LAPORAN PENDAHULUAN INTRA NATAL CARE (INC)
LAPORAN
PENDAHULUAN
INTRA
NATAL CARE (INC)
1. DEFINISI
Persalinan atau Partus adalah proses dimana bayi, plasenta
dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika
prosesnya terjadi pada usia kehamilan yang cukup bulan (setelah 37 minggu)
tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus
berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis dan
berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu dikatakan belum inpartu
jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks (Damayanti, dkk,
2015).
Menurut WHO, persalinan normal adalah persalinan yang dimulai
secara spontan (dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir), beresiko
rendah pada awal persalinan dan presentasi belakang kepala pada usia kehamilan
antara 37-42 minggu setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi
yang baik.
Persalinan normal adalah
pengeluaran hasil konsepsi (janin) yang dapat hidup dari dalam uterus melalui
vagina ke dunia luar secara spontan tanpa bantuan alat dan tidak melukai ibu
dan janin yang berlangsung dalam 18-24 jam dengan letak janin belakang kepala.
(Varney, 2003)
2.
JENIS-JENIS PERSALINAN
Berdasarkan usia kehamilan, terdapat
beberapa jenis persalinan yaitu :
a. Persalinan aterm : yaitu persalinan
antara umur hamil 37-42 minggu, berat janin di atas 2.500 gr.
b. Persalinan prematurus : persalinan
sebelum umur hamil 28-36 minggu, berat janin kurang dari 2.499 gr.
c. Persalinan serotinus : persalinan yang
melampaui umur hamil 42 minggu, pada janin terdapat tanda postmaturitas
d. Peralinan presipitatus : persalinan
yang berlangsung cepat kurang dari 3 jam.
Berdasarkan
proses berlangsungnya persalinan dibedakan sebagai berikut :
- Persalinan spontan : bila persalinan ini berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir
- Persalinan buatan : bila persalinan dibantu dengan tenaga dari luar misalnya ekstraksi dengan forceps/vakum, atau dilakukan operasi section caecarea.
- Persalinan anjuran : pada umumnya persalinan terjadi bila bayi sudah cukup besar untuk hidup di luar, tetapi tidak sedemikian besarnya sehingga menimbulkan kesulitan dalam persalinan. Persalinan kadang-kadang tidak mulai dengan segera dengan sendirinya tetapi baru bisa berlangsung dengan dilakukannya amniotomi/pemecahan ketuban atau dengan induksi persalinan yaitu pemberian pitocin atau prostaglandin.
3. SEBAB-SEBAB TERJADINYA PERSALINAN
- Teori penurunan hormon progesterone.
Progesterone menimbulkan relaksasi
otot rahim, sebaliknya estrogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama
kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesterone dan estrogen didalam
darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesterone menurun sehingga
menimbulkan his.
- Teori oxytocin.
Pada akhir kehamilan kadar oxytosin
bertambah. Oleh karena itu timbul kontraksi otot – otot rahim.
- Teori plasenta menjadi tua.
Plasenta yang tua akan menyebabkan
turunnya kadar estrogen dan progesterone yang akan menyebabkan kekejangan
pembuluh darah. Hal ini akan menimbulkan his.
- Teori prostaglandin.
Prostaglandin yang dihasilkan oleh
deciduas menimbulkan kontraksi miometrium pada setiap umur kehamilan.
- Pengaruh janin.
Hipofise dan supra renal janin
memegang peranan oleh karena pada anencephalus, kehamilan sering lama dari
biasanya.
- Teori distensi rahim.
Rahim yang menjadi besar dan teregang
yang menyebabkan iskemia otot – otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi
uteroplasenta.
- Teori iritasi mekanik
Dibelakang serviks terletak ganglion
servikalis, bila ganglion ini digeser dan ditekan misalnya oleh kepala janin
maka akan menimbulkan his.
4.
TANDA DAN GEJALA PERSALINAN
a. Terjadinya Lightening
Menjelang minggu ke – 36 pada primigravida
terjadi penurunan fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu atas
panggul yang disebabkan :
ü
Kontraksi
Braxton hicks
ü
Ketegangan
dinding perut
ü
Ketegangan
ligamentum rotandum
ü
Gaya
berat janin dimana kepala kearah bawah
b.
Masuknya
kepala bayi kepintu atas panggul dirasakan ibu hamil :
ü
Terasa
ringan dibagian atas, rasa sesaknya berkurang
ü
Dibagian
bawah terasa sesak
ü
Terjadi
kesulitan saat berjalan
ü
Sering
miksi ( beser kencing )
c.
Terjadinya
His permulaan
Pada
saat hamil muda sering terjadi kontraksi Braxton hicks dikemukakan sebagai
keluhan karena dirasakan sakit dan mengganggu. Hal ini terjadi
karena perubahan keseimbangan estrogen,progesterone, dan memberikan kesempatan
rangsangan oksitosin. Dengan makin tua hamil, pengeluaran estrogen dan
progesterone makin berkurang sehingga oksitosin dapat menimbulkan kontraksi
yang lebih sering sebagai his palsu. Sifat his permulaan ( palsu ) :
ü
Rasa
nyeri ringan di bagian bawah
ü
Datangnya
tidak teratur
ü
Tidak
ada perubahan pada serviks atau pembawa tanda
ü
Durasinya
pendek
ü
Tidak
bertambah bila beraktifitas
d.
Tanda
masuk dalam persalinan :
Proses
persalinan dimulai bila ada tanda-tanda:
ü
Terjadinya
His persalinan , His persalinan mempunyai sifat :
·
Pinggang
terasa sakit yang menjalar ke bagian depan
·
Sifatnya
teratur,interval makin pendek, dan kekuatannya makin besar
·
Mempunyai
pengaruh terhadap perubahan serviks
·
Makin
beraktifitas ( jalan ) kekuatan makin bertambah
ü
Pengeluaran
Lendir dan darah ( pembawa tanda ), Dengan his persalinan terjadi perubahan
pada serviks yang menimbulkan :
·
Pendataran
dan pembukaan
·
Pembukaan
menyebabkan lender yang terdapat pada kanalis servikalis lepas
·
Terjadi
perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah
ü
Pengeluaran
Cairan
·
Pada
beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan pengeluaran cairan .
