LAPORAN PENDAHULUAN MORBILI (CAMPAK) PADA ANAK
LAPORAN PENDAHULUAN
MORBILI (CAMPAK) PADA ANAK
A. DEFINISI
Morbili adalah penyakit virus akut, menular ditandai
dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium
konvalesensi,
Penyakit campak adalah penyakit akut yang disebabkan
oleh virus campak yang yang sangat menular dan pada umumnya menyerang anak-anak
( Soegijanto, 2008 ).
B. ETIOLOGI
Penyakit morbili atau campak disebabkan oleh virus
campak. Virus campak termasuk di dalam famili paramyxovirus yang
merupakan virus single sranded RNA. Di dalam virus terdapat nukleokapsid yang
bulat lonjong terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA).
Selubung luar merupakan suatu protein yang bersifat hemagglutinin, cara
penularan melalui droplet infeksi. ( Soegijanto, 2008 ).
C.
EPIDEMIOLOGI
Penyakit campak atau morbili bersifat endemik di
seluruh dunia. Pengalaman menunjukkan bahwa epidemi campak di Indonesia timbul
secara tidak teratur. Epidemi terjadi dengan interval 2-4 tahun sekali. Wabah
terjadi pada kelompok anak yang rentan, yaitu gizi buruk dan daya tahan yang
menurun.
Pada tahun1989 WHA ( World Health Assembly ) telah
mendeklarasikan komitmen WHO dalam penanggulangan campak secara global untuk
menurunkan campak sebanyak 90% dan dilanjutkan dengan deklarasi oleh the World
Summit tahun 1990 yang mengharapkan penurunan kematian campak sekitar 95%.
Penelitian Heriyanto pada KLB di Jawa dan luar Jawa
menunjukkan bahwa KLB terjadi pada daerah cakupan imunisasi rendah (
17,0-46,0%) dan angka serangan campak ( attack rate ) terjadi pada
anak usia 1-4 tahun dan 5-9 tahun masing-masing sebesar 10,45%-64,2% dan
4,5%-55,5%, dengan angka kematian ( CFR ) antara 0,43%-6,2%.
D. PATOFISIOLOGI
Infeksi
droplet
Eksudat
yang serius, poliferasi sel mononukleus, polimorfonukleus
Reaksi
inflamasi : demam metabolisme , RR
Kulit
menonjol sekitar sebasea & folikel rambut
Rash,
ruam pada daerah belakang telinga, leher, pipi, wajah, seluruh tubuh,
peskuamasi rasa gatal
Ggn
istirahat tidur
Ggn integritas kulit
E.
MENIFESTASI
v Demam
Demam
timbul secara bertahap dan meningkat sampai hari kelima atau keenam pada puncak
timbulnya ruam. Kadang-kadang kurva suhu menunjukkan gambaran bifasik : ruam
awal pada 24 sampai 48 jam pertama didikuti dengan turunnya suhu tubuh sampai
normal selama periode satu hari dan kemudian diikuti dengan kenaikan suhu tubuh
yang cepat mencapai 40ᵒC pada waktu ruam yang sudah timbul di seluruh tubuh.
Pada kasus yang tanpa komplikasi, suhu tubuh mengalami lisis dan kemudian turun
mencapai suhu tubuh yang normal.
v Coryza ( pilek )
Pilek
pada campak tidak dapat dibedakan dengan pilek pada keadaan influenza pada
umumnya. Tanda pertamanya bersin-bersin yang diikuti dengan gejala hidung buntu
dan sekret mukopurulen yang menjadi lebih berat pada puncak erupsi. Pilek ini
cepat menghilang setelah suhu tubuh penderita menjadi normal.
v Konjungtivitis
Garis
tepi transversal dari injeksi konjungtiva pada kelopak mata bawah kemungkinan
dapat dilihat pada awal gejala prodormal. Selanjutnya gejala tersebut tertutup
oleh peradangan konjungtiva yang berat bersamaan dengan edema palpebra dan
kurunkula. Lakrimasi meningkat dan aering penderita mengeluh fotopobia. Pada
kasus yang berat, koplik’s spot mungkin terdapat pada kurunkula.
