ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HEMOROID
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HEMOROID
Definisi
Kata “Hemoroid” berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘haem’ : darah, rhoos’ : mengalir. Jadi semua pendarahan yang ada di anus disebut hemoroid.
Hemoroid adalah pelebaran rasa di dalam pleksus hemoroidalis yang tidak merupakan keadaan patologik. Hanya apabila hemoroid ini menyebabkan keluhan atau penyulit, diperlukan tindakan. Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal dan dapat dibagi menjadi 2, yaitu hemoroid interna dan eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media dan hemoroid eksterna merupakan varises vena hemoroidalis inferior. Sesuai istilah yang digunakan, maka hemoroid eksterna timbul di sebelah luar otot sfingter ani, dan hemoroid interna timbul di sebelah dalam sfingter.
Etiologi
Penyebab pelebaran pleksus hemoroidalis di bagi menjadi dua :
1. Karena bendungan sirkulasi portal akibat kelaian organik.
Kelainan organik yang menyebabkan gangguan adalah :
• Hepar sirosis hepatis
Fibrosis jaringan hepar akan meningkatkan resistensi aliran vena ke hepar sehingga
terjadi hepartensi portal. Maka akan terbentuk kolateral antara lain ke esopagus dan
pleksus hemoroidalis .
• Bendungan vena porta, misalnya karena thrombosis.
• Tomur intra abdomen, terutama didaerah velvis, yang menekan vena sehingga aliranya
terganggu. Misalnya uterus grapida , uterus tomur ovarium, tumor rektal dan lain lain.
2. Idiopatik,tidak jelas adanya kelaianan organik, hanya ada faktor - faktor penyebab timbulnya
hemoroid.Faktor faktor yang mungkin berperan :
• Keturunan atau heriditer
Dalam hal ini yang menurun dalah kelemahan dinding pembuluh darah, dan bukan
hemoroidnya.
• Anatomi
Vena di daerah masentrorium tudak mempunyai katup. Sehingga darah mudah kembali
menyebabkan bertambahnya tekanan di pleksus hemoroidalis.
• Hal - hal yang memungkinkan tekanan intra abdomen meningkat antara lain :
- Orang yang pekerjaan nya banyak berdiri atau duduk dimana gaya grapitasi akan
mempengaruhi timbulnya hemoroid.Misalnya seorang ahli bedah.
- Gangguan devekasi miksi.
- Pekerjaan yang mengangkat benda - benda berat.
- Tonus spingter ani yang kaku atau lemah.
Pada seseorang wanita hamil terdapat 3 faktor yang mempengaruhi timbulnya hemoroid yaitu :
- Adanya tomur intra abdpomen.
- Kelemahan pembuluh darah sewaktu hamil akibat pengaruh perubahan hormonal.
- Mengedan sewaktu partus.
Factor predisposisi terjadinya Hemoroid :
a. Terlalu banyak mengedan saat buang air besar
b. Kebiasaan berjongkok atau duduk terlalu lama
c. Mengangkat beban terlalu berat
d. Wanita hamil yang mengedan saat melahirkan
e. Diare kronik
f. Usia lanjut
g. Hubungan seks peranal
h. Hereditas/ keturunan
i. Sembelit
j. Genetik predisposisi
k. Kurang berolahraga atau imobilisasi
l. Kurang makan-makanan berseerat
Patofisiologi:
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Kantung-kantung vena yang melebar menonjol ke dalam saluran anus dan rektum terjadi trombosis, ulserasi, perdarahan dan nyeri. Perdarahan umumnya terjadi akibat trauma oleh feses yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar meskipun berasal dari vena karena kaya akan asam. Nyeri yang timbul akibat inflamasi dan edema yang disebabkan oleh trombosis. Trombosis adalah pembekuan darah dalam hemoroid. Trombosis ini akan mengakibatkan iskemi pada daerah tersebut dan nekrosis.
a. Hemorrhoid interna:
Sumbatan aliran darah system porta menyebabkan timbulnya hipertensi portal dan terbentuk
kolateral pada vena hemorroidalis superior dan medius. Selain itu Sistem vena portal tidak
mempunyai katup sehingga mudah terjadi aliran balik.
b. Hemorrid eksterna:
Robeknya vena hemorroidalis inferior membentuk hematoma di kulit yang berwarna
kebiruan, kenyal-keras,dan nyeri. Bentuk ini sering nyeri dan gatal karena ujung-ujung saraf
pada kulit merupakan reseptor nyeri.
Gejala Klinik:
Gejala utama berupa :
a. Perdarahan melalui anus yanng berupa darah segar tanpa rasa nyeri.
Perdarahan merupakan tanda pertama dari hemoroid interna akibat trauma oleh feses yang
keras. Darah yang keluar berwarna merah segar dan tidak tercampur dengan feses.
b. Prolaps yang berasal dari tonjolan hemaroid sesuai gradasinya.
Hemoroid yag membesar secara perlahan-lahan akhirnya dapat menonjol keluar
menyebabkan prolaps. Pada tahap awal, penonjolan ini hanya terjadi pada waktu defekasi dan
disusul reduksi spontan saat defekasi. Pada stadium yang lebih lanjut, hemoroid interna ini
perlu didorong kembali setelah defekasi agar masuk kembali ke dalam anus.
Gejala lain yang mengikuti :
c. Nyeri sebagai akibat adanya infeksi sekunder atau trombus.
Nyeri hanya timbul apabila terdapat trombosis yang luas dengan edema yang meradang.
d. Iritasi kronis sekitar anus oleh karena anus selalu basah.
Iritasi kulit perianal dapat menimbulkan rasa gatal yang dikenal sebagai pruritus anus dan ini
disebabkan oleh kelembaban yang terus menerus dan rangsangan mukus.
e. Anemia yang menyertai perdarahan kronis yang terjadi
Jenis-jenis Hemoroid
Hemoroid diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
1. Hemoroid eksterna, yaitu hemoroid yang muncul di luar sfingter anal.
2. Hemoroid interna, yaitu hemoroid yang terjadi di atas sfingter anal.
(Brunner & Suddarth, 2001 : 1138)
Hemoroid Eksterna diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
• Akut : pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus (hematoma)ànyeri dan gatal
• Kronik : satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan penyambung dan sedikit
pembuluh darah
Hemoroid interna dibagi berdasarkan gambaran klinis, yaitu:
1. Derajat I: perdarahan merah segar tanpa nyeri saat defekasi, bila terjadi pembesaran
hemoroid yang tidak prolaps keluar kanal anus. Hanya dapat dilihat dengan anorektoskop,
2. Derajat II: menonjol melalui kanalis analis pada saat mengejan ringan, tetapi dapat
masuk kembali secara spontan, pembesaran hemoroid yang prolaps dan menghilang atau
masuk sendiri ke dalam anus secara spontan.
3. Derajat III: pembesaran hemoroid yang prolaps dapat masuk lagi ke dalam anus dengan
bantuan dorongan jari. Hemoroid menonjol saat mengejan dan harus didorong kembali
sesudah defekasi
4. Derajat IV: prolaps hemoroid yang permanen, rentan, dan cenderung untuk
mengalami trombosis atau infark. Hemoroid menonjol keluar dan tidak dapat
didorong masuk.
Kata “Hemoroid” berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘haem’ : darah, rhoos’ : mengalir. Jadi semua pendarahan yang ada di anus disebut hemoroid.
