LAPORAN PENDAHULUAN KONTRASEPSI IMPLAN
LAPORAN
PENDAHULUAN
KONTRASEPSI IMPLAN
I.
PENDAHULUAN
Setiap hari, diperkirakan 800 orang wanita meninggal
karena sebab yang sebetulnya dapat dicegah dari kehamilan dan persalinan. Di
antara angka tersebut, 99% di antaranya adalah berasal dari negara berkembang.
Di Indonesia sendiri, angka kematian ibu saat melahirkan masih tinggi, yakni sekitar
228 per 100.000 kelahiran hidup. Antara
tahun 1990 dan 2013, angka kematian ibu menurun hanya sekitar 2,6% per tahun. Jumlah
itu masih jauh dari target pemerintah dalam pencapaian target Millenium Development Goal (MDG), yakni
menurunkan angka kematian ibu sebesar
5,5% per tahun.(1,2)
Penyebab utama meninggalnya ibu saat melahirkan adalah
perdarahan saat persalinan. Resiko perdarahan ini akan meningkat jika ibu hamil
tersebut hamil terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, atau jarak melahirkan
terlalu dekat. Terkait dengan hal tersebut, dibutuhkan metode kontrasepsi untuk
mengatur jarak kehamilan. (1,2,3)
Kontrasepsi adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk
mencegah terjadinya kehamilan, baik itu sifatnya sementara maupun permanen. Kontrasepsi
telah digunakan di seluruh dunia untuk berbagai macam tujuan, diantaranya untuk
menunda kehamilan, membatasi jumlah anak, menghindari resiko
medis kehamilan (khususnya untuk penderita penyakit jantung, diabetes mellitus,
atau tuberkulosis), dan mengontrol populasi masyarakat
di seluruh dunia. Penggunaan kontrasepsi lebih meningkat
di negara maju berbanding negara berkembang. (4,5)
Tidak ada kontrasepsi yang sempurna jika ditinjau dari
efek samping dan efektifitasnya. Semua kontrasepsi memiliki kelebihan dan
kekurangan yang harus dipertimbangkan menurut keadaan pasien. Oleh karena itu,
individu harus berhati-hati untuk menghindari terjadinya efek samping yang
tidak diinginkan. Kontrasepsi yang ideal memenuhi syarat sebagai berikut: (4,5)
1. Dapat
dipercaya
2. Tidak
menimbulkan efek samping yang mengganggu kesehatan.
3. Daya
kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan.
4. Tidak
menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus.
5. Tidak
memerlukan motivasi yang terus-menerus.
6. Mudah
pelaksanaannya.
7. Murah
harganya dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
8. Dapat
diterima penggunaannya oleh pasangan yang bersangkutan.
Terdapat beberapa metode kontrasepsi, baik yang
menggunakan alat/obat-obatan maupun tidak. Contoh kontrasepsi tanpa alat antara
lain koitus interuptus, postkoital douche,
rhythm method. Sedangkan kontrasepsi
dengan alat/obat-obatan ada yang mekanis seperti kondom dan pesarium, ada yang
dengan spermisida, dan ada pula yang hormonal. Kontrasepsi hormonal di
antaranya ada yang berupa kombinasi esterogen-progesteron
dan ada pula yang hanya
berisi progestin saja. (4,5)
Referat ini lebih lanjut akan membahas tentang implan
yang merupakan salah satu alat kontrasepsi hormonal yang berisi hanya progestin
saja.
II.
SEJARAH
KONTRASEPSI IMPLAN
Perkembangan implan dimulai pada tahun 1966 dengan riset
yang dirintis oleh Segal dan Croxatto. Mereka menunjukkan bahwa hormon steroid
dapat dilepaskan secara terus-menerus lebih dari setahun dari dalam kapsul
silikon (silastik) yang ditanam di bawah kulit. Hasil awal ini membentuk dasar konseptual
perkembangan alat kontrasepsi implan jangka panjang. Tujuannya adalah untuk
untuk mengembangkan alat kontrasepsi yang dapat membantu
wanita membuat pilihan tunggal pada alat kontrasepsi yang efektif
selama beberapa tahun. (6)
Pada tahun 1975, percobaan klinis pertama diadakan pada
enam negara (Brazil, Chili, Denmark, Republik Dominika, Finlandia, dan Jamaika).
Pada tahun pertama didapatkan hasil dengan angka kehamilan sangat rendah (0,6
kehamilan dari 100 wanita), akseptabilitas yang baik, dan angka penggunaan
lanjut 75-80% sehingga studi klinis ini kemudian dilanjutkan. Ketika kapsul
dianalisa mengenai sisa steroid yang terdapat di dalamnya, hanya terdapat 10%
dari muatan LNG yang dilepaskan selama tahun pertama. Hal ini mengindikasikan
bahwa waktu penggunaan sistem enam batang bisa sampai beberapa tahun. (6)
Hasil yang didapatkan pada tahun 1980 tentang penggunaan
implan selama lima tahun menunjukkan bahwa implan LNG efektif, diterima dengan
baik, dan memiliki efek samping yang sedikit. Pada saat pengembangan kapsul
ini, yang mana dilakukan di laboratorium, dipindahkan produksinya ke industri
Leiras Oy di Finlandia, lalu dimulailah fase kedua studi implan LNG. (6)
Pada tahun 1980-an juga ditandai dengan pengembangan dan
percobaan terhadap implan LNG dua batang. Batang (rod) berbeda dengan kapsul. Tidak
seperti kapsul, yang mana diisi dengan kristal LNG dan terbungkus dalam tabung
silastik, setiap batang (rod) ini terdiri atas bagian inti yang terdiri atas
elastomer silikon dan LNG dalam jumlah berat yang sama, dibungkus dengan tabung
silikon berdinding tipis. Setiap batangnya memiliki panjang 1 cm lebih panjang
dari versi sebelumnya, dan mengandung hampir 2 kali lipat jumlah LNG yaitu 75
mg dibandingkan dengan 36 mg pada versi sebelumnya. Selama fase ini, banyak
percobaan klinis multinasional dilakukan yang melibatkan beberapa klinik di
Amerika. Pada tahun 1983, riset dasar tentang kapsul Norplant sudah selesai
secara esensial, tetapi investigasi tentang sistem implan 2 batang masih terus
dilanjutkan. Sayangnya, ketika percobaan-percobaan ini dilakukan, elastomer
yang digunakan dalam pembuatan batang implan tersebut tidak lagi tersedia
secara komersial. Hal ini memakan waktu beberapa tahun untuk mengidentifikasi
jenis elastomer lain yang penggunaannya pada LNG dapat memberikan kadar
pelepasan yang sesuai dengan batang implan yang original. Ketika batang implan
baru ini tersedia pada pertengahan tahun 1990, kemudian disebut Jadelle
(Jadena), percobaan klinis baru pun dimulai. (6,7)
Negara
pertama yang menerima pemasaran Norplant adalah Finlandia pada tahun 1983. Norplant
sendiri masuk ke Indonesia pada tahun 1986. Jadena 2 batang diperkenalkan pada tahun 1996 untuk
menggantikan Norplant 6 batang. Saat ini, Jadena telah diterima lebih dari 44 negara. (6,7)
Implanon merupakan implan batang tunggal berisi
etonogestrel (ENG), sebuah bentuk aktif dari desogestrel, yang dibungkus dalam
membran etilen vinil asetat. Tidak seperti LNG yang utamanya terikat pada sex hormone-binding globulin (SHBG), ENG
lebih terikat pada albumin yang mana tidak dipengaruhi oleh tingkat estradiol
endogen maupun eksogen dalam darah. (8)
III.
