Konstipasi
“Konstipasi”
Disusun
Oleh
:
Kelompok
2
1. Herni
Tetrapoik
2. Sultan
STIKES
GRAHA EDUKASI MAKASSAR
2012
KATA
PENGANTAR
Segala puji dan
syukur kami naikkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa ,Karena atas Kasih
Karunia-Nyalah sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat
pada waktunya.
Makalah ini kami
buat untuk memenuhi tugas yang dibarikan oleh dosen kami : Ns Evayanti Karoma,S.Kep.Yang
akan melakukan penilian untuk Ujian MID semester. Selain itu makalah ini juga
membahas tentang gangguan system pencernaan pada Lansia , khususnya Konstipasi
untuk kami pelajari bersama dalam kegiatan pembelajaran kami yang nantinya
kedapan ilmu yang kami dapatkan akan diaplikasikan dalam kehidupan kami selaku
Perawat .
Kami sangat
berterima kasih kepada semua pihak yang mana tidak dapat disebutkan satu per satu karena telah membantu dalam
penyusunan makalah ini .
Kami menyadari
sungguh bahwa makalah ini masih jauh dari KESEMPURNAAN ,untuk itu kritik dan
saran dari semua pembaca sangatlah kami harapkan guna perbaikan makalah
kami,agar kedepannya pembuatan makalah kami lebih baik lagi.
Kami sangat
berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua .selamat belajar
Salam sukses
Luar biasa !!!!!! dan tetap semangat ya J
Makassar
,2012
Kelompok
II
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………... 1
DAFTAR ISI ………………………………………………………………… 2
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar
belakang………………………………………………………… 3
2. Anatomi
dan fisiologi sistem pencernaaan…………………………… 4-18
BAB II PEMBAHASAN
1. Defenisi.....…………………………………………………………… 19
2. Etiologi………………………………………………………………… 19
3. Manifestasi
klinis……………………………………………………... 20
4. Patofisiologi......................................................................................... . 21
5. Pemeriksaan
penunjuang ……………………………………………... 21-22
6. Penatalaksanaan……………………………………………………….
22-25
7. Pencegahan
…………………………………………………………... 25
8. Asuhan
Keperawatan pada Klien Lansia ……………………………. 26-41
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan …………………………………………………….. 42
2. Saran ……… …………………………………………………….. 42
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Usia
lanjut merupakan proses yang tidak dapat dihindari. Konstipasi sering terjadi
pada usia lanjut. Konstipasi yang terjadi pada lansia sebagian besai
berhubungan dengan penurunan mobilitas colon terbatas ke a-norektum. Pencegahan
yang sederhana untuk mengatasi terjadinya konstipasi aCalah dengan meningkatkan
konsumsi serat yang cukup dan diinjurkan minum air seirai dengan kebutuhan
tubuh. Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui masalah konstipasi
pada lansia.. Hasil penelitian univariat menunjukkan lebih dari separuh 37
orang (37,4%) mengalami kejadian konstipasi, sebagian besar 79 orang (79,8%)
mengkonsumsi asupan serat kurang, lebih dari separuh 52 orang (52,5%) yang
mengkonsumsi asupan cairan kurang. Dan pada hasil bivariat menunjukkan terdapat
hubungan yung bermakna antara kebutuhan cairan dengan kejadian konstipasi
dengan nilai p = 0,035 dan berdasarkan uji Chi-Square ditemukan tidek adanya
hubungan yang bermakna antara konsumsi serat dengan kejadian konstipasi dengan
nilai p 0,99. Mengingat pentingnya mengkonsumsi serat yang cukup (10 gram)
harus disertai dengan intake cairan yang cukup (8-10 gelas/hari) untuk membantu
proses pencernaan dalam tubuh.
2.
Anatomi
Dan Fisiologi System Pencernaan
Definisi
Sistem
pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah
sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya
menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah
serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa
proses tersebut dari tubuh Sistem pencernaan (mulai dari mulut sampai anus)
berfungsi sebagai berikut:
Ø Menerima makanan
Ø Memecah makanan menjadi zat-zat gizi
(suatu proses yang disebut pencernaan)
Ø Menyerap zat-zat gizi ke dalam
aliran darah
Ø Membuang bagian makanan yang tidak
dapat dicerna dari tubuh.
Saluran pencernaan makanan menerima
makanan dari luar dan mempersiapkan bahan makanan untuk diserap oleh tubuh
dengan jalan proses pencernaan (mengunyah, menelan dan menyerap) dengan bantuan
zat cair yang terdapat mulai dari mulut sampai ke anus. Setiap sel dalam tubuh
memerlukan suplai makanan yang terus-menerus untuk bertahan hidup. Makanan
tersebut memberikan energy, menambah jaringan baru, mengganti jaringan yang
rusak dan untuk pertumbuhan.
Fungsi
utama system pencernaan adalah menyediakan zat nutrisi yang sudah dicerna
secara berkesinambungan untuk didistribusikan kedalam sel melalui sirkulasi
dengan unsure-unsur air, elektrolit, dan zat gizi. Sebelum zat ini diserap oleh
tubuh, makanan harus bergerak sepanjang saluran cerna.Makanan yang kita makan
harus diubah terlebih menjadi benda cair agar dapat diserap (diabsorpsi). Zat
makanan tersebut mengalami perubahan kimiawi dan fisik sepanjang saluran
pencernaan. Zat makanan merupakan sumber energy dari sel yang membentuk
adenosine trifosfat (ATP) untuk melaksanakan berbagai kegiatan dalam tubuh,
untuk mempertahankan suhu tubuh dan energy untuk bekerja dan bergerak.
Pembuangan
sisa makanan dari metabolism akan diekskresikan melalui saluran akhir sitem
pencernaan dalam bentuk feces. Selain itu juga melalui paru-paru dan ginjal
dalam bentuk karbondioksida dan urine.
Proses Pencernaan :
Peristiwa
yang terjadi dalam system pencernaan meliputi pergerakan makan, sekresi getah
cerna, pencernaan dan absorpsi.
1) Ingestion:proses pemasukan
makanan/minuman kedalam tubuh (KH, lemak, protein, air, vit, mineral )
2) Pergerakan makan
Mendorong isinya kedepan dengan
kecepatan yang tidak sama, mencampur makanan dengan liur, dan membantu
observasi dengan cara mendekatkan seluruh isi lumen kepermukaan saluran
pencernaan dengan bantuan kontraksi otot polos dinding saluran pencernaan.
