LAPORAN PENDAHULUAN KEHAMILAN TRIMESTER III
LAPORAN
PENDAHULUAN
KEHAMILAN
TRIMESTER III
1.
Definisi
Trimester tiga adalah
priode kehamilan tiga bulan terakhir atau sepertiga masa kehamilan terakhir.
Trimester tiga merupakan periode kehamilan dari bulan ketujuh sampai sembilan
bulan (28-40 minggu) (Farrer, 2001). Masa kehamilan dimulai dari konsepsi
sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9
bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Prawirohardjo, 2002).
Trimester
tiga adalah triwulan terakhir dari masa kehamilan yakni usia 7 bulan sampai 9
bulan atau 28 minggu – 40 minggu (syaifuddin, Abdul Bari : 2008 : 89)
Trimester
tiga adalah trimester trimester terakhir kehamilan, pada periode ini
pertumbuhan janin dalam rentang waktu 28-40 minggu. Janin ibu sedang berada di
dalam tahap penyempurnaan. (manuaba : 2008)
Trimester
ketiga sering disebut sebagai periode penentuan. Pada periode ini wanita
menanti kehadiran bayinya sebagai bagian dari dirinya, dia menjadi tidak sabar
untuk melihat bayinya (kusmiyati yuni : 2009).
2.
Perubahan
Fisiologis pada Trimester III
Pada trimester ketiga terjadi beberapa
perubahan pada tubuh ibu, yaitu :
a)
Uterus
Pada
akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram (berat uterus normal
30 gram) dengan panjang 20 cm dan dinding 2,5 cm. Pada bulan-bulan pertama
kehamilan bentuk uterus seperti buah alpukat agak gepeng. Pada kehamilan 16
minggu, uterus berbentuk bulat. Selanjutnya pada akhir kehamilan kembali
seperti bentuk semula, lonjong seperti telur. Hubungan antara besarnya uterus
dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui antara lain untuk membentuk
diagnosis, apakah wanita tersebut hamil fisiologik, hamil ganda atau menderita
penyakit seperti mola hidatidosa dan sebagainya.
Pada
kehamilan 28 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 3 jari diatas pusat atau
1/3 jarak antara pusat ke prosssus xipoideus. Pada kehamilan 32 minggu, fundus
uteri terletak antara ½ jarak pusat dan prossesus xipoideus. Pada
kehamilan 36 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 1 jari dibawah prossesus
xipoideus. Bila pertumbuhanjanin normal, maka tinggi fundus uteri pada
kehamilan 28 minggu adalah 25 cm, pada 32 minggu adalah 27 cm dan pada 36
minggu adalah 30 cm. Pada kehamilan 40 minggu, fundus uteri turun kembali dan
terletak kira-kira 3 jari dibawah prossesus xipoideus. Hal ini disebabkan oleh
kepala janin yang pada primigravida turun dan masuk kedalam rongga panggul.
b) Serviks Uteri
Serviks
uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon estrogen. Akibat
kadar estrogen yang meningkat dan dengan adanya hipervaskularisasi, maka
konsistensi serviks menjadi lunak. Serviks uteri lebih banyak mengandung
jaringan ikat yang terdiri atas kolagen. Karena servik terdiri atas jaringan
ikat dan hanya sedikit mengandung jaringan otot, maka serviks tidak mempunyai
fungsi sebagai spinkter, sehingga pada saat partus serviks akan membuka saja
mengikuti tarikan-tarikan corpus uteri keatas dan tekanan bagian bawah janin
kebawah.
Sesudah
partus, serviks akan tampak berlipat-lipat dan tidak menutup seperti spinkter.
Perubahan-perubahan pada serviks perlu diketahui sedini mungkin pada kehamilan,
akan tetapi yang memeriksa hendaknya berhati-hati dan tidak dibenarkan
melakukannya dengan kasar, sehingga dapat mengganggu kehamilan. Kelenjar-kelenjar
di serviks akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak.
Kadang-kadang wanita yang sedang hamil mengeluh mengeluarkan cairan pervaginam
lebih banyak. Pada keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan keadaan
fisiologik, karena peningakatan hormon progesteron. Selain itu prostaglandin
bekerja pada serabut kolagen, terutama pada minggu-minggu akhir kehamilan.
Serviks menjadi lunak dan lebih mudah berdilatasi pada waktu persalinan.
c) Vagina dan Vulva
Vagina
dan vulva akibat hormon estrogen juga mengalami perubahan. Adanya
hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vula tampak lebih merah dan agak
kebiru-biruan (livide). Warna porsio tampak livide. Pembuluh-pembuluh darah
alat genetalia interna akan membesar. Hal ini dapat dimengerti karena oksigenasi
dan nutrisi pada alat-alat genetalia tersebut meningkat. Apabila terjadi
kecelakaan pada kehamilan atau persalinan maka perdarahan akan
banyak sekali, sampai dapat mengakibatkan kematian. Pada bulan
terakhir kehamilan, cairan vagina mulai meningkat dan lebih kental.
d) Mammae
Pada
kehamilan 12 minggu keatas, dari puting susu dapat keluar cairan berwarna putih
agak jernih disebut kolostrum. Kolostrum ini berasal dari kelenjar-kelenjar
asinus yang mulai bersekresi.
e) Sirkulasi Darah
Volume
darah akan bertambah banyak ± 25% pada puncak usia kehamilan 32
minggu. Meskipun ada peningkatan dalam volume eritrosit secara keseluruhan,
tetapi penambahan volume plasma jauh lebih besar sehingga konsentrasi
hemoglobin dalam darah menjadi lebih rendah. Walaupun kadar hemoglobin ini
menurun menjadi ± 120 g/L. Pada minggu ke-32, wanita hamil mempunyai
hemoglobin total lebih besar daripada wanita yang tidak hamil. Bersamaan itu,
jumlah sel darah putih meningkat (± 10.500/ml), demikian juga hitung trombositnya.
Untuk
mengatasi pertambahan volume darah, curah jantung akan
meningkat ± 30% pada minggu ke-30. Kebanyakan peningkatan curah
jantung tersebut disebabkan oleh meningkatnya isi sekuncup, akan tetapi
frekuensi denyut jantung meningkat ± 15%. Setelah kehamilan lebih dari
30 minggu, terdapat kecenderungan peningkatan tekanan darah.
Sama
halnya dengan pembuluh darah yang lain, vena tungkai juga mengalami distensi.
Vena tungkai terutama terpengaruhi pada kehamilan lanjut karena terjadi
obstruksi aliran balik vena (venous return) akibat tingginya tekanan darah vena
yang kembali dari utrerus dan akibat tekanan mekanik dari uterus pada vena
kava. Keadaan ini menyebabkan varises pada vena tungkai (dan kadang-kadang pada
vena vulva) pada wanita yang rentan.