DEFINISI
Implan adalah kontrasepsi jangka panjang bersifat
reversibel berisi hanya progestin saja (progestin-only)
yang melepaskan sejumlah kecil progestin secara terus-menerus ke dalam aliran
darah. (9)
Kontrasepsi implan yang beredar di Indonesia antara lain
Norplant, Jadena, dan Implanon.
1.
Norplant terdiri dari enam batang silastik yang berisi
levonorgestrel masing-masing 36 mg. Masa kerjanya 5 tahun.
2.
Jadena terdiri dari dua batang yang masing-masing
mengandung 75 mg levonorgestrel. Masa kerjanya 5 tahun.
3.
Implanon adalah implan tunggal berisi etonogestrel 68 mg
dibungkus dalam sebuah membran etilen vinil asetat. Masa kerjanya 3 tahun. (7,10)
IV.
INDIKASI
DAN KONTRAINDIKASI
a. Indikasi.
Kontrasepsi implan merupakan pilihan yang baik untuk
wanita pada usia reproduksi yang aktif secara seksual dan menginginkan
kontrasepsi jangka panjang yang kontinu. Implan dipertimbangkan pada wanita
yang: (5,11)
1.
Ingin menunda kehamilan selanjutnya dalam 2 sampai 3
tahun.
2.
Menginginkan metode kontrasepsi jangka panjang dengan
efikasi yang tinggi.
3.
Mengalami efek samping terkait esterogen serius atau
minor dengan kontrasepsi esterogen-progestin.
4.
Mengalami kesulitan mengingat untuk mengkonsumsi pil
setiap hari, memiliki kontraindikasi atau kesulitan dengan penggunaan AKDR,
atau menginginkan metode kontrasepsi yang tidak terkait dengan koitus.
5.
Tidak ingin hamil lagi, tetapi
belum siap untuk melakukan sterilisasi permanen.
6.
Memiliki riwayat anemia dengan perdarahan menstrual yang
berat.
7.
Cenderung untuk menyusui selama setahun atau dua tahun.
8.
Memiliki penyakit kronis, yang kesehatannya dapat
terancam dengan kehamilan.
b. Kontraindikasi
Penggunaan implan merupakan
kontraindikasi absolut pada wanita dengan:(6,11)
1.
Kehamilan atau disangka hamil
2.
Penyakit tromboflebitis atau tromboemboli
3.
Perdarahan genital yang belum terdiagnosis.
Penggunaan
kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan perubahan pola perdarahan. Apabila terdapat
perdarahan genital yang belum terdiagnosis harus diterapi terlebih dahulu
sebelum pemasangan implan.
4.
Penyakit hati akut.
5.
Tumor hati yang jinak atau ganas.
Kontrasepsi
hormonal dimetabolisme di hati sehingga gangguan fungsi hati pada wanita dengan
penyakit hati akut maupun gangguan hati berupa tumor jinak atau ganas akan
menyebabkan hormon yang digunakan tidak dapat dimetabolisme dengan baik.
6.
Kanker payudara yang dicurigai atau telah diketahui.
Kanker
payudara terkait dengan hormon reproduksi wanita sehingga penderita kanker
payudara, baik yang dicurigai maupun yang telah diketahui, sebaiknya tidak
menggunakan kontrasepsi hormonal.
Penggunaan implan merupakan
kontraindikasi relatif pada wanita dengan:(6,11)
1. Perokok
berat (lebih 15 batang per hari) pada wanita berusia lebih 35 tahun
2. Riwayat
kehamilan ektopik
3. Diabetes
mellitus
4. Hiperkolesterolemia
5. Hipertensi
6. Riwayat
penyakit jantung. Contohnya : infark miokard, penyakit arteri koroner,
tromboembolik, dan pasien dengan katup jantung artifisial
7. Penyakit
kandung kemih
8. Penyakit
kronis ( immunocompromised)
Implan tidak dikontraindikasikan pada situasi berikut,
tetapi metode lain mungkin lebih disarankan: (11)
1.
Acne berat.
2.
Sakit kepala berat.
3.
Depresi berat.
4.
Penggunaan secara bersama-sama obat-obat yang menginduksi
enzim hati mikrosomal, di antaranya Carbamazepine, Felbamate, Nevirapine,
Phenobarbital, Phenytoin, Rifampicin, Griseofulvin, Troglitazone. Obat-obat ini
tidak direkomendasikan karena dapat meningkatkan risiko kehamilan akibat
turunnya kadar progestin dalam darah.
V.
EFEKTIFITAS
Kontrasepsi implan memberikan kontrol kehamilan yang
sangat efektif. Studi tentang Norplant pada 11 negara, dengan 12.133 akseptor wanita
sebagai subjek, angka kehamilan adalah 0,2 kehamilan dari 100 wanita per tahun
penggunaan. Salah satu kehamilan yang terjadi selama evaluasi ini adalah pada
saat insersi implan. Jika insersi selama fase luteal ini dikecualikan dari
analisis ini maka angka kehamilannya menjadi 0,01 kehamilan dari 100 wanita per
tahun. Pada remaja, implan Norplant memberikan poteksi yang lebih baik dalam
menghadapi kehamilan yang tidak diharapkan, dibandingkan dengan kontrasepsi
oral, dan faktor yang penting adalah angka keberlanjutan dengan Norplant.
Efikasi kontrasepsi dapat terjaga sampai 7 tahun penggunaan. (11)
Tidak ada pembatasan berat badan untuk akseptor Norplant,
tetapi wanita yang gemuk (lebih dari 70 kg) dapat mengalami angka kehamilan
yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang lebih kurus. Namun,
pada beberapa tahun terakhir angka kehamilan pada wanita gemuk yang menggunakan
Norplant lebih rendah daripada mereka yang menggunakan kontrasepsi oral.