3) Sekresi getah cerna
Sekresi getah cerna ini dilakukan
oleh kelenjar-kelenjar mulai dari mulut sampai ke ileum. Getah yang
disekresikan antara lain air, elektrolit dan bahan-bahan tertentu seperti enzim
dan getah empedu (mucus).
4) Pencernaan
Proses pencernaan adalah proses
pemecahan secara mekanik dan kimia. Molekul-molekul besar yang masuk saluran
pencernaan diubah menjadi molekul yang lebih kecil sehingga dapat diserap oleh
dinding saluran pencernaan.
5) Absorpsi
Makanan yang telah mengalami
perubahan dalam proses penyerapan hasil pencernaan dari lumen akan menembus
lapisan epitel dan masuk kedalam darah atau cairan limfe. Permukaan saluran
pencernaan biasanya tidak rata/licin tetapi berlekuk-lekuk sehingga menambah
luas permukaan yang tersedia untuk absorpsi.
Lapisan Dinding Saluran Pencernaan
Secara
umum dinding saluran pencernaan terdiri atas empat lapisan yang mempunyai
fungsi berbeda-beda
a) Tunika mukosa
Merupakan mukosa lapisan dalam yang
diliputi lapisan epitel, menyekresi mucus, dan melepaskan hormone kedalam darah
membentuk kelenjar eksokrin untuk menyekresi asam, enzim, air, dan ion-ion
kedalam lumen. Lapisan ini berfungsi melindungi saluran pencernaan terhadap
gesekan makanan yang keras.
b) Tunika submukosa
Merupakan jaringan ikat kedua
sebelah dalam yang dilalui pembuluh darah dan pembuluh limfe yang besar,
cabangnya menembus lapisan mukosa. Pada bagian dalam submukosa terdapat
jala-jala sel saraf (pleksus submukosa). Lapisan ini mempunyai dua lapisan
yaitu lapisan otot longitudinal dan sirkuler (oblique)
c) Tunika muskularis
Lapisan ini merupakan lapisan otot.
Kontraksinya menimbulkan gaya mendorong untuk memindahkan isi saluran
pencernaan. Lapisan ini membentuk system saraf enteric untuk membantu
mengintegrasikan keaktifan motorik dan sekretorik system pencernaan.
d) Tunika serosa
Lapisan tunika serosa ini merupakan
lapisan luar jaringan ikat yang mengelilingi saluran pencernaan. Lapisan yang
sangat tipis disebut peritoneum (adventisia). Lapisan ini menyekresi cairan
serosa untuk membasahi dan mencegah gesekan organ pencernaan dan alat dalam
sekitarnya.
Saluran pencernaan terdiri dari :
1. Mulut,
2. faring
3. Kerongkongan/ esofagus
4. Lambung,
5. Usus halus,
6. Usus besar,
7. Rektum
8. Anus.
Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak
diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
1.
Mulut
Mulut
merupakan saluran pertama yang dilalui makanan. Pada rongga mulut, dilengkapi
alat pencernaan dan kelenjar pencernaan untuk membantu pencernaan makanan. Pada
Mulut terdapat:
a. Gigi
Memiliki fungsi memotong, mengoyak dan menggiling makanan menjadi partikel yang kecil-kecil. Perhatikan gambar disamping. Gigi di bagi menjadi 3 macam, antara lain:
Memiliki fungsi memotong, mengoyak dan menggiling makanan menjadi partikel yang kecil-kecil. Perhatikan gambar disamping. Gigi di bagi menjadi 3 macam, antara lain:
1) Gigi seri (dens insisivus),
berjumlah 8 buah, berfungsi memotong makanan.
2) Gigi taring (dens caninus),
berjumlah 4 buah, berfungsi merobek makanan.
3) Gigi geraham kecil (dens premolare),
berjumlah 8 buah, berfungsi mengunyah makanan.
b. Lidah
Memiliki peran mengatur letak
makanan di dalam mulut serta mengecap rasa
makanan.
c. Kelenjar Ludah
Ada 3 kelenjar ludah pada rongga
mulut. Ketiga kelenjar ludah tersebut menghasilkan ludah setiap harinya sekitar
1 sampai 2,5 liter ludah. Kandungan ludah pada manusia adalah : air, mucus,
enzim amilase, zat antibakteri, dll.
Keterangan:
Fungsi
ludah adalah melumasi rongga mulut serta mencerna karbohidrat menjadi
disakarida.
2.
Faring
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan.
Berasal dari bahasa yunani yaitu Pharynk. Skema melintang mulut, hidung,
faring, dan laring. Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu
kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan
pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas
dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan
ruas tulang belakang Keatas bagian
depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama
koana, keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang
yang disebut ismus fausium.
Tekak terdiri dari; Bagian superior =bagian yang sangat
tinggi dengan hidung, bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan
bagian inferior = bagian yang sama tinggi dengan laring. Bagian superior
disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak
dengan ruang gendang telinga,Bagian media disebut orofaring,bagian ini berbatas
kedepan sampai diakar lidah bagian inferior disebut laring gofaring yang
menghubungkan orofaring
3. Kerongkongan (Esofagus)
Merupakan saluran yang menghubungkan antara rongga mulut
dengan lambung. Pada ujung saluran esophagus setelah mulut terdapat daerah yang
disebut faring. Pada faring terdapat klep, yaitu epiglotis yang mengatur
makanan agar tidak masuk ke trakea (tenggorokan). Fungsi esofagus adalah
menyalurkan makanan ke lambung. Agar makanan dapat berjalan sepanjang
esophagus, terdapat gerakan peristaltik sehingga makanan dapat berjalan menuju
lambung.Sekresi esophagus bersifat mukoid yaitu member pelumas untuk pergerakan
makanan melalui esophagus. Pada permulaan esophagus terdapat kelenjar mukosa
komposita. Bagian badan utamanya dibatasi oleh banyak kelenjar mukosa
komposita. Bagian badan utamanya dibatasi oleh banyak kelenjar mukosa simplek
yang berfungsi untuk mencegah sekresi mukosa oleh makanan yang baru masuk.
Kelenjar komposita yang terletak pada perbatasan esophagus dengan lambung
berfungsi untuk melindungi dinding esophagus dari pencernaan getah lambung.
Pada peralihan esophagus kelambung terdapat sfingter kardiak
yang dibentuk oleh lapisan otot sirkuler esophagus. Sfingter ini terbuka secara
reflex pada akhir proses menelan. Tunika mukosa esophagus mempunyai epitel
gepeng berlapis yang mengandung kelenjar-kelenjar (landula esophagus).