Sebagian ketuban baru pecah menjelang pembukaan lengkap. Dengan pecahnya
ketuban diharapkan persalinan berlangsung dalam waktu 24 jam. Namun, jika
ternyata tidak tercapai, maka persalinan akhirnya diakhiri dengan tindakan
tertentu, misalnya ekstraksi vakum atau section
caecaria.
e.
Penurunan
kepala janin akan digambarkan pada tabel di bawah ini :
|
PERIKSA LUAR
|
PERIKSA DALAM
|
KETERANGAN
|
|
5/5
|
|
§ kepala diatas PAP
§ mudah digerakkan
|
|
4/5
|
H I – II
|
§ sakit digerakkan
§ bagian terbesar PAP belum masuk
panggul
|
|
3/5
|
H II – III |
§ bagian
terbesar kepala belum masuk panggul
|
|
2/5
|
H III +
|
§ bagian
terbesar kepala sudah masuk panggul
|
|
1/5
|
H III - IV
|
§ kepala didasar panggul
|
![]()
0/5
|
H V
|
§ diperineum
|
Keterangan
:
H I : sama dengan atas pintu panggul / PAP
H II : sejajar dengan H I melalui pinggir bawah
simpisis
H III :
sejajar dengan H I melalui spina iskhiadika
H V :
sejajar dengan H I melalui ujung os coxigis
5.
PENAPISAN IBU HAMIL
|
No.
|
Penyulit
|
Ya
|
Tidak
|
|
1.
|
Riwayat bedah sesar
Beresiko
terjadinya ruptur uteri yaitu robeknya uterus akibat perlukaan sesar,
sehingga berbahaya bagi ibu dan bayi
|
|
|
|
2.
|
Perdarahan pervaginam, beresiko terjadinya :
a. Solusio plasenta : terlepasnya plasenta lebih dahulu,
Adanya nyeri perut bagian bawah, perut tegang, warna darah yang dikeluarkan
merah tua.
b. Plasenta previa : letak plasenta dibawah atau menutupi
jalan lahir, tidak ada nyeri perut kecuali ada kontraksi, warna darah merah
segar.
|
|
|
|
3.
|
Persalinan kurang
bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
Beresiko
bagi janinnya karena kondisi janin terjadi prematur yang akibatnya
organ-organ janin belum matur, sehingga janin belum sanggup menjalankan fungsinya
dengan optimal.
|
|
|
|
4.
|
Ketuban pecah dengan
mekonium yang kental
Beresiko
janin terjadi hipoksia dan ketika lahir terjadi asfiksi yang dapat
membahayakan janin.
|
|
|
|
5.
|
Ketuban pecah lama
Beresiko
terjadinya partus lama sehingga dapat mengakibatkan infeksi pada ibu dan
janin.
|
|
|
|
6.
|
Ketuban pecah pada
persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
Beresiko
terjadinya kelahiran prematur yang nantinya dapat berdampak pada janin yang
belum siap untuk dilahirkan.
|
|
|
|
7.
|
Ikterus
Beresiko
terjadi kerusakan pada hepar yang nantinya dapat mengakibatkan komplikasi
pada janin sehingga terjadi ikterus pada janin.
|
|
|
|
8.
|
Anemia berat
Beresiko
terjadinya IUGR pada janin serta persalinan dengan komplikasi yang
berlebihan.
|
|
|
|
9.
|
Tanda/gejala infeksi
|
|
|
|
10.
|
Preeklampsia/hipertensi
dalam kehamilan
Beresiko
pada ibu dengan terjadinya hipertensi kronik serta kejangdan beresiko pula
pada janin, yaitu pertumbuhan janin terhambat, kematian janin, perdarahan serebral
serta persalinan prematur.
|
|
|
|
11.
|
Tinggu fundus uteri
40 cm atau lebih
Tinggi
fundus uteri yang tidak sesuai dengan usia kehamilan bisa di sebabkan
(makrosomia, kehamilan ganda),maka perlu dilakukan pemeriksaan dini, karena
makrosomia dapat menyebabkan distosia bahu dan menyebabkan perdarahan pasca
persalinan.
|
|
|
|
12.
|
Gawat janin
Ibu
yang mengalami gawat janin perlu di lakukan pemantauan DJJ yang sering,
karena gawat janin dapat berakibat fatal pada janin yang di kandung dan
bahkan dapat menyebabkan kematian pada janin.
|
|
|
|
13.
|
Primipara dalam fase
aktif dengan palpasi kepala janin masih 5/5
Untuk
mengatasinya ibu dapat miring ke kiri ataupun dengan mengubah posisi ibu
dengan jongkok maupun berdiri. Posisi ini bisa membantu untuk penurunan
kepala dan jika tetap tidak ada penurunan persalinan bisa ilakukan dengan SC.
|
|
|
|
14.
|
Presentasi bukan
belakang kepala
Kelainan
pada malpresentasi/malposisi dapat
menyebabkan kesulitan pada proses persalinan,maka ini bisa dilakukan
SC untuk untuk proses persalinannya.
|
|
|
|
15.
|
Presentasi majemuk
Untuk
mencegah letak majemuk dapat dilakukan dengan ibu posisi sujud.tetapi jika
presentasi terendah sudah masuk PAP posisi sujud tidak dapat mengubah
presentasi dan persalinan harus dilakukan SC.
|
|
|
|
16.
|
Kehamilan gemelli
Ibu
yang mengandung bayi gemeli/kembar perlu dilakukan SC untuk mengeluarkan
bayinya karena di kawatirkan adanya malpresentasi/malposisi pada salah satu
janinnya, dan juga dapat mengakibatkan perdarahan.
|
|
|
|
17.
|
Tali pusat menumbung
Untuk
mengetahui tali pusat menumbung perlu di lakukan pemeriksaan ini dengan USG,
karena tali pusat menumbung dapat mengakibatkan perdarahan bahkan juga partus
lama karena tali pusat menutupi jalan lahir.
|
|
|
|
18.
|
Syok
Untuk
mengatasi syok bisa diberikan infus dan oksigen untuk mencegah komplikasi
yang lebih serius. Jika syok tidak tertangani dapat menyebabkan kematian pada
janin dan ibu.
|
|
|
Apabila didapati salah
satu atau lebih penyulit seperti di atas, pasien harus dirujuk (Ulfa dkk., 2014).