Perbedaan angka kehamilan berdasarkan berat badan mungkin disebabkan oleh efek
dilusional akibat ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan kadar serum
levonorgestrel yang rendah dan berkelanjutan tersebut. Wanita yang gemuk
sebaiknya tidak mengandalkan Norplant pada batasan 5 tahun tersebut. Pada
wanita yang lebih langsing, durasi efikasi Norplant dapat lebih panjang dari 5
tahun. Pada beberpa percobaan lanjutan, tidak didapatkan kehamilan sampai pada
tahun ketujuh penggunaan. (11)
Efikasi kontrasepsi Implanon melebihi Norplant dan
sterilisasi. Jarang sekali terjadi kehamilan, menghasilkan Pearl Index sekitar
0,01 kehamilan dari 100 wanita per tahun penggunaan. Pada lebih dari 70.000
siklus, tidak ada kehamilan yang dilaporkan akibat inhibisi total ovulasi
sampai ovulasi diobservasi pada 6 bulan terakhir pada periode 3 tahun. Tidak
ada data tersedia terkait pengaruh berat badan pada efikasi Implanon. (11)
VI.
CARA
KERJA
Dengan penggunaan implan LNG, kehamilan dicegah melalui
mekanisme kombinasi sebagai berikut. Mekanisme primernya adalah: (6)
- Memproduksi mukus serviks yang tebal yang mencegah penetrasi sperma.
- Menghambat ovulasi, pada kurang lebih 50% siklus menstruasi.
Mekanisme sekunder, yang dapat mendukung kerja dari
mekanisme primer tersebut antara lain: (6)
- Mengurangi produksi progesteron alami oleh ovarium selama fase luteal bahkan pada siklus-siklus ketika ovulasi terjadi.
- Menekan pertumbuhan endometrium (hypoplasia).
Kadar pelepasan kontrasepsi implan ditentukan oleh area
permukaan total dan densitas implan yang mengandung progestin. Progestin
berdifusi dari dalam implan menuju ke jaringan sekitarnya melalui sistem
sirkulasi dan didistribusikan secara sistemik, mencegah kadar inisiasi yang
tinggi pada sirkulasi seperti pada steroid oral atau injeksi. Dalam 24 jam
setelah insersi Norplant, konsentrasi levonorgestrel dalam plasma menjadi
sekitar 0,4 sampai 0,5 ng/mL. Cukup
tinggi untuk mencegah konsepsi. Namun, sebuah studi tentang perubahan mukus
serviks mengindikasikan bahwa sebuah metode backup
harus digunakan 3 hari setelah insersi. (11)
Kapsul Norplant melepaskan sekitar 86 mcg levonorgestrel
per 24 jam selama 12 bulan pertama. Kadar ini berkurang secara bertahap menjadi
50 mcg per hari pada 9 bulan berikutnya, dan
menjadi 30 mcg per hari pada sisa waktu berikutnya. Hormon sejumlah 86
mcg yang dilepaskan oleh implan selama beberapa bulan pertama akan tersebut
sama dengan penggunaan kontrasepsi progestin-only
minipil levonorgestrel oral harian, dan 25 sampai 50 % dosis tersebut
didapatkan melalui kontrasepsi oral kombinasi dosis rendah. (11)
Berat badan mempengaruhi kadar levonorgestrel yang
bersirkulasi. Semakin tinggi berat badan seseorang, semakin rendah kadar
levonorgestrelnya. Pengurangan terbesar terjadi pada wanita dengan berat badan
lebih dari 70 kg, tetapi bahkan pada wanita gemuk, tingkat pelepasannya cukup
tinggi untuk mencegah kehamilan, paling tidak sama reliabilitasnya dengan
kontrasepsi oral. Konsentrasi plasma rata-rata di bawah 0,2 ng/mL dihubungkan
dengan peningkatan angka kehamilan. Setelah 6 bulan penggunaan kadarnya adalah
sekitar 0,35 ng/mL, pada 2,5 tahun kadarnya menjadi 0,25 sampai 0,35 ng/mL.
Sampai pada penggunaan tahun ke-8, kadar reratanya tetap di atas 0,25 ng/mL. (11)
Kadar levonorgestrel dapat pula dipengaruhi oleh kadar
sirkulasi sex hormone-binding globulin
(SHBG). Levonorgestrel memiliki afinitas yang tinggi terhadap SHBG. Pada minggu
setelah insersi Norplant, kadar SHBG berkurang secara cepat kemudian kembali
menjadi kira-kira setengah dari kadar 1 tahun sebelum insersi. Kadar SHBG ini
tidak seragam dan dapat diperhitungkan pada beberapa variasi individu dalam hal
konsentrasi levonorgerstrel plasma. (11)
Mekanisme konsepsi yang dicegah oleh Norplant hanya dapat
dijelaskan sebagian. Terdapat 3 mode aksi yang mungkin, yang sama dengan yang
diatribusikan pada efek kontrasepsi pada mini pil progestin-only. (8,11)
1.
Kadar konstan levonorgestrel memiliki efek berkepanjangan
terhadap mukosa serviks. Mukus menjadi tebal dan jumlahnya berkurang, membentuk
pelindung dari penetrasi sperma.
2.
Levonorgestrel menekan hipotalamus
dan pituitari, serta lonjakan
hormon LH yang dibutuhkan untuk ovulasi. Sebagaimana yang ditentukan
oleh kadar progesteron pada banyak akseptor selama beberapa tahun, kira-kira
sepertiga dari keseluruhan siklus adalah ovulatori. Selama 2 tahun pertama
penggunaan, hanya sekitar 10 % wanita ovulatori, tetapi dalam penggunaan lebih
dari 5 tahun terdapat lebih dari 50 persen. Pada siklus-siklus yang ovulatori
tersebut, terdapat insidensi insufisiensi luteal yang tinggi.
3.
Levonorgestrel menekan maturasi siklik akibat estradiol
pada endometrium dan selanjutnya menyebabkan atrofi.
Perubahan tersebut dapat mencegah implantasi pada saat terjadi fertilisasi.
Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa fertilisasi dapat dideteksi pada akseptor
Norplant.
Implanon mencegah ovulasi selama periode 3 tahun, dengan
perhitungan semua efek kontrasepsi. Namun, perkembangan folikuler dapat
terjadi, menghindarkan masalah klinis signifikan hipoesterogenemia, dan pada 6
bulan terakhir pada periode 3 tahun, terkadang terdapat ovulasi. Sementara
dengan Norplant efek progestasional diproduksi pada mukus servikal dan
endometrium. Angka kegagalan yang besar tidak didapatkan pada individu yang
gemuk. (11)
VII. PENGGUNAAN
Insersi dan pencabutan implan memerlukan prosedur bedah
minor di bawah pengaruh anestetik lokal. Implan idealnya diinsersikan pada hari
pertama sampai kelima pada siklus menstruasi normal. Ada pula yang
mengatakan diinsersikan pada hari ke 5 sampai ke 7 setelah menstruasi dimulai
untuk mencegah terjadinya ovulasi. Apabila amenore, hal yang harus dipastikan
adalah bahwa calon akseptor tidak sedang hamil. (10,12)
Pemasangan:
·
Persiapan alat non-steril: (6)
1.