Hemoroid adalah pelebaran rasa di dalam pleksus hemoroidalis yang tidak merupakan keadaan patologik. Hanya apabila hemoroid ini menyebabkan keluhan atau penyulit, diperlukan tindakan. Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal dan dapat dibagi menjadi 2, yaitu hemoroid interna dan eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media dan hemoroid eksterna merupakan varises vena hemoroidalis inferior. Sesuai istilah yang digunakan, maka hemoroid eksterna timbul di sebelah luar otot sfingter ani, dan hemoroid interna timbul di sebelah dalam sfingter.
Etiologi
Penyebab pelebaran pleksus hemoroidalis di bagi menjadi dua :
1. Karena bendungan sirkulasi portal akibat kelaian organik.
Kelainan organik yang menyebabkan gangguan adalah :
• Hepar sirosis hepatis
Fibrosis jaringan hepar akan meningkatkan resistensi aliran vena ke hepar sehingga
terjadi hepartensi portal. Maka akan terbentuk kolateral antara lain ke esopagus dan
pleksus hemoroidalis .
• Bendungan vena porta, misalnya karena thrombosis.
• Tomur intra abdomen, terutama didaerah velvis, yang menekan vena sehingga aliranya
terganggu. Misalnya uterus grapida , uterus tomur ovarium, tumor rektal dan lain lain.
2. Idiopatik,tidak jelas adanya kelaianan organik, hanya ada faktor - faktor penyebab timbulnya
hemoroid.Faktor faktor yang mungkin berperan :
• Keturunan atau heriditer
Dalam hal ini yang menurun dalah kelemahan dinding pembuluh darah, dan bukan
hemoroidnya.
• Anatomi
Vena di daerah masentrorium tudak mempunyai katup. Sehingga darah mudah kembali
menyebabkan bertambahnya tekanan di pleksus hemoroidalis.
• Hal - hal yang memungkinkan tekanan intra abdomen meningkat antara lain :
- Orang yang pekerjaan nya banyak berdiri atau duduk dimana gaya grapitasi akan
mempengaruhi timbulnya hemoroid.Misalnya seorang ahli bedah.
- Gangguan devekasi miksi.
- Pekerjaan yang mengangkat benda - benda berat.
- Tonus spingter ani yang kaku atau lemah.
Pada seseorang wanita hamil terdapat 3 faktor yang mempengaruhi timbulnya hemoroid yaitu :
- Adanya tomur intra abdpomen.
- Kelemahan pembuluh darah sewaktu hamil akibat pengaruh perubahan hormonal.
- Mengedan sewaktu partus.
Factor predisposisi terjadinya Hemoroid :
a. Terlalu banyak mengedan saat buang air besar
b. Kebiasaan berjongkok atau duduk terlalu lama
c. Mengangkat beban terlalu berat
d. Wanita hamil yang mengedan saat melahirkan
e. Diare kronik
f. Usia lanjut
g. Hubungan seks peranal
h. Hereditas/ keturunan
i. Sembelit
j. Genetik predisposisi
k. Kurang berolahraga atau imobilisasi
l. Kurang makan-makanan berseerat
Patofisiologi:
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Kantung-kantung vena yang melebar menonjol ke dalam saluran anus dan rektum terjadi trombosis, ulserasi, perdarahan dan nyeri. Perdarahan umumnya terjadi akibat trauma oleh feses yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar meskipun berasal dari vena karena kaya akan asam. Nyeri yang timbul akibat inflamasi dan edema yang disebabkan oleh trombosis. Trombosis adalah pembekuan darah dalam hemoroid. Trombosis ini akan mengakibatkan iskemi pada daerah tersebut dan nekrosis.
a. Hemorrhoid interna:
Sumbatan aliran darah system porta menyebabkan timbulnya hipertensi portal dan terbentuk
kolateral pada vena hemorroidalis superior dan medius. Selain itu Sistem vena portal tidak
mempunyai katup sehingga mudah terjadi aliran balik.
b. Hemorrid eksterna:
Robeknya vena hemorroidalis inferior membentuk hematoma di kulit yang berwarna
kebiruan, kenyal-keras,dan nyeri. Bentuk ini sering nyeri dan gatal karena ujung-ujung saraf
pada kulit merupakan reseptor nyeri.
Gejala Klinik:
Gejala utama berupa :
a. Perdarahan melalui anus yanng berupa darah segar tanpa rasa nyeri.
Perdarahan merupakan tanda pertama dari hemoroid interna akibat trauma oleh feses yang
keras. Darah yang keluar berwarna merah segar dan tidak tercampur dengan feses.
b. Prolaps yang berasal dari tonjolan hemaroid sesuai gradasinya.
Hemoroid yag membesar secara perlahan-lahan akhirnya dapat menonjol keluar
menyebabkan prolaps. Pada tahap awal, penonjolan ini hanya terjadi pada waktu defekasi dan
disusul reduksi spontan saat defekasi. Pada stadium yang lebih lanjut, hemoroid interna ini
perlu didorong kembali setelah defekasi agar masuk kembali ke dalam anus.
Gejala lain yang mengikuti :
c. Nyeri sebagai akibat adanya infeksi sekunder atau trombus.
Nyeri hanya timbul apabila terdapat trombosis yang luas dengan edema yang meradang.
d. Iritasi kronis sekitar anus oleh karena anus selalu basah.
Iritasi kulit perianal dapat menimbulkan rasa gatal yang dikenal sebagai pruritus anus dan ini
disebabkan oleh kelembaban yang terus menerus dan rangsangan mukus.
e. Anemia yang menyertai perdarahan kronis yang terjadi
Jenis-jenis Hemoroid
Hemoroid diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
1. Hemoroid eksterna, yaitu hemoroid yang muncul di luar sfingter anal.
2. Hemoroid interna, yaitu hemoroid yang terjadi di atas sfingter anal.
(Brunner & Suddarth, 2001 : 1138)
Hemoroid Eksterna diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
• Akut : pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus (hematoma)ànyeri dan gatal
• Kronik : satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan penyambung dan sedikit
pembuluh darah
Hemoroid interna dibagi berdasarkan gambaran klinis, yaitu:
1. Derajat I: perdarahan merah segar tanpa nyeri saat defekasi, bila terjadi pembesaran
hemoroid yang tidak prolaps keluar kanal anus. Hanya dapat dilihat dengan anorektoskop,
2. Derajat II: menonjol melalui kanalis analis pada saat mengejan ringan, tetapi dapat
masuk kembali secara spontan, pembesaran hemoroid yang prolaps dan menghilang atau
masuk sendiri ke dalam anus secara spontan.
3. Derajat III: pembesaran hemoroid yang prolaps dapat masuk lagi ke dalam anus dengan
bantuan dorongan jari. Hemoroid menonjol saat mengejan dan harus didorong kembali
sesudah defekasi
4. Derajat IV: prolaps hemoroid yang permanen, rentan, dan cenderung untuk
mengalami trombosis atau infark. Hemoroid menonjol keluar dan tidak dapat
didorong masuk.
|
Derajat
|
Berdarah
|
Menonjol
|
Reposisi
|
|
|
I
|
(+)
|
(-)
|
(-)
|
|
|
II
|
(+)
|
(+)
|
Spontan
|
|
|
III
|
(+)
|
(+)
|
Manual
|
|
|
IV
|
(+)
|
tetap
|
Tidak dapat
|
Pleksus hemoroid
intern mengalirkan darah ke vena hemoroidalis superior vena porta sedangkan
Pleksus hemoroid eksterna mengalirkan darah ke peredaran sistemik melalui
daerah perineum dan lipat paha
ke vena iliaka.