Konjungtivitis akan menghilang segera setelah suhu tubuh menjadi normal.
v Batuk ( cough )
Gejala
batuk disebabkan oleh karena reaksi inflamasi traktur respiratoris. Seperti
gejala catharal lainnya,gejala batuk meningkat frekuensi dan
intensitasnya, mencapai puncaknya pada puncak erupsi. Gejala batuk bertahan
lebih lama dan biasanya menghilang dalam periode lima sampai sepuluh hari.
v Koplik’s spot
Kurang
lebih dua hari sebelum ruam timbul, gejala koplik’s spotyang merupakan
tanda pathognomosis dari penyakit campak, dapat dideteksi. Lesi ini
telah didiskripsi oleh koplik pada tahun 1896 sebagai suatu bintik
berbentuk tidak teratur dan kecil berwarna merah terang, pada pertengahannya
didapatkan noda berwarna putih keabuan. Mula-mula didapatkan hanya dua atau
tiga sampai enam bintik. Kombinasi dari noda keabuan dan merah muda terang
disekotarnya merupakan tanda pathognomonik absolut dari penyakit
campak. Timbulnyakoplik’s spot hanya berlangsung sebentar, kurang lebih 12
jam, sehingga sukar dideteksi dan biasanya luput pada waktu pemeriksaan klinis.
v Ruam
Ruam
timbul pertama kali pada hari ketiga sampai keempat dari timbulnya panas. Ruam
dimulai sebagai erupsi makulopapula eritematosa, dan mulai timbul pada bagian
samping atas leher, daerah belakang telinga, perbatasan rambut dikepala dan
meluas ke dahi. Kemudian menyebar ke bawah ke seluruh muka dan leher dalam
waktu 24 jam. Kemudian terus ke bawah dan mencapai kaki pada hari ketiga. Ruam
mulai berubah warna menjadi agak gelap pada hari ketiga timbulnya. Lesi
eritematosa awal akan memucat bila ditekan. Setelah tiga atau empat hari, lesi
tersebut berubah warna menjadi kecoklatan. Hal ini kemungkinan sebagai akibat
dari perdarahan kapiler,dan tidak memucat dengan penekanan. Dengan
menghilangnya ruam, timbul perubahan warna dari ruam, yaitu menjadi berwarna
kehitaman atau lebih gelap. Dan kemudian disusul dengan timbulnya deskuamasi
berupa sisik berwarna keputihan.
F.
STADIUM
Ø Stadium kataral (prodromal)
Stadium
ini berlangsung 4-5 hari. Gejala menyerupai influenza, yaitu demam, malaise,
batuk, fotopobia, konjungtivitis, dan koriza. Gejala khas adalah timbulnya bercak
koplik menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantem.
Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum, dikelilingi oleh
eritema, dan berlokalisasi di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah.
Ø Stadium erupsi
Gejala pada stadium
kataral bertambah dan timbul enantem di palatum durum dan palatum mole.
Kemudian terjadi ruam eritematosa yang berbentuk makula-papula disertai
meningkatnya suhu badan. Ruam mula-mula timbul di belakang telinga, di bagian
atas leteral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Dapat terjadi
perdarahan ringan, rasa gatal, dan muka bengkak. Ruam mencapai anggota gerak
bawah pada hari ketiga dan menghilang sesuai urutan terjadinya. Dapat terjadi
pembesaran kelenjar getah bening mandibula dan leher bagian belakang,
splenomegali, diare, dan muntah. Variasi lain adalah black
measles, yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung,
dan traktus digestivus.
Ø Stadium konvalesensi
Gejala
pada stadium kataral mulai menghilang, erupsi kulit berkurang dan meningglakan
bekas di kulit berupa hiperpigmentasi dan kulit bersisik yang bersifat
patognomonik. Pada penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit
menghilang tanpa hiperpigmentasi.