Meja periksa
2.
Penyanggah tangan
3.
Sabun untuk mencuci tangan
4.
Pulpen atau marker
5.
Template
6.
Implan dalam kemasan
7.
Cairan antiseptik
8.
Anestetik lokal
·
Alat steril: (6)
1.
Doek steril
2.
Tiga buah mangkuk steril (untuk cairan antiseptik, kapas
alkohol, dan batang implan)
3.
Handschoen steril
4.
Spuit 5 atau 10 cc dengan needle 22G
5.
Trokar
6.
Scalpel dengan blade
7.
Forsep jaringan
8.
Plester
9.
Kain kasa
10.
Epinefrin untuk keadaan emergensi (syok anafilaktik)
·
Prosedur Pemasangan: (6)
1.
Pastikan pasien membersihkan lengan yang akan dipasangi
implan dengan air dan sabun, dan pastikan tidak ada sisa sabun.
2.
Posisikan pasien di meja dalam posisi nyaman dengan
lengan tersanggah lurus atau bengkok.
3.
Pasang kain bersih dan kering di bawah lengan pasien.
4.
Tentukan daerah optimal untuk insersi yaitu sekitar 8 cm
di atas lipatan siku. Gunakan template untuk membuat pola dan tandai daerah
yang akan di pasangi batang implan serta perkiraan ujung atas kedua implan
tersebut di kulit dengan spidol (marker).
5.
Siapkan tempat peralatan dan buka kotak instrumen steril
atau DTT tanpa menyentuh instrumen tersebut.
6.
Bukalah kemasan steril yang berisi 2 batang implan dan
jatuhkan batang implan tersebut ke dalam wadah mangkuk steril atau DTT.
7.
Cuci tangan dengan sabun dan air, kemudian keringkan.
8.
Kenakan sarung tangan steril atau DTT pada kedua tangan.
9.
Susun alat sehingga mudah untuk diambil.
10.
Berikan cairan antiseptik pada daerah yang akan diinsisi
dengan menggunakan kasa yang dijepit dengan forsep. Usapkan mulai dari daerah
yang akan diinsisi dan gerakkan meluas secara sirkuler hingga 8 hingga 13 cm.
Setelah itu biarkan mengering sekitar 1 sampai 2 menit. Ingat untuk tidak
menyentuh daerah yang belum didekontaminasi.
11.
Jika tersedia, pasangkan doek steril dengan lubang di
tengahnya pada daerah yang akan diinsersikan. Lubang tersebut harus cukup besar
untuk menampilkan seluruh daerah dimana batang implan akan diinsersikan.
12.
Setelah memastikan bahwa pasien tidak alergi terhadap
anestetik lokal, isilah spoit dengan 2 cc anestetik lokal (tanpa epinefrin).
13.
Masukkan jarum tepat di bawah kulit pada daerah insisi.
Injeksikan sejumlah kecil anestetik lokal pada daerah tersebut sampai
menggembung. Kemudian tanpa mencabut jarum, masukkan sekitar 5 cm lagi ke arah
pertengahan daerah antara yang akan dipasangi implan.
14.
Arahkan skalpel sekitar 45ᴼ dan buatlah insisi kecil
dangkal berukuran sekitar 2 mm untuk sekedar menembus kulit. Jangan membuat
insisi yang lebar atau dalam. Jika trokar yang akan digunakan masih baru, tidak
perlu dilakukan insisi.
15.
Masukkan trokar dengan ujung bevel menghadap ke atas.
Terdapat tiga tanda pada trokar, tanda yang berada di tengah tidak digunakan
untuk insersi implan. Tanda yang paling dekat dengan hub menandakan seberapa
jauh trokar harus dimasukkan ke bawah kulit sebelum implan dimasukkan. Tanda
yang paling dekat dengan ujung trokar menandakan seberapa jauh trokar bisa
ditarik ketika akan memasukkan implan pada lokasi berikutnya.
16.
Insersikan trokar dan plunger-nya ke bawah kulit melalui
lubang insisi yang telah dibuat sebelumnya dengan ujung bevel menghadap ke
atas. Masukkan trokar ke dalam, hentikan segera setelah ujungnya masuk ke dalam
kulit (2-3 mm dari ujung bevel). Jangan pernah memaksa trokar masuk. Jika
terdapat tahanan, arahkan pada sudut lain.
17.
Untuk menjaga batang implan tetap pada bidang
superfisial, tahan trokar ke atas ketika mendorong trokar di bawah kulit.
Dengan perlahan dorong trokar dan plunger-nya menuju tanda yang telah dibuat
pada kulit. Trokar tersebut harus cukup dangkal sehingga terlihat menonjol dan
bisa diraba di bawah kulit.
18.
Ketika trokar sudah sampai pada tanda yang paling dekat
dengan hub, lepaskan plunger dari trokar.
19.
Masukkan batang implan pertama melalui trokar. Gunakan
tangan atau forsep untuk memasukkan implan, sementara tangan yang satu lagi
tetap memegang trokar.
20.
Gunakan plunger untuk mendorong implan masuk dengan
perlahan sampai terasa tahanan.
21.
Tahan plunger pada posisinya, kemudian tarik trokar
sampai pada tanda yang paling dekat dengan bevel tadi sampai pada bekas insisi
(trokar tidak keluar dari kulit).
22.
Pastikan batang implan pertama telah bebas dari ujung
trokar dengan meraba ujung implan setelah trokar ditarik ke arah plunger.
23.
Tanpa mencabut trokar dari kulit, arahkan trokar masuk ke
arah satu lagi untuk pemasangan batang implan berikutnya.
24.
Palpasi ujung batang implan yang mengarah ke bahu untuk
memastikan implan terpasang dengan benar.
25.
Untuk meminimalkan risiko ekspulsi spontan dari batang
implan, palpasi daerah insisi untuk memastikan ujung implan berjarak sekitar 5
mm dari tempat insisi. Ujung-ujung batang implan yang berdekatan sebaiknya
berjarak sekitar 2-3 mm.
26.
Dengan hati-hati tarik trokar dan tekan bekas insisi
dengan kasa sekitar satu menit untuk menghentikan perdarahan. Lepaskan doek,
dan bersihkan daerah sekitar lokasi insersi dengan kapas cairan DTT atau
alkohol.
Langkah pemasangan Implanon: (13)
1.
Pemasangan Implanon harus dalam kondisi aseptik oleh petugas
kesehatan yang familiar dengan prosedurnya.
2.
Insersi Implanon adalah dengan menggunakan aplikator khusus.
Penggunaan aplikator ini berbeda dengan pemasangan klasik. Penarikan dari
aplikator yang dibongkar dan komponen-komponen lainnya tertera sepertti di
bawah ini.