Aliran
darah melalui kapiler kulit dan membran mukosa meningkat hingga mencapai
maksimum 500 ml/menit pada minggu ke-36. Peningkatan aliran darah pada kulit
disebabkanoleh vasodilatasi ferifer. Hal ini menerangkan mengapa wanita “merasa
panas” mudah berkeringat, sering berkeringat banyak dan mengeluh kongesti
hidung.
f) Sistem Respirasi
Pernafasan
masih diafragmatik selama kehamilan, tetapi karena pergerakan diafragma
terbatas setelah minggu ke-30, wanita hamil bernafas lebih dalam, dengan
meningkatkan volume tidal dan kecepatan ventilasi, sehingga memungkinkan
pencampuran gas meningkat dan konsumsi oksigen meningkat 20%. Diperkirakan efek
ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi progesteron. Keadaan tersebut dapat
menyebabkan pernafasan berlebih dan PO2 arteri lebih rendah. Pada kehamilan
lanjut, kerangka iga bawah melebar keluar sedikit dan mungkin tidak kembali
pada keadaan sebelum hamil, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi wanita yang
memperhatikan penampilan badannya.
g)
Traktus Digestifus
Di
mulut, gusi menjadi lunak, mungkin terjadi karena retensi cairan intraseluler
yang disebabkan oleh progesteron. Spinkter esopagus bawah relaksasi, sehingga
dapat terjadi reguritasi isi lambung yang menyebabkan rasa terbakar di dada
(heathburn). Sekresi isi lambung berkurang dan makanan lebih lama berada di
lambung. Otot-otot usus relaks dengan disertai penurunan motilitas. Hal ini
memungkinkan absorbsi zat nutrisi lebih banyak, tetapi dapat menyebabkan
konstipasi, yang merupakan salah satu keluhan utama wanita hamil.
h) Traktus Urinarius
Pada
akhir kehamilan, kepala janin mulai turun ke PAP, keluhan sering berkemih
timbul karena kandung kemih mulai tertekan. Disamping itu, terdapat pula
poliuri. Poliuri disebabkan oleh adanya peningkatan sirkulasi darah di ginjal
pada kehamilan sehingga laju filtrasi glomerulus juga meningkat sampai 69%.
Reabsorbsi tubulus tidak berubah, sehingga produk-produk eksresi seperti urea,
uric acid, glukosa, asam amino, asam folik lebih banyak yang dikeluarkan.
i)
Sistem Imun
HCG
dapat menurunkan respon imun wanita hamil. Selain itu kadar IgG, IgA dan Ig M
serum menurun mulai dari minggu ke-10 kehamilan hingga mencapai kadar terendah
pada minggu ke-30 dan tetap berada pada kadar ini, hingga aterm.
j)
Kulit
Pada
kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat tertentu.
Pigmentasi ini disebabkan oleh pengaruh melanophone stimulating hormone (MSH)
yang meningkat. MSH ini merupakan salah satu hormon yang juga dikeluarkan oleh
lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat deposit pigmen dahi, pipi, dan
hidung, yang dikenal sebagai kloasma gravidarum.
3.
Perubahan
Psikologis Ibu pada Kehamilan Trimester III
Bertambahnya usia kehamilan akan menyebabkan perasaan yang tidak
nyaman dan ingin segera melahirkan. Pada masa ini ibu akan disibukan oleh
persiapan-persiapan kebutuhan bayi. Selain itu akan disibukan pula oleh
pengontrolan kehamilan yang lebih ketat. Menjelang dua minggu kelahiran
banyinya, perasaan ibu sudah tidak sabar ingin melihat dan menyentuh bayinya
(Hulliana, 2001). Trimester ketiga ditandai dengan klimaks kegembiraan emosi
karena kelahiran bayi. Sekitar bulan ke-8 mungkin terdapat periode tidak
semangat dan depresi, ketika bayi membesaar dan ketidaknyamanan bertambah.
Calon ibu menjadi lelah dan menunggu terlalu lama. Reaksi calon ibu terhadap
persalinan secara umum tergantung pada persiapan dan persepsi ibu terhadap
kehamilan ini (Hamilton, 2005).
Pada periode ini, kecemasan-kecemasan menghadapi persalinan akan
muncul dan mulai dirasakan. Bayangan-bayangan negatif mulai menghantui,
misalnya Apakah ia bisa melahirkan normal ? Bagaimanan cara mengejan ?
Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan dirinya pada saat melahirkan ? Apakah
bayinya akan lahir normal?. Sementara itu sang suami hendaknya memberikan
dukungan yang lebih kepada istrinya. Jika kehamilan ini bukan yang yang pertama
kali sang suami dapat melakukan pendekatan terhadap kakak-kakak “si bayi” agar
tidak tergantung kepada ibu sepenuhnya. Dengan demikian, ibu tidak akan merasa
khawatir dan memikirkan kondisi putra-putrinya setelah melahirkan.
Untuk mengatasi perubahan psikologis pada periode ini, berilah rasa
aman pada ibu dan dukunglah ibu untuk melakukan berbagai kegiatan, misalnya
dengan latihan senam bersama-sama, menemani saat kontrol kehamilan, dan
membantu ibu dalam memenuhi segala kebutuhannya. Dengan cara ini akan muncul
rasa percaya diri ibu sehingga memiliki
mental yang kuat untuk menghadapi persalinan. Selain dari suami dukungan dari
keluarga juga sangat berarti (Hulliana, 2001).
4.
Tanda Subjektif dan Objektif Kehamilan Trimester III
Usia kehamilan
|
Tanda
subjektif
|
Tanda
objektif
|
29-33 minggu
|
a.
Fatigue (perasaan lemah untuk bekerja hingga perasaan letih yang berat
sesudah melakukan kerja fisik dan mental).
b.
Ansietas tentang masa depan.
c.
Mimpi buruk.
d.
Penurunan keinginan seksual karena ketidaknyamanan fisik.
|
a.
Rasa panas dalam perut disebabkan tekanan uterus, mild hiatus hernia dan
muntahan asam perut ke dalam esophagus.
b.
Kontraksi braxton-hick.
c.
Fundus terletak diantara umbilikus dan xipoid
|
34-38 minggu
|
a.
Sakit punggung, perubahan gaya berjalan.
b.
Ketidaksabaran untuk mengakhiri kehamilan.
c.
Perasaan buaian tentang masa depan yang ambivalen.
|
a.
Heartburn (pirosis, nyeri dada).
b.
Konstipasi.
c.
Vena varikosa (varicose veins).
d.
Edema kaki.
e.
Haemoroid (wasir).
|
Sebelum
kelahiran
|
a.
Lightening atau tanda dini dimulainya persalinan.
b.
Sakit perut bagian bawah.
|
Fundus ada di bawah diafragma
sampai kepala janin masuk kedalam rongga panggul, kemudian perut kelihatan
maju ke depan.
|
5.
Pertumbuhan dan Perkembangan Janin pada Trimester III
Pertumbuhan dan perkembangan
janin pada trimester ke III yaitu:
Usia kehamilan
|
Perkembangan janin
|
Minggu 28 – 31
|
a.
Lemak sub kutan disimpan.
b.