6.
FASE PERSALINAN
A. KALA 1
Kala
1 disebut juga dengan kala pembukaan, terjadi pematangan dan pembukaan serviks
sampai lengkap
Dimulai pada waktu serviks membuka karena
his : kontraksi uterus yang teratur, makin lama, makin kuat, makin sering,
makin terasa nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir yang tidak lebih banyak
daripada darah haid.
Berakhir pada waktu pembukaan serviks
telah lengkap (pada periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba
lagi). Selaput ketuban biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I.
Terdapat
2 fase pada Kala 1 ini, yaitu :
1. Fase
laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam.
2. Fase
aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar 6
jam. Fase aktif terbagi atas :
§ Fase
akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.
§ Fase
dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.
§ Fase
deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm).
Perbedaan proses pematangan dan pembukaan
serviks (cervical effacement) pada primigravida dan multipara :
§ Pada
primigravida terjadi penipisan serviks lebih terlebih dahulu sebelum terjadi
pembukaan, sedangkan pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan
sebelumnya, sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan.
§ Pada
primigravida, ostium internum membuka terlebih dahulu daripada ostium eksternum
(inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah),
sedangkan pada multipara, ostium internum dan eksternum membuka bersamaan
(inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar)
§ Periode
Kala 1 pada primigravida lebih lama (12 jam) dibandingkan multipara (8 jam)
karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien primigravida
memerlukan waktu lebih lama.
Sifat
His pada Kala 1 :
§ Timbul
tiap 10 menit dengan amplitudo 40 mmHg, lama 20-30 detik. Serviks terbuka
sampai 3 cm. Frekuensi dan amplitudo terus meningkat.
§ Kala
1 lanjut (fase aktif) sampai kala 1 akhir
§ Terjadi
peningkatan rasa nyeri, amplitudo makin kuat sampai 60 mmHg, frekuensi 2-4 kali
/ 10 menit, lama 60-90 detik. Serviks terbuka sampai lengkap (+10cm).
Peristiwa
penting Kala 1 :
·
Keluar lendir / darah (bloody show)
akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di
kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat
pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus.
·
Ostium uteri internum dan eksternum
terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar.
·
Selaput ketuban pecah spontan
(beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran
cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm).
Kemajuan persalinan
dalam kala I :
a.
Kemajuan yang cukup baik pada persalinan kala I :
·
Kontraksi teratur yang progresif dengan peningkatan
frekuensi dan durasi.
·
Kecepatan pembukaan serviks paling sedikit 1 cm perjam
selama persalinan faseaktif (dilatasi serviks berlangsung atau ada disebelah kiri garis
waspada).
·
Serviks tampak dipenuhi oleh bagian bawah janin.
b.
Kemajuan yang kurang baik pada kala I :
·
Kontraksi yang tidak teratur dan tidak sering setelah
fase laten.
·
Kecepatan pembukaan serviks lebih lambat dari 1 cm perjam
selama persalinan fase aktif (dilatasi serviks berada disebelah kanan garis
waspada).
·
Serviks tidak dipenuhi oleh bagian bawah janin.
c.
Kemajuan
pada kondisi ibu.
·
Jika
denyut nadi ibu meningkat, mungkin ia sedang dalam keadaan dehidrasi atau
kesakitan. Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral atau IV dan
berikan analgesik secukupnya.
·
Jika tekanan darah ibu menurun, curigai adanya perdarahan
·
Jika terdapat aceton didalam urine ibu, curigai masukan
nutrisi yang kurang. Segera berikan dextrose IV.
d.
Kemajuan
pada kondisi janin.
·
Jika
didapati DJJ tidak normal (kurang dari 100 atau lebih dari 180 x / menit)
curigai adanya gawat janin.
·
Posisi atau presentasi selain oksiput anterior dengan
reflek fleksi sempurna digolongkan dalam malposisi atau malpresentasi.
B. KALA 2
Dimulai
pada saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir pada saat bayi telah
lahir lengkap. Pada Kala 2 ini His menjadi lebih kuat, lebih sering, dan lebih
lama. Selaput ketuban mungkin juga sudah pecah/ baru pecah spontan pada awal
Kala 2 ini. Rata-rata waktu untuk keseluruhan proses Kala 2 pada primigravida ±
1,5 jam, dan multipara ± 0,5 jam.
Sifat His :
Amplitudo 60 mmHg, frekuensi 3-4
kali / 10 menit. Refleks mengejan terjadi juga akibat stimulasi dari tekanan
bagian terbawah janin (pada persalinan normal yaitu kepala) yang menekan anus
dan rektum. Tambahan tenaga meneran dari ibu, dengan kontraksi otot-otot
dinding abdomen dan diafragma, berusaha untuk mengeluarkan bayi.
Peristiwa penting pada Kala 2 :
·
Bagian terbawah janin (pada
persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul.
·
Ibu timbul perasaan/ refleks ingin
mengedan yang semakin kuat.
·
Perineum meregang dan anus membuka
(hemoroid fisiologis)
·
Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan
suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar/ hipomoklion),
selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan.
·
Kemungkinan diperlukan pemotongan
jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi).