3.
Prosedur yang digunakan untuk insersi Implanon adalah
kebalikan dari memberi injeksi. Ketika memasukkan Implanon, obturatornya harus
tetap terfiksasi ketika kanula ditarik dari kulit.
4.
Persilakan pasien untuk berbaring telentang dengan tangan
yang tidak dominan terbentang dan siku dibengkokkan.
5.
Untuk meminimalkan risiko kerusakan vaskular atau neural,
Implanon harus diinsersikan di sebelah medial lengan yang tidak dominan.
6.
Implanon harus dimasukkan secara subdermal, tepat dibawah
kulit. Jika Implanon dimasukkan terlalu dalam, dapat menyebabkan terjadinya
kerusakan vaskular atau neural. Juga akan mempersulit dalam melokalisasi dan
melepasnya kemudian.
7.
Tandai daerah insersi.
8.
Bersihkan daerah tersebut dengan antiseptik.
9.
Anestesi dengan anestetik semprot atau dengan 2 cc lidokain 1%
yang dimasukkan sepanjang kanal insersi.
10.
Buka kemasan Implanon.
11.
Sebelum membuka pelindung jarum, pastikan keberadaan batang
implan yang terlihat seperti benda putih di dalam ujung jarum. Jika implan
tidak terlihat, ketuk ujung atas pelindung jarum pada permukaan yang rata agar
implannya turun ke ujung jarum. Begitu pula sebaliknya jika implan keluar
terlalu jauh dari ujung jarum, ketukkan pelindung jarum agar implan berada pada
ujung jarum. Setelah itu, pelingung jarum dapat dilepaskan.
12.
Implan dapat jatuh sewaktu-waktu dari aplikatornya, karenanya
posisikan aplikator dengan posisi menghadap ke atas sampai pada waktu akan
melakukan insersi.
13.
Regangkan kulit di sekitar daerah insersi dengan jempol dan
telunjuk.
14.
Masukkan ujung jarum dengan sudut sekitar 20ᴼ.
15.
Lepaskan regangan kulit.
16.
Turunkan aplikator sampai pada posisi hampir horisontal.
17.
Ketika aplikator tersebut tampak mengangkat kulit, dorong
jarum sampai pada panjang maksimalnya. Jangan gunakan tenaga yang berlebihan.
Jarum tersebut harus sejajar di bawah kulit untuk memastikan Implanon diinsersi
tepat dibawah kulit.
18.
Biarkan aplikator berada sejejar dengan kulit. Jika implan
ditempatkan terlalu dalam, dapat menyebabkan parestesi dan migrasi implan
sehingga pencabutan implan akan menjadi lebih sulit.
19.
Patahkan segel aplikator.
20.
Putar obturator 90ᴼ
21. Fiksasi
obturator dengan satu tangan arah sejajar dengan lengan, sementara tangan yang
lainnya dengan pelan menarik kanula (jarum) lepas dari lengan. Jangan menekan
obturator.
22. Pastikan
implan sudah tidak ada di ujung jarum. Setelah retraksi kanula, ujung
bergelombang dari obturator akan terlihat.
23. Selalu
pastikan keberadaan implan dengan palpasi dan biarkan pasien meraba implan yang
sudah diinsersi tersebut.
Setelah melahirkan, implan dapat diinsersikan sebelum 21
hari postpartum. Jika diinsersikan lebih dari 21 hari postpartum, akseptor implan
disarankan untuk menggunakan kondom atau tidak berhubungan selama 7 hari. (10)
Pada kasus keguguran medis, implan dapat diinsersikan mulai
dari saat operasi sampai hari ke-5 pasca operasi. Jika diinsersikan lebih dari
hari ke-5 pasca operasi keguguran, akseptor implan disarankan untuk menggunakan
kondom atau tidak berhubungan selama 7 hari. (10)
Pencabutan implan: (14)
1.
Lokalisasi implan dengan palpasi, jika mungkin tandai
posisinya dengan marker. Jika tidak bisa teraba, lakukan lokalisasi dengan USG
atau X-Ray jaringan lunak.
2.
Injeksikan sejumlah kecil anestetik di bawah kulit tepat
di bawah ujung implan yang saling berdekatan. Jika diinjeksikan di atas implan,
dapat menyebabkan pencabutan menjadi lebih sulit.
3.
Buatlah insisi kecil ukuran 4 mm dengan scalpel di dekat
ujung implan.
4.
Tekan implan dengan perlahan ke arah lubang insisi.
5.
Ketika ujung implan tampak keluar dari lubang insisi,
jepit dengan forsep mosquito.
6.
Gunakan scalpel untuk membuka jaringan lunak yang
menyelubungi implan secara hati-hati.
7.
Jepit ujung implan dengan klem lain.
8.
Lepaskan mosquito.
9.
Tarik implan perlahan.
10.
Setelah itu, lakukan pada implan lain yang akan dicabut.
11.
Segera setelah pencabutan, implan baru dapat langsung
diinsersikan melalui lubang insisi yang sama dengan arah yang sama atau
berlawanan.
VIII. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN
a. Keuntungan
Implan adalah metode kontrasepsi yang aman, sangat
efektif, dan berkelanjutan yang membutuhkan hanya sedikit usaha dan tidak
seperti kontrasepsi injeksi jangka panjang, implan dapat mengembalikan
kesuburan secara cepat. Oleh karena merupakan metode progestin-only, implan dapat digunakan oleh wanita yang memiliki
kontraindikasi dengan kontrasepsi yang mengandung esterogen. Pelepasan
berkelanjutan progestin dosis rendah menghindarkan dosis inisiasi yang tinggi
oleh lonjakan hormonal yang tinggi akibat injeksi yang berhubungan dengan
kontrasepsi oral. Implan merupakan pilihan yang sangat baik untuk wanita
menyusui dan dapat diinsersikan segera setelah melahirkan. Tidak ada efek
terhadap kualitas atau kuantitas ASI, dan bayi dapat tumbuh normal. Keuntungan
lain metode implan adalah memungkinkan seorang wanita mengatur kehamilan secara
tepat kerena pengembalian fertilitas adalah tepat waktu setelah pencabutan,
berbeda dengan pengembalian fertilistas 6 sampai 18 bulan pada penggunaan
injeksi Depo-Povera. (11)
Pada wanita menyusui, gemuk, dengan diabetes gestasional
utama, minipil progestin-only secara
oral berhubungan dengan peningkatan risiko 3 kali lipat diabetes mellitus
non-insulin dependen. Telah diketahui bahwa meskipun hal ini dapat terjadi pada
semua wanita yang menderita diabetes gestasional atau pada semua metode
kontrasepsi progestin-only, cara pemberian
yang bijaksana tentang metode lain harus disarankan untuk kelompok wanita
tertentu. (11)
Satu dari keuntungan mayor metode pelepasan berkelanjutan
adalah efikasi yang tinggi, hampir sama dengan efektifitas teoritis. Pada
pasangan yang mana tidak mungkin melakukan aborsi elektif dalam hal kehamilan
yang tidak direncanakan, tingkat efikasi yang tinggi merupakan hal sangat
penting. Tidak ada pil yang lupa diminum, kondom yang bocor, diafragma yang
hilang, atau salah suntik. Untuk wanita pada risiko tinggi komplikasi medis
sehingga mereka tidak boleh hamil, implan yang pelepasan berkelanjutan ini
hadir dengan keuntungan keamanan yang signifikan. Akseptor impan harus
diyakinkan bahwa penggunaan implan tidak berhubungan dengan perubahan
metabolisme karbohidrat maupun lemak, koagulasi, fungsi hati atau ginjal, atau
kadar immunoglobulin. Oleh karena banyak wanita yang menginginkan implan dapat
saja mengalami pengalaman negatif dengan kontrasepsi lain, merupkan hal yang
penting untuk menjelaskan perbedaan antara metode ini dan metode sebelumnya. (11)
b. Kerugian
Terdapat beberapa kerugian yang berhubungan dengan
penggunaan sistem implan. Implan dapat menyebabkan disrupsi pada pola haid,
khususnya pada tahun pertama penggunaan, dan beberapa wanita tidak dapat
menerima perubahan pola haid tersebut. Esterogen endogen biasanya normal, dan
tidak seperti kontrasepsi oral esterogen-progestin, progestin tidak secara
reguler menyebabkan endometrial sloughing.