Jika janin lahir saat ini
dengan paru-paru imatur, respiratory distress syndroma (rsd) dapat terjadi.
|
Minggu 32 – 36
|
a.
Berat janin menetap.
b.
Lanugo menghilang tetapi
masih ada bekasnya di kepala.
c.
Kuku jari tumbuh.
d.
Janin mempunyai kemampuan
yang cukup baik jika lahir dalam minggu-minggu ini.
|
Minggu 37 – 40
|
a.
Lemak sub kutan tetap
dibentuk dan disekeliling janin menjadi menggumpal.
b.
Kuku jari tangan dan kaki
terbentuk sempurna dan melampaui ujung jari tangan dan kaki.
c.
Testis turun ke arah
scrotum.
d.
Tengkorak berkembang
sempurna dan lebih besar dari bagian tubuh.
|
Kehamilan
akan menyebabkan meningkatnya daya metabolisme energi. Proses anabolik
fundamental yang terjadi selama kehamilan yaitu proses pertumbuhan dan
pematangan janin, plasenta yang selanjutnya menjadi bayi, dengan berat waktu
lahir kira-kira 7,5 pound (3,4 kg). Sebagai tambahan si Ibu akan menjalani
penyesuaian fisiologik dan metabolik selama mengandung, yang sebenarnya serasi
dengan proses-proses anabolik yang terjadi dalam janin dan plasenta. Hal-hal
tersebut dikatalisis oleh perubahan, kelenjar endokrin pada ibu sehingga
membesarkan ukuran uterus, payudara dan volume darah ibu, cairan ketuban dan
masa jaringan adiposa. Berat badan selama hamil dapat digunakan sebagai tanda
apakah ada sesuatu yang salah dengan kondisi ibu hamil atau ibu hamil baik-baik
saja. Berat badan bayi yang bertambah pada masa kehamilan karena tumbuh,
perkembangan sistem placenta yang sehat, cairan ketuban, dan persediaan darah
yang meningkat untuk memberikan nutrisi dan melindungi bayi, dan persiapan
dilakukan untuk masa laktasi (Einsberg dkk, 2005).
Kenaikan Berat
Badan dan Perinciannya
Bayi
Plasenta
Cairan ketuban
Pembesaran
Jaringan buah dada ibu
Volume darah ibu
Cairan pada jaringan ibu
Lemak ibu
|
3,37 kg
0,67 kg
0,78 kg
0,90 kg
0,45 kg
1,23 kg
1,35 kg
3,15 kg
|
Total
Rata-rata
|
11,9
kg
|
Berat
badan ibu hamil harus memadai, bertambah sesuai dengan umur kehamilan, Ibu
hamil dengan Pertambahan berat badan normal akan melahirkan bayi dengan berat
badan normal juga Dalam 3 bulan pertama, berat badan ibu hamil akan naik sampai
2 kg. Kemudian dinilai normal apabila setiap mingggu berat badan naik 0,5 kg.
Pada kehamilan tua, rata-rata kenaikan berat badan ibu akan mencapai 12 kg.
Jika kenaikan berat badan lebih dari normal, dapat menimbulkan komplikasi
keracunan kehamilan (pre-eklampsia), ataupun anak terlalu besar sehingga
menimbulkan kesulitan persalinan. Sebaliknya, jika kenaikan berat badan ibu
hamil kurang dari normal, kemungkinan ibu beresiko keguguran, anak lahir
prematur, berat badan lahir rendah, gangguan kekuatan rahim saat mengeluarkan
anak, dan pendarahan sehabis persalinan. Anak yang dilahirkan juga berukuran
lebih kecil dari rata-rata bayi seusianya.
6.
Perubahan
Kebutuhan pada Ibu Hamil Trimester III
a)
Oksigen
Seorang
dewasa, istirahat yang sehat rata-rata 53 liter oksigen per jam. rata-rata,
dewasa sehat bernafas sekitar 500 mL udara per napas.Ini disebut
volume tidal normal. yaitu terdiri dari 150 mL udara ini akan pergi ke daerah
yang tidak berfungsi paru-paru, yang disebut “ruang mati.” Tingkat napas
rata-rata nafas adalah 12 napas per menit. Jadi, jumlah udara yang terhirup adalah
12 x (500 ml -150 ml) = 4.200 mL /.menit. Kalikan dengan 60 untuk mendapatkan
252.000 mL / jam. Artinya, setiap jam, orang akan bernapas dalam 252 liter
udara. Sedangkan kebutuhan oksigen ibu hamil meningkat 20-25%.
b)
Nutrisi bagi Ibu Hamil Trimester 3
Makanan
harus disesuaikan dengan keadaan badan ibu. Bila ibu hamil mempunyai berat
badan kelebihan, maka makanan pokok dan tepung-tepungan dikurangi, dan
memperbanyak sayur-sayuran dan buah-buahan segar untuk menghindari sembelit.
Bila terjadi keracunan kehamilan/uedem (bengkak-bengkak pada kaki) maka
janganlah menambah garam dapur dalam masakan sehari-hari. Berikut ini sederet
zat gizi yang sebaiknya lebih diperhatikan pada kehamilan trimester ke III ini,
tentu tanpa mengabaikan zat gizi lainnya:
1) Kalori.
Kebutuhan
kalori selama kehamilan adalah sekitar 70.000 -80.000 kilo kalori (kkal), dengan pertambahan berat
badan sekitar 12,5 kg. Pertambahan kalori
ini diperlukan terutama pada 20 minggu terakhir. Untuk itu, tambahan kalori yang diperlukan setiap hari
adalah sekitar 285-300 kkal.
Tambahan
kalori diperlukan untuk pertumbuhan jaringan janin dan plasenta dan menambah volume darah serta cairan amnion (ketuban).
Selain itu, kalori juga berguna
sebagai cadangan ibu untuk keperluan melahirkan dan menyusui.
Agar
kebutuhan kalori terpenuhi, Anda harus menggenjot konsumsi makanan dari sumber karbohidrat dan
lemak. Karbohidrat bisa diperoleh melalui
serelia (padi-padian) dan produk olahannya, kentang, gula, kacang- kacangan, biji-bijian dan susu. Sementara
untuk lemak, Anda bisa mengonsumsi
mentega, susu, telur, daging berlemak, alpukat dan minyak nabati.
2) Vitamin
B6 (Piridoksin).
Vitamin ini dibutuhan untuk
menjalankan lebih dari 100 reaksi kimia di dalam tubuh yang melibatkan enzim.
Selain membantu metabolisma asam amino, karbohidrat, lemak dan pembentukan sel
darah merah, juga berperan dalam pembentukan neurotransmitter (senyawa kimia
penghantar pesan antar sel saraf). Semakin berkembang otak jianin, semakin
meningkat pula kemampuan untuk mengantarkan pesan. Angka kecukupan vitamin B6
bagi ibu hamil adalah sekitar 2,2 miligram sehari. Makanan hewani adalah sumber
yang kaya akan vitamin ini.
3) Yodium.