Lapisan dinding esophagus dari dalam
keluar:
1)
Lapisan
selaput (mukosa)
2)
Lapisan
submukosa
3)
Lapisan
otot melingkar (muscular sirkuler)
4)
Lapisan
otot memanjang (muscular longitudinal).
4. Lambung
Ø Lendir
Ø Asam klorida
Ø Prekursor pepsin (enzim yang
memecahkan protein). Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam
lambung dan enzim.
Ada
3 jenis otot polos yang menyusun lambung, yaitu otot memanjang, otot melingkar,
dan otot menyerong. Selain pencernaan mekanik, pada lambung terjadi pencernaan
kimiawi dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan lambung. Senyawa kimiawi
yang dihasilkan lambung adalah :
1.
Asam
HCl ,Mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin. Sebagai disinfektan, serta
merangsang pengeluaran hormon sekretin dan kolesistokinin pada usus halus.
2.
Lipase
, Memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Namun lipase yang dihasilkan
sangat sedikit.
3.
Renin
, Mengendapkan protein pada susu (kasein) dari air susu (ASI). Hanya dimiliki
oleh bayi.
4.
Mukus
, Melindungi dinding lambung dari kerusakan akibat asam HCl
5.
Usus Halus
Usus
halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus
kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum).
1.
Usus
dua belas jari (Duodenum)
Usus dua belas jari atau duodenum
adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung dan
menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan
bagian terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di
ligamentum Treitz.
2.
Usus
Kosong (Jejenum)
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum)
adalah bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum)
dan usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus
antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan usus
penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium.
3.
Usus
Penyerapan (Illeum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus
halus. Pada sistem pencernaan manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan
terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum
memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap
vitamin B12 dan garam-garam empedu.
6.
Usus Besar
v Kolon asendens (kanan)
v Kolon transversum
v Kolon desendens (kiri)
v Kolon sigmoid (b/d rektum).
Apendiks
(usus buntu) merupakan suatu tonjolan kecil berbentuk seperti tabung, yang
terletak di kolon asendens, pada perbatasan kolon asendens dengan usus halus.
Usus besar menghasilkan lendir dan berfungsi menyerap air dan elektrolit dari
tinja. Ketika mencapai usus besar, isi usus berbentuk cairan, tetapi ketika
mencapai rektum bentuknya menjadi padat.
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar
berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri
di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K.
Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta
antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri di dalam usus besar.
Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air,
dan terjadilah diare.
7.
Rectum
Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari
ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum
ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon
desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka
timbul keinginan untuk buang air besar.Orang dewasa dan anak yang lebih tua
bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami
kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda buang air besar.
8.
Anus
Anus
berfungsi sebagai tempat pembuangan sisa hasil proses pencernaan
GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
1.
Apendikitis-Radang usus buntu.
2.
Diare- Feses yang sangat cair akibat peristaltik yang
terlalu cepat.
3.
Kontipasi -Kesukaran dalam proses Defekasi (buang air
besar)
4.
Maldigesti-Terlalu banyak makan atau makan suatu zat
yang merangsang lambung.
5.
Parotitis-Infeksi pada kelenjar parotis disebut juga
Gondong
6.
Tukak Lambung/Maag-”Radang” pada dinding lambung,
umumnya diakibatkan infeksi Helicobacter pylori.
Zat-zat yang diekskresikan oleh
organ-organ sistem pencernaan :
Setiap
makhluk hidup termasuk manusia memerlukan makanan untuk menjaga
kelangsungan hidupnya. Makanan yang kita konsumsi sehari-hari terdiri
dari atas beberapa zat makanan (nutrient). Sebagian dari makanan itu diperlukan
dalam jumlah yang besar sehingga disebut makronutrien dan sebagian hanya
diperlukan dalam jumlah yang kecil sehingga disebut mikronutrien.
Fungsi
makanan bagi tubuh adalah sebagai berikut :
1. Sebagai sumber bahan bakar.
- Sebagai
sumber bahan pengatur.
- Sebagai
bahan pembangun.
Macam-macam Zat Makanan (Nutrien)
yang Diperlukan Tubuh
:
Karbohidrat
Karbohidrat
ini merupakan senyawa organic yang terdiri atas unsure C, H, dan O. zat makanan
ini berfungsi sebagai sumber energi yang utama di dalam sel-sel tubuh. Bahan
makanan yang mengandung kerbohidrat contohnya ubi-ubian, sereal (biji-bijian),
dan buah-buahan.
Menurut
kompleksitasnya karbohidrat dapat dibedakan menajdi tiga macam :
1). Monosakarida, yaitu karbohidrat
yang hanya disusun oleh satu molekul gula, misalnya glukosa, fruktosa, dan
galaktosa.
2). Disakarida, yaitu karbohidrat
yang terdiri dari dua molekul gula, misalnya sukrosa terdiri dari glukosa dan
fruktosa, maltose terdiri dari dua molekul glukosa, dan laktosa terdiri dari
glukosa dan galaktosa.
3). Polisakarida, yaitu karbohidrat
yang terdiri dari banyak molekul gula sederhana, misalnya selulosa, kitin,
glikenon, dan amilum.
Lemak
Lemak
merupakan senyawa organic yang terdiri atas atom C, H, dan O dengan susunan
yang kompleks dibanding karbohidrat. Lemak merupakan ester gliserol dan asam
lemak. Senyawa ini berperan sebagai sumber energi sebagai bahan pembangun
membrane sel, sebagai cadangan makanan dan sebagai pelarut vitamin A, D, E, dan
K.
Protein
Protein
merupakan senyawa organik kompleks yang terdiri atas unsur C, H, O, N dan
sering kali terdapat unsur S dan P. Protein merupakan polimer dari asam-asam
amino, yang mempunyai fungsi sebagai berikut:
Air
Air
merupakan zat makanan yang diperlukan dalam jumlah relatif banyak. Di dalam
tubuh fungsi air adalah sebagai berikut :
·
Membantu
dalam setiap metabolisme tubuh.
·
Sebagai
bahan pelarut berbagai macam bahan di dalam tubuh.
·
Untuk
menggantikan cairan tubuh yang hilang karena pengeluaran keringat, dan
pengeluaran air dalam bentuk lain.
·
Sebagai
bahan pembangun sel-sel tubuh karena sebagian besar komponen yang menyusun isi
sel makhluk hidup adalah air.