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Colok
Dubur
Pada pemeriksaan colok
dubur, hemoroid interna stadium awal tidak dapat diraba sebab tekanan vena di
dalamnya tidak terlalu tinggi dan biasanya tidak nyeri. Hemoroid dapat diraba
apabila sangat besar. Apabila hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan
menebal. Trombosis dan fibrosis pada perabaan terasa padat dengan dasar yang
lebar. Pemeriksaan colok dubur ini untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma
rektum.
2. Pemeriksaan Anoskopi
Dengan cara ini dapat
dilihat hemoroid internus yang tidak menonjol keluar. Anoskop dimasukkan untuk
mengamati keempat kuadran. Penderita dalam posisi litotomi. Anoskop dan
penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam mungkin, penyumbat diangkat dan penderita
disuruh bernafas panjang. Hemoroid interna terlihat sebagai struktur vaskuler
yang menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita diminta mengejan sedikit maka
ukuran hemoroid akan membesar dan penonjolan atau prolaps akan lebih nyata.
Banyaknya benjolan, derajatnya, letak ,besarnya dan keadaan lain dalam anus
seperti polip, fissura ani dan tumor ganas harus diperhatikan.
3. Pemeriksaan
proktosigmoidoskopi
Proktosigmoidoskopi
perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan disebabkan oleh proses radang atau
proses keganasan di tingkat tinggi, karena hemoroid merupakan keadaan
fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Faeces harus diperiksa terhadap
adanya darah samar.
HEMOROIDEKTOMI
Suatu tindakan
pembedahan dan cara pengangkata pleksus hemoroidalis dan mukosa atau tanpa
mukosa yang hanya dilakukan pada jaringan yang benar-benar berlebih.
Buang air besar dengan
perdarahan berupa darah segar dan tidak bercampur dengan feses,prolaps hemoroid
disertai dengan anal discharge, pruritus ani dan dermatitis disekitar anus
(proktitis).
Indikasi operasi
Penderita dengan keluhan
menahun dan hemoroid derajat III dan IV.
Perdarahan berulang dan
anemia yang tidaksembuh dengan terapi lain yang lebih sederhana.
Hemoroid
derajat IV dengan thrombus dan nyeri hebat.
Kontra
indikasi operasi
Hemoroid
derajat I dan II
Penyakit
Chron’s
Karsinoma
rectum yang inoperable
Wanita
hamil
Hipertensi
portal
Teknik
pengangkatan dapat dilakukan menurut 3 metode:
a. Metode
Langen-beck(eksisi atau jahitan primer radier)
Dimana semua sayatan
ditempat keluar varises harus sejajar dengan sumbu memanjang
dari rectum.
b. Metode White
head (eksis atau jahitan primer longitudinal)
Sayatan dilakukan
sirkuler, sedikit jauh dari varises yang menonjol
c. Metode
Morgan-Milligan
Semua
primary piles diangkat
Teknik
operasi (Morgan Milligan):
1. Posisi
pasien littotomi atau knee-chest (menungging)
2. Anestesia
dapat dilakukan dengan general, regional atau lokal anestesia
3. Dilakukan
praktoskopi untuk identofikasi hemorrhoid
4. Dibuat
insisi triangular mulai dari kulit anal ke arah prosimal hingga pedikel
hemorrhoid
5. Jaringan
hemorrhoid di eksisi dengan gunting atau pisau, pedikel hemorrhoid diligasi
dengan chromic catgut 3-0
6. Defek
kulit dan mukosa dapat dirawat secara terbuka atau dijahit sebagian
7. Tindakan
diulang pada bagian yang lain
8. Lubang
anus dibiarkan terbuka atau ditampon dengan spongostan
A. PERSIAPAN KLIEN
DI UNIT PERAWATAN
I. PERSIAPAN FISIK
Persiapan fisik pre operasi
yang dialami oleh pasien dibagi dalam 2 tahapan, yaitu :
a) Persiapan di
unit perawatan
b) Persiapan di
ruang operasi
Berbagai persiapan fisik
yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum operasi antara lain:
1) Status kesehatan
fisik secara umum
Sebelum dilakukan
pembedahan, penting dilakukan pemeriksaan status kesehatan secara umum,
meliputi identitas klien, riwayat penyakit seperti kesehatan masa lalu, riwayat
kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik lengkap, antara lain status hemodinamika,
status kardiovaskuler, status pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik, fungsi
endokrin, fungsi imunologi, dan lain-lain. Selain itu pasien harus istirahat
yang cukup, karena dengan istirahat dan tidur yang cukup pasien tidak akan
mengalami stres fisik, tubuh lebih rileks sehingga bagi pasien yang memiliki
riwayat hipertensi, tekanan darahnya dapat stabil dan bagi pasien wanita tidak
akan memicu terjadinya haid lebih awal.
2) Status Nutrisi
Kebutuhan nutrisi
ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan, lipat kulit trisep,
lingkar lengan atas, kadar protein darah (albumin dan globulin) dan
keseimbangan nitrogen. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus di koreksi
sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk perbaikan
jaringan. Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai
komplikasi pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di
rumah sakit. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi pasca
operasi, dehisiensi (terlepasnya jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu),
demam dan penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang serius pasien dapat
mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian.
3) Keseimbangan
cairan dan elektrolit
Balance cairan perlu
diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output cairan. Demikaian juga
kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang normal. Kadar elektrolit yang
biasanya dilakuakan pemeriksaan diantaranya dalah kadar natrium serum (normal :
135 – 145 mmol/l), kadar kalium serum (normal : 3,5-5 mmol/l) dan kadar
kreatinin serum (0,70 – 1,50 mg/dl). Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait
erat dengan fungsi ginjal. Dimana ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam basa
dan ekskresi metabolit obat-obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik maka
operasi dapat dilakukan dengan baik. Namun jika ginjal mengalami gangguan
seperti oliguri/anuria, insufisiensi renal akut, nefritis akut maka operasi
harus ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal. Kecuali pada kasus-kasus yang
mengancam jiwa.
4) Kebersihan
lambung dan kolon
Lambung dan kolon harus
di bersihkan terlebih dahulu. Intervensi keperawatan yang bisa diberikan
diantaranya adalah pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan pengosongan lambung
dan kolon dengan tindakan enema/lavement. Lamanya puasa berkisar antara 7
sampai 8 jam (biasanya puasa dilakukan mulai pukul 24.00 WIB). Tujuan dari
pengosongan lambung dan kolon adalah untuk menghindari aspirasi (masuknya
cairan lambung ke paru-paru) dan menghindari kontaminasi feses ke area
pembedahan sehingga menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan. Khusus
pada pasien yang menbutuhkan operasi CITO (segera), seperti pada pasien
kecelakaan lalu lintas. Maka pengosongan lambung dapat dilakukan dengan cara
pemasangan NGT (naso gastric tube).
5) Pencukuran
daerah operasi
Pencukuran pada daerah
operasi ditujukan untuk menghindari terjadinya infeksi pada daerah yang
dilakukan pembedahan karena rambut yang tidak dicukur dapat menjadi tempat
bersembunyi kuman dan juga mengganggu/menghambat proses penyembuhan dan
perawatan luka. Meskipun demikian ada beberapa kondisi tertentu yang tidak
memerlukan pencukuran sebelum operasi, misalnya pada pasien luka incisi pada
lengan. Tindakan pencukuran (scheren) harus dilakukan dengan hati-hati jangan
sampai menimbulkan luka pada daerah yang dicukur. Sering kali pasien di berikan
kesempatan untuk mencukur sendiri agar pasien merasa lebih nyaman.
