LAPORAN PENDAHULUAN MORBILI
LAPORAN PENDAHULUAN MORBILI
LAPORAN PENDAHULUAN
MORBILI
TINJAUAN TEORI
MORBILI
A. Pengertian
Morbili
adalah penyakit infeksi virus akut,menular yang ditandai 3 stadium yaitu
stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensensia. Morbili dapat
disebut juga campak,”measles”,rubeola.(IKA,FKUI Volume 2, 1985)
Morbili
ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium yaitu
: stadium inkubasi, stadium prodromal dan stadium erupsi (Rampengan, 1997: 90)
Campak
adalah organisme yang sangat menular ditularkan melalui rute udara dari
seseorang yang terinfeksi pada orang lain yang rentan (Smeltzer, 2001:2443)
Morbili
ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium,
yaitu : a. stadium kataral, b. stadium erupsi dan c. stadirum konvelensi.
(Rusepno, 2002:624)
Morbili
ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium,
yaitu (1) stadium kataral, (2) stadium erupsi dan (3) stadirum konvelensi.
(Ngastiyah, 1997:351)
Campak,
measles atau rubeola adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh virus
campak. (Hardjiono, 2004:95)
Campak
adalah demam eksantematosa akut oleh virus yang menular ditandai oleh gejala
prodromal yang khas, ruam kulit dan bercak koplik. (Ovedoff, 1995:451)
Measles
atau rubeola adalah penyakit infeksi tinggi akut melibatkan traktus respiratorius
dan dikarakteristikkan oleh ras makulopapuler confluent. (N. Clex, 2001:153).
Morbili
adlah penyakit infeksi virus akut yang ditandai oleh tiga stadium yaitu stadium
kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensi (Suriadi, 2001:211).
Morbili
adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium,
yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi. (Mansjoer,
2000 : 47).
B. Etiologi
Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat
dalam sekret nasofaring dan darah selama masa prodormal sampai 24 jam setelah
timbulnya bercak-bercak. Cara penularannya dengan droplet dan kontak (IKA,FKUI
Volume 2, 1985).
Penyebab
penyakit ini adalah sejenis virus yang tergolong dalam famili paramyxovirus
yaitu genus virus morbili. Virus ini sangat sensitif terhadap panas dan dingin,
dan dapat diinaktifkan pada suhu 30oC dan -20oC,
sinar matahari, eter, tripsin, dan beta propiolakton. Sedang formalin dapat
memusnahkan daya infeksinya tetapi tidak mengganggu aktivitas komplemen.
(Rampengan, 1997 : 90-91)
Penyebab
morbili adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan darah
selama masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak, cara
penularan dengan droplet dan kontak (Ngastiyah, 1997:351)
Campak
adalah suatu virus RNA, yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus
Morbilivirus. Dikenal hanya 1 tipe antigen saja; yang strukturnya mirip dengan
virus penyebab parotitis epidemis dan parainfluenza. Virus tersebut ditemukan
di dalam sekresi nasofaring, darah dan air kemih, paling tidak selama periode
prodromal dan untuk waktu singkat setelah munculnya ruam kulit. Pada suhu
ruangan, virus tersebut dapat tetap aktif selama 34 jam. (Nelson, 1992 : 198).
C. Manesfestasi Klinik
Masa tunasnya adalah 10-20 hari, dan penyakit
ini dibagi menjadi dalam 3 stadium yaitu:
1. Stadium Kataral ( Prodormal)
Berlangsung selama 4-5
hari dengan tanda gejala sebagai berikut:
- Panas
- Malaise
- Batuk
- Fotofobia
- Konjungtivitis
- Koriza
Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul
enantema, timbul bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan
dikelilingi oleh eritema tapi itu sangat jarang dijumpai. Diagnosa perkiraan
yang besar dapat dibuat bila ada bercak koplik dan penderita pernah kotak
dengan penderita morbili dalam waktu 2 minggu terakhir.
2. Stadium Erupsi
Gejala klinik yang
muncul pada stadium ini adalah:
- Koriza dan Batuk bertambah
- Timbul enantema dipalatum durum dan palatum mole
- Kadang terlehat bercak koplik
- Adanya eritema, makula, papula yang disertai
kenaikan suhu badan
- Terdapat pembesaran kelenjar getah bening
- Splenomegali
- Diare dan muntah
Variasi dari morbili disebut “Black Measles” yaitu morbili yang
disertai pendarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.
3. Stadium konvalensensi
- Erupsi mulai berkurang dengan meninggalkan
bekas (hiperpigmentasi)
- Suhu menurun sampai normal kecuali ada komplikasi
(IKA,FKUI Volume 2,1985).