Vitamin
Vitamin
merupakan senyawa organik yang diperlukan tubuh dalam jumlah sedikit. Fungsi
vitamin bagi tubuh adalah untuk mengatur berbagai macam aktivitas dan
metabolismes dalam sel. Vitamin tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga
dalam setiap intake makanan sehari-hari harus mengandung vitamin yang
diperlukan tubuh. Apabila tubuh kekurangan vitamin dapat menimbulkan gejala
hipovitaminosis bahkan lebih parah lagi dapat menimbulkan gejala avitaminosis.
Mineral
Merupakan
bahan makanan yang berfungsi untuk bahan pengatur berbagai aktivitas di dalam
tubuh dan sebagai bahan pembangun. Berdasarkan jumlah yang diperlukan tubuh,
mineral dikelompokkan menjadi dua macam :
v Makroelemen, yaitu mineral yang
diperlukan dalam jumlah yang besar. Contoh kalium, fosfor, magnesium, belerang,
klor, natrium, dan kalsium.
v Mikroelemen, yaitu mineral yang diperlukan
dalam jumlah sedikit tetapi harus ada karena apabila kebutuhan tubuh tidak
tercukupi akan timbul gangguan dalam metabolisme dan Pertumbuhan. Contoh zat
besi, flour, iodium, dan tembaga.
Zat Aditif Makanan :
Zat
aditif makanan adalah zat yang secara sengaja maupun tanpa sengaja ditambahkan
dalam bahan makanan guna memperbaiki nilai gizi dan cita rasa, mengawetkan
bahan makanan, atau memberikan rasa mantap serta memperbaiki penampilan.
Zat
aditif menurut tujuannya dapat dibedakan menjadi berikut :
a. Zat aditif sebagai bahan pengawet
Zat aditif yang aman digunakan
sebagai bahan pengawet makanan secara alami adalah gula, garam dapur, dan asam
jawa. Selain itu bahan pengawet yang relatif aman bagi kesehatan adalah larutan
cuka 4%, asam benzoat atau garam natriumnya.
Dalam industri makanan seperti
industri keju, kornet dan daging asap seringkali menggunakan garam nitrat atau
nitric sebagai pengawet. Penggunaan bahan ini selain mencegah munculnya gas
oleh aktivitas bakteri pembentuk asam butirat juga dapat mencegah pertumbuhan
bakteri Clostridium butilinum. Namun dikhawatirkan penggunaan bahan ini
sebagai pengawet dapat bereaksi dengan senyawa amina sekunder dalam tubuh dan
menghasilkan senyawa yang bersifat karsinogenik. Kerusakan makanan karena
adanya reaksi oksidasi terhadap makarian dapat dicegah dengan pemberian zat
anti oksidan seperti vitamin C, Vitamin E, BHA, dan BHT.
Pemberian warna pada makanan dapat
meningkatkan penampilan makanan sehingga menggugah minat konsumen. Zat warna
yang ditambahkan dalam bahan rnakanan dapat bersifat alami maupun sintetik.
Pewarna alami yang biasa ditambahkan pada bahan makanan adalah kunyit, cabe,
daun suji, wortel, buah cokelat dan biji kopi. Zat warna alami lebih aman
digunakan dari pada zat warna sintetis.
b. Zat aditif sebagai penambah aroma
Untuk menambah aroma ke dalam bahan
makanan dapat ditambahkan senyawa ester, terutama aroma buah-buahan.
c. Zat aditif pembangkit cita rasa
Rasa mantap pada makanan dapat
ditingkatkan dengan penambahan bahan penyedap yang dapat meningkatkan rasa enak
dan menekan rasa yang tidak diinginkan dalam makanan. Pada umumnya orang
menggunakan vitsin (moto) atau MSG. Monosodium glutamate merupakan bahan aditif
yang tidak berbau dan mempunyai rasa campuran antara asin dan manis. Penggunaan
MSG yang berlebihan dapat merusak sel saraf otak.Bahan alami yang dapat
meningkatkan cita rasa lebih aman digunakan daripada bahan sintetis. Bahan
tersebut antara lain garam dapur, terasi, asam jawa, dan asam cuka.
d. Zat aditif pemberi rasa asam
Bahan pengasam dapat digunakan dalam
makanan untuk menambah rasa asam, pengawet makanan, memperbaiki warna dan rasa
atau untuk mempermudah pengolahan. Bahan pengasam yang biasa digunakan dalam
makanan adalah asam sitrat, asam laktat asam fumarat dan asam asetat.
e. Zat aditif pemucat makanan
Bahan pemucat pada umumnya digunakan
dalam produksi terigu. Bahan ini digunakan untuk menghilangkan pengaruh yang
dibawa oleh berbagai pigmen yang ada dalam biji gandum.
f. Zat aditif pen,gernbang bahan makanan
Dalam pembuatan berbagai macam roti
dan kue digunakan bahan yang berfungsi untuk mengembangkan adonan. Bahan
pengembang ini dapat berupa senyawa kimia maupun mahluk hidup yang dapat
melakukan fermentasi, Baik senyawa kimia maupun makhluk hidup yang digunakan
dalam mengembangkan adonan roti dapat menghasilkan CO2 yang dapat menyebabkan
adonan mengembang. Bahan pengembang biologis dapat menggunakan yeast / ragi
sedangkan untuk bahan kimia dapat menggunakan natrium bikarbonat.
GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
MAKANAN PADA LANSIA
Gangguan sistem pencernaan makanan pada lansia dapat
disebabkan oleh pola makan yang salah, infeksi bakteri, dan kelainan alat
pencernaan/karena penurunan alat dan fungsi sistem pencernaan pada lansia. Di
antara gangguan-gangguan ini adalah diare, sembelit, tukak lambung,
peritonitis, kolik, sampai pada infeksi usus buntu (apendisitis).
a.
Diare
Apabila kim dari perut mengalir ke usus terlalu cepat maka defekasi menjadi lebih sering dengan feses yang mengandung banyak air. Keadaan seperti ini disebut diare. Penyebab diare antara lain ansietas (stres), makanan tertentu, atau organisme perusak yang melukai dinding usus. Diare dalam waktu lama menyebabkan hilangnya air dan garam-garam mineral, sehingga terjadi dehidrasi.
Apabila kim dari perut mengalir ke usus terlalu cepat maka defekasi menjadi lebih sering dengan feses yang mengandung banyak air. Keadaan seperti ini disebut diare. Penyebab diare antara lain ansietas (stres), makanan tertentu, atau organisme perusak yang melukai dinding usus. Diare dalam waktu lama menyebabkan hilangnya air dan garam-garam mineral, sehingga terjadi dehidrasi.
b.
