
1.      Metcovazin Regular
Tropikal therapy atau salep luka untuk jaringan nekrosis hitam dan kuning tanpa infeksi. Bahan aktif : Metronidazole dan Zinc.
2.      Metcovazin Gold
Tropical Therapy atau salep luka untuk semua jenis warna dadar luka yang terinfeksi, karena ada kandungan iodine-cadexomer sebagai zat yang signifikan menurunkan infeksi. Bahan aktif : Metcovazin Reguler plus iodine-cadexomer.
3.      Metcovazin Red
Topical Therapy atau salep luka untuk jaringan yang di granulasi merah, karena ada kandungan hydrocolloid. Bahan aktif : Metcovazin Reguler plus Hydrocoloid























BAB III
LAPORAN KASUS PERAWATAN LUKA
PADA Ny.St. K DENGAN ULKUS KAKI DIABETIK

A.   Pengkajian
1.    Identitas Klien
Nama                                  :  Ny.St. K           
Umur                                   : 57 Tahun
Jenis Kelamin                   :  Perempuan
Alamat                                 :  Jl. Pangkep
Status Perkawinan           :  Menikah
Agama                                :  Islam
Suku                                   :  Bugis
Tgl. Pengkajian                 :  01 April 2014
Sumber Informasi             :  Klien dan keluarga
Diagnosa                         :  Luka Kaki Diabetik
2.    Penanggung Jawab
a.                                                    Nama                               : Asrida
           Alamat                             : Pangkep
           Hubungan dendan klien : Anak Klien
B.   Status Kesehatan
1.    Keluhan Utama
            Klien mengeluh luka pada kaki kanan yang sulit sembuh
2.    Riwayat Keluhan Utama
Kurang lebih dua bulan yang lalu, klien tertusuk oleh jarum jahit. Luka hanya dirawat biasa oleh anak klien, namun luka klien tambah membesar dan infeksi . Akhirnya, klien memutuskan untuk dirawat di RS  dan menjalani operasi pengangkatan jaringan mati pada luka. Namun, satu bulan kemudian setelah klien dirawat di RS, luka klien tidak mengalami kesembuhan. Akhirnya klien dibawa ke ETN CENTRE pada Tanggal 24 Maret 2013  dan mendapatkan perawatan luka.

3.    Riwayat Kesehatan Masa Lalu
-       Klien telah menderita DM kurang lebih 10 tahun
-       Klien pernah di rawat di RS Pangkep kurang lebih 1 bulan akibat luka pada kaki kanan..
-       Klien pernah menjalani tindakan operasi berupa Debridment Surgical di RS Pangkep
4.    Riwayat Kesehatan Keluarga
           GENOGRAM : 3 Generasi
 

G.I

 


G.II
57
 





G.III
 

                                                                                                     
Keterangan :
                       : Laki-laki                 
                 : Perempuan
                 : Klien
 

               : Laki-laki Meninggal
               : Perempuan Meninggal
               : Garis Perkawinan
               : Tinggal serumah
                                                                            
 Penjelasan genogram :
·         Genarasi I :Kakek dan nenek klien telah meniggal dunia pada usia tua akibat penyakit  yang tidak    diketahui .
·         Generasi II: Ayah dan ibu klien   meninggal pada usia tua akibat  penyakit yang tidak  diketahui, dan orang tua dari suami klien juga telah meninggal dunia akibat penyakit yang tidak diketahui.
·         Generasi III: Klien  bersaudara 5 orang, dan klien menderita panyakit DM. Tidak ada saudara klien yang menderita penyakit yang sama dengan klien.
                  