Menurut ahli lain manifestasi yang timbul
adalah:
1) Stadium Kataral (prodromal)
Biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari disertai panas,
malaise, batuk, fotofobia, konjungtivis, dan koriza. Menjelang akhir stadium
kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang
patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik
berwarna putih kelabu sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema,
lokasinya di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah.
2) Stadium erupsi
Koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema atau titik
merah di palatum durum dan palatum mole. Kadang-kadang terlihat pula bercak
koplik. Terjadinya eritema yang berbentuk makula-popula disertai menaiknya suhu
badan diantara macula terdapat kulit yang normal. Mula-mula eritema timbul di
belakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian
belakang bawah, kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit, rasa gatal,
muka bengkak.
3) Stadium Konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua
(hiperpigmentasi) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Suhu menurun sampai
menjadi normal, kecuali bila ada komplikasi (Rusepno, 2002 : 625)
Gejala awal
ditunjukkan dengan adanya kemerahan yang mulai timbul pada bagian belakang
telinga, dahi, dan menjalar ke wajah dan anggota badan. Selain itu, timbul
gejala seperti flu disertai mata berair dan kemerahan (konjungtivis). Setelah
3-4 hari, kemerahan mulai hilang dan berubah menjadi kehitaman yang akan tampak
bertambah dalam 1-2 minggu dan apabila sembuh, kulit akan tampak seperti
bersisik. (Supartini, 2002 : 179)
D. Patofisiologi
Penularan terjadi secara droplet dan kontak
virus ini melalui saluran pernafasan dan masuk ke system retikulo endothelial,
berkembang biak dan selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh. Hal tersebut akan
menimbulkan gejala pada saluran pernafasan, saluran cerna, konjungtiva dan
disusul dengan gejala patoknomi berupa bercak koplik dan ruam kulit. Antibodi
yang terbentuk berperan dalam timbulnya ruam pada kulit dan netralisasi virus
dalam sirkulasi. Mekanisme imunologi seluler juga ikut berperan dalam eliminasi
virus.
Patofisiologi Organisme
(virus morbili) menular melalui rute udara, dalam waktu 24 jam, dari awal
muncul reaksi terhadap virus morbili maka akan terjadi eksudat yang serous dan
proliferasi sel mononukleus dan beberapa sel polimorfonukleus di sekitar
kapiler. Kelainan ini terdapat pada kulit, selaput lendir nasofaring, bronkus
dan konjungtiva (Ngastiyah, 1997:352).
Sebagai
reaksi terhadap virus maka terjadi eksudat yang serous dan proliferasi sel
mononukleus dan beberapa sel polimorfonukleus disekitar kapiler. Kelainan ini
terdapat pada kulit, selaput lendir nasofaring, bronkus dan konjungtiva
(IKA,FKUI Volume 2,1985).
E.
|
Virus morbili masuk dalam tubuh
|
Pathway
|
Juga
dapat menimbulkan perdarahan pada mulut dan traktus degetivus
|
|
Pada
variasi morbili yang disebut black meales
|
|
Tidak
efektif jalan nafas
|
|
Melalui
saluran pernapasan
|
|
Masuk
ke sistem retikulo endometrial
|
|
Berkembangbiak
|
|
Selanjutnya
menyebar keseluruh tubuh
|
|
Stadium
kataral
|
|
Stadium
konvalesensi
|
|
Stadium
erupsi
|
|
Morbili/campak
|
|
Pada
stadium erupsi
|
|
Akan
muncul eritema berbentuk makula-papula
|
|
Disertai kenaikan suhu tubuh
|
|
Mula2
eritema dibelakang telinga dan bagian atas lateral tengkuk
|
|
Kemudian
menyebar keseluruh tubuh
|
|
Gangguan
interaksi sosial
|
|
Disertai
rasa gatal yang hebat
|
|
Resiko
tinggi kerusakan integritas kulit
|
|
Juga
akan menimbulkan perdarahan kecil
|
|
Nyeri
|
|
Resiko
tinggi infeksi
|
|
Kelainan
ini terjadi pada selaput lendir nasofaring dan bronkus
|
|
Dalam waktu 24 jam
|
|
Akan
terbentuk eksudat serousa dan poliferasi sel mononukles
|
|
Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
|
F. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
a. Gambaran klinis yang khas
b. Pemeriksaan laboratorium
c. Pada pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan
leukopeni
d. Dalam spuntum, sekresi nasal, sedimen urine
dapat ditemukan adanya multinucleated giant cells yang khas
e. Pada pemeriksaan serologis dengan cara
hemagglutination inhibition test dan complemen fixation test akan ditemukan
adanya antibody yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash dan
mencapai puncaknya pada 2-4 minggu kemudian. (Rampengan, 1997 : 94)
f. Dalam sputum, sekresi nasal, sediment urine
dapat ditemukan adanya multinucleated giant sel yang khas.