Proses
pengeluaran janin pada kala 2 (persalinan letak belakang kepala) :
·
Kepala masuk pintu atas panggul :
sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan pintu atas panggul (sinklitismus)
atau miring / membentuk sudut dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior
/ posterior).
·
Kepala turun ke dalam rongga
panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke arah
daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3) kontraksi otot dinding perut
dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan menegang.
·
Fleksi : kepala janin fleksi, dagu
menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari diameter oksipito-frontalis
(puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala).
·
Rotasi interna (putaran paksi dalam)
: selalu disertai turunnya kepala, putaran ubun-ubun kecil ke arah depan (ke
bawah simfisis pubis), membawa kepala melewati distansia interspinarum dengan
diameter biparietalis.
·
Ekstensi : setelah kepala mencapai
vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian
posterior. Lahir berturut-turut : oksiput, bregma, dahi, hidung, mulut, dagu.
·
Rotasi eksterna (putaran paksi luar)
: kepala berputar kembali sesuai dengan sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu
atas panggul dengan posisi anteroposterior sampai di bawah simfisis, kemudian
dilahirkan bahu depan dan bahu belakang.
·
Ekspulsi : setelah bahu lahir,
bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah. Selanjutnya lahir badan
(toraks,abdomen) dan lengan, pinggul / trokanter depan dan belakang, tungkai
dan kaki.
C. KALA 3
·
Dimulai
pada saat bayi telah lahir lengkap, dan berakhir dengan lahirnya plasenta.
·
Kelahiran
plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta
pengeluaran plasenta dari kavum uteri.
·
Lepasnya
plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan
perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak
disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal.
·
Pelepasan
plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat
adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah.
·
Pada
keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar / di
atas pusat.
Sifat His :
·
Amplitudo
60-80 mmHg, frekuensi kontraksi berkurang, aktifitas uterus menurun. Plasenta
dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini, namun dapat juga tetap menempel
(retensio) dan memerlukan tindakan aktif (manual aid).
D. KALA 4
Dimulai pada saat plaenta telah
lahir lengkap, sampai dengan 1 jam setelahnya.
Hal penting yang harus diperhatikan pada Kala 4 persalinan :
·
Kontraksi uterus harus baik
·
Tidak ada perdarahan pervaginam atau
dari alat genital lain
·
Plasenta dan selaput ketuban harus
sudah lahir lengkap
·
Kandung kencing harus kosong
·
Luka-luka di perineum harus dirawat
dan tidak ada hematoma
·
Resume keadaan umum ibu dan bayi.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi persalinan :
a.
Power
/ Tenaga
Power utama pada persalinan adalah
tenaga/kekuatan yang dihasilkan oleh kontraksi dan retraksi otot-otot rahim.
Gerakan memendek dan menebalotot-otot rahim yang terjadi sementara waktu
disebut kontraksi. Kontraksi ini terjadi diluar sadar sedangkan retraksi
mengejan adalah tenaga kedua (otot-otot perut dan diafragma) digunakan dalam
kala II persalinan. Tenaga dipakai untuk mendorong bayi keluar dan merupakan
kekuatan ekspulsi yang dihasilkan oleh otot-otot volunter ibu.
b.
Passages/Lintasan
Janin harus berjalan lewat rongga
panggul atau serviks dan vagina sebelum dilahirkan untuk dapat dilahirkan,
janin harus mengatasi pula tahanan atau resisten yang ditimbulkan oleh struktur
dasar panggul dan sekitarnya.
c.
Passanger
Passenger utama lewat jalan lahir
adalah janin dan bagian janin yang paling penting (karena ukurannya paling
besar) adalah kepala janin selain itu disertai dengan plasenta selaput dan
cairan ketuban atau amnion.
d.
Psikologis
Dalam persalinan terdapat kebutuhan
emosional jika kebutuhan tidak tepenuhi paling tidak sama seperti kebutuhan
jasmaninya. Prognosis keseluruhan wanita tersebut yang berkenan dengan
kehadiran anaknya terkena akibat yang merugikan.
7.
PEMERIKSAAN DALAM (VAGINAL TOUCHER)
Beberapa
hal yang dinilai pada pemeriksaan dalam pada ibu hamil. Keadaan kerampang atau
perineum pada liang senggama atau vagina pada saat pertama kali jari tengah
masuk ke dalam vagina. Hal yang di kaji adalah :
Keadaan perineum,
kemungkinan perineum terasa kaku adanya bekas luka jahitan perineum atau
prenium teraba elastis. Kemudian saat jari telunjung masuk kaji sukar tidaknya
liang senggama diregangkan dan kemungkinan adanya tumor dalam liang senggama.
Sevara tidak langsung dapat dilakukan penilaian cairan vagina yang keluar bisa
berupa bercak darah, pendarahan pervaginam atau mekoneum. Jika keluar mekoneum
kemungkinan posisi janin diindikasikan letak bokong. Tetapi perlu diperhatikan
apabila dengan posisi janin dengan letak belakang kepala namun terdapat
mekoneum kemungkinan terjadi gawat janin dalam kandungan.
Keadaan serviks,
penilaian keadaan serviks pada pemeriksaan dalam yaitu dapat dirasakan serviks
teraba lunak (seperti pipi) atau serviks teraba lunak (sperti hidung).