Konstipasi (Sembelit)
Konstipasi/ Sembelit
terjadi pada lansia karena berbagai faktor penyebab ,salah satunya yaitu :
terjadinya penurunan fungsi kerja dari alat pencernaan lansia.Jika kim masuk ke
usus dengan sangat lambat. Akibatnya, air terlalu banyak diserap usus, maka
feses menjadi keras dan kering. Sembelit ini disebabkan karena kurang
mengkonsumsi makanan yang berupa tumbuhan berserat dan banyak mengkonsumsi
daging.
c.
Tukak Lambung (Ulkus)
Dinding lambung
diselubungi mukus yang di dalamnya juga terkandung enzim. Jika pertahanan mukus
rusak, enzim pencernaan akan memakan bagian-bagian kecil dari lapisan permukaan
lambung. Hasil dari kegiatan ini adalah terjadinya tukak lambung. Tukak lambung
menyebabkan berlubangnya dinding lambung sehingga isi lambung jatuh di rongga
perut. Sebagian besar tukak lambung ini disebabkan oleh infeksi bakteri jenis
tertentu. Beberapa gangguan lain pada sistem pencernaan antara lain sebagai
berikut: Peritonitis; merupakan peradangan pada selaput perut (peritonium).
Gangguan lain
adalah salah cerna akibat makan makanan yang merangsang lambung, seperti
alkohol dan cabe yang mengakibatkan rasa nyeri yang disebut kolik.
Sedangkan produksi HCl yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya gesekan
pada dinding lambung dan usus halus, sehingga timbul rasa nyeri yang disebut tukak
lambung. Gesekan akan lebih parah kalau lambung dalam keadaan kosong akibat
makan tidak teratur yang pada akhirnya akan mengakibatkan pendarahan pada
lambung. Gangguan lain pada lambung adalah gastritis atau peradangan pada
lambung. Dapat pula apendiks terinfeksi sehingga terjadi peradangan yang
disebut apendisitis
BAB
II
PEMBAHASAN
1.Defenisi
Konstipasi sering diartikan sebagai
kurangnya frekuensi buang air besar, biasanya kurang dari 3 kali per minggu
dengan feses yang kecil-kecil dan keras dan kadang-kadang disertai kesulitan
sampai rasa sakit saat buang air besar (NIDDK, 2000).
Konstipasi atau sering disebut sembelit pada lansia adalah kelainan pada sistem pencernaan di
mana seorang lansia mengalami pengerasan feses atau tinja yang berlebihan sehingga sulit untuk dibuang
atau dikeluarkan dan dapat menyebabkan kesakitan yang hebat pada lansia.
2.Etiologi
Banyak lansia mengalami
konstipasi sebagai akibat dari penumpukan sensasi saraf, tidak sempurnanya
pengosongan usus, atau kegagalan dalam menanggapi sinyal untuk defekasi. Konstipasi merupakan masalah umum yang disebabkan
oleh penurunan motilitas, kurang aktivitas, penurunan kekuatan dan tonus
otot.
Faktor-faktor risiko konstipasi pada usia lanjut:
ü Obat-obatan: golongan
antikolinergik, golongan narkotik, golongan analgetik,golongan diuretik, NSAID, kalsium antagonis, preparat
kalsium, preparat besi, antasida aluminium, penyalahgunaan pencahar.
ü Kondisi neurologik: stroke,
penyakit parkinson, trauma medula spinalis, neuropati diabetic.
ü Gangguan metabolic :
hiperkalsemia, hipokalemia, hipotiroidisme.
ü Kausa psikologik: psikosis,
depresi, demensia, kurang privasi untuk BAB, mengabaikan dorongan BAB, konstipasi imajiner.
ü Penyakit-penyakit saluran cerna:
kanker kolon, divertikel, ileus, hernia, volvulus, iritable bowel syndrome, rektokel, wasir, fistula/fisura ani,
inersiakolon.
ü Lain-lain: defisiensi diet dalam
asupan cairan dan serat, imobilitas / kurang olahraga, bepergian jauh, paska tindakan bedah
parut .
3.Manifestasi Klinis
Beberapa keluhan yang mungkin
berhubungan dengan konstipasi adalah (ASCRS,2002) :
1.
Kesulitan memulai dan menyelesaikan BAB.
2.
Mengejan keras saat BAB.
3.
Massa feses yang keras dan sulit keluar.
4.
Perasaan tidak tuntas saat BAB.
5.
Sakit pada daerah rectum saat BAB.
6.
Rasa sakit pada daerah perut saat BAB.
7.
Menggunakan obat-obat pencahar untuk bisa BAB.
Gejala dan tanda akan berbeda antara
seseorang dengan seseorang yang lain, karena pola makan, hormon, gaya hidup dan bentuk usus besar setiap orang berbeda-beda, tetapi biasanya
gejala dan tanda yang umum ditemukan pada sebagian besar atau kadang-kadang
beberapa penderitanya adalah sebagai berikut :
1. Perut terasa begah, penuh, dan bahkan terasa kaku
karena tumpukan tinja (jika tinja sudah tertumpuk sekitar 1 minggu atau lebih,
perut penderita dapat terlihat seperti sedang hamil).
2. Tinja menjadi lebih keras, panas, dan berwarna lebih
gelap daripada biasanya, dan jumlahnya lebih sedikit daripada biasanya (bahkan
dapat berbentuk bulat-bulat kecil bila sudah parah).
3. Pada saat buang air besar tinja sulit dikeluarkan atau
dibuang, kadang-kadang harus mengejan ataupun menekan-nekan perut terlebih
dahulu supaya dapat mengeluarkan tinja.
5. Bagian anus terasa penuh, dan seperti terganjal
sesuatu disertai sakit akibat bergesekan dengan tinja yang panas dan keras.
6. Frekuensi buang angin meningkat
disertai bau yang lebih busuk daripada biasanya (jika kram perutnya parah,
bahkan penderita akan kesulitan atau sama sekali tidak bisa buang angin).
7. Menurunnya frekuensi buang air besar, dan meningkatnya
waktu transit buang air besar (biasanya buang air besar menjadi 3
hari sekali atau lebih).
8. Terkadang mengalami mual bahkan muntah jika sudah
parah.