g. Pada pemeriksaan serologi dengan cara
hemaglutination inhibition test dan complement fiksatior test akan ditemukan
adanya antibody yang spesifik dalam 1 – 3 hari setelah timbulnya ras dan
mencapai puncaknya pada 2 – 4 minggu kemudian.
G. Komplikasi
a. Pneumoni
Oleh karena perluasan infeksi virus disertai dengan infeksi
sekunder. Bakteri yang menimbulkan pneumoni pada mobili adalah streptokok,
pneumokok, stafilokok, hemofilus influensae dan kadang-kadang dapat disebabkan
oleh pseudomonas dan klebsiela.
b. Gastroenteritis
Komplikasi yang cukup banyak ditemukan dengan insiden berkisar
19,1 – 30,4%
c. Ensefalitis
Akibat invasi langsung virus morbili ke otak, aktivasi virus
yang laten, atau ensefalomielitis tipe alergi.
d. Otitis media
Komplikasi yang sering ditemukan
e. Mastoiditis
Komplikasi dari otitis media
f. Gangguan gizi
Terjadi sebagai akibat intake yang kurang (Anorexia, muntah),
menderita komplikasi. (Rampengan, 1998 : 95)
H. Penatalaksanaan
a. Medis
Pengobatan simptomatik dengan antipiretika bila suhu tinggi,
sedativum, obat batuk dan memperbaiki keadaan umum. Tindakan lain ialah
pengobatan segera terhadap komplikasi yang timbul.
b. Keperawatan
1) Kebutuhan nutrisi
a) Mengusahakan cairan masuk lebih banyak dengan memberikan
banyak minum.
b) Pemberian saat buah-buahan atau buah yang banyak mengandung
air seperti jeruk atau lainnya yang anak sukai.
c) Susu dibuat agak encer dan jangan terlalu manis, berikan
dalam keadaan hangat, bila perlu ditawarkan apakah mau campur sirop atau
coklat.
d) Berikan makanan lunak misalnya bubur pakai kuah, sup, dan
lain-lain, usahakan sedikit tapi sering.
e) Berikan makan TKTP jika suhu turun dan nafsu makan mulai
timbul.
2) Gangguan suhu tubuh
a) Beri obat penurun panas atau antibiotik bila tidak juga turun
sebelum enantem atau eksantem (campaknya keluar).
b) Beri obat penurun suhu tubuh dengan obat antipiretikum dan
jika tinggi sekali juga diberikan sedativa untuk mencegah terjadinya kejang.
3) Gangguan rasa aman dan nyaman
a) Beri bedak salisil 1% untuk mengurangi rasa gatal.
b) Usahakan agar anak tidak tidur di bawah lampu karena silau.
c) Selama demam tinggi jangan dimandikan tetapi sering-sering di
bedak saja.
d) Di lap muka, tangan, dan kaki.
e) Jika suhu turun untuk mengulangi rasa gatal dapat dimandikan
dengan PK 1/1000 atau air hangat saja dan jangan terlalu lama. Dapat juga
dengan phisohex atau bethadine.
4) Risiko terjadi
komplikasi
a) Diubah sikap baringnya beberapa kali sehari dan berikan
bantal untuk meninggikan kepala. Dudukkan anak pada waktu minum atau dipangku.
b) Jangan membaringkan pasien di depan jendela atau membawa
pasien ke luar rumah selama masih demam (bila anak terkena angin, batuk akan
menjadi lebih parah).
5) Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit
a) Penyuluhan pemberian gizi yang baik bagi anak agar mereka
tidak mendapat infeksi dan tidak akan mudah timbul komplikasi yang berat.
(Ngastiyah, 1997 : 356-357)
I. Fokus Pengkajian
1) Pengkajian Data Dasar
Biodata
Terdiri dari biodata pasien dan biodata penanggung jawab.
Terdiri dari biodata pasien dan biodata penanggung jawab.