C.   Keadaan Umum (Tgl 01. April. 2014)
1.  Klien nampak  sehat, namun susah berjalan karena luka pada kaki sebelah kanannya dan klien juga memakai tongkat
2.  Tanda – tanda vital :
TD: 130/90 mmhg
N  :   80x/m
S   :  36,5 oC
P   :  21 x/m
Ø  Pengkajian Luka
1.    Type luka
            Luka  : kronik
2.    Type penyembuhan luka
Secondary Intention (proses penyembuhan tertunda dan melalui tahap granulasi, kontraksi, dan epitelisasi.
3.    Tissue Loss
            Jaringan yang hilang pada luka  klien mencapai lapisan hypodermis.
4.    Penampilan Klinis
Penampilan klinik  Jaringan pada Luka klien adalah  granulasi  85 %,Slough 10 % dan Epitelisasi 5 %
5.    Lokasi luka
           Luka klien terletak pada kaki kanan
6.    Pengukuran Luka
           Panjang 9 cm, Lebar 7 cm
7.    Eksudat
           Jumlah Eksudat dari luka klien sedang dengan jenis eksudat serosangineus.
8.    Kulit Sekitar
           Kulit sekitar luka klien nampak normal,tidak kehitaman (merah, mengelupas)
9.    Nyeri
-        Nyeri yang dirasakan klien terletak pada angka  7-9
-          Skala nyeri menurut Hayward
Skala
Keterangan
0
Tidak nyeri
1-3
Nyeri ringan
4-6
Nyeri sedang
7-9
Sangat nyeri, tetapi masih dapat dikontrol dengan aktifitas yang biasa dilakukan
10
Sangat nyeri dan tidak bias dikontrol













D.   Keadaan Umum (Tgl 04. April. 2014)
1.    Klien nampak  sehat, namun susah berjalan karena luka pada kaki sebelah kanannya dan klien juga memakai tongkat
2.    Tanda – tanda vital :
TD: 130/80 mmhg
N  :   80x/m
S   :  36 oC
P   :  20x/m
Ø  Pengkajian Luka
1.    Type luka
           Luka  : kronik
2.    Type penyembuhan luka
Secondary Intention (proses penyembuhan tertunda dan melalui tahap granulasi, kontraksi, dan epitelisasi.
3.    Tissue Loss
Jaringan yang hilang pada luka  klien mencapai lapisan hypodermis.
4.    Penampilan Klinis
Penampilan klinik  Jaringan pada Luka klien adalah  granulasi  83 %,Slough 10 % dan Epitelisasi 7 %
5.    Lokasi luka
Luka klien terletak pada kaki kanan
6.    Pengukuran Luka
Panjang 9 cm, Lebar 7 cm
7.    Eksudat
Jumlah Eksudat dari luka klien sedang dengan jenis eksudat serosangineus.
8.    Kulit Sekitar
Kulit sekitar luka klien nampak normal,tidak kehitaman (merah, mengelupas)




9.    Nyeri
-          Nyeri yang dirasakan klien terletak pada angka 4-6
-          Skala nyeri menurut Hayward
Skala
Keterangan
0
Tidak nyeri
1-3
Nyeri ringan
4-6
Nyeri sedang
7-9
Sangat nyeri, tetapi masih dapat dikontrol dengan aktifitas yang biasa dilakukan
10
Sangat nyeri dan tidak bias dikontrol





















E.   Gambar Luka ( Tgl 1-04-2014)




























Gambar Luka (Tgl 04-04-2014)
           




























F.    Pengkajian Barbara Bates Jansen (BBJ)
     Posisi luka (beri nomor untuk setiap luka)
                                                            Depan                    Belakang





 


No
ITEMS
PENGKAJIAN




TANGGAL 01-04-2014

TANGGAL 04-04-2014
Luka
Luka
1.
UKURAN LUKA

1 = PXL < 4 cm
2 = PXL  4 < 16 cm
3 = PXL 16 < 36 cm
4 = PXL 36 < 80 cm
5 = PXL 80> 80 cm
4
4
2.
KEDALAMAN

1 = stage 1
2 = stage 2
3 = stage 3
4 = satge 4
5 = necrosis wound
3
3
3.
TEPI LUKA