4.Patofisiologi
Defekasi
merupakan suatu proses fisiologi yang menyertakan kerja otot-otot polos dan
serat lintang, persarafan, sentral dan perifer, koordinasi sisitem reflek,
kesadranyang baik dan kemampuan fisik untuk mencari tempat BAB. Defekasi dimulai dari gerakan peristaltik usus besar yang menghantarkan
feses kerektum untuk dikeluarkan. Feses masuk dan meregangkan ampula rektum
yang diikuti relaksasi sfingter anus interna. Untuk menghindarkan pengeluaran
feses yang spontan, terjadi refleks kontraksi refleks anus
eksterna dan kontraksi otot dasar pelvis yang
dilayani oleh syaraf pudendus. Otak menerima rangsang keinginan untuk BAB
dan sfingter anus eksterna diperintahkan untuk relaksasi, dan rektum
mengeluarkan isinya dengan bantuan kontraksi otot dinding perut.
Kontraksi ini akan menaikkan tekanan dalam perut, relaksasi sfingter dan otot
elevator ani. Baik persyarafan simpatis ataupun Parasimpatis terlibat dalam proses ini. Patogenesis konstipasi bervariasi macam-macam, penyebabnya multipel,
mencakup beberapa faktor yang tumpah tindih, motilitas kolon tidak
terpengaruh dengan bertambahnya usia. Proses menua yang normal tidak
mengakibatkan perlambatan perjalanan saluran cerna.
Pengurangan respon motorik
sigmoid disebabkan karena berkurangnya inervasi instinsik akibat
degenerasi pleksus myenterikus, sedangkan pengurangan rangsang saraf pada
otot polos sirkuler menyebabkan memanjangnya waktu gerakan usus. Pada lansia mempunyai kadar plasma beta-endorfin yang meningkat, disertai peningkatan ikatan pada reseptor opiat endogen di usus.
Ini dibuktikan dengan efek konstipasif sediaan opiat karena dapat menyebabkan
relaksasi tonus otot kolon, motilitas berkurang dan menghambat
refleks gaster-kolon. Terdapat kecenderungan menurunnya tonus sfingter dan kekuatan
otot-otot polos berkaitan dengan usia khususnya pada wanita. Pada penderita
konstipasi mempunyai kesulitan lebih besar untuk mengeluarkan feses yang kecil dan keras, menyebabkan upaya mengejan lebih keras dan lebih lama. Hal ini berakibat penekanan pada
saraf pudendus dengan kelemahan lebih lanjut.
5.Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan
laboratorium dikaitkan dengan upaya mendeteksi faktor risiko konstipasi seperti
gula darah, kadar hormon tiroid, elektrolit, anemia akibat keluarnya darah dari
dubur.
ü Anoskopi dianjurkan untuk menemukan hubungan abnormal
pada saluran cerna, tukak, wasir, dan tumor.
ü Foto polos perut harus dikerjakan pada penderita
konstipasi untuk mendeteksi adanya pemadatan tinja atau tinja keras yang
menyumbat bahkan melubangi usus.
ü Kolonskopi
Perlu dilakukan ,Jika ada penurunan
berat badan, anemia, keluarnya darah dari dubur atau riwayat keluarga dengan
kanker usus besar. Bagi sebagian orang konstipasi hanya sekadar
mengganggu. Tapi, bagi sebagian kecil dapat menimbulkan komplikasi serius.
Tinja dapat mengeras sekeras batu di poros usus (70 persen), usus besar (20
persen), dan pangkal usus besar (10 persen). Hal ini menyebabkan kesakitan dan
meningkatkan risiko perawatan di rumah sakit dan berpotensi menimbulkan akibat
yang fatal. Pada konstipasi kronis kadang-kadang terjadi demam sampai 39,5 derajat
celcius, delirium (kebingungan dan penurunan kesadaran), perut tegang, bunyi
usus melemah, penyimpangan irama jantung, pernapasan cepat karena peregangan
sekat rongga badan. Pemadatan dan pengerasan tinja berat di muara usus besar
bisa menekan kandung kemih menyebabkan retensi urine bahkan gagal ginjal serta
hilangnya kendali otot lingkar dubur, sehingga keluar tinja tak terkontrol.
Sering mengejan berlebihan menyebabkan turunnya poros usus.
6.Penatalaksanaan Medis
ü Non farmakologik
a).Cairan
Keadaan status hidrasi yang buruk dapat menyebabkan konstipasi.
Kecuali ada kontraindikasi, orang lanjut usia perlu diingatkan untuk minum
sekurang kurangnya 6-8 gelas sehari (1500 ml cairan perhari) untuk mencegah
dehidrasi. Asupan cairan dapat
dicapai bila tersedia cairan / minuman yang dibutuhkan di dekat pasien, demikian
pula cairan yang berasal dari sup, sirup dan
es. Asupan cairan perlu lebih banyak bagi mereka yang mengkonsumsi
diuretik tetapi kondisi jantungnya stabil.
b).Serat
Pada orang usia lanjut , serat berguna menurunkan
waktu transit (transit time). Pada orang lanjut usia disarankan agar
mengkonsumsi serat skitar 6-10 gram per hari. Ada juga yang menyarankan agar
mengkonsumsi serat sebanyak 15-20 gr per hari. Serat berasal dari
biji-bijian, sereal, beras merah, buah, sayur, kacang-kacangan. Serat akan
memfasilitasi gerakan usus dengan meningkatkan masa tinja dan mengurangi waktu
transit usus.
Serat juga
menyediakan substrat untuk bakteri kolon,
dengan produksi gas dan asam lemak rantai pendek yang meningkatkan gumpalan tinja. Perlu diingat serat tidaklah efektif tanpa cairan yang
cukup, dan dikontraindikasikan pada pasien dengan impaksi tinja
(skibala) atau dilatasi kolon. Peningkatan jumlah serat dapat menyebabkan gejala
kembung, banyak gas dan buang besar tidak teratur terutama pada 2-3 minggu
pertama, yang sering kali menimbulkan ketidak patuhan
obat.
c).Bowel training.
Pada pasien yang mengalami penurunan sensasi akan mudah lupa untuk buang
air besar. Hal tersebut akan menyebabkan rektum lebih mengembang
karena adanya penumpukan feses. Membuat jadwal untuk buang air
besar merupakan langkah awal yang lebih baik untuk dilakukan pada pasien tersebut, dan baik
juga diterapkan pada pasien usia lanjut yang mengalami gangguan kognitif. Pada pasien
yang sudah memiliki kebiasaan buang air besar pada waktu yang
teratur, dianjurkan meneruskan kebiasaan teresebut. Sedangkan pada pasien yang tidak memiliki
jadwal teratur untuk buang air besar, waktu yang baik untuk buang air besar adalah setelah sarapan dan makan malam.
d).Latihan
jasmani
Jalan kaki setiap pagi adalah
bentuk latihan jasmani yang sederhana
tetapi bermanfat bagi orang
usia lanjut yang masih mampu berjalan.