2) Proses keperawatan
a. Keluhan utama
Keluhan utama pada pasien dengan morbili yaitu demam
terus-menerus berlangsung 2 – 4 hari. (Pusponegoro, 2004 : 96)
b. Riwayat keperawatan sekarang
Anamnesa adanya demam terus-menerus berlangsung 2 – 4 hari,
batuk, pilek, nyeri menelan, mata merah, silau bila kena cahaya (fotofobia),
diare, ruam kulit. (Pusponegoro, 2004 : 96)
Adanya nafsu makan menurun, lemah, lesu. (Suriadi, 2001 : 213)
c. Riwayat keperawatan dahuluAnamnesa pada
pengkajian apakah klien pernah dirawat di Rumah Sakit atau pernah mengalami
operasi (Potter, 2005 : 185).
Anamnesa riwayat penyakit yang pernah diderita pada masa lalu,
riwayat imunisasi campak (Wong, 2003 : 657). Anamnesa riwayat kontak dengan
orang yang terinfeksi campak. (Suriadi, 2001 : 213)
d. Riwayat Keluarga
Dapatkan data tentang hubungan kekeluargaan dan hubungan darah,
apakah klien beresiko terhadap penyakit yang bersifat genetik atau familial.
(Potter, 2005 : 185)
3) Pemeriksaan Fisik
a) Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia
b) Kepala : sakit kepala
c) Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza,
perdarahan hidung ( pada stad eripsi ).
d) Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk,
mulut terasa pahit.
e) Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal,
ruam makuler pada leher,muka, lengan dan, evitema, panas (demam).
f) Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak
nafas, wheezing, renchi, sputum
g) Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.
h) Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare
i) Status Nutrisi : intake – output makanan,
nafsu makanan
(Potter, 1996 : 16).
J. Diagnosa Keperawatan
1. Tidak efektif jalan nafas berhubungan dengan
peningkatan produksi sekret
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kegagalan
untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan atau absorpsi nutrien yang
diperlukan.
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
penjamu dan agens infeksi.
4. Nyeri berhubungan dengan lesi kulit, malaise
5. Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan
isolasi dari teman sebaya.
6. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan penggarukan pruritus
K. Intervensi
1) Tidak efektif jalan nafas berhubungan dengan
peningkatan produksi sekret.
Hasil yang diharapkan :
a) Mempertahankan jalan nafas pasien dengan bunyi nafas bersih
atau jelas.
b) Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas,
misal : batuk efektif dan mengeluarkan sekret.
Intervensi :
a) Auskultasi bunyi napas
Rasional : beberapa derajat spasma bronkus terjadi dengan
obstruksi jalan nafas.
b) Kaji atau pantau frekuensi pernapasan
Rasional : takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat
ditemukan pada penerimaan atau selama stress atau adanya proses infeksi akut.
c) Catat adanya atau derajat dipsnoe sesak napas
Rasional : disfungsi pernapasan adalah variabel yang tergantung
pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah
sakit.
d) Pertahankan polusi lingkungan minimun, misal ; debu, asap, dan
bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi individu.
Rasional : pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat
menjadi episode akut.
e) Observasi karakteristik batuk
Rasional : batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya
bila pasien lansia, sakit akut, atau kelemahan. Batuk paling efektif pada
posisi duduk tinggi atau kepala di bawah setelah perkusi
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna
makanan atau absorpsi nutrien yang diperlukan.
Hasil yang diharapkan :
a) Menunjukkan peningkatan berat badan atau berat badan stabil
dengan nilai laboratorium normal.
b) Tidak mengalami tanda malnutrisi.
c) Menunjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan
dan atau mempertahankan berat badan yang sesuai.
Intervensi :
a) Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang
disukai.
Rasional : mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan
intervensi.
b) Observasi dan catat masukan makanan pasien.
Rasional : mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan
konsumsi makanan.
c) Timbang berat badan tiap hari
Rasional : mengevaluasi penurunan berat badan atau efektivitas
intervensi nutrisi.
d) Berikan makanan sedikit dari frekuensi sering dan atau makan
diantara waktu makan.
Rasional : makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan
meningkatkan pemasukan juga mencegah distensi gaster.
e) Observasi dan catat kejadian mual atau muntah,
flatus, dan gejala lain yang berhubungan.
Rasional : gejala gastro intestinal dapat menunjukkan efek anemia
(hipoksia) pada organ.
3) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
penjamu dan agens infeksi.
Hasil yang diharapkan :
a) Anak yang rentan tidak mengalami penyakit.
b) Infeksi tidak menyebar
c) Anak tidak menunjukkan bukti-bukti komplikasi seperti infeksi
dan dehidrasi.
Intervensi :
a) Identifikasi anak beresiko tinggi
Rasional : memastikan anak menghindari pemajanan
b) Lakukan rujukan ke perawat kesehatan
masyarakat bila perlu.