1 = samar, tidak jelas   terlihat
2 = batas tepi terlihat, menyatu dengan dasar luka
3  = jelas,tidak menyatu dengan dasar luka
4  = jelas,tidak menyatu dengan dasar luka, tebal
5 = jelas, fibrotic, paruttebal/ hyperkeratonic
3











3
4.
GOA

1 = tidak ada
2 = goa < 2 cm di area manapun
3 = goa 2-4 cm <50% pinggir luka
4= goa 2-4 cm > 50 % pinggir luka
5 = goa > 4 cm di area manapun
1
1
5.
TIPE EKSUDAT

1 = tidak ada
2 = bloddy
3 = serosangineous
4 = serous
5 = purulent
3
3
6.
JUMLAH EKSUDAT

1 = kering
2 = moist
3 = sedikit
4 = sedang
5 = banyak
4
4
7.
WARNA KULIT SEKITAR

1 = pink/ normal
2 = merah terang jika ditekan
3 = putih atau pucat atau hipopigmentgasi
4 = merah gelap/ abu-abu
5 = hitam atau hiperpigmentasi
1
1
8.
JARINGAN YANG EDEMA

1 = no swelling atau edema
2 = non pitting edema kurang dari 4 cm di sekitar luka
3 = non pitting edema > 4 cm di sekitar luka
4 = pitting edema < 4 cm di sekitar luka
5 = krepitasi atau pitting edema > 4 cm
1
1
9.
JARINGAN GRANULASI







1 = kulit utuh atau stage 1
2 = terang 100 % jaringan granulasi
3  = terang 50 % jaringan granulasi
4 = granulasi 25 %
5 = tidak ada jaringan  granulasi
2
2
10
EPITELISASI

1 = 100% epitelisasi
2  = 75% - 100% epitelisasi
3  = 50% - 75% epitelisasi
4 = 25% - 50% epitelisasi
5 = < 25 % epitelisasi
5







5


Skor Total
27
27


Paraf Dan Nama Petugas






STATUS KONDISI LUKA
                                      04-04-2014  01-04-2014
                                      
 

      1                                                        30                                                      50  
Jaringan Sehat                            Regenerasi Luka                                Degenarasi Luka
Point 50 : waktu penyembuhan luka sekitar 12 minggu
Point 25 : waktu penyembuhan luka sekitar 6 minggu
 (beri tanda x dan tanggal pada status kondisi luka)
Kesimpulan : Perawatan luka ulkus kaki diabetic pada Ny. St.K pada pada tgl 01 April 2014 berada pada skor 27 yang berarti proses penyembuhan luka berada pada fase regenerasi luka seperti yang terlihat pada gambar diatas.
G.   IMPLEMENTASI
1.    Perawatan  tanggal 01 April 2014
1.    Luka
a.    Cuci Luka
Pada saat pengkajian awal, luka dibersihkan menggunakan sabun cair anti bakteri, dengan cara mencuci luka dari luar atau pinggir luka, luar dalam dan sela-sela jari sampai ke luka, kemudian dibersihkan dengan menggunakan larutan NaCL 0,9 %.
b.    Debridement
Jenis debridment yang dilakukan yaitu Debridement Mekanikal dan Conservative Sharp Wound Debridement (CSWD) : dengan cara mengangkat jaringan mati menggunakan pinset anatomis, pinset sirurgis dan kassa.


c.    Dressing Primer
1.    Metcovasin regular
Topical therapy atau salep luka untuk jaringan nekrosis hitam dan kuning tanpa infeksi. Bahan aktif : Metronidazole dan Zinc.