Akibatnya, endometrium runtuh pada interval yang tidak dapat diprediksi. (11)
Implan harus diinsersi dan dicabut pada dengan prosedur
pembedahan oleh petugas yang terlatih. Wanita itu sendiri
tidak dapat memulai atau menghentikan metode ini tanpa bantuan klinisi.
Kejadian pencabutan yang rumit adalah sekitar 5% untuk Norplant dan lebih
rendah lagi pada Implanon. Kejadian ini dapat diminimalisasi dengan pelatihan
yang baik dan insersi yang hati-hati. Implan dapat terlihat di bawah kulit.
Tanda ini mungkin tidak dapat diterima oleh beberapa pasangan. (11)
Implan tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit
menular seksual seperti herpes, HPV, HIV, gonore, atau klamidia. Meskipun
penggunanya biasanya jarang menggunakan kontrasepsi tambahan karena tingginya
efikasi metode ini, akseptor yang memiliki resiko
untuk mendapatkan penyakit menular seksual harus menggunakan kondom sebagai
metode tambahan untuk proteksi terhadap infeksi penyakit
menular seksual. (11)
Oleh karena insersi dan pencabutan implan memerlukan
prosedur bedah minor, biaya inisiasi maupun penghentian lebih tinggi jika
dibandingkan dengan metode kontrasepsi oral atau metode barrier. Biaya implan
ditambah biaya jasa untuk insersi dapat terlihat tinggi bagi pasien kecuali
jika pasien membandingkan dengan total biaya metode kontrasepsi lainnya selama
5 tahun. Terlepas dari pada itu, penggunaan jangka pendek implan lebih mahal
jika dibandingkan dengan metode reversibel jangka pendek lainnya, dan
kebanyakan wanita mungkin tidak mengharapkan penggunaan metode jangka panjang
dalam durasi penuh. (11)
IX.
EFEK
SAMPING DAN KOMPLIKASI
Kebanyakan akseptor implan mengalami gangguan pola haid,
termasuk haid memanjang atau tidak teratur atau spotting atau amenore. Komplikasi lainnya yang didapatkan adalah
pertambahan berat badan, sakit kepala, jerawat, kista ovarium, hiperpigmentasi
pada lokasi pemasangan implan, dan perubahan mood.(5,15)
1.
Perdarahan
Perubahan pola perdarahan sering terjadi pada wanita yang
menggunakan kontrasepsi implan. Sebuah studi retrospektif menunjukkan bahwa 25%
wanita tidak melanjutkan penggunaan implan setelah satu tahun pemakaian, dan
62% di antara alasan berhentinya adalah karena alasan perubahan pola
perdarahan. Namun, perubahan pola perdarahan ini biasanya
hanya terjadi pada tahun pertama pemakaian implan. (10)
2.
Perubahan berat badan
Sebuah
studi retrospektif menunjukkan bahwa beberapa wanita mengalami peningkatan
berat badan selama menggunakan implan. Peningkatan berat badan kumulatif dalam
3 tahun penggunaan adalah 2,8% sampai 12,7%. Perubahan berat badan yang
fluktuatif selama usia reproduktif memang umum terjadi, tetapi tidak ada bukti
untuk mendukung hubungan antara penggunaan implan dan perubahan berat badan. (10)
3.
Perubahan mood
Studi
non-komparatif telah menunjukkan perubahan mood pada sekitar 10% sampai 11%
wanita selama penggunaan implan 3 tahun. Namun, perubahan mood dalam arti
postif maupun negatif tidak didefinisikan. (10)
4.
Kehilangan libido
Dilaporkan
pada kurang dari 6% akseptor implan
progesteron. (10)
5.
Jerawat
Dilaporkan
bahwa jerawat terjadi atau memberat pada 13% wanita yang menggunakan implan. (10)
6.
Sakit kepala
Sebanyak
1% sampai 4% wanita akseptor implan mengeluhkan sakit kepala selama 3 tahun follow up penggunaan implan. Namun,
sakit kepala merupakan keluhan yang sangat umum sehingga sangat sulit untuk
menentukan bagaimana hubungan antara sakit kepala ini dengan penggunaan implan.
(10)
Efek samping tersebut kebanyakan terjadi akibat pelepasan
progestin oleh implan. Namun, hal ini tidak terjadi sesering pada penggunaan
pil. (5)
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain adalah
tromboemboli vena, penurunan densitas tulang, serta kanker payudara. Namun,
komplikasi tersebut sangat jarang terjadi dan belum cukup bukti untuk
menjadikan implan sebagai faktor risiko untuk penyakit-penyakit komplikasi
tersebut. (10)
Menurut Saifuddin (2010,
p.MK58-59) efek samping dari implan:
1)
Perdarahan bercak/spotting
Sering ditemukan pada tahun
pertama
Pengobatan:
a) Bila tidak ada masalah dan
klien tidak hamil, tidak diperlukan tindakan apapun.
b) Bila pasien merasa terganggu dapat diberikan pil kombinasi satu
siklus atau ibuprofen 3x 800 mg selama 5 hari.