Jalan kaki satu setengah jam setelah
makan cukup membantu. Bagi mereka yang tidak mampu bangun dari tampat tidur,
dapat didudukkan atau didudukkan atau diberdirikan disekitar tempat tidur.Positioning bagi pasien usia lanjut yang tidak
dapat bergerak, meninggalkan tempat tidurnya
menuju ke kursi beberapa kali dengan interval 15 menit, adalah salah satu cara untuk mencegah ulkus dekubitus. Tentu saja pasien yang mengalami tirah
baring dapat dibantu dengan menyediakan toilet atau komod dengan tempat tidur, jangan diberi bed pan.
Mengurut perut
dengan hati-hati mungkin dapat pula dilakukan untuk merangsang gerakan
usus.
e).Evaluasi penggunaan obat
Evaluasi yang seksama tentang
penggunaan obat-obatan perlu dilakukan untuk mengeliminasi, mengurangi
dosis, atau mengganti obat yang diperkirakan menimbulkan konstipasi. Obat anti depresan,
obat Parkinson merupakan obat yang potensial menimbulkan konstipasi. Obat
yang mengandung zat besi juga cenderung menimbulkan konstipasi, demikian
obat anti hipertensi (antagonis kalsium). Anti kolinergik lain dan juga narkotik merupakan obat-obatan yang sering pula menyebabkan konstipasi.
ü Farmakologik
a)Pencahar
penggumpal /pembentuk tinja
(pencahar bulk/bulk laxative) .
Pencahar bulk merupakan 25% pencahar yang beredar di
pasaran. Sediaan yang ada merupakan bentuk serat alamiah non-wheat seperti pysilium dan isophagula husk, dan senyawa sintetik seperti metal selulosa. Bulking agent sistetik dan serat natural sama-sama
efektif dalam meningkatkan frekuensi dan volume tinja.
Obat ini tidak menyebabkan malabsorbsi zat besi
atau kalsium pada orang usia lanjut, tidak seperti bran yang tidak
diproses. Pencahar bulk terbukti menurunkan konstipasi pada orang usia lanjut dan nyeri defekai pada hemoroid. Sama halnya dengan serat, obat ini juga harus
diimbangi dengan asupan cairan.
b)Pelembut tinja
Docusate sering kali direkomendasikan dan digunakan oleh orang lanjut
usia sebagai pencahar dan sebagai pelembut tinja. Docusate sodium
bertindak sebagai surfaktan, menurunkan tegangan permukaan feses untuk
membiarakan air masuk dan memperlunak
feses. Docusate sebenarnya tidak dapat menolong konstipasi yang kronik,
penggunaannya sebaiknya dibatasi pada situasi dimana mangedan harus dicegah.
c)Pencahar
Stimulan senna
merupakan obat yang aman digunakan oleh orang usia lanjut. Senna meningkatkan peristaltik di kolon distal dan menstimulasi peristaltik
diikuti dengan evakuasi feses yang lunak. Pemberian 20 mg senna per
hari selama 6 bulan oleh pasien berusia lebih dari 80 tahun tidak
menyebabkan kehilangan protein atauelektrolit. Senna umumnya menginduksi
evakuasi tinja 8-12 jam setelah pemberian.Orang usia lanjut biasanya memerlukan
waktu yang lebih lama yakni sampai dengan10 minggu sebelum mencapai kebiasaan defekasi yang
teratur. Pemberian sebelum tidur malam mengurangi risiko inkontininsia fekal
malam hari dan dosis juga harus ditritasi berdasarkan respon individu. Terapi dengan kodil supositoria memiliki absorbsi sistemik minimal dan sangat menolong untuk mengatasi diskezia
rectal pada usia lanjut. Sebaiknya diberikan segera setelah makan pagi
secara supositoria untuk mendapatkan efek refleks gastrokolik. Penggunaan rutin setiap
hari dapat menyebabkan sensasi terbakar pada rectum, jadi
sebaiknya digunakan secara rutin, melainkan
sekitar 3 kali seminggu.
Ada 4 tipe
golongan obat pencahar :
- Memperbesar dan melunakkan
massa feses, antara lain : Cereal, Methyl selulose, Psilium.
- Melunakkan dan melicinkan
feses, obat ini bekerja dengan menurunkan tegangan permukaan feses,
sehingga mempermudah penyerapan air. Contohnya : minyak kastor, golongan dochusate.
- Golongan osmotik yang tidak
diserap, sehingga cukup aman untuk digunakan, misalnya pada penderita
gagal ginjal, antara lain : sorbitol, laktulose, gliseri
- Merangsang peristaltik,
sehingga meningkatkan motilitas usus besar. Golongan ini yang banyak
dipakai. Perlu diperhatikan bahwa pencahar golongan ini bisa dipakai untuk
jangka panjang, dapat merusak pleksusmesenterikus dan berakibat
dismotilitas kolon. Contohnya : Bisakodil, Fenolptalein.
7.Pencegahan
·
Hindari
makanan yang kandungan lemak / berminyak.
·
Minum
air putih minimal 1,5 sampai 2 liter air (kira-kira 8 gelas) sehari dan cairan lainnya setiap
hari.
·
Olahraga, seperti jalan kaki (jogging) bisa dilakukan. Minimal
10-15 menit untuk olahraga ringan, dan minimal 2 jam untuk olahraga yang lebih
berat.
·
Biasakan
buang air besar secara teratur dan jangan suka menahan buang air besar.
·
Tidur
minimal 4 jam sehari.
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN KONSTIPASI
1.
Pengkajian
Riwayat kesehatan dibuat untuk mendapatkan informasi tentang
awitan dan durasi konstipasi, pola emliminasi saat ini dan masa lalu, serta
harapan pasien tentang elininasi defekasi. Informasi gaya hidup harus dikaji,
termasuk latihan dan tingkat aktifitas, pekerjaan, asupan nutrisi dan cairan,
serta stress.
Riwayat
medis dan bedah masa lalu, terapi obat-obatan saat ini, dan penggunaan laksatif
serta enema adalah penting. Pasien harus ditanya tentang adanya tekanan rektal
atau rasa penuh, nyeri abdomen, mengejan berlebihan saat defekasi, flatulens,
atau diare encer.
Pemeriksaan fisik :
Pemeriksaan fisik :
·
Inspeksi
feses terhadap warna, bau, konsistensi,
ukuran, bentuk, dan komponen.