Selanjutnya menilai beberapa persen pendataran atau efficement/penipisan/pendekatan
serviks. Panjang serviks normal biasanya 2-2,5 cm. Namun dalam masa
persalinan terutama menjelanh persalinan serviks mengalami penipisan, meski pun
belum dapat diperkirakan secara pasti hanya berupa presentase. Penipisan ini
kemungkinan dikarenakan peningktan hormon ekstrogen menjelang akhir kehamilan
yang mengakibatkan serviks menjadi elastis atau meregang. Jika serviks belum
mengalami pembukaan perkiraaan pendataran msih 0%, serviks mengalami pembukaan
5 cm perkiraan pendataran serviks 50%, dan jika serviks mengalami pembukaan 9
cm perkiraan pendataran serviks 90%. ·
Penilaian
penting kemajuan persalinan yaitu menilai pembukaan serviks,
sebab salah satu tanda wanita memasuki masa inpartu dengan mengetahui ada
tidaknya pembukaaan serviks pembukaan serviks dikategorikan dalm dua tahap
yaitu faselaten dimana pembukaaan serviks dimulai dari pembukaan 1-3 cm,
faseaktif dimulai dari pembukaan 4-10 cm.jika pembukaaan serviks telah mencapai
10 cm dan terdapat tanda2 inpartu kala dua lain seperti adanya dorongan untuk
meneran, tekanan pada anus, perineum menonjol dan vulva anus membukamaka tenaga
kesehatan siap memimpin jalannya persalinan. ·
Keadaan
ketuban, ketuban berperan penting dlam persalinan salah astunya
yaitu cairan ketuban dapat difungsikan sebagai pelicin saat berlangsungnya
proses persalinan. Sering kali ketuban pecah mendekati akhir kala II tetapi
pecahnya ketubban bisa jadi stiap saat seblum atau selama persalinan.
Pengeluaran air ketuban dapat terjadi dengan tiba2 atau sdkit2 demi sedikt.
Kadang-kadang sulit diketahui apakah ketuban telah pecah atau belum. Untuk
menilai ketban ,masih ituh atau sudah pecah salah satunya dapat dilakukan
dengan pemeriksaan dalam.
Ketuban
dikatakan masih utuh apabila dalam pemeriksaan dalam terba
adanya selaput yang didalamnya terdapat cairan dan saat kedua jari tanagan
masuk (jari telunjuk dan jari tengah) dan di lakukan penekanan pada selaput
tersebut tersa semacam ada lentingan atau pantulan. Sedikit banyak dapat
digambarkan seperti balon yang didalamnya berisi cairan dan di dlam balon
tersebut juga terdapat bola mota/ bola kasti (bola kasti ini dpat di ibaratkan
sebagai kepala janin, jika presentasi letak belakang kepala) dan saat dilakukan
penekanan oleh tanagan terjadi semacam pantulan. Perlu diperhatikan saat
melakukan perabaan kemungkinan terdapat bagian kecil janin yang terkemuka (bisa
ekstremitas janin atau tali pusat janin).
Ketuban
dinyatakan sudah pecah apabila pada saat pemeriksaan dalam
tidak terasa ada pantulan,melainkan terasa adanya gesekan-gesekan kemungkinan
rambut bayi,jika presentasinya letak belakang kepala. Tidak hanya ketuban yang
masih utuh, pada ketuban yang sudah pecah perlu di perhatikan saat melakukan
perabaan kemungkinan terdapat bagian kecil janin yang menumbung (bisa
ekstremitas janin atau tali pusar janin) tali pusar yang menumbung dapat
mengakibatkan janin mengalami hipoksia sehingga aliran oksigen ke janin dapat
terhambat. Baik tali pusar atau ekstremitas janin yang menumbung dapat
menyulitkan proses persalinan.
PENURUNAN
BAGIAN TERENDAH
Pada
saat ini proses persalinan, biasanya bagian terendah janin akan mengalami
penurunan pada rongga panggul. Penurunan bagian terendah janin dapat dinilai
dari pemeriksaan dalam berdasarkan bidang hodge/bidang khayal. Penilaian ini
sedikit sulit, butuh ketepatan menentukan batas bidang hodge, terutama bidang
hodge I,II. Dua bidang hodge terdiri dari dua :
1.
Hodge I yaitu sejajar dengan PAP
2.
Hodge II yaitu sejajar PAP melalui tipe bawah simpisis
3.
Hodge III yaitu sejajar dengan H 1 DAN H2 melalui spina isidiaka
4.
Hodge IV yaitu sejajar dengan H 1,H2,H3 melalui koksigis
Untuk
lebih memudahkan penilaian, dapat di tentukan dengan bidang hodge 3, jika
bagian terendah belum sampai pada bidang hodge 3 bisa di artikan bagian
terendah janin masih melewati bidang hodge 3 bisa diartikan bagian terendah
janin sudah turun. Percepatan penurunan bagian tebisa di pengaruhi rendah janin
bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti : kekuatan kontraksi uterus, ada
tidaknya lilitan tali pusar, kandung kemih yng penuh atau kosong, posisi
janin.
LETAK
JANIN PRESENTASI JANIN
Dapat
dilakukan dengan pemeriksaan seperti :
1.
Letak/presentasi puncak kepala –
pada pemeriksaan dalam teraba : UUB (ubun2 besar) terendah. (disumbu panggul)
UUK sukar di raba.
2.
Letak/presentasi dahi – ada
pemeriksaan dalam teraba : UUB,dahi, pangkal, hidung, pinggir lekuk mata
(orbita).
3.
Letak/presentasi bokong – pada
pemeriksaan dalam teraba : lubang tulang belakang, krista sakralis media, tuber
ishiadikum, ujung tulang tungging, dubur (kemaluan agak sukar dikenali).
4.
Letak/presentasi muka – pada
pemeriksaan dalam teraba : dagu, mulut, hidung, lekuk mata (orbita) Pada letak
belakang kepala, perlu diperhatikan mungkin adanya moulage/tumpangtindi tulang
kepala janin. Moulange dapat menghambat jalannya prosese persalinan secara
normal atau spontan. Pada pemantauan kemajuan persalinan penuliasan dalam
patograf untuk membedakan ada tidaknya moulange dapat dilihat berdasarkan
simbol sebagai :
1)
Simbol 0, jika tidak ada moulage
2)
Simbol 1, jika tulang kepala janin
hanya saling bersentuhan
3)
Simbol 2, jika tulang kepala janin
saling tumpang tindih tetapi msih dapat dipisahkan
4)
Simbol 3, jika tulang kepala janin
saling tumpang tindih tetapi tidak dapat di pindahkan.