Yodium dibutuhkan sebagai pembentuk
senyawa tiroksin yang berperan mengontrol setiap metabolisma sel baru yang
terbentuk. Bila kekurangan senyawa ini, akibatnya proses perekembagan janin,
termasuk otaknya terhambat dan terganggu. Janin akan tumbuh kerdil.
Sebaliknya, jika tiroksin berlebih,
sel-sel baru akan tumbuh secara berlebihan sehingga janin tumbuh
melampaui ukuran normal. Karenanya, cermati asupa yodium ke dalam tubuh saat
hamil. Angka yang ideal untuk konsumsi yodium adalah 175 mikrogram perhari.
4) Tiamin
(vitamin B1), Riboflavin (B2) dan Niasin (B3).
Deretan vitamin ini akan membantu
enzim untuk mengatur metabolisma sistem pernafasan dan enerji. Ibu hamil
dianjurkan untuk mengonsumsi Tiamin sekitar 1,2 miligram per hari, Riboflavin
sekitar 1,2 miligram perhari dan Niasin 11 miligram perhari. Ketiga vitamin B
ini bisa Anda konsumsi dari keju, susu, kacang-kacangan, hati dan telur.
5) Air.
Kebutuhan ibu hamil di trimester III
ini bukan hanya dari makanan tapi juga dari cairan. Ari sangat penting untuk
pertubuhan sel-sel baru, mengatur suhu tubuh, melarutkan danmengatur proses
metabolisma zat-zat gizi, serta mempertahankan volume darah yang meningkat
selama masa kehamilan.
Jika cukup mengonsumsi cairan, buang
air besar akan lancar sehingga terhindar dari sembelit serta risiko terkena
infeksi saluran kemih. Sebaiknya minum 8 gelas air putih sehari. Selain
air putih, bisa pula dibantu dengan jus buah, makanan berkuah dan buah-buahan.
Tapi jangan lupa, agar bobot tubuh tidak naik berlebihan, kurangi minuman
bergula seperti sirop dan softdrink.
7.
Pemeriksaan
Palpasi Leopold
Pemeriksaan
palpasi Leopold adalah suatu teknik pemeriksaan pada ibu hamil dengan cara
perabaan yaitu merasakan bagian yang terdapat pada perut ibu hamil
menggunakan tangan pemeriksa dalam posisi tertentu, atau memindahkan
bagian-bagian tersebut dengan cara-cara tertentu menggunakan tingkat tekanan
tertentu. Teori ini dikembangkan oleh Christian Gerhard Leopold.
Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan setelah UK 24 minggu, ketika semua bagian
janin sudah dapat diraba. Teknik pemeriksaan ini utamanya bertujun untuk
menentukan posisi dan letak janin pada uterus, dapat juga berguna untuk
memastikan usia kehamilan ibu dan memperkirakan berat janin.
Pemeriksaan
palpasi Leopold sulit untuk dilakukan pada ibu hamil yang gemuk (dinding perut
tebal) dan yang mengalami polihidramnion. Pemeriksaan ini juga kadang-kadang
dapat menjadi tidak nyaman bagi ibu hamil jika tidak dipastikan dalam keadaan
santai dan diposisikan secara memadai. Untuk membantu dalam memudahkan
pemeriksaan, maka persiapan yang perlu dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan
adalah:
1. Instruksikan ibu hamil untuk
mengosongkan kandung kemihnya
2. Menempatkan ibu hamil dalam posisi
berbaring telentang, tempatkan bantal kecil di bawah kepala untuk kenyamanan
3. Menjaga privasi
4. Menjelaskan prosedur pemeriksaan
5. Menghangatkan tangan dengan menggosok
bersama-sama (tangan dingin dapat merangsang kontraksi rahim)
6. Gunakan telapak tangan untuk palpasi
bukan jari.
Gambar 1: Pemeriksaan Palpasi
Leopold 1 s.d. 4
a. Pemeriksaan Leopold I
Tujuan: untuk menentukan usia
kehamilan dan juga untuk mengetahui bagian janin apa yang terdapat di fundus
uteri (bagian atas perut ibu).
Gambar 2:
Palpasi Leopold 1
Teknik:
·
Memposisikan
ibu dengan lutut fleksi (kaki ditekuk 450 atau lutut bagian
dalam diganjal bantal) dan pemeriksa menghadap ke arah ibu
·
Menengahkan
uterus dengan menggunakan kedua tangan dari arah samping umbilical
·
Kedua
tangan meraba fundus kemudian menentukan TFU
·
Meraba
bagian Fundus dengan menggunakan ujung kedua tangan, tentukan bagian janin.
Hasil:
·
Apabila
kepala janin teraba di bagian fundus, yang akan teraba adalah keras,bundar dan
melenting (seperti mudah digerakkan)
·
Apabila
bokong janin teraba di bagian fundus, yang akan terasa adalah lunak, kurang
bundar, dan kurang melenting
·
Apabila
posisi janin melintang pada rahim, maka pada Fundus teraba kosong.
b. Pemeriksaan Leopold II
Tujuan: untuk menentukan bagian
janin yang berada pada kedua sisi uterus, pada letak lintang tentukan di mana
kepala janin.
Gambar 3:
Palpasi Leopold 2
Teknik:
·
Posisi
ibu masih dengan lutut fleksi (kaki ditekuk) dan pemeriksa menghadap ibu
·
Meletakkan
telapak tangan kiri pada dinding perut lateral kanan dan telapak tangan kanan
pada dinding perut lateral kiri ibu secara sejajar dan pada ketinggian yang
sama
·
Mulai
dari bagian atas tekan secara bergantian atau bersamaan (simultan) telapak
tangan tangan kiri dan kanan kemudian geser ke arah bawah dan rasakan adanya
bagian yang rata dan memanjang (punggung) atau bagian-bagian kecil
(ekstremitas).
Hasil:
·
Bagian
punggung: akan teraba jelas, rata, cembung, kaku/tidak dapat digerakkan
·
Bagian-bagian
kecil (tangan dan kaki): akan teraba kecil, bentuk/posisi tidak jelas dan
menonjol, kemungkinan teraba gerakan kaki janin secara aktif maupun pasif.
c. Pemeriksaan Leopold III
Tujuan: untuk menentukan bagian
janin apa (kepala atau bokong) yang terdapat di bagian bawah perut ibu, serta
apakah bagian janin tersebut sudah memasuki pintu atas panggul (PAP).
Gambar 4:
Palpasi Leopold 3
Teknik:
·
Posisi
ibu masih dengan lutut fleksi (kaki ditekuk) dan pemeriksa menghadap ibu
·
Meletakkan
ujung telapak tangan kiri pada dinding lateral kiri bawah, telapak tangan kanan
bawah perut ibu
·
Menekan
secara lembut dan bersamaan/bergantian untuk mentukan bagian terbawah bayi
·
Gunakan
tangan kanan dengan ibu jari dan keempat jari lainnya kemudian goyang bagian
terbawah janin.