2)
Ekspulsi
Cabut kapsul yang ekspulsi,
periksa apakah kapsul yang lain masih di tempat, dan apakah terdapat
tanda-tanda infeksi daerah insersi. Bila tidak ada infeksi dan kapsul lain
masih berada pada tempatnya, pasang kapsul baru 1 buah pada tempat insersi yang
berbeda. Bila infeksi, cabut yang ada dan pasang kapsul baru pada lengan yang
lain atau anjurkan klien menggunakan metode kontrasepsi lain
3)
Infeksi pada daerah insersi
a) Bila terdapat infeksi tanpa
nanah, bersihkan dengan sabun dan air, atau antiseptik, berikan antibiotik
selama 7 hari, implan jangan dilepas
b) Bila tidak membaik cabut
implan dan pasang yang baru, pada sisi lengan yang lain atau metode kontrasepsi
yang lain
c) Bila ditemukan abses, bersihkan dengan antiseptik danaliran pus
keluar, cabut implan lakukan perawatan luka dan berikan antibiotik oral 7 hari.
4)
Berat badan naik/turun
Perubahan berat badan 1-2 kg adalah
normal. Apabilaperubahan berat badan ini
tidak dapat diterima, bantu
klienmencari metode lain.
5)
Amenorea
a) Bila tidak hamil, tidak
memerlukan penanganan khusus, cukup
konseling saja
b) Bila klien tidak dapat
menerima, angkat implan dan ganti kontrasepsi lain
c) Bila terjadi kehamilan cabut
implan.
6)
Jerawat
a) Gejala :
timbul jerawat yang berlebihan pada wajah
b) Penyebab : karena faktor progesteronnya, terutama
nortestosteron menyebabkan peningkatan kadar lemak
c) Pengobatan:
(1) Bila tidak mengganggu cukup
dengan menjaga kebersihan wajah
(2) Bila ada infeksi dapat diberi
tetrasiklin 3-4 X 1 kapsul 250 mg selama tujuh hari
(3) Bila jerawat menetap dan
bertambah banyak sehingga tidak dapat ditolerir oleh klien cabut implan dan
ganti cara kontrasepsi non hormonal.
Waktu
pemasangan Implan
a. Sewaktu haid berlangsung
b. Setiap saat asal diyakini klien tidak
hamil
c. Bila menyusui : 6 minggu-6 bulan pasca
salin
d. Saat ganti cara dari metode yang lain
e. Pasca keguguran
X.
Konsep dasar Asuhan Keperawatan Pada
Akseptor KB Dengan Pemasangan Implan
Manajemen keperawatan adalah proses
pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran
dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam
rangkaian tahapan logis yang pengambilan keputusan berfokus pada klien (Salmah,
2002 : 157).
Tujuannya agar perawat mampu
memberikan asuhan keperawatan yang adekuat, komprehensif dan berstandar dengan
memperhatikan riwayat ibu selama ini, kebutuhan dan respon ibu serta
mengidentifikasi penyakit-penyakit yang ada dan mengantisipasinya.
Langkah-langkah asuhan keperawatan
adalah sebagai berikut:
1. PENGUMPULAN DATA
Adalah
data yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan klien/ keluarga dan tim
kesehatan berupa keluhan-keluhan tentang masalah kesehatan (manajemen
kebidanan, pusdiklat, 1996 : 7)
Tanggal dan Jam Pengkajian:
No. Register:Untuk
memudahkan dalam mencari riwayat kesehatan, kehamilan, atau persalinan yang
sebelumnya
1.1
Data Subjektif
1.1.1
Identitas (klien dan suami)
- Nama yang jelas dan lengkap, bila perlu
ditanyakan nama panggilan sehari-hari.
Informasi
ini digunakan untuk mengidentifikasi ibu dan membantu menciptakan hubungan baik
(rapport).
- Umur
Pertimbangan
dalam menentukan jenis kontrasepsi
- Agama
Hal
ini untuk memberikan asuhan yang berkaitan dengan kebiasaan yang dilakukan
klien sesuai dengan agama.
- Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan
sehingga mempermudah dalam pemberian informasi.
- Pekerjaan
Untuk mengetahui pengaruh
aktifitas terhadap kesehatan klien.
- Alasan kunjungan, digunakan untuk
mengetahui tujuan kunjungan klien (datang pertama kalinya, rutin, atau karena
ada keluhan)
1.1.2
Keluhan
utama
Keluhan yang dapat terjadi pada
ibu dengan akseptor implant antara lain: nyeri kepala, peningkatan atau
penurunan berat badan, nyeri payudara, mual, pusing, kegelisahan.
1.1.3
Riwayat
KB
KB apa saja yang sudah digunakan.
Kapan dan dimana dilakukan pemasangan implant.
1.1.4
Riwayat
menstruasi
Menstruasi
terakhir, siklus, lamanya, banyaknya, sifat darah, dismenorhea, fluor albus.
1.1.5
Riwayat
Obstetri
Jumlah anak, umur kehamilan,
jenis persalinan, penolong persalinan, jenis kelamin, berat badan lahir, umur
anak.
1.1.6
Riwayat kesehatan
klien(apakah klien
menderita penyakit jantung,
hepatitis, DM, TBC , epilepsi)
1.1.7
Riwayat kesehatan
keluarga klien(apakah
keluarga klien menderita penyakit jantung, hipertensi, hepatitis,
DM, asma, TBC ,epilepsi )
1.1.8
Riwayat
psiko sosial budaya
Sikap
pasangan terhadap KB (setuju/tidak)
1.2 Data
Obyektif
Data ini diperoleh melalui pemeriksaan fisik secara
inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi, pemeriksaan darah dalam dan pemeriksaan
laboratorium.
1.2.1
Pemeriksaan Umum
Keadaan umum: baik, cukup, kurang.
Kesadaran :
composmentis
TD :
<180/110 mmHg
Suhu :
normalnya 36 oC – 37 oC
Nadi :
normalnya 60 – 100 kali/menit. (reguler/ ireguler)
RR :
normalnya 16 – 24 kali/menit.
BB : untuk mengetahui ada
tidaknya pengaruh kontrasepsi yang digunakan dengan BB klien
1.2.2
Pemeriksaan
Fisik
1.2.2.1 Wajah : tidak pucat
1.2.2.2 Mata : conjungtiva : merah muda; Sklera : putih
1.2.2.3 Leher : tidak
ada bendungan vena jugularis, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid
1.2.2.4 Dada
: tidak ada benjolan pada payudara atau
riwayat kanker payudara
1.2.2.5 Abdomen
: tidak ada hepatosplenomegali,
tidak ada massa, tidak ada nyeri tidak ada tanda – tanda kehamilan,
1.2.2.6 Genetalia : tampak bersih, tidak ada kelenjar
bartholini.
1.2.2.7
Ekstrimitas:
tidak oedema.
2.