8.
LANGKAH-LANGKAH PERTOLONGAN PERSALINAN
ü
Saat
kepala didasar panggul dan membuka pintu dengan crowning sebesar 5 sampai 6 cm
peritoneum tipis pada primi atau multi dengan perineum yang kaku dapat
dilakukan episiotomi median,mediolateral atau lateral.
ü
Episotomi
dilakukan pada saat his dan ,mengejan untuk mengurangi sakit,tujuan episiotomy adalah
untuk menjamin agar luka teratur sehingga mudah mengait dan melakukan adaptasi.
ü
Persiapan
kelahiran kepala,tangan kanan menahan perineum sehingga tidak terjadi robekan
baru sedangkan tangan kiri menahan kepala untuk mengendalikan ekspulsi.
ü
Setelah
kepala lahir dengan suboksiput sebagai hipomoklion muka dan hidung dibersihkan
dari lender kepala dibiarkan untuk melakukan putar paksi dalam guna
menyesuaikan os aksiput kearah punggung.
ü
Kepala
dipegang sedemikian rupa dengan kedua tangan menarik curam kebawah untuk
melahirtkan bahu depan,ditarik keatas untuk melahirkan bahu belakang setelah
kedua bahu lahir ketiak dikaitr untuk melahirkan sisa badan bayi.
ü
Setelah
bayi lahir seluruhnya jalan nafas dibersihkan dengan menghisap lender sehingga
bayi dapat bernafas dan menangis dengan nyaring pertanda jalan nafas bebas dari
hambatan.
ü
Pemotongan
tali pusat dapat dilakukan : Setelah bayi menagis dengan nyaring artinya
paru-paru bayi telah berkembang dengan sempurna
ü
Setelah
tali pusat tidak berdenyut lagi keduanya dilakukan pada bayi yang aterm sehingga
peningkatan jumlah darah sekitar 50 cc
ü
Pada
bayi premature pemotongan tali pusat dilakukan segera sehingga darah yang masuk
ke sirkulasi darah bayi tidak terlalu besar untuk mengurangi terjadi ikterus
hemolitik dan kern ikterus
ü
Bayi
diserahkan kepada petugas untuk dirawat sebagaimana mestinya.
ü
Sementara
menunggu pelepasan plasenta dapat dilakukan.
ü
Kateterisasi
kandung kemih
ü
Menjahit
luka spontan atau luka episiotomi
9.
PATHWAY
(terlampir)
10. ASUHAN KEPERAWATAN
A.
PENGKAJIAN
1) Aktifitas
dan istirahat
·
Tekanan
darah lebih rendah dari pada normal pada 8-12 minggu pertama. Kembali pada
tingkat normal pada separuh waktu kehamilan akhir
·
Denyut
nadi meningkat 10-15x/menit
·
Mur-mur
sistolik pendek dapat terjadi sehubungan dengan peningkatan volume darah
·
Varises
pada ekstremitas bawah dan edema terutama pada trimester III
·
Episode
sinkope
2) Integritas
Ego
·
Menunjukkan
perubahan persepsi diri
·
Body
image rendah
3) Eliminasi
·
Perubahan
pada konsistensi dan frekuensi defekasi
·
Peningkatan
frekuensi berkemih
·
Peningkatan
berat jenis urin
·
Timbulnya
hemoroid
4) Makanan
dan Cairan
·
Mual,
muntah terutama pada trimester I, nyeri uluh hati sering terjadi
·
Peningkatan
berat badan 2-4 Kg pada trimester I, 11-12 Kg pada trimester II &III
·
Membran
mukosa kering, hipertropi jaringan, gusi mudah terjadi perdarahan
·
Hb
dan Ht rendah, mungkin di temui anemia fisiologis
·
Glukus
dan edema
5) Nyeri
dan Ketidaknyamanan
·
Kram
kaki
·
Nyeri
tekan dan bengkak pada payudara
·
Kontraksi
brakson hicks setelah 28 minggu
·
Nyeri
punggung
6) Pernafasan
·
Mukosa
nampak lebih merah dari biasanya
·
Frekwensi
pernafasan dapat meningkat relatif terhadap ukuran / tinggi uterus
·
Pernafasan
thorakal
7) Keamanan
·
Suhu
tubuh 36 – 37ºC
·
DJJ
terdengar pada usia kehamilan 17 –20 minggu
·
Gerakan
janin terasa pada usia kehamilan 20 minggu
·
Quickening
pada usia kehamilan 16 – 20 minggu
·
Ballotement
ada pada bulan ke 4 dan ke 5
8) Sexualitas
·
Berhentinya
menstruasi
·
Perubahan
respon / aktifitas seksual
·
Leukhorea
·
Peningkatan
secara progresif ukuran uterus
·
Payudara
membesar, hiperpigmentasi pada areola
·
Perubahan
pigmentasi kloasma, lineanigra, palmaleritema, spindernevi, strie gravidarum
·
Tanda-tanda
hegar, chadwick positif
9) Interaksi
sosial
·
Bingung
atau meragukan perubahan peran yang diantisipasi
·
Tahap
maturasi / perkembangan bervariasi dan dapat mundur dengan stressor kehamilan
·
Respon
anggota keluarga lain dapat bervariasi dari positif dan mendukung sampai
disfungsional
10) Penyuluhan/ Pembelajaran
Harapan individu terhadap kehamilan
persalinan, melahirkan tergantung pada usia, tingkat pengetahuan, pengalaman,
paritas, keinginan terhadap anak, dan keadaan ekonomi
11) Pemeriksaan Diagnostik
·
Darah
: Hb, golongan darah, skrening HIV, hepatitis
·
Skrening
untuk TBC paru, tuberubela
·
Tes
serum HSG
B.