Rasional : untuk memastikan prosedur yang tepat di rumah.
c) Pantau suhu
Rasional : peningkatan suhu tubuh yang tidak diperkirakan dapat
menandakan adanya infeksi.
d) Pertahankan higiene tubuh yang baik.
Rasional : untuk mengurangi resiko infeksi sekunder dari lesi.
e) Berikan serapan air sedikit tapi sering atau
minuman kesukaan anak serta makanan halus atau lunak.
f) Rasional
: - Untuk menjamin hidrasi yang
adekuat
-
Banyak anak-anak yang mengalami anoreksia selama sakit
4) Nyeri berhubungan dengan lesi kulit, malaise
Hasil yang diharapkan :
a) Kulit dan membran mukosa bersih dan bebas dari iritasi.
b) Anak menunjukkan bukti-bukti ketidaknyamanan minimum.
Intervensi :
a) Gunakan vaporiser embun dingin, kumur-kumur,
dan tablet isap.
Rasional : untuk menjaga agar membran mukosa tetap lembab.
b) Bersihkan mata dengan larutan salin fisiologis
Rasional : untuk menghilangkan sekresi atau kusta
c) Jaga agar anak tetap dingin.
Rasional : karena udara yang terlalu panas dapat meningkatkan
rasa gatal.
d) Berikan mandi air dingin dan berikan lotion seperti kalamin
Rasional : untuk menurunkan rasa gatal.
e) Berikan analgesik, antipiretik, dan
antipruritus sesuai kebutuhan dan ketentuan.
Rasional : untuk mengurangi nyeri, menurunkan suhu tubuh, dan
mengurangi rasa gatal.
5) gangguan interaksi sosial berhubungan dengan
isolasi dari teman sebaya.
Hasil yang diharapkan :
a) Anak menunjukkan pemahaman tentang pembatasan
b) Anak melakukan aktivitas yang tepat dan berinteraksi.
Intervensi :
a. Jelaskan alasan untuk pengisolasian dan
penggunaan kewaspadaan khusus. Rasional : untuk meningkatkan pemahaman anak
tentang pembahasan.
b. Biarkan anak memainkan sarung tangan dan
masker
Rasional : untuk memfasilitasi koping positif.
c. Berikan aktivitas pengalihan
Rasional : untuk melakukan aktivitas yang tepat dan
berinteraksi.
d. Anjurkan orang tua untuk tetap bersama anak
selama hospitalisasi.
Rasional : untuk menurunkan perpisahan dan memberikan kedekatan.
e. Siapkan teman sebaya anak untuk perubahan
perampilan fisik
Rasional : untuk mendorong penerimaan teman sebaya.
6) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan penggarukan pruritus
Hasil yang diharapkan : kulit tetap utuh
Intervensi :
a) Jaga agar kuku tetap pendek dan bersih
Rasional : untuk meminimalkan trauma dan infeksi sekunder.
b) Pakailah sarung tangan atau restrein siku
Rasional : untuk mencegah penggarukan
c) Berikan pakaian yang tipis, longgar, dan tidak
meng mengiritasi.
Rasional : karena panas yang berlebihan dapat meningkatkan rasa
gatal.
d) Tutup area yang sakit (lengan panjang, celana panjang, pakaian
satu lapis).
Rasional : untuk mencegah penggarukan
e) Berikan losion yang melembutkan (sedikit saja
pada lesi terbuka).
Rasional : karena pada lesi terbuka absorpsi obat meningkat
untuk menurunkan pruritus.
f) Hindari pemajanan panas atau sinar matahari.
Rasional : menimbulkan ruam (Doenges, 2000 : 156, 157 dan 575).
DAFTAR PUSTAKA
Rampengan T.H , Laurents I.R. 1997. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Edisi 1,
Cetakan III. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Hassan, et al. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Infomedika: Jakarta.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak
Sakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC: jakarta.
Hartanto, Huriawati, dr., dkk,. 2006. Kamus Kedokteran Dorland, Edisi Dua Sembilan. EGC: Jakarta.
Betz, Cecity L., Linda A. Sowden. 2002. Buku Saku Keperawan Pediatri. EGC: Jakarta.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 1985.Ilmu Kesehatan Anak 2. Bagian Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta
H. John. 2005. Kamus Ringkas
Kedokteran Stedman untuk Profesi Kesehatan Edisi Empat, EGC: Jakarta.
0 Response to "LAPORAN PENDAHULUAN MORBILI"
Post a Comment