Daerah yang dilakukan
pencukuran tergantung pada jenis operasi dan daerah yang akan dioperasi.
Biasanya daerah sekitar alat kelamin (pubis) dilakukan pencukuran jika yang
dilakukan operasi pada daerah sekitar perut dan paha. Misalnya : apendiktomi,
herniotomi, uretrolithiasis, operasi pemasangan plate pada fraktur femur,
hemoroidektomi. Selain terkait daerah pembedahan, pencukuran pada lengan juga
dilakukan pada pemasangan infus sebelum pembedahan.
6) Personal Hygine
Kebersihan tubuh pasien
sangat penting untuk persiapan operasi karena tubuh yang kotor dapat merupakan
sumber kuman dan dapat mengakibatkan infeksi pada daerah yang dioperasi. Pada
pasien yang kondisi fisiknya kuat diajurkan untuk mandi sendiri dan
membersihkan daerah operasi dengan lebih seksama. Sebaliknya jika pasien tidak
mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene secara mandiri maka perawat akan
memberikan bantuan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
7) Pengosongan
kandung kemih
Pengosongan kandung
kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan kateter. Selain untuk pengongan isi
bladder tindakan kateterisasi juga diperluka untuk mengobservasi balance
cairan.
8) Latihan Pra
Operasi
Berbagai latihan sangat
diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangat penting sebagai
persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pasca operasi, seperti : nyeri daerah
operasi, batuk dan banyak lendir pada tenggorokan.
Latihan yang diberikan
pada pasien sebelum operasi antara lain :
Latihan Nafas Dalam
Latihan nafas dalam
sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi nyeri setelah operasi dan dapat
membantu pasien relaksasi sehingga pasien lebih mampu beradaptasi dengan nyeri
dan dapat meningkatkan kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat
meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. Dengan
melakukan latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar maka pasien dapat
segera mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan pasien.
Latihan nafas dalam
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Pasien tidur
dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler) dengan lutut ditekuk dan
perut tidak boleh tegang.
Letakkan tangan
diatas perut
Hirup udara
sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam kondisi muluttertutup rapat.
Tahan nafas
beberapa saat (3-5 detik) kemudian secara perlahan-lahan, udara dikeluarkan
sedikit demi sedikit melalui mulut.
Lakukan hal ini
berulang kali (15 kali)
Lakukan latihan
dua kali sehari praopeartif.
Latihan Batuk Efektif
Latihan batuk efektif
juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien yang mengalami operasi dengan
anstesi general. Karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu nafas
selama dalam kondisi teranstesi. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami
rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Dengan terasa banyak lendir kental di
tenggorokan. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setalah
operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut.
Pasien dapat
dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara :
Pasien condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari-jari tangan dan letakkan melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk.
Pasien condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari-jari tangan dan letakkan melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk.
Kemudian pasien
nafas dalam seperti cara nafas dalam (3-5 kali)
Segera lakukan
batuk spontan, pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya batuk dengan
mengadalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada
tenggorokan.
Hal ini bisa
menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya terhadap incisi.
Ulangi lagi
sesuai kebutuhan.
Jika selama batuk
daerah operasi terasa nyeri, pasien bisa menambahkan dengan menggunakan bantal
kecil atau gulungan handuk yang lembut untuk menahan daerah operasi dengan
hati-hati sehingga dapat mengurangi guncangan tubuh saat batuk.
Latihan Gerak Sendi
Latihan gerak sendi
merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah operasi, pasien dapat
segera melakukan berbagai pergerakan yang diperlukan untuk mempercepat proses
penyembuhan.
Pasien/keluarga pasien
seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setalah
operasi. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan tubuh karena takut jahitan
operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. Pandangan seperti ini
jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka
pasien akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga pasien akan
lebih cepat kentut/flatus. Keuntungan lain adalah menghindarkan penumpukan
lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan
terjadinya dekubitus. Tujuan lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk
mencegah stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal. Intervensi
ditujukan pada perubahan posisi tubuh dan juga Range of Motion (ROM). Latihan
perpindahan posisi dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun
kemudian seiring dengan bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan
secara mandiri.
Status kesehatn fisik
merupakan faktor yang sangat penting bagi pasien yang akan mengalami
pembedahan, keadaan umum yang baik akan mendukungh dan mempengaruhi proses
penyembuhan. Sebaliknya, berbagai kondisi fisiologis dapat mempengaruhi proses
pembedahan. Demikian juga faktor usia/penuaan dapat mengakibatkan komplikasi
dan merupakan faktor resiko pembedahan. Oleh karena itu sangatlah penting untuk
mempersiapkan fisik pasien sebelum dilakukan pembedahan/operasi.
Faktor resiko terhadap pembedahan
antara lain :
1. Usia
Pasien dengan usia yang
terlalu muda (bayi/anak-anak) dan usia lanjut mempunyai resiko lebih besar. Hal
ini diakibatkan cadangan fisiologis pada usia tua sudah sangat menurun .
sedangkan pada bayi dan anak-anak disebabkan oleh karena belum matur-nya semua
fungsi organ.
2. Nutrisi
Kondisi malnutris dan
obesitas/kegemukan lebih beresiko terhadap pembedahan dibandingakan dengan
orang normal dengan gizi baik terutama pada fase penyembuhan. Pada orang
malnutisi maka orang tersebut mengalami defisiensi nutrisi yang sangat
diperlukan untuk proses penyembuhan luka. Nutrisi-nutrisi tersebut antara lain
adalah protein, kalori, air, vitamin C, vitamin B kompleks, vitamin A, Vitamin
K, zat besi dan seng (diperlukan untuk sintesis protein).
Pada pasien yang
mengalami obesitas. Selama pembedahan jaringan lemak, terutama sekali sangat
rentan terhadap infeksi. Selain itu, obesitas meningkatkan permasalahan teknik
dan mekanik. Oleh karenanya dehisiensi dan infeksi luka, umum terjadi. Pasien
obes sering sulit dirawat karena tambahan berat badan; pasien bernafas tidak
optimal saat berbaring miring dan karenanya mudah mengalami hipoventilasi dan
komplikasi pulmonari pascaoperatif. Selain itu, distensi abdomen, flebitis dan
kardiovaskuler, endokrin, hepatik dan penyakit biliari terjadi lebih sering
pada pasien obes.
3. Penyakit Kronis
Pada pasien yang
menderita penyakit kardiovaskuler, diabetes, PPOM, dan insufisiensi ginjal
menjadi lebih sukar terkait dengan pemakian energi kalori untuk penyembuhan
primer. Dan juga pada penyakit ini banyak masalah sistemik yang mengganggu
sehingga komplikasi pembedahan maupun pasca pembedahan sangat tinggi.