RENCANA
KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan, Tujuan dan Intervensi. (Doengoes, 2001)
Kala
I :
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan
frekuensi dan intensitas kontraksi uterus.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 3 jam pasien dapat
beradaptasi terhadap nyeri dengan KH :
§ Tampak rileks diantara kontraksi
§ Dapat mengontrol penyebab nyeri
Intervensi :
§ Kaji derajat ketidak nyamanan malalui
isyarat verbal dan non verbal.
§ Jelaskan penyebab nyeri.
§ Ajarkan
klien cara mengontrol nyeri dengan menggunakan tehnik pernapasan / relaksasi
yang tepat dan masase pinggang.
§ Bantu tindakan kenyamanan, misalnya:
gosokan pada kaki, punggung, tekanan sakral, perubahan posisi.
§ Anjurkan klien untuk berkemih setiap
1-2 jam, palpasi diatas simpisis untuk menentukan ada tidaknya distensi setelah
blok syaraf.
§ Hitung waktu dan catat frekuensi,
intensitas dan pola kontraksi uterus setiap 30 menit.
§ Monitor vital signs.
2. Resiko cedera / distress terhadap janin behubungan dengan
hipoksia jaringan.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan kurang lebih selama 1 x 3 jam tidak
terjadi cedera pada janin dengan KH :
§ DJJ dalam batas normal
Intervensi :
§
Lakukan
palpasi (leopold) untuk menentukan posisi janin, berbaring dan presentasi.
§
Hitung
DJJ dan perhatikan perubahan periodik pada respon terhadap kontraksi uterus.
§
Catat
kemajuan persalinan.
3. Resti cedera terhadap maternal berhubungan dengan
perlambatan mortilitas gastric, dorongan fisiologis.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan kurang lebih 1 x 2 jam tidak terjadi
cedera pada maternal dengan KH :
§
Klien
mengatakan resiko dan alasan dan intervensi khusus sudah dimengerti.
§
Klien
kooperatif untuk melindungi diri sendiri / janin dari cedera.
§
Klien
bebas dari cedera / komplikasi.
Intervensi :
- Pantau aktivitas uterus, catat frekuensi, durasi dan intensitas kontraksi.
- Lakukan tirah baring saat persalinan menjadi lebih intensif. Hindari meninggalkan klien tanpa perhatian.
- Tempatkan klien pada posisi agak tegak miring kiri.
- Berikan perawatan perineal setiap 4 jam.
- Pantau suhu dan nadi.
- Berikan es batu atau cairan jernih pada klien bila memungkinkan, hindari makanan padat.
- Anjurkan klien untuk bernafas pendek dan cepat atau meniup bila ada dorongan untuk mengejan.
4. Kurangnya pengetahuan tentang proses persalinan
berhubungan dengan kurangnya sumber – sumber informasi.
Tujuan : Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 1 x 3 jam
klien dan keluarga mengetahui tentang proses persalinan dengan KH :
§ Klien memahami
respon fisiologis setelah melahirkan.
§ Secara
aktif klien ikut dalam upaya mendorong untuk meningkatkan pengeluaran plasenta.
Intervensi :
§ Diskusikan
proses normal persalinan kala III.
§ Jelaskan
alasan untuk respon perilaku seperti menggigit, tremor.
§ Diskusikan
ritinitas periode pemulihan selama 4 jam pertama setelah melahirkan.
Kala
II :
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
aktif, penurunan masukan.
Tujuan : Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 1 x 3 jam tidak terjadi kekurangan volume
cairan dalam tubuh dengan KH :
§ Tanda –
tanda vital dalam batas normal.
§ Keluaran urine adekuat.
§ Membran mukosa kental.
§ Bebas dari rasa haus.
Intervensi :
§ Ukur masukan dan keluaran.
§ Kaji
turgor kulit, beri cairan peroral.
§ Pantau
tanda – tanda vital sesuai indikasi.
§ Kaji DJJ
dan perhatikan perubahan periodek.
§ Atur posisi klien tegak atau lateral.
§ Kolaborasi pemberian cairan
parenteral.
2. Resti infeksi terhadap maternal berhubungan dengan
prosedur invasif berulang, trauma jaringan, persalinan lama.
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 3 jam tidak terjadi
infeksi dengan KH :
§ Bebas dari tanda –
tanda infeksi (rubor, tumor, dolor, kalor, dan fungsiolaesa).
Intervensi :
§ Lakukan
perawatan perineal setiap 4 jam menggunakan tehnik aseptik.
§ Catat tanggal dan waktu pecah ketuban.
§ Lakukan
pemeriksaan vagina hanya bila sangat perlu dengan menggunakan tehnik aseptik.
§ Pantau
tanda – tanda vital dan laborat leukosit.
§ Gunakan
aseptik bedah pada persiapan peralatan.
§ Batasi
jumlah orang yang ada pada saat persalinan.
Kala
III :
1. Resiko
kekurangan volume cairan berhubungan dengan pengeluaran darah per vaginam
akibat atonia.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 3 jam tidak terjadi
kekurangan volume cairan akibat HPP dengan
KH :
§ Kontraksi uterus adekuat.
§ Kehilangan
darah dalam batas normal (<500 ml).
§ Tanda –
tanda vital dalam batas normal.
Intervensi :
§ Anjurkan
klien untuk masase fundus.
§ Pantau tanda – tanda vital dan
pengeluaran pervaginam.
§ Palpasi
uterus dan masase uterus perlahan setelah pengeluaran plasenta.
§ Catat
waktu dan mekanisme pelepasan plasenta.
§ Pantau
tanda dan gejala kehilangan cairan yang berlebihan.
§ Inspeksi
permukaan plasenta maternal dan janin, perhatikan ukuran, insersi tali pusat
dan ketuban.
§ Berikan cairan peroral.
§ Hindari
menarik tali pusat secara berlebihan.
2. Gangguan rasa nyaman nyeri akut berhubungan dengan trauma
jaringan, respon fisiologis setelah melahirkan.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 3 jam pasien dapat
beradaptasi terhadap rasa nyeri dengan KH :
§ Klien
menyatakan nyeri berkurang atau klien beradaptasi dengan nyerinya.