Interpretasi Data Dasar
Diagnosa
aktual : Ny. “…” Papah
akseptor KB dengan pencabutan dan pemasangnan implan
Masalah :
Masalah
dapat juga menyertai diagnosa yaitu sesuai dengan keluhan ibu, karena selama
menggunakan alat kontrasepsi belum tentu tidak ada masalah. Dan masalah yang
menyertai belum tentu dapat diartikan sebagai ketidaknormalan. Beberapa masalah
yang dapat terjadi selama pemakaian kontrasepsi misalnya berhubungan dengan
ketidaknyaman. Contohnya adalah nyeri payudara, pusing, berat badan naik , mual
dll
Kebutuhan : Kebutuhan klien berdasarkan
interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.
3. Mengidentifikasi Diagnosa atauMasalahPotensial
Identifikasi diagnosa atau
masalah potencial dibuat
setelah mengidentifikasi diagnosa atau masalah kebidanan. Langkah ini membutuhkan
antisipasi dan bila mungkin dilakukan pencegahan.
4. Identifikasi Kebutuhan Segera
Pada
tahap ini bidan mengidentifikasi perlunya tindakan segera, baik tindakan
konsultasi, kolaborasi dengan dokter atau rujukan berdasarkan kondisi klien.
5.
Menyusun Rencana Asuhan
Pada
langkah ini ditentukan oleh hasil kajian pada langkah sebelumnya. Informasi
atau data yang kurang dapat dilengkapi. Setiap rencana asuhan harus disetujui
oleh kedua belah pihak sehingga asuhan yang diberikan dapat efektif karena
sebagian dari asuhan akan dilaksanakan oleh klien. Rencana asuhan adalah
sebagai berikut:
5.1 Beritahu hasil pemeriksaan yang
dilakukan pada ibu.
R/ untuk memberikan informasi kepada ibu tentang
kondisinya saat ini.
5.2 Siapkan peralatan untuk
pencabutan implan
R/ untuk
memudahkan prosedur sebelum pencabutan.
5.3
Atur posisi ibu yang nyaman untuk dilakukan pencabutan.
R/
agar ibu memperoleh posisi yang nyaman dan memudahkan proses pencabutan.
5.4 Lakukan pencabutan implan.
R/ pencabutan dilakukan
karena masa kerja implan sudah habis.
5.5
Lakukan pemasanga implant kembali
R/akseptor
cocok dengan penggunaan kontrasepsi implan
5.6
Berikan konseling pasca pencabutan dan pemasangnan yaitu luka tidak boleh
terkena air selama 3 hari.
R/
agar luka insisi sembuh dengan baik
5.7
Anjurkan klien untuk datang kembali sewaktu-waktu jika ada keluhan
R/
agar keluhan dapat segera ditangani dengan baik
5.7
Lakukan dekontaminasi peralatan
R/
sebagai prosedur pencegahan infeksi
6.
Penatalaksanaan
6.1
Memberitahu
hasil pemeriksaan yang dilakukan pada ibu.
6.2
Menyiapkan
peralatan untuk pencabutan dan pemasangnan implan
6.3 Mengatur
posisi ibu yang nyaman untuk dilakukan pencabutan.
6.4
Melakukan
pencabutan implan.
6.5
Melakukan
pemasangan implan
6.6
Memberikan
konseling pasca pencabutan yaitu luka tidak boleh terkena air selama 3 hari.
6.7
Menganjurkan
klien untuk datang kembali sewaktu-waktu jika ada keluhan
6.8
Melakukan
dekontaminasi peralatan
7. Evaluasi
Langkah
ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut efektif dalam
pelaksanaannya. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk SOAP.
S : Ibu
mengerti penjelasan yang diberikan oleh bidan
O : Ibu
melakukan instruksi yang diberikan oleh bidan.
Implan sudah dicabut dan dipasangkan kembali.
A : Pencabutan
dan pemasangan implan sudah dilakukan dengan baik
P : menganjurkan ibu untuk datang
sewaktu-waktu jika ada keluhan.
DAFTAR PUSTAKA
1. HTA
Indonesia. KB pada Periode Menyusui –
Hasil Kajian HTA tahun 2009. Dirjen Bina Pelayanan Medik Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia. 2010.
2. BKKBN.
Adult and Maternal Mortality. In: Indonesia
Demographic and Health Survey 2012. 2013: 212-5
3. World
Health Organization. Maternal Mortalitity.
2012. [online] [cited: March 2nd, 2014] Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs348/en#
4.
Pernoll ML. Contraception. In: Benson and Pernoll’s Handbook of Obstetrics and Gynecology, 10th Ed.
New York: Medical Publishing Division. 2001: 727-41.
5. Albar
E. Kontrasepsi. In: Wiknjosastro H, editor. Ilmu
Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2007:
534-72.
6. Bayer Schering Farma. Jadelle Training Manual of Family Planning.
2008: [online] [cited: January 28th, 2014] Available from:
http://www.k4health.org/toolkits/implans/jadelle-training-manual-family-planning
7. Meirik O, Fraser IS, d’Arcangues
C. Implantable contraceptives for women. Human
Reproduction Update. 2003; 9(1):49-59.
8. Darney PD. Everything you need to
know about the contraceptive implants. Obg
Management. Sept 2006: 50-63.
9. Jacobstein R, Stanley H. Contraceptive
implants: providing better choice to meet growing family planning demand. Global Health: Science and Practice. 2013; 1(1). 11-17.
10. Clinical Effectiveness Unit. Progestogen-Only Implants. Faculty of
Sexual & Reproductive Healthcare. 2008.
11. Speroff
L, Fritz MA, editors. Long-Acting Methods of Contraception. In: Clinical Gynecologic Endocrinology and
Infertility, 7th Ed. Lippincott Williams and Wilkins. 2005: 950-61.
12. DelConte
A. Contraception. In: Curtis
MG, Overholt S, Hopkins MP,
editors. Glass’ Office
Gynecology, 6th Ed. Lippincott Williams and Wilkins. 2006: 347-61.
13. Merck. IMPLANON™ (etonogestrel implant) -- Reference Guide. 2013. [online]
[cited: January 28th, 2014] Available from:
http://www.k4health.org/toolkits/implans/implanon-reference-guide
14. Bayer HealthCare Pharmaceutical. Jadelle: Contraceptive Implants Up to 5
Years (insertion and removal flipchart). 2013. [online] [cited: January 28th,
2014] Available from:
http://www.k4health.org/toolkits/implans/jadelle-contraceptive-implans-5-years-insertion-and-removal-flipchart
15.
Memmel L, Gilliam M. Contraception. In: Gibbs RS, Karlan
BY, Haney AF, Nygaard IE, editors. Danforth’s
Obstetrics and Gynecology, 10th Ed. Lippincott Williams and Wilkins. 2008:
576-7.
0 Response to "LAPORAN PENDAHULUAN KONTRASEPSI IMPLAN"
Post a Comment