Iklan adsense

Disqus Shortname

designcart

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE



LAPORAN PENDAHULUAN
DIARE
A.    Definisi
Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair. (Suriadi,Rita Yuliani,  2001).
Diare didefinisikan sebagai buang air besar lembek atau cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari) (Depkes RI Ditjen PPM dan PLP, 2002).
Diare merupakan salah satu penyakit yang paling banyak terjadi pada masa kanak-kanak, didefenisikan sebagai peningkatan dalam frekuensi, konsistensi, dan volume dari feces (Mc.Kinney, Emily Stone et al, 2000).

B.     Etiologi
1.      Faktor infeksi
a.    Infeksi enteral : infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).
b.    Infeksi parenteral : merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.
2.      Faktor Malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.


3.      Faktor Makanan
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu

4.      Faktor Psikologis
Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas), jarang terjadi tetapi dapat ditemukan pada anak yang lebih besar

C.    Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
*      Gangguan osmotic
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
*      Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningklatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare kerena peningkatan isi lumen usus.
*      Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.









Secara skematis, patofisiologi diare dapat digambarkan sebagai berikut:
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitKhhDYh74OxKd0bhVkkYuuf_KD33pEfIrSx8_qZrdETsaPcMpUo6lW2oM4vFLYVVgQNakCHHuWKejNYvFxNG06ysjuXkSDFA51zJDo_BitTtxaJ1pZWWX_hxiQyIXknkdkWIH837RbdA/s1600/diare+pada+anak.png







D.   Menifestasi klinis
·         Mula-mula anak cengeng,
·         Gelisah
·         Suhu tubuh meningkat
·         Napsu makan berkurang kemudian timbul diare
·         Tinja mungkin disertai lendir dan atau darah
·         Warna tinja makin lama berubah kehijauan karena bercampur dengan empedu.
·         Daerah anus dan sekitarnya timbul luka lecet karena sering defekasi dan tinja yang asam akibat laktosa yang tidak diabsorbsi usus selama diare.
Gejala muntah dapat timbul sebelum atau selama diare dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila kehilangan cairan terus berlangsung tanpa penggantian yang memadai, gejala dehidrasi mulai tampak yaitu: berat badan menurun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit kering.
Bila dehidrasi terus berlanjut dapat terjadi renjatan hipovolemik dengan gejala denyut jantung menjadi cepat, denyut nadi cepat dan lemah bahkan tidak teraba, tekanan darah menurun, klien tampak lemah dengan kesadaran menurun. Karena kekurangan cairan, diuresis berkurang (oliguria sampai anuria). Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat, pernapasan cepat dan dalam (pernapasan Kussmaul).

E.     Penatalaksanaan
Penatalaksanaan diare akut pada anak:
1.      Rehidrasi sebagai prioritas utama
Ada 4 hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat, yaitu:
©      Jenis cairan yang hendak digunakan.
Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat diberiakn NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya ditambahkan dengan 1 ampul Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonik. Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya.
©      Jumlah cairan yang hendak diberikan.
Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Jumlah kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan cara/rumus:
-          Mengukur BJ Plasma
Kebutuhan cairan dihitung dengan rumus:
BJ Plasma – 1,025
---------------------- x BB x 4 ml
           0,001
-          Metode Pierce
Berdasarkan keadaan klinis, yakni: 
* diare ringan, kebutuhan cairan      = 5% x kg BB
* diare sedang, kebutuhan cairan     = 8% x kg BB
* diare ringan, kebutuhan cairan      = 10% x kg BB






-          Metode Perbandingan BB dan Umur
BB (kg)
Umur
PWL
NWL
CWL
Total Kehilangan Cairan
     < 3
    3-10
    10-15
    15-25
 < 1 bln
 1 bln-2 thn
 2-5 thn
 5-10 thn
150
125
100
080
125
100
080
025
25
25
25
25
300
250
205
130
Sumber: Ngastiyah (1997)
Keterangan:
PWL   : Previus Water Lose (ml/kgBB)                       = cairan muntah
NWL  : Normal Water Lose (ml/kgBB)                      = cairan diuresis, penguapan, pernapasan
CWL  : Concomitant Water Lose (ml/KgBB)           = cairan diare dan muntah yang terus menerus
2.      Dietetik
Untuk mencegah kekurangan nutrisi, diet pada anak diare harus tetap dipertahankan yang meliputi:
©      Susu (ASI atau PASI rendah laktosa)
©      Makanan setengah padat atau makanan padat (nasi tim)
3.      Obat-obatan
Obat-obatan yang diberikan pada anak diare adalah:
©      Obat anti sekresi (asetosal, klorpromazin)
©      Obat spasmolitik (papaverin, ekstrakbelladone)
©      Antibiotik (diberikan bila penyebab infeksi telah diidentifikasi)


KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Pengkajian
a.       Aktivitas/ istirahat
Tanda  : penurunan toleransi aktivitas
Gejala  : kelemahan dan kelelahan
b.      Sirkulasi
Tanda : riwayat adanya gangguan kronik
Gejala :
c.       Integritas Ego
Gejala : tampak gelisah
d.      Makanan / cairan
Tanda : kehilangan napsu makan, lemas
Gejala : distensi abdomen, kulit kering
e.       Neurosensori
Tanda : perubahan mental (gelisah dan bingung)
Gejala : nyeri pada perut
f.       Nyeri atau kenyamanan
Tanda : melindungi area yang sakit
Gejala : nyeri pada bagian perut
g.      Pernapasan
Tanda : BAB lebih dalam 3 kali sehari
Gejala : pernapasan cepat
h.      Keamanan
Tanda : lemas
Gejala : demam (38 oC)

B.     Diagnose Keperawatan
1.      Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual).
2.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
3.       Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
4.      Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya
5.      Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif

C.    Intervensi Keperawatan
Dx.1  Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual)
Intervensi dan Rasional:
1.      Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasi
R : Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses.
2.      Pantau intake dan output.
R : Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti.
3.      Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium
R : Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa.
4.      Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif.
R :  Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui.



Dx.2  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
Intervensi dan Rasional:
1.      Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.
R : Menurunkan kebutuhan metabolik.
2.      Pertahankan status NPO (puasa) selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan
R : Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien memungkinkan.
3.      Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet
R : Memenuhi kebutuhan nutrisi klien
4.      Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi.
R : Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut.
Dx.3. Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
Intervensi dan Rasional:
1.      Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.
R : Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri.
2.      Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan kompres hangat abdomen
R :  Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan kemampuan koping.
3.      Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan perawatan kulit
R : Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi.
4.      Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi
R : Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis.
5.      Kaji keluhan nyeri (skala 1-10), perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal
R : Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya.

D.    Implementasi
Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kognitif  dari rencana intervensi yang lebih kuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan perawatan yang muncul.
E.     Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan dimana evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus
Tujuan dari evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik dan untuk melakukan pengkajian ulang


DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. (2000). Buku Ajar Diare. Jakarta: Depkes RI Ditjen PPM dan PLP.
Ngastiyah (1997), Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakart
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku 1, Ed.4, EGC, Jakarta
M.C.Widjaya. (2002). Mengatasi Diare dan Keracunan pada Balita. Jakarta: Kawan Pustaka
Soetjiningsih (1998), Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta
Suriadi, S.Kp.,Rita Yuliani,S.Kp., (2001). Asuhan Keperawatan pada Anak. Ed.1. Jakarta: P.T. Fajar Intrapratama.





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "LAPORAN PENDAHULUAN DIARE"

Post a Comment