Hasil:
·
Bagian
keras,bulat dan hampir homogen adalah kepala sedangkan tonjolan yang lunak dan
kurang simetris adalah bokong
·
Apabila
bagian terbawah janin sudah memasuki PAP, maka saat bagian bawah digoyang,
sudah tidak bias (seperti ada tahanan).
D. Pemeriksaan Leopold IV
Tujuan: untuk mengkonfirmasi ulang
bagian janin apa yang terdapat di bagian bawah perut ibu, serta untuk
mengetahui seberapa jauh bagian bawah janin telah memasuki pintu atas panggul.
Gambar 5: Palpasi
Leopold 4
Teknik:
·
Pemeriksa
menghadap ke arah kaki ibu, dengan posisi kaki ibu lurus
·
Meletakkan
ujung telapak tangan kiri dan kanan pada lateral kiri dan kanan uterus bawah,
ujung-ujung jari tangan kiri dan kanan berada pada tepi atas simfisis
·
Menemukan
kedua ibu jari kiri dan kanan kemudian rapatkan semua jari-jari tangan yang
meraba dinding bawah uterus.
·
Perhatikan
sudut yang terbentuk oleh jari-jari: bertemu (konvergen) atau tidak bertemu
(divergen)
·
Setelah
itu memindahkan ibu jari dan telunjuk tangan kiri pada bagian terbawah bayi
(bila presentasi kepala upayakan memegang bagian kepala di dekat leher
dan bila presentasi bokong upayakan untuk memegang pinggang bayi)
·
Memfiksasi
bagian tersebut ke arah pintu atas panggul kemudian meletakkan jari-jari tangan
kanan diantara tangan kiri dan simfisis untuk menilai seberapa jauh bagian
terbawah telah memasuki pintu atas panggul.
Hasil:
·
Apabila
kedua jari-jari tangan pemeriksa bertemu (konvergen) berarti bagian terendah
janin belum memasuki pintu atas panggul, sedangkan apabila kedua tangan
pemeriksa membentuk jarak atau tidak bertemu (divergen) maka bagian terendah
janin sudah memasuki Pintu Atas Panggul (PAP)
·
Penurunan
kepala dinilai dengan: 5/5 (seluruh bagian jari masih meraba kepala, kepala
belum masuk PAP), 1/5 (teraba kepala 1 jari dari lima jari, bagian kepala yang
sudah masuk 4 bagian), dan seterusnya sampai 0/5 (seluruh kepala sudah masuk
PAP)
Gambar 6-7: Gambaran Tinggi Fundus
Uteri (TFU) Dikonversikan dengan Usia Kehamilan (UK)
Keterangan:
·
Pada
usia kehamilan 12 minggu, fundus dapat teraba 1-2 jari di atas simpisis
·
Pada
usia kehamilan 16 minggu, fundus dapat teraba di antara simpisis dan pusat
·
Pada
usia kehamilan 20 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di bawah pusat
·
Pada
usia kehamilan 24 minggu, fundus dapat teraba tepat di pusat
·
Pada
usia kehamilan 28 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di atas pusat
·
Pada
usia kehamilan 32 minggu, fundus dapat teraba di pertengahan antara Prosesus
Xipoideus dan pusat
·
Pada
usia kehamilan 36 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di bawah Prosesus
Xipoideus
·
Pada
usia kehamilan 40 minggu, fundus dapat teraba di pertengahan antara Prosesus
Xipoideus dan pusat. (Lakukan konfirmasi dengan wawancara dengan pasien untuk
membedakan dengan usia kehamilan 32 minggu).
8.
Proses
Terjadinya Persalinan
Sebab
yang mendasari terjadinya partus secara teoritis masih merupakan kumpulan
teoritis yang kompleks teori yang turut memberikan andil dalam proses
terjadinya persalinan antara lain: (1) Teori kerenggangan: otot rahim mempunyai
kemampuan meregang dalam batas tertentu. Setelah melewati batas tersebut
terjadi kontraksi sehingga persalinan dimulai. (2) Teori penurunan progesteron:
Progesteron menurun menjadikan otot rahim sensitif sehingga menimbulkan his
atau kontraksi. (3) Teori oksitosin: Pada akhir kehamilan kadar oksitosin bertambah
sehingga dapat mengakibatkan his. (4) Teori pengaruh prostaglandin: Pemberian
prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil
konsepsi dikeluarkan. (5) Teori plasenta menjadi tua: dengan bertambahnya usia
kehamilan, plasenta menjadi tua dan menyebabkan villi corialis mengalami
perubahan sehingga kadar esterogen dan progesteron turun. Hal ini menimbulkan
kekejangan pembuluh darah dan menyebabkan kontraksi rahim. (6) Teori distensi
rahim: keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang mengakibatkan
iskemia otot-otot uterus sehingga mengganggu sirkulasi uteroplasenter. (7)
Teori berkurangnya nutrisi: bila nutrisi pada janin berkurang, maka hasil
konsepsi akan segera dikeluarkan (Asrinah,et al, 2010).
9.
Asuhan
Keperawatan
1)
Pengkajian
:
a)
Data Subjektif
Data
ini bisa didapat dengan cara anamnesa yaitu tanya jawab antara klien dengan
petugas kesehatan (auto anamnesa) maupun antara petugas kesehatan dengan orang
lain yang mengetahui keadaan/kondisi klien (alo anamnesa). Anamnesa dapat
dilakukan pada pertama kali klien datang (secara lengkap) dan anamnesa
selanjutnya/ulang untuk hal yang diperlukan saja setelah melakukan review data
yang lalu.
Hal – hal yang perlu dikaji dalam
dat subjektif, meliputi :
1.
Biodata
-
Nama klien
Dimaksudkan agar lebih mengenal
klien sehingga tercipta hubungan interpersonal yang baik, sehingga bidan lebih
mudah dalam memberikan asuhannya karena klien lebih kooperatif.
-
Umur
Untuk
mengetahui apakah umur klien termasuk dalam usia produktif atau usia beresiko
tinggi untuk hamil, karena umur yang < 20 tahun atau > 35 tahun beresiko
tinggi bila hamil.
-
Pendidikan
Dimaksudkan
untuk mengetahui tingkat pendidikan dan tingkat intelegensi klien, sehingga bisa
menyesuaikan cara pemberian konseling, Informasi dan Edukasi (KIE) dengan
kemampuan daya tangkap klien.
-
Pekerjaan
Dimaksudkan
untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi klien yang tentunya berpengaruh dengan kemampuan
klien dalam pemenuhan kebutuhan nutrisinya. Hal ini juga dapat membantu bidan
dalam pemberian KIE tentang nutrisi ibu hamil. Selain itu juga untuk mengetahui
apakah pekerjaan yang dilakukan klien dapat mengganggu kehamilan atau tidak.
-
Suku atau bangsa
Berpengaruh
pada adat istiadat atau kebiasaan sehari – hari.