G.
KOMPLIKASI
1.
Akut
Ø Pneumonia
Merupakan
penyebab kematian pertama dari morbili karena perluasan infeksi virus disertai
dengan infeksi sekunder. Secara klinis manifestasinya dapat berupa
bronkhiolitis, Bronkopneumonia, dan Pneumonia Lobaris. Bakteri yang sering
menimbulkan Pneumonia pada Morbili adalah Streptococus, Pneumococus,
Stafilococus, Haemofilus, Influenza dan kadang-kadang dapat disebabkan oleh
Pseudomanas dan Klebsiela. Komplikasi ini harus dicurigai bila anak dengan
morbili menunjukkan adanya gangguan pernafasan disertai panas yang menetap.
Ø Gastroenteritis
Ø Enchefalitis
Merupakan
komplikasi yang berat dan sering menyebabkan kematian dan biasanya timbul pada
hari ke-2 sampai ke-6 sampai timbulnnya rash. Patogenesis komplikasi ini masih
belum diketahui secara pasti, beberapa dugaan seperti akibat invasi langsung
virus morbili ke otak, aktivasi virus yang laten atau Ensefalomielitis tipe
alergi. Gejalanya berupa panas, sakit kepala, muntah, lemah, kejang, koma atau
kelemahan umum. Perjalanan penyakit ini bervariasi dari yang ringan sampai yang
berat dan berakhir dengan kematian dalam 24 jam.
Ø Otitismedia
Ø Mastoiditis
Ø Laringotrakeobonkhitis
Ø Cervical
adenitis
Ø Purpura
Trombositopenik
Ø Aktivasi
Tuberculosis
Ø Ulcus
Kornea
Ø Apendicitis
2.
Kronik
Ø SSPE
( subakut sklerosing panensefalitis ).
Merupakan kelainan
Ø Kebutaan.
Ø Malnutrisi,
terjadi akibat intake yang kurang ( anoreksia, muntah ).
H.
PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis
yang khas, pemeriksaan serologi, isolasi virus dari urine atau swab
nasofaringeal.
Pada pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya
lekopeni, dalam sputum, sekresi nasal, sedimen urine dapat ditemukan
adanyamultinucleated giant cells. Pemeriksaan serologi dengan ELISA IgM
lebih sensitif bila diperiksa antara hari ke-3 sampai hari ke-28 timbulnua rash.
Pada pemeriksaan serologi dengan
cara heglutinin inhibition test dancomplemen fixation test akan
ditemukan adanya antibodi yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash
dan mencapai puncaknya pada 2-4 minggu kemudian. Tes ini cukup praktis dan spesifik
untuk mendiagnosis morbili atipik dan subklinik.
I.
PENATALAKSANAAN
Pengobatan campak umumnya ringan, self limited,
tidak tersedia anti viral spesifik, antibiotika tidak mempengaruhi perjalanan
klinik penyakit, sehingga pengobatan campak adalah suportif.
Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada penyakit
campak yang berat dan disertai mallnutrisi, akan mempercepat penyembuhan
pneumonia dan gastroenteritis, memperpendek lama tinggal di rumah sakit,
menurunkan angka kematian.
Imunisasi
campak dilakukan pada semua anak usia 9 bulan, 15 bulan dan 6 tahun .
J.
PATWAY
MORBILI
|
|
|
|
|
|
|
DAFTAR
PUSTAKA
Judith
M Wilkinson. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC
Rampengan
TH. 2006. Penyekit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta : EGC
Rudolph
Abraham. 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph Volume 1. Jakarta : EGC
Soegijanto
Soegeng. 2008. Penyakit Tropis dan Infeksi di Indonesia Jilid 6.Surabaya :
Airlangga University Press.
Staf
pengajar ilmu kesehatan anak. 2005. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta :
Infomedika.
0 Response to "LAPORAN PENDAHULUAN MORBILI (CAMPAK) PADA ANAK"
Post a Comment