4. Ketidaksempurnaan
respon neuroendokrin
Pada pasien yang
mengalami gangguan fungsi endokrin, seperti dibetes mellitus yang tidak
terkontrol, bahaya utama yang mengancam hidup pasien saat dilakukan pembedahan
adalah terjadinya hipoglikemia yang mungkin terjadi selama pembiusan akibat
agen anstesi. Atau juga akibat masukan karbohidrat yang tidak adekuat pasca
operasi atau pemberian insulin yang berlebihan. Bahaya lain yang mengancam
adalah asidosis atau glukosuria. Pasien yang mendapat terapi kortikosteroid
beresiko mengalami insufisinsi adrenal. Penggunaan oabat-obatan kortikosteroid
harus sepengetahuan dokter anastesi dan dokter bedahnya.
5. Merokok
Pasien dengan riwayat
merokok biasanya akan mengalami gangguan vaskuler, terutama terjadi
arterosklerosis pembuluh darah, yang akan meningkatkan tekanan darah
sistemiknya.
6. Alkohol dan
obat-obatan
Individu dengan riwayat
alkoholik kronik seringkali menderita malnutrisi dan masalah-masalah sistemik,
sperti gangguan ginjal dan hepar yang akan meningkatkan resiko pembedahan. Pada
kasus kecelakaan lalu lintas yang seringkali dialami oleh pemabuk. Maka sebelum
dilakukan operasi darurat perlu dilakukan pengosongan lambung untuk menghindari
asprirasi dengan pemasangan NGT.
II.
PERSIAPAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang
antara lain :
a) Pemeriksaan
Radiologi dan diagnostik, seperti : Foto thoraks, abdomen, foto tulang (daerah
fraktur), USG (Ultra Sono Grafi), CT scan (computerized Tomography Scan), MRI
(Magnrtic Resonance Imagine), BNO-IVP, Renogram, Cystoscopy, Mammografi, CIL
(Colon in Loop), EKG/ECG (Electro Cardio Grafi), ECHO, EEG (Electro Enchephalo
Grafi), dll.
b) Pemeriksaan
Laboratorium, berupa pemeriksan darah : hemoglobin, angka leukosit, limfosit,
LED (laju enap darah), jumlah trombosit, protein total (albumin dan globulin),
elektrolit (kalium, natrium, dan chlorida), CT BT, ureum kretinin, BUN, dll.
Bisa juga dilakukan pemeriksaan pada sumsun tulang jika penyakit terkaut dengan
kelainan darah.
c) Biopsi, yaitu
tindakan sebelum operasi berupa pengambilan bahan jaringan tubuh untuk
memastikan penyakit pasien sebelum operasi. Biopsi biasanya dilakukan untuk
memastikan apakah ada tumor ganas/jinak atau hanya berupa infeksi kronis saja.
d) Pemeriksaan
Kadar Gula Darah (KGD)
Pemeriksaan KGD
dilakukan untuk mengetahui apakah kadar gula darah pasien dalan rentang normal
atau tidak. Uji KGD biasanya dilakukan dengan puasa 10 jam (puasa jam 10 malam
dan diambil darahnya jam 8 pagi) dan juga dilakukan pemeriksaan KGD 2 jam PP
(ppst prandial).
III. PEMERIKSAAN STATUS
ANASTESI
Pemeriksaan ini
dilakukan karena obat dan teknik anastesi pada umumnya akan mengganggu fungsi
pernafasan, peredaran darah dan sistem saraf. Berikut adalah tabel pemeriksaan
ASA.
1) Tidak ada
gangguan organik, biokimia dan psikiatri
2) Gangguan
sistemik ringan sampai sedang yang bukan diseababkan oleh penyakit yang akan
dibedah
3) Penyakit
sistemik berat
4) Penyakit/gangguan
sistemik berat yang menbahayakan jiwa yang tidak selalu dapat diperbaiki dengan
pembedahan
5) Keadaan terminal
dengan kemungkinan hidup kecil, pembedahan dilakukan sebagai pilihan terakhir.
IV. INFORM CONSENT
Selain dilakukannya
berbagai macam pemeriksaan penunjang terhadap pasien, hal lain yang sangat
penting terkait dengan aspek hukum dan tanggung jawab dan tanggung gugat, yaitu
Inform Consent. Baik pasien maupun keluarganya harus menyadari bahwa tindakan
medis, operasi sekecil apapun mempunyai resiko. Oleh karena itu setiap pasien
yang akan menjalani tindakan medis, wajib menuliskan surat pernyataan
persetujuan dilakukan tindakan medis (pembedahan dan anastesi).
Inform Consent sebagai
wujud dari upaya rumah sakit menjunjung tinggi aspek etik hukum, maka pasien
atau orang yang bertanggung jawab terhdap pasien wajib untuk menandatangani
surat pernyataan persetujuan operasi. Artinya apapun tindakan yang dilakukan
pada pasien terkait dengan pembedahan, keluarga mengetahui manfaat dan tujuan
serta segala resiko dan konsekuensinya. Pasien maupun keluarganya sebelum
menandatangani surat pernyataan tersut akan mendapatkan informasi yang detail
terkait dengan segala macam prosedur pemeriksaan, pembedahan serta pembiusan
yang akan dijalani. Jika petugas belum menjelaskan secara detail, maka pihak
pasien/keluarganya berhak untuk menanyakan kembali sampai betul-betul paham.
Hal ini sangat penting untuk dilakukan karena jika tidak meka penyesalan akan
dialami oleh pasien/keluarga setelah tindakan operasi yang dilakukan ternyata
tidak sesuai dengan gambaran keluarga.
Peranan perawat dalam
memberikan dukungan mental dapat dilakukan dengan berbagai cara:
1. Membantu pasien
mengetahui tentang tindakan-tindakan yang dialami pasien sebelum operasi,
memberikan informasi pada pasien tentang waktu operasi, hal-hal yang akan
dialami oleh pasien selama proses operasi, menunjukkan tempat kamar operasi,
dll.
2. Memberikan
penjelasan terlebih dahulu sebelum setiap tindakan persiapan operasi sesuai
dengan tingkat perkembangan. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas.
3. Memberi
kesempatan pada pasien dan keluarganya untuk menanyakan tentang segala prosedur
yang ada. Dan memberi kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa
bersama-sama sebelum pasien di antar ke kamar operasi.
4. Mengoreksi
pengertian yang saah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal lain karena
pengertian yang salah akan menimbulkan kecemasan pada pasien.
5. Kolaborasi
dengan dokter terkait dengan pemberian obat pre medikasi, seperti valium dan
diazepam tablet sebelum pasien tidur untuk menurunkan kecemasan dan pasien
dapat tidur sehingga kebutuhan istirahatnya terpenuhi.
Pada saat pasien telah
berada di ruang serah terima pasien di kamar operasi, petugas kesehatan di situ
akan memperkenalkan diri sehingga membuat pasien merasa lebih tenang. Untuk
memberikan ketenangan pada pasien, keluarga juga diberikan kesempatn untuk mengantar
pasien samapi ke batas kamar operasi dan diperkenankan untuk menunggu di ruang
tunggu yang terletak di depan kamar operasi.
OBAT-OBATAN PRE MEDIKASI
Sebelum operasi
dilakukan pada esok harinya. Pasien akan diberikan obat-obatan permedikasi
untuk memberikan kesempatan pasien mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Obat-obatan premedikasi yang diberikan biasanya adalah valium atau diazepam.
Antibiotik profilaksis biasanya di berikan sebelum pasien di operasi.
Antibiotik profilaksis yang diberikan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya
infeksi selama tindakan operasi, antibiotika profilaksis biasanya di berikan
1-2 jam sebelum operasi dimulai dan dilanjutkan pasca beda 2- 3 kali.
Antibiotik yang dapat diberikan adalah ceftriakson 1gram dan lain-lain sesuai
indikasi pasien.