-
Agama atau kepercayaan
Hal
ini dimaksudkan untuk mengetahui agama atau kepercayaan yang dianut klien,
sehingga bidan secara tidak langsung dapat menyesuaikan pemberian KIE yang sesuai
dengan ajaran-ajaran maupun norma-norma agama atau kepercayaan yang dianut.
-
Alamat
Ditanyakan
untuk maksud mempermudah hubungan bila diperlukan bila keadaan mendesak. Dengan
diketahuinya alamat tersebut, bidan dapat mengetahui tempat tinggal pasien/klien
dan lingkunganya. Dengan tujuan untuk mempermudah menghubungi keluarganya,
menjaga kemungkinan bila ada nama ibu yang sama, untuk dijadikan saat kunjungan
rumah.
-
Penanggung jawab
Untuk
mengetahui siapa yang bertanggung jawab terhadap klien, sehingga bila sewaktu –
waktu dibutuhkan bantuannya dapat segera ditemui.
2.
Keluhan pasien
Perlu dikaji untuk mengetahui hal
apa saja yang dikeluhkan dalam kehamilannya ini, terutama keluhan saat
pengkajian dilakukan. Keluhan-keluhan yang muncul pada ibu hamil kembar
berbeda-beda dalam tiap trimesternya, dan keluhannya khas untuk masing-masing
ibu.Keluhan juga perlu dikaji untuk mengetahui adakah tanda dan gejala yang
mengarah pada bahaya maupun ketidaknormalan (patologis).
3.
Riwayat kesehatan
-
Riwayat kesehatan dahulu
Untuk
mengetahui apakah dahulu ibu mempunyai penyakit yang berbahaya bagi
kehamilannya.Selain itu untuk mengetahui apakah ibu pernah menjalani operasi
yang berhubungan dengan organ reproduksinya atau tidak, karena akan berpengaruh
pada kehamilanya
-
Riwayat kesehatan sekarang
Untuk
mengetahui apakah pada saat sekarang ini ibu benar-benar dalam keadaan sehat,
tidak menderita suatu penyakit kronis seperti ashma, jantung, TBC, hipertensi,
ginjal, DM dan lainnya, karena apabila ada gangguan kesehatan pada saat ibu
hamil akan secara tidak langsung berpengaruh pada kehamilannya baik itu pada
diri ibu sendiri maupun perkembangan dan pertumbuhan janin yang dikandungnya.
-
Riwayat kesehatan keluarga
Hal
penting yang perlu dikaji bila ada riwayat penyakit menular dalam keluarga ibu
maupun suami (seperti hepatitis, TBC, HIV/AIDS, PMS) yang dapat menularkan
kepada anggota keluarga yang lain. Juga pelu dikaji bila ada rieayat penyakit
keturunan dalam keluarga ibu maupun suami seperti jantung, DM, ashma, hipertensi,
dan lainnya, karena dapat menurunkan kepada anggota keluarga yang lain dan
dapat membahayakan apabila penyakit – penyakit tersebut terjadi pada ibu yang
sedang hamil.
4.
Riwayat obstetri
-
Riwayat haid
Beberapa
hal yang perlu dikaji di dalam riwayat haid meliputi umur menarche,siklus haid
(teratur atau tidak), lama haid, dysmenorrhea(ya atau tidak) dan HPHT (Haid
Pertama Haid Terakhir). Dengan diketahuinya HPHT maka bidan dapat menentukan
HPLnya (Hari Perkiraan Lahir), usia kehamilan sehingga keadaan kehamilannya
dapat dipantau, terutama untuk memantau pertambahan BB, TFU (Tinggi Fundus
Uteri) dan frekuensi gerak anak, karena hal tersebut dapat mendukung dalam
penegakkan diagnose kehamilan, selain melalui palpasi dan USG.
-
Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas
yang lalu
Hal
ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah ibu memiliki riwayat obstetric yang
buruk atau tidak baik dalam kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu, sehingga
bila memang ibu memiliki riwayat obstetric yang buruk maka dapat dipersiapkan
tindakan-tindakan untuk pencegahan.
-
Riwayat kehamilan sekarang
Hal-hal
yang perlu dikaji di dalamnya antara lain berapa kali ibu sudah melakukan ANC,
di mana ibu memperoleh ANC, apakah ibu sudah mendapatkan imunisasi TT dan
berapa kali mendapatkannya, apakah ibu teratur minum tablet tambah darah, kalk
dan vitamin yang ibu peroleh setiap kali control, apakah ada keluhan atau
komplikasi selama ibu hamil dan apakah ibu mempunyai kebiasaan-kebiasaan
mengkonsumsi obat-obatan, merokok, minum jamu dan alcohol dan sebagainya,
sehingga bidan dapat memantau perkembangan kehamilannya. Pada kehamilan,
pemeriksaan ANC harus lebih sering guna untuk mengetahui pertumbuhan dan
perkembangan janin yang dikandung.
-
Riwayat perkawinan
Dikaji
untuk mengetahui sudah berapa lama klien menikah, sudah berapa kali klien
menikah, berapa umur klien dan suami pada saat menikah, sehingga dapat
diketahui apakah klien masuk dalam infertilitas sekunder atau bukan.Selain itu
secara normal juga untuk mengetahui apakah anak yang dikandungnya sah secara
hokum atau anak hasil hubungan di luar nikah karena dapat berpengaruh terhadap
penerimaan ibu terhadap kehamilannya.
-
Riwayat KB
Untuk
mengetahui apakah ibu sudah menjadi akseptor KB sebelum hamil atau tidak,
metode kontrasepsi yang digunakan apa dan sudah berapa lama ibu menjadi
akseptor KB serta rencana KB apa yang akan digunakan ibu (klien) setelah
melahirkan.
5.
Pola pemenuhan kebutuhan sehari – hari
Pola ini perlu dikaji untuk
mengetahui apakah ibu sudah menunjukkan perilaku hidup sehat dalam kehidupannya
sehari – hari atau belum. Pola – pola yang dikaji di dalamnya, meliputi :
-
Pola nutrisi
Dikaji
tentang jenis makanan yang dikonsumsi klien, apakah ibu hamil (klien) sudah
makan teratur 3x sehari atau belum, apakah sudah mengkonsumsi makanan yang
sesuai dengan menu seimbang (nasi, lauk-pauk, sayur dan buah) atau belum,
karena asupan nutrisi juga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
perkembangan janin yang dikandungnya. Selain makanan, berapa kali minum dalam
sehari juga perlu dipertanyakan, hal ini juga dimaksudkan untuk mencegah
keadaan kekurangan cairan.
-
Pola eliminasi
Eliminasi
yang dikaji adalah BAB dan BAK. BAB perlu dikaji untuk mengetahui berapa kali
ibu BAB setiap harinya dan bagaimana konsistensi warna fecesnya, biasanya pada
ibu hamil kemungkinan besar terkena sembelit karena pengaruh dari hormon
progesterone dan juga warna dari fecesnya terkadang hitam yang disebabkan oleh
tablet Fe yang dikonsumsi selama hamil.
BAK
dikaji untuk mengetahui berapa kali ibu BAK setiap harinya, lancar atau tidak.