§ Ekspresi
wajah rileks tak gelisah.
§ Perut
tidak mules, luka bersih dan tidak bengkak.
Intervensi :
§ Bantu
dengan penggunaan tehnik pernapasan selama perbaikan luka.
§ Berikan
kompres es pada perineum setelah melahirkan.
§ Lakukan
perawatan luka episiotomi dengan tehnik aseptik dan oleskan salep topikal.
§ Ganti
pakaian dan klien yang basah, berikan selimut yang hangat.
§ Jelaskan
pada klien perubahan fisiologis setelah melahirkan.
Kala
IV :
1. Perubahan ikatan proses keluarga berhubungan dengan
transisi atau pertambahan anggota keluarga.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 3 jam pasien mampu
beradaptasi dengan perubahan setelah melahirkan dengan KH :
§ Klien menggendong bayinya.
§ Klien
mampu mendemonstrasikan perilaku kedekatan dan ikatan yang tepat.
Intervensi :
§ Anjurkan
klien untuk menggendong, menyentuh dan memeriksa bayi.
§ Anjurkan
ayah untuk menyentuh dan menggendong bayi serta membantu dalam perawatan bayi,
sesuai kondisinya.
§ Observasi
dan catat interaksi bayi – keluarga, perhatikan perilaku untuk menunjukkan
ikatan dan kedekatan dalam budaya khusus.
§ Catat
perilaku / pengungkapan yang menunjukkan kekecewaan / kurang minat / kedekatan.
§ Terima
keluarga dan sibling dengan senang hati selama periode pemulihan.
§ Jamin
privasi keluarga pada pemeriksaan selama interaksi awal dengan bayi baru lahir
sesuai kondisi ibu dan bayi.
§ Anjurkan
dan bantu pemberian ASI.
2.
Gangguan
istirahat tidur berhubungan dengan kontraksi uterus.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 3 jam gangguan istirahat
tidur akan berkurang atau teratasi, dengan KH :
§ Pasien
dapat mengidentifikasi dan melakukan tindakan yang dapat meningkatkan tidur
atau istirahat.
§ Pasien
mengungkapkan perasaan yang segar setelah tidur.
Intervensi :
§ Ciptakan
suasana nyaman.
§ Batasi
pengunjung yang datang.
§ Kolaborasikan
pemberian obat tidur yang tidak menekan tidur REM.
PATHWAY
Kala I
|
Penurunan hormone
Estrogen menurun, progesterone
menurun
Kontraksi otot polos
|
Plasenta tua
Rangsangan estrogen
Peningkatan estrogen
Sintesa prostaglandin meningkat
Konsentrasi actin myosin, ATP
meningkat
|
Iritasi mekanis
Penekanan serviks oleh bagian
terbawah janin
Penekanan plexus tranken lause
|
||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kontraksi (his)
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kala I fase laten
|
Kala I fase aktif
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Pembukaan serviks (1-3 cm)
Dilatasi serviks
Menekan saraf sekitar
Pelepasan mediator nyeri
Persepsi nyeri
Nyeri
|
Keadaan psikologis
Krisis maternal
Ansietas
Mekanisme tubuh
Sekresi kelenjar sebasea meningkat
Diaphoresis
|
Penurunan bagian bawah janin
Penekanan vesika urinaria
|
Pembukaan serviks (4-10 cm)
Dilatasi jaringan serviks
Perobekan pembuluh darah kapiler
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
Resiko
deficit volume cairan
Resiko
syok hipovolemik
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||
Kala II
|
Kepala masuk PAP
His cepat dan lebih kuat
Tekanan pada otot2 panggul
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Menekan vena cava inferior
Hambatan aliranbalik vena
CO2 menurun
Curah jantung meningkat
Merangsang reseptor nyeri
Nyeri
Merangsang adrenalin
Kelenjar sebasea meningkat
Keringkat berlebih
Diaphoresis
Ketidakseimbangan
elektrolit, deficit volume cairan
|
Energy yang dibutuhkan semakin
banyak
Intake oral tetap
Kelemahan/keletihan
Kekuatan otot menurun
Kemampuan meneran menurun
Persalinan lama
Usaha memperlebar jalan lahir
Episiotomy
Nyeri,
resiko infeksi,
perdarahan
|
Reflex meneran
Usaha meneran
Kelelahan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Kala III
|
Janin keluar
Ibu kelelahan
|
||||||||||||||||||||||||
|
Ibu tidak kuat
Kontraksi jelek
|
Ibu kuat
Mampu meneran
Uterus kontraksi
Plasenta keluar
|
|||||||||||||||||||||||
|
Pengeluaran plasenta secara manual
|
Resiko HPP
Hipovolemia vaskuler
Resiko deficit volume cairan
Perubahan CO
Sirkulasi terganggu
Gangguan
perfusi jaringan
|
Komplit
Kontraksi baik
|
Inkomplit
Kontraksi buruk
|
|||||||||||||||||||||
Kala IV
|
Proses persalinan plasenta
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kebutuhan energy meningkat
Intake kurang
Produksi energy menurun
Kelelahan
|
Tempat insersi plasenta
Pelepasan jaringan nekrotik
Lochea
Tempat berkembang kuman
|
Robekan jalan lahir
Pelepasan mediator inflamasi
Ambang nyeri menurun
Nyeri
|
Pertahanan primer inadekuat
Terbukanya port de entry kuman
Resiko
infeksi
|
Kontraksi uterus kurang
Kontusio uteri
Deficit vol.cairan
CO menurun
Gangguan
perfusi jaringan perifer
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
REFERENSI
-
Kemenkes. 2010. Pedoman Pelayanan
Antenatal Terpadu. http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/wp-content/uploads/downloads/2013/12/Pedoman-ANC-Terpadu.pdf


0 Response to "LAPORAN PENDAHULUAN INTRA NATAL CARE (INC)"
Post a Comment