2.    Cutimed Sorbact
Menggunakan prinsip fisik interaksi hidrofobik. Dressing yang dilapisi dengan turunan asam lemak (DACC) memberi sifat-sifat yang sangat hidrofobik. Dalam lingkungan lembab luka yang terinfeksi, bakteri akan tertarik dan menjadi ireversibel terikat. Oleh karena itu dressing ini mengangkat juga menghilangkan bakteri pada luka (Arisanti, 2013)





d.    Dressing Sekunder
1.    Cutisorb® LA
Terbuat dari lapisan microperforated polyester yang kontak langsung dengan luka dan dapat meminimalkan dressing melekat pada luka serta memungkinkan sekresi luka terserap dengan cepat. Cutisorb® LA juga memiliki lapisan water-repellent yang dapat meminimalkan risiko kebocoran eksudat dan darah dari dressing. Absorbent dressing jenis ini diindikasikan untuk luka bersih dan luka pascaoperasi, luka lecet (abrasi), luka bakar derajat 1 dan 2, serta laserasi.

2.    Cutisorb® steril
Terbuat dari bahan polyamide/rayon non-woven yang lembut dengan lapisan berlapis sehingga mampu menyerap darah dan eksudat secara maksimal, tetapi tidak sampai merembes di permukaan dressing. Cutisorb® steril juga dapat meminimalkan rasa sakit pada saat pergantian dressing. Indikasi penggunaan Cutisorb® steril sebagai secondary dressing untuk kasus luka bereksudat sedang hingga banyak.






e.    Dressing Tersier
1.    Kassa berfungsi sebagai pelindung luka dari kelembapan
2.    Hypafix berfungsi sebagai perekat
3.    Tensocrepe berfungsi sebagai penguat dan pelindung dari balutan primer dan tersier
4.    Elastomull haft berfungsi sebagai penguat, pelindung dan perekat dari balutan primer dan tersier





                      Gambar. 1                             Gambar. 2                          Gambar. 3


  Gambar. 4                                                                                                        

BAB IV
PENUTUP

1.    KESIMPULAN
             Hasil observasi terhadap perawatan luka pada Ny. St.K pada tanggal 01 April 2014 menunjukkan,jumlah Eksudat dari luka klien sedang dengan jenis eksudat serosangineus. Penampilan klinis yaitu granulasi 85%, slough 10%, epitelisasi 5%. Dan pada tanggal 04 April 2014 penampilan klinis yaitu granulasi 83%, slough 10%, epitelisasi 7 %.

2.    HEALTH  EDUCATION
1.    Klien
a.    Menjelaskan pada klien tentang pentingnya mempertahankan gula darah tetap stabil.
b.    Menjelaskan kepada klien tentang penting menjaga area luka dari tekanan
c.    Menjelaskan kepada klien tentang pentingnya diet tinggi protein bagi pasien ulkus diabetic.
2.    Keluarga
a.    Menjelaskan kepada keluarga tentang pentingnya dukungan psikologis bagi pasien
b.    Menjelaskan kepada keluarga tentang pentingnya jadwal yang teratur dalam perawatan luka.






DAFTAR PUSTAKA

Anonym (2012). Diabetik Foot Ulcer, diakses pada tanggal 01 April 2014 jam 16.40 wita http://healthyenthusiast.com/diabetik-foot-ulcer.html

Anonym (2012). Tribee Salf, diakses pada tanggal 01 April 2014 jam 16.40 wita http://radixherbal.com/?Penjelasan_Product:Obat_Herbal:Tribee_Salf

Arisanty (2012). Panduan Praktis Pemilihan Balutan Luka Kronik, Penerbit Mitra Wacana Medika, Jakarta.

BSN Medical (2012). Products Surgical Dressing, dikutip pada tanggal 01 April 2014 jam 17.20 wita http://www.bsnmedical.com/en/products/acutewoundcare/dressings/surgicaldressings/absorbent/page.html

Decroli, dkk (2008). Profil Ulkus Diabetik pada Penderita Rawat Inap di Bagian Penyakit Dalam RSUP Dr M. Djamil Padang, diakses pada tanggal 02 April 2014 jam 20.21 wita http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/download/561/557

Handaya (2009). Ulkus Kaki Diabetes, diakses pada tanggal 02 April 2014  jam 20.40 wita http://dokteryudabedah.com/ulkus-kaki-diabetes/



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "ASKEP LUKA DAIBETES ETN CENTER"

Post a Comment