Biasanya ibu yang hamil apalagi hamil kembar akan sering BAK karena adanya
penekanan pada kandungan kencing oleh uterus (TM 1) dan oleh kepala janin (TM
II-III).
-
Pola istirahat
Dikaji
untuk mengetahui apakah ibu dapat beristirahat dengan cukup dan tenang setiap
harinya atau tidak, karena dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatannya
apabila tidak mempunyai cukup waktu untuk beristirahat.
-
Pola personal hygiene
Dikaji
untuk mengetahui apakah ibu sudah menerapkan perilaku hidup sehat dalam
kehidupannya. Kebersiahan diri yang paling dan harus diperhatikan oleh ibu
hamil adalah kebersihan alat kelamin (genetalia), apabila ibu tidak menjaga
genetalia akan memudahkan masuknya kuman ke dalam kandungan.
6.
Psikologi dan sosiospiritual ibu
Dikaji untuk mengetahui bagaiman
penerimaan ibu terhadap kehamilannya. Dikaji pula apakah pihak keluarga
mendukung kehamilan ibu, bagaiman hubungan ibu dengan keluarga dan masyarakat
sekitar, apakah ibu mempunyai hewan peliharaan, karena hewan peliharaan dapat
menyebabkan penyakit TORCH pada ibu hamil yang dapat mengancam janin yang
dikandungnya.
b)
Data Obyektif
1) Pemeriksaan
umum, meliputi :
-
Keadaan umum
Dikaji
pada saat pertama kali pasien datang. Lihat apakah pasien tampak baik atau
tampak lemah dan pucat. Hal ini penting untuk mengetahui bila ibu mengalami
anemia yang merupakan komplikasi tersering dari kehamilan.
-
Tanda-tanda vital (Vital sign)
Vital sign terpenting yang harus
selalu dikaji, yaitu:
a) Tekanan
darah
Tekanan
darah pada ibu hamil perlu dikaji secara teratur untuk mengetahui bila ibu
mengalami preeklamsia terutama selama trimester II dan III. Waspadai bila
tekanan darah sistolik ibu > 140 mmHg dan diastolic > 90 mmHg.
b) Berat
badan
Kenaikan
berat badan yang normal pada ibu hamil yaitu 6,5 kg – 16,5 kg selama hamil.
-
Status present
a) Kepala
Untuk observasi bentuk, benjolan,
infeksi pada kepala.Palpasi bila tampak benjolan untuk mengetahui besar,
bentuk, kekenyalan dan mobilitasnya.
b) Rambut
Untuk mengetahui keadaan rambut,
seperti hitam, lebat, tidak berbau, tidak berketombe.
c) Muka
Untuk mengetahui bentuk muka
lonjong atau bulat, ada atau tidak ada kelainan.
d) Mata
Untuk mengetahui mata simetris atau
tidak, apakah terjadi anemia atau tidak pada conjungtiva, sklera ikterik atau
tidak.
e) Hidung
Untuk mengetahui kebersihan, ada
atau tidak ada polip atau secret.
f) Telinga
Untuk mengetahui kebersihan,
ada atau tidak ada serumen di telinga.
g) Mulut
Untuk mengetahui kebersihan dan
keadaan konstruksi gigi apakah terjadi kekeroposan atau tidak dimana hal ini
menjadi indikasi adanya kekurangan kalsium atau tidak, ada stomatitis atau
tidak.
h) Leher
Untuk mengetahui ada atau tidak ada
pembesaran kelenjar getah bening, ada atau tidaknya struma atau kelenjar
gondok, dan ada atau tidaknya pembesaran vena jugularis.
i)
Dada
Observasi bentuk thorak. Misal,
apakah kifosis atau tidak.
j)
Payudara
Observasi dilakukan untuk
mengetahui bentuk payudara. Palpasi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya
benjolan, rasa sakit (oleh karena adanya infeksi).
k) Aksila
Observasi dilakukan untuk
mengetahui ada tidaknya benjolan. Palpasi dilakukan untuk mengetahui ada
tidaknya rasa sakit dan tumor.
l)
Abdomen
Untuk mengetahui bentuk abdomen
membujur/melintang. Ada tidaknya bekas operasi.
m) Pinggang
Untuk mengetahui adanya nyeri tekan
pada daerah ginjal.
n) Punggung
Untuk mengetahui bentuk tulang
punggung, misal apakah lordosis atau tidak.
o) Genetalia
Untuk mengetahui kebersihan
genetalia, adanya keputihan atau tidak, dan varises.
p) Ekstremitas
Atas : Obeservasi keadaan tangan
terutama kelengkapan jari tangan, kuku pucat atau sianosis, oedem atau tidak.
Bawah : Obeservasi keadaan kaki terutama kelengkapan jari
tangan, kuku pucat atau sianosis, oedem atau tidak, adanya varises atau tidak.
q) Kulit
Observasi kelembaban kulit ibu
dengan kembalinya turgor kulit.
-
Pemeriksaan obstetri
a) Inspeksi
1. Muka
:
Dikaji apakah ada chlosma
gravidarum, apakah ada oedema muka, terutama pada trimester II dan III yang
dapat mengarah pada preeklamsia, terutama bila tekanan darah ibu tinggi.
2. Dada
Kaji mammae ibu dan kesiapan masa
laktasi yang meliputi bagaimana bentuk putting susunya, pigmentasi pada areola
mammae dan putting, bentu payudara serta apakah kolostrum sudah keluar atau
belum.
3. Abdomen
Lihat apakah ada linea nigra dan
striae. Biasanya pada kehamilan kembar, striae akan sangat jelas terlihat
karena peregangan dari kulit perut akibat perbesaran perut ibu.
4. Vulva
Kaji apakah ada oedema, varises dan
kondiloma yang nantinya dapat mengganggu proses persalinan pervaginam, karena
varises dapat pecah saat persalinan dan menimbulkan perdarahan.
b) Palpasi
leopold
-
LI : Pada leopold I dikaji bagian janin
apakah yang ada pada fundus uteri, apakah kepala (bulat keras) atau bokong
janin (bulat lunak). Pada kehamilan kembar dapat teraba dua bagian besar janin
pada fundus uteri. Tetapi bila kehamilan masih dalam Trimester I dan awal
Trimester II, leopold I hanya untuk mengetahui adanya ballottement.
-
LII : Leopold II ini efektif digunakan
bila umur kehamilan sudah menginjak usia 6 bulan, karena bagian-bagian janin
sudah mulai dapat dibedakan. Leopold II ini dilakukan untuk mengetahui
dimanakah letak punggung janin yang ditandai dengan terabanya bagian panjang,
keras, danada tahanan dan juga untuk mengetahui dimanakah letak ekstremitas
janin yang dtandai dengan terabanya bagian-bagian kecil.
-
LIII : Dilakukan untuk mengetahui bagian
terbawah janin, yaitu bulat lunak/bulat keras. Masih bisa digoyangkan atau
tidak.