V. PERSIAPAN PASIEN DI
KAMAR OPERASI
Persiapan operasi
dilakukan terhadap pasien dimulai sejak pasien masuk ke ruang perawatan sampai
saat pasien berada di kamar operasi sebelum tindakan bedah dilakukan. Persiapan
di ruang serah terima diantaranya adalah prosedur administrasi, persiapan
anastesi dan kemudian prosedur drapping.
Di dalam kamar operasi
persiapan yang harus dilakukan terhdap pasien yaitu berupa tindakan drapping
yaitu penutupan pasien dengan menggunakan peralatan alat tenun (disebut : duk)
steril dan hanya bagian yang akan di incisi saja yang dibiarkan terbuka dengan
memberikan zat desinfektan seperti povide iodine 10% dan alkohol 70%.
Prinsip tindakan
drapping adalah:
Seluruh anggota
tim operasi harus bekerja sama dalam pelaksanaan prosedur drapping.
Perawat yang
bertindak sebagai instrumentator harus mengatahui dengan baik dan benar
prosedur dan prinsip-prinsip drapping.
Sebelum tindakan
drapping dilakukan, harus yakin bahwa sarung tangan tang digunakan steril dan
tidak bocor.
Pada saat
pelaksanaan tindakan drapping, perawat bertindak sebagai omloop harus berdiri
di belakang instrumentator untuk mencegah kontaminasi.
Gunakan duk klem
pada setiap keadaaan dimana alat tenun mudah bergeser.
Drape yang
terpasang tidak boleh dipindah-pindah sampai operasi selesai dan harus di jaga
kesterilannya.
Jumlah lapisan
penutup yang baik minimal 2 lapis, satu lapis menggunkan kertas water prof atau
plastik steril dan lapisan selanjutnya menggunakan alat tenun steril.
Teknik Drapping :
- Letakkan drape di
tempat yang kering, lantai di sekitar meja operasi harus kering
- Jangan memasang
drape dengan tergesa-gesa, harus teliti dan memepertahankan prinsip steril
Pertahankan jarak
antara daerah steril dengan daerah non steril
Pegang drape
sedikit mungkin
Jangan melintasi
daerah meja operasi yang sudah terpasang drape/alat tenun steril
tanpa perlindungan gaun
operasi.
Jaga kesterilan
bagian depan gaun operasi, berdiri membelakangi daerah yang tidak
steril.
Jangan melempar
drape terlalu tinggi saat memasang drape (hati-hati menyentuh
lampu operasi)
lampu operasi)
Jika alat tenun
yang akan dipasang terkontaminasi. Maka perawat omloop bertugas menyingkirkan
alat tenun tersebut.
Hindari tangan
yang sudah steril menyentuh daerah kulit pasien yang belum tertutup.
Setelah semua
lapisan alat tenun terbentang dari kaki sampai bagian kepala meja operasi,
jangan menyentuh hal-hal yang tidak perlu.
Jika ragu-ragu
terhdap kesterilan alat tenun, lebih baik alat tenun tersebut dianggap terkontaminasi.
B. Perawatan
Pasca Bedah
Bila
terjadi rasa nyeri yang hebat, bisa diberikan analgetika yang berat seperti
petidin
Obat
pencahar ringan diberikan selama 2-3 hari pertama pasca operasi, untuk
melunakkan faeses
Rendam
duduk hangat dapat dilakukan setelah hari ke-2 (2 kali sehari), pemeriksaan
colok dubur dilakukan pada hari ke-5 atau 6 pasca operasi. Diulang setiap
minggu hingga minggu ke 3-4, untuk memastikan penyembuhan luka dan adanya
spasme sfingter ani interna
Lakukan
sitbath setiap kali setelah BAB (1-2 minggu setelah operasi)
Makan
diet berserat dan yang adekuat, minum paling sedikit 2000 ml cairan dan
berolahraga ringan.
Komplikasi hemoroidektomi:
1. Komplikasi awal:
a.
Rasa nyeri pasca operasi, berlangsung s/d 2-3 minggu. Hal ini
terutama karena insisi dan ligasi pedikel hemoroid.
b.
Infeksi luka jarang terjadi; dapat timbul abses (1%), Infeksi
nekrotikans berat jarang ditemukan
c.
Perdarahan pasca operasi.
d.
Pembengkakan jembatan-jembatan kulit.
e.
Inkontinesia berat jangka pendek
2. Komplikasi
lanjut terdiri dari:
a.
Stenosis ani
b.
Terbentuknya skin tag
c.
Kekambuhan
d.
Fisura Ani. (retakan pada dinding anus yang disebabkan oleh
peregangan akibat lewatnya feses yang keras ataupun trauma) *fisiologi Sylvia
2006
e.
Inkontinensia ringan
f.
Infark feses, akibat penggunaan narkotika pasca operasi sebagai
anti nyeri.
g.
Perdarahan akibat pernanahan / infeksi daerah pedikel.
Biasanya sehingga ikatan/ jahitan terlepas. Hal in dapat terjadi pada pada
hari ke 7-16 pasca operasi.Tidak ada tindakan sepesifik yang dapat dilakukan
untuk mencegah komplikasi ini. Biasanya penderita harus menjalani “operasi
ulangan “ untuk beberapaligasi / jahitan hemostasis dengan di ruang
operasi.
Komplikasi Teknik
Milligan – Morgan : Striktura rektum dapat merupakan komplikasi dari
eksisi tunika mukosa rectum yang terlalu banyak. Sehingga lebih baik mengambil
terlalu sedikit daripada mengambil terlalu banyak jaringan ( Buku ajar
Bedah, David C. Sabiston).
Komplikasi teknik
stapler atau Procedur for Prolapse Hemorroids (PPH) atau Hemorroid circular
stapler. Meskipun jarang, tindakan PPH memiliki resiko yaitu :
1. Jika terlalu
banyak jaringan otot yang ikut terbuang, akan mengakibatkan kerusakan dinding
rektum.
2. Jika m.
sfinter ani internus tertarik, dapat menyebabkan disfungsi baik dalam jangka
waktu pendek maupun jangka panjang.
3. Seperti pada
operasi dengan teknik lain, infeksi pada pelvis juga pernah dilaporkan.
4. PPH bisa saja
gagal pada hemoroid yang terlalu besar karena sulit untuk memperoleh jalan
masuk ke saluran anus dan kalaupun bisa masuk, jaringan mungkin terlalu tebal
untuk masuk ke dalam stapler.
5. Komplikasi
yang mungkin terjadi adalah nyeri permanen (akibat teknik yang kurang
adekuat,inkontinensia alvi sampai dengan fistula rekto vaginal atau
rektouretral bila jaringan yang dieksisi terlalu dalam.mengenai sfingter.
Pencegahan
Upaya yang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya hemoroid antara lain:
1. Jalankan pola
hidup sehat.
2. Olah raga
secara teratur (ex.: berjalan).
3. Makan makanan
berserat (buah, sayuran, sereal, suplemen serat, dll) sekitar 20-25 gram
sehari.
4. Hindari
terlalu banyak duduk.
5. Jangan
merokok, minum minuman keras, narkoba, dll.
6. Hindari
hubunga seks yang tidak wajar (seks anal).
7. Minum air yang
cukup.
8. Jangan menahan
kencing dan berak.
9. Jangan
menggaruk dubur secara berlebihan.
10. Jangan
mengejan berlebihan.