-
LIV : Dilakukan untuk mengetahui apakah
bagian bawah janin sudah masuk PAP atau belum. Apabila posisi tangan difergen
berarti bagian bawah janin sudah masuk PAP dan konvergen apabila bagian bawah
janin belum masuk PAP.
c) Auskultasi
Mendengarkan DJJ menggunakan linex
ataupun doppler. DJJ normal 120 – 160 x / menit.
Menentukan umur kehamilan
dengan Leopold
Umur kehamilan
|
TFU
|
Keterangan
|
8 mgg
|
Blm teraba
|
Sebesar telur bebek
|
12 mgg
|
3 jari atas simfisis
|
Sebesar telur angsa
|
16 mgg
|
½ pusat – simfisis
|
Sebesar kepala bayi
|
20 mgg
|
3 jari bawah pusat
|
-
|
24 mgg
|
Sepusat
|
-
|
28 mgg
|
3 jr ats pusat
|
-
|
32 mgg
|
½ pusat – Px
|
-
|
36 mgg
|
1 jr di bwh Px
|
Kepala masih
berada di atas pintu panggul.
|
40 mgg
|
3 jr bwh Px
|
Fundus uteri
turun kembali, karena kepala janin masuk ke rongga panggul.
|
Menentukan umur kehamilan dengan Mc. Donald
Usia kehamilan
|
TFU (cm)
|
12 minggu
|
-
|
16 minggu
|
-
|
20 minggu
|
20 cm (±2cm)
|
22-27 minggu
|
UK dalam minggu=cm
(±2cm)
|
28 minggu
|
28 cm (±2cm)
|
29-35 minggu
|
UK dalam minggu=cm
(±2cm)
|
36 minggu
|
36 cm (±2cm)
|
Di bawah ini ukuran tinggi fundus
uteri dalam cm dikaitkan dengan umur kehamilan dan berat badan bayi sewaktu
dilahirkan :
Bila
pertumbuhan janin normal maka tinggi undus uteri pada kehamilan pada 28 minggu
25 cm, pada 32 minggu 27 cm dan 36 minggu 30 cm. pada kehamilan 40 minggu
fundus uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari bawah Px, hal ini
disebabkan oleh kepala janin yang pada primigravida turun dan masuk ke dalam
rongga panggul. (Hanifa Wiknjosastro,
2002)
2)
Diagnosa
yang mungkin muncul
a. Ketidakefektifan
pola nafas berhubungan dengan perubahan aliran darah dalam
desidua, perubahan suplai oksigen/kapasitas pembawa oksigen darah.
b. Gangguan pola eliminasi urin berhubungan dengan pembesaran uterus,
peningkatan tekanan abdomen, fluktuasi aliran darah ginjal dan laju filtrasi
glomerulus.
c. Gangguan
pola tidur berhubungan dengan perubahan pada tingkat aktifitas, stres,
psikologi, ketidakmampuan untuk mempertahankan kenyamanan.
d. Kebutuhan
pembelajaran berhubungan dengan persiapan untuk persalinan serta perawatan
bayi.
3. Rencana asuhan keperawatan (NOC dan NIC)
DIAGNOSA
|
NOC
|
NIC
|
Ketidakefektifan
pola nafas berhubungan dengan perubahan aliran darah dalam desidua, perubahan
suplai oksigen/kapasitas pembawa oksigen darah
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 1x 20 menit, diharapkan klien menunjukkan
status respirasi: ventilasi dengan indikator:
-
Respiratory Rate (5)
-
Mampu melakukan inspirasi dalam (3)
-
Tidak mengalami dispnea (3)
-
Auskultasi bunyi nafas dalam rentang normal (3)
|
NIC: Respiratory
monitoring
a. Monitor
rata-rata, irama, kedalaman dan usaha respirasi
b. Perhatikan
pergerakan dada, amati kesemetrisan, penggunaan otot-otot aksesoris, dan
retraksi otot supraklavikuler dan interkostal
c. Monitor
pola pernafasan: bradipneu, takipneu, hiperventilasi, respirasi Kussmaul,
respirasi Cheyne-Stokes
d. Monitor
kualitas nadi
e. Monitor
suhu, warna, dan kelembaban kulit.
|
Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan pembesaran
uterus, peningkatan tekanan abdomen, fluktuasi aliran darah ginjal dan laju
filtrasi glomerolus.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 1x 20 menit, diharapkan klien dapat
mengerti tentang perubahan pola eliminasi urin, dengan kriteria hasil:
-
Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi saat ini (3)
-
Mengidentifikasi cara-cara untuk mencegah stasis
urinarius dan atau edema jaringan. (3)
|
NIC:
1. Berikan informasi
tentang perubahan perkemihan sehubungan dengan trimester ketiga.
2. Anjukan klien untuk
melakukan posisi miring saat tidur. Perhatikan keluhan-keluhan nokturia.
3. Anjurkan klien untuk
menghindari posisi tegak dalam waktu yang lama.
4. Berikan informasi
mengenai perlunya masukan cairan 6-8 gelas/ hari, penurunan masukan 2-3 jam
sebelum beristirahat, dan penggunaan garam, makanan, dan produk mengandung
natrium dalam jumlah sedang.
5. Berikan informasi
mengenai bahaya menggunakan diuretik dan penghilangan natrium dari diet.
6. Berikan informasi
mengenai bahaya menggunakan diuretik dan penghilangan natrium dari diet.
|
Gangguan pola tidur berhubungan dengan perubahan
pada tingkat aktifitas, stres, psikologi, ketidakmampuan untuk mempertahankan
kenyamanan.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 1x15 menit, diharapkan klien tidak
mengalami gangguan pola tidur dengan kriteria hasil :
-
Melaporkan perbaikan istirahat (3)
-
Melaporkan peningkatan rasa sejahtera dan perasaan
segar (3)
|
NIC :
1. Tinjau
ulang kebutuhan perubahan tidur normal berkenaan dengan kehamilan. Tentukan
pola tidur saat ini.
2. Evaluasi
tingkat kelelahan.
3. Kaji
terhadap kejadian insomnia dan respons klien terhadap penurunan tidur.
Anjurkan alat bantu untuk tidur, seperti teknik relaksasi, membaca, mandi air
hangat,dan penurunan aktifitas sebelum istirahat.
4. Anjurkan
tidur pada posisi semi fowler.
5. Rujuk
klien untuk konseling bila kurang tidur atau kelelahan mempengaruhi aktifitas
kehidupan
|
DAFTAR PUSTAKA
Bobak. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas.
Jakarta: EGC.
Farrer, Helen. (2001). Perawatan Maternitas.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran: EGC.
Mitayani. (2009). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika.
Hamilton, Persis. (2005). Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC.
Hulliana, Mellyna. (2001). Panduan Menjalani Kehamilan
Sehat. Jakarta: Puspa Swara
Prawiroharjo,
Sarwono. (2002). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.







0 Response to " LAPORAN PENDAHULUAN KEHAMILAN TRIMESTER III"
Post a Comment