11. Duduk
berendam pada air hangat.
12. Minum obat
sesuai anjuran dokter.
13. Lakukan
defekasi yang sehat.
Pendidikan kesehatan dan dischard planning .
1. Menjaga
Higiene personal yang baik dan menghindari mengejan berlebihan selama defekasi.
2. Diet
tinggi serat yang mengandung buah dan sekam, bila gagal dibantu dengan
menggunakan laksatif yang berfungsi mengabsorbsi air saat melewati usus.
3. Beritahukan
klien Tindakan untuk mengurangi pembesaran dengan cara: rendam duduk dengan
salep, supositoria yang mengandung anestesi, astringen (witch hazel) dan tirah
baring.
4. Lakukan
sitbath setiap kali setelah BAB paling kurang 1-2 minggu setelah operasi (untuk
pasien pasca operasi)
5. Makan
diet berserat yang adekuat, minum paling sedikit 2000 ml cairan dan berolah
raga ringan.
6. Pelembek
feses mungkin dibutuhkan setiap hari atau setiap beberapa hari hingga
penyembuhan sempurna.
7. Laporkan
gejala-gejala : perdarahan rektal, nyeri terus menerus waktu defikasi,
drainasse yang supuratif.
8. Dietetik dan
kebiasaan defekasi “ yang sehat”.
a. Mengingat
bahwa hemorroid terjadi karena kebanyakan mengedan secara kronik, maka upaya
utama adalah mencegah konstipasi & diare. Hal ini dapat dicapai dengan
memakan makanan yang berserat dan bercairan tinggi, kalau perlu dengan suplemen
a.l. psyllium. Psyllium bekerja sama dengan air mengencerkan feses dan
menurunkan konstipasi. Apabila masih diperlukan, dapat ditambahkan dengan
pelunak feses. Bagi banyak orang, psyllium juga berfungsi mencegah diare.
b. Banyak orang
yang biasa berlama-lama defekasi sambil duduk membaca koran, merupakan
kebiasaan yang buruk karena turut menjadi penyebab hemoroid. Motto: “ Anda
tidak defekasi di perpustakaan karena itu jangan membaca di toilet”
Diagnosa Keperawatan
PRE OPERASI
1) 1. Nyeri akut
berhubungan dengan iritasi pada ujung-ujung saraf nyeri oleh hematoma ditandai
dengan klien
mengeluh nyeri, klien
tampak meringis, klien tampak gelisah, klien tampak memposisikan diri untuk
menghindari nyeri.
2. PK: Perdarahan.
3. Defisit volume
cairan berhubungan dengan penurunan konsentrasi plasma darah ditandai
dengan klien tampak
pucat, turgor kulit
klien menurun, kulit klien tampak kering
4. Hipertermi
berhubungan dengan penurunan konsentrasi plasma darah ditandai
dengan klien mengeluh panas,
suhu tubuh klien
meningkat, klien tampak pucat, klien tampak menggigil.
5. Kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan iritasi pada ujung-ujung saraf gatal oleh
hematoma ditandai
dengan klien
mengeluh gatal, klien tampak menggaruk-garuk pantatnya.
POST OPERASI
1. Nyeri akut berhubungan dengan tindakan invasive pembedahan
hemoroidektomi ditandai dengan klien megeluh
nyeri pada luka post
op, klien tampak meringis, klien tampak memposisikan diri untuk menghindari
nyeri.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan peningkatan pajanan
patogen.
3. Ansietas berhubungan dengan krisis pasca pembedahan ditandai
dengan klien tampak gelisah, klien selalu
bertanya-tanya tentang
kesembuhannya.
Diagnosa Keperawatan, NOC dan NIC (Pre Operasi) :
1. Nyeri akut
berhubungan dengan iritasi pada ujung-ujung saraf nyeri oleh hematoma ditandai
dengan klien mengeluh nyeri, klien tampak meringis , klien tampak gelisah,
klien tampak memposisikan diri untuk menghindari nyeri.
Tujuan:
Setelah diberikan askep selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri klien dapat berkurang dengan kriteria hasil :
Setelah diberikan askep selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri klien dapat berkurang dengan kriteria hasil :
Melaporkan
gejala pada tenaga kesehatan
Mengenali
gejala-gejala nyeri
Mencatat
pengalaman tentang nyeri sebelumnya
Secara
subjektif, klien menyatakan penurunan rasa nyeri
Wajah klien
tampak relaks
Intervensi :
1. Kaji
karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, lama dan penyebarannya
Rasional : Variasi
penampilan dan perilaku klien karena nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian.
2. Berikan lingkungan
yang tenang sesuai indikasi
Rasional : Menurunkan
reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensivitas pada suara – suara bising
dan meningkatkan istirahat/relaksasi.
3. Berikan
bantalan flotasi di bawah bokong pada saat duduk
Rasional : Membantu
menurunkan nyeri akibat penekanan saat duduk.
4. Berikan
kompres hangat pada lokasi nyeri
Rasional : Meningkatkan
vasokontriksi, penumpukan resepsi sensori yang selanjutnya akan menurunkan
nyeri di lokasi yang paling dirasakan.
5. Berikan
rendaman duduk tiga atau empat kali sehari
Rasional : Menghilangkan
rasa sakit dan nyeri dengan merelakskan spasme sfingter
6. Berikan posisi
yang nyaman pada klien sesuai indikasi
Rasional : Menurunkan
gerakan yang dapat meningkatkan nyeri.
7. Berikan
analgetik, seperti asetaminofen
Rasional : Mungkin
diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat serta meningkatkan kenyamanan
dan istirahat
2. PK :
Perdarahan
Tujuan : Setelah
diberikan asuhan keperawatan selama 1x24 jam, perawat dapat meminimalkan
komplikasi yang terjadi dengan kriteria hasil:
Nilai Ht dan Hb
berada dalam batas normal
Klien tidak
mengalami episode perdarahan
Tanda-tanda
vital berada dalam batas normal
TD: 100 – 120 mm Hg
Nadi: 60-100x/menit
RR: 14 – 25 x/mnt
Suhu: 36 - 370C
± 0,50C
Intervensi :
1. Kaji pasien
untuk menemukan bukti-bukti perdarahan atau hemoragi
Rasional : Untuk
mengetahui tingkat keparahan perdarahan pada klien sehingga dapat menentukan
intervensi selanjutnya
2. Monitor tanda
vital
Rasional : Untuk mengetahui
keadaan vital pasien saat terjadi perdarahan.
3. Pantau hasil
lab berhubungan dengan perdarahan
Rasional : Banyak komponen
darah yang menurun pada hasil lab dapat membantu menentukan intervensi
selanjutnya
4. Siapkan pasien
secara fisik dan psikologis untuk menjalani bentuk terapi lain jika diperlukan
Rasional : Keadaan fisik
dan psikologis yang baik akan mendukung terapi yang diberikan pada klien
sehingga mampu memberikan hasil yang maksimal
5. Awasi jika
terjadi anemia
Rasional : Untuk
menentukan intervensi selanjutnya
6. Kolaborasi
dengan dokter mengenai masalah yang terjadi dengan perdarahan : pemberian
transfusi, medikasi
Rasional : mencegah
terjadinya komplikasi dari perdarahan yang terjadi dan untuk menghentikan
perdarahan
3. Defisit volume
cairan berhubungan dengan penurunan konsentrasi plasma darah ditandai dengan
klien tampak pucat, turgor kulit klien menurun, kulit klien tampak kering.
Tujuan:
Setelah diberikan
askep selama …x 24 jam diharapkan defisit volume cairan dapat diatasi dengan
kriteria hasil :
a. Fluid balance
TD dalam batas
normal (90/60 – 140/80)
Nadi dalam
batas normal
Masukkan dan
haluaran cairan harian seimbang
BB klien stabil
Turgor kulit
elastis
Hematokrit
dalam batas normal
Membran mukosa
lembab
b. Gastrointestinal
function
Warna feses
normal
Darah dalam
feses tidak ada
Intervensi:
A. Fluid Management
1. Monitoring BB
klien
Rasional : kekurangan
volume cairan menunjukkan tanda berupa penurunan berat badan.
2. Catat intake
dan output cairan
Rasional : memberikan
perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti dan keefektifan dari terapi yang
diberikan
3. Monitoring
status hidrasi (membrane mukosa, nadi, orthostatic dan penurunan hematokrit )
Rasional : hipovolemia
dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardi
4. Berikan terapi
cairan melalui IV sesuai indikasi
Rasional : tipe dan
jumlah cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan
5. Tingkatkan
intake cairan per oral
Rasional : mempertahankan
hidrasi / volume sirkulasi
B. Gastrointestinal
Function
1. Observasi
adanya darah pada feses
Rasional : perdarahan
berlebih memicu kekurangan volume cairan semakin berat.
2. Dokumentasikan
warna, jumlah, dan karakteristik feses
Rasional : perubahan
warna, jumlah dan karakteristik feses menunjukkan status cairan dalam saluran
cerna.
3. Penggunaan
koagulan sesuai indikasi
Rasional : penggunaan
koagulan yang efektif dapat menghentikan perdarahan.
Diagnosa Keperawatan, NOC
dan NIC ( Post Operatif) :
1. Nyeri akut
berhubungan dengan tindakan invasive pembedahan hemoroidektomi ditandai dengan
klien megeluh nyeri pada luka post op, klien tampak meringis, klien tampak
memposisikan diri untuk menghindari nyeri.
Tujuan:
Setelah diberikan
asuhan keperawatan selama …x 24 jam diharapkan pasien mengatakan nyeri
berkurang, dan tidak terlihat respon nyeri secara verbal pada klien, dengan
kriteria hasil:
Klien tidak
tampak meringis
Pasien tidak
terlihat kesakitan yang ditandai pasien dalam posisi yang nyaman
Pasien
mengatakan nyerinya berkurang menjadi 2 dengan skala nyeri 1 – 5
Intervensi:
Manajemen Nyeri
1. Kaji dan catat
kondisi keluhan nyeri klien ( dengan pola P,Q,R,S,T), yaitu dengan
memperhatikan lokasi,
intensitas, frekuensi,
dan waktu.
Rasional: Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan juga
tanda-tanda perkembangan komplikasi.
2. Kaji
pengetahuan pasien tentang nyeri dan kepercayaan tentang nyeri.
Rasional: Memudahkan dalam melakukan intervensi, karena kultur atau
budaya klien dapat mempengaruhi
persepsi tentang nyeri.
3. Ciptakan
lingkungan yang tenang dan membatasi pengunjung.
Rasional: Suasana yang tenang dapat mengurangi stimulus nyeri.
4. Kontrol dan
kurangi kebisingan
Rasional: Suasana yang tenang dapat mengurangi stimulus nyeri.
5. Ajarkan pasien
teknik distraksi
Rasional: Untuk memanajemen atau mengalihkan rasa nyeri pada klien.
6. Kaji riwayat
adanya alergi obat
Rasional: Mengetahui apakah ada alergi terhadap obat analgesik.
7. Pastikan
pasien menerima analgesic.
Rasional: Memastikan klien menerima obat pereda rasa nyeri
2. Risiko Infeksi
berhubungan dengan prosedur invasive (post hemoroidektomi) dan peningkatan
pemajanan lingkungan terhadap pathogen.
Tujuan :
Setelah
diberikan askep selama 3 X 24 jam tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil :
Keadaan
temperatur normal
tidak terdapat
tanda-tanda infeksi (kalor,lubor,tumor, dolor,fungsiolaesa)
Intervensi:
1. Pantau suhu
dengan teliti dan
tanda-tanda infeksi lainnya
Rasional : Mendeteksi kemungkinan
infeksi
2. Kaji keadaan luka dan
lakukan perawatan luka
Rasional : Mencegah terjadinya
infeksi
3. Tempatkan pasien
dalam ruangan khusus
Rasional : Meminimalkan terpaparnya
pasien dari sumber infeksi
4. Anjurkan semua
pengunjung dan staff rumah sakit untuk menggunakan teknik mencuci tangan dengan
baik
Rasional : meminimalkan
pajanan pada organisme infektif
5. Gunakan teknik
aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasive
Rasional : Untuk mencegah
kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi
6. Kolaborasi dalam
pemberian antibiotic.
Rasional : Mencegah terjadinya
infeksi
3. Ansietas berhubungan dengan krisis pasca pembedahan di
tandai dengan pasien tampak gelisah, pasien
selalu bertanya-tanya tentang kesembuhannya.
Tujuan:
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama … x 24 jam,di harapkan klien tidak mengalami
ansietas
dengan criteria hasil:
dengan criteria hasil:
Monitor
insentitas kecemasan
Menggunakan
strategi koping efektif
Melaporkan
penurunan durasidari episode cemas
Menggunakan
teknik relaksasi untuk menurunkan kecemasan
Mempertahankan penampilan
peran
Mempertahankan
hubungan sosial
Tidak ada
manifestasi perilaku kecemasan
Intervensi:
1. Kaji tingkat
kecemasan dan diskusikan penyebab bila mungkin.
Rasional: Identifikasi
masalah spesifik akan meningkatkan kemampuan individu untuk menghadapinya
dengan lebih realistis.
2. Dorong pasien
untuk mengugkapkan perasaan ,ketakutan ,presepsi dan berikan umpan balik.
Rasional: membuat hubungan
terapeutik. Membantu pasien mengidentifikasi masalah yang menyebabkan stress.
3. Memberikan
informasi faktual mengenai diagnosis,tindakan prognosis
Rasional: keterlibatan pasien
dalam perencanaan perawatan memberikan rasa control dan membantu menurunkan
ansietas.
4. Intruksikan
pasien menggunakan teknik relaksasi
Rasional: membantu untuk
menurunkan kecemasan pada pasien.
5. Berikan
lingkungan tenang dan istirahat
Rasional: membantu menurunkan
ansietas
6. Dorong
pasien/orang terdekat untuk menyatakan perhatian, prilaku perhatian.
Rasional: tindakan dukungan
dapat membantu pasien merasa stress berkurang.
7. Berikan obat
sesuai indikasi
Rasional: dapat digunakan
untuk menurunkan ansietas.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Hemoroid.http://medlinux.blogspot.com/2009/02/hemoroid.html. (diakses : 7 April
2011).
Guyton
& Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Johnson, M.,
2008. Nursing Outcomes Classification (NOC), second edition, Mosby,
Philadelphia.
McCloskey,J.C.
2008. Nursing Intervention Classification (NIC), second edition,
Mosby, Philadelphia.
NANDA, 2009. Nursing
Diagnoses : Definition and Classification 2007 – 2008, NANDA International,
Philadelphia.
Suddart, &
Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
0 Response to " ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HEMOROID"
Post a Comment