·
Palpasi
permukaan perut untuk menilai kekuatan otot perut. Perabaan lebih dalam
dapat mengetahui massa tinja di usus besar, adanya tumor atau pelebaran batang
nadi.
·
Auskultasi
abdomen terhadap adanya bising usus dan karakternya. Distensi abdomen
diperhatikan.
·
Perkusi abdomen
untuk mengetahui pengumpulan gas
berlebihan, pembesaran organ, cairan dalam rongga perut atau adanya massa tinja.
Sedang pemeriksaan dubur untuk mengetahui adanya wasir, hernia, fissure
(retakan) atau fistula (hubungan abnormal pada saluran cerna), juga kemungkinan
tumor di dubur yang bisa mengganggu proses buang air besar. Colok dubur memberi
informasi tentang tegangan otot, dubur, adanya timbunan tinja, atau adanya
darah.
2.
Diagnosa keperawatan
1) Konstipasi berhubungan dengan pola
defekasi tidak teratur
2) Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan hilangnya
nafsu makan
3) Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi
feses keras pada abdomen
4) Kurang pengetahuan berhubungan
dengan kurang informasi tentang pola diet yang sehat
3.
Intervensi Keperawatan
1) Konstipasi berhubungan dengan
pola defekasi tidak teratur.
Tujuan : pasien dapat defekasi dengan teratur (setiap hari)
Kriteria hasil :
ü
Defekasi
dapat dilakukan satu kali sehari
ü
Konsistensi
feses lembut
ü
Eliminasi
feses tanpa perlu mengejan berlebihan
Intervensi:
Mandiri
1.
Tentukan
pola defekasi bagi klien dan latih klien untuk menjalankannya
2.
Atur
waktu yang tepat untuk defekasi klien seperti sesudah makan
3.
Berikan
cakupan nutrisi berserat sesuai dengan indikasi
4.
Berikan
cairan jika tidak kontra indikasi 2-3 liter per hari
Kolaborasi
Pemberian laksatif atau enema sesuai indikasi
Pemberian laksatif atau enema sesuai indikasi
2) Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan hilangnya nafsu makan.
Tujuan : menunjukkan status gizi baik
Kriteria Hasil :
ü
Toleransi
terhadap diet yang dibutuhkan
ü
Mempertahankan
massa tubuh dan berat badan dalam batas normal
ü
Nilai
laboratorium dalam batas normal
ü
Melaporkan
keadekuatan tingkat energy
Intervensi:
Mandiri
Mandiri
1.
Buat
perencanaan makan dengan pasien untuk dimasukkan ke dalam jadwal makan.
2.
Dukung
anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien dari rumah.
3.
Tawarkan
makanan porsi besar disiang hari ketika nafsu makan tinggi
4.
Pastikan
diet memenuhi kebutuhan tubuh sesuai indikasi.
5.
Pastikan
pola diet yang pasien yang disukai atau tidak disukai.
6.
Pantau
masukan dan pengeluaran dan berat badan secara periodik.
7.
Kaji
turgor kulit pasien
Kolaborasi
1.
Pantau
nilai laboratorium, seperti Hb, albumin, dan kadar glukosa darah
2.
Ajarkan
metode untuk perencanaan makanan
3) Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses
keras pada abdomen.
Tujuan : menunjukkan nyeri telah
berkurang .
Kriteria Hasil :
ü Menunjukkan teknik relaksasi secara
individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan.
ü Mempertahankan tingkat nyeri pada
skala kecil.
ü Melaporkan kesehatan fisik dan
psikologisi.
ü Mengenali faktor penyebab dan
menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri
ü Menggunakan tindakan mengurangi
nyeri dengan analgesik dan non-analgesik secara tepat
Intervensi :
Mandiri
1.
Bantu
pasien untuk lebih berfokus pada aktivitas dari nyeri dengan melakukan
penggalihan melalui televisi atau radio
2.
Perhatikan
bahwa lansia mengalami peningkatan sensitifitas terhadap efek analgesik opiate
3.
Perhatikan
kemungkinan interaksi obat – obat dan obat penyakit pada
lansia
4) Kurang pengetahuan berhubungan
dengan kurang informasi tentang pola diet yang sehat.
Tujuan :
Klien dapat mengetahui
faktor predisposisi, pencegahan, kekambuhan, deteksi, serta terapi farmakologi.
Kriteria Hasil:
1. Klien
dapat memahami proses penyakit/prognosis
2. Klien
dapat mengidentifikasi hubungan tanda/gejala proses penyakit.
3. Klien
mampu melakukan perubahan pola hidup.
4. Klien
mampu ikut aktif dalam berpartisipasi dalam program pengobatan.
Intervensi :
1.
Kaji ulang proses penyakit, pengalaman
klien.
2.
Dorong klien/orang terdekat untuk
menyatakan rasa takut/perasaan dan perhatian.
3.
Dorong keluarga secara aktif dalam
proses perawatan dan pengobatan klien.
4.
Berikan informasi tentang pola diet yang
sehat dan tinggi serat.
LAMPIRAN
:
FORMAT PENGKAJIAN
1.
Riwayat Klien/ Data Biografis
|
Nama : Tn H
|
Suku : Bugis
|
|
Tempat/ Tgl
Lahir : Enrekang ,12 Des 1953
|
Agama : Islam
|
|
Jenis Kelamin : Laki-laki
|
Status Pernikahan:
Menikah
|
|
Pendidikan : SPG
|
Orang
yang paling
dekat
dihubungi : Adik pasien dan
istrinya
|
|
Alamat/
no. telp : Enrekang ,dekat Sekolah
Tk
|
2.
Riwayat Hidup
|
Pasangan
|
Anak-anak
|
|
Hidup : Hidup
|
Hidup : 6 orang
|
|
Status
Kesehatan: sakit kepala
|
Nama
& Alamat : enrekang
·
Nurasya 19 tahun
·
Hadirman 17 tahun
·
Hasnah 15 tahun
·
Wahidin 13 tahun
·
Sulasmi 11 tahun
·
Edy 7 tahun
|
|
Umur : 53
|
|
|
Pekerjaan : petani ,dan peternak Kambing
|
Kematian :
Nama anak : Nn
|
|
Kematian
|
Tahun
Meninggal : 2007
|
|
Tahun
Meninggal : -
|
Penyebab
Kematian: Aborsi
|
|
Penyebab
Kematian : -
|
3.
Riwayat Pekerjaan
|
Status
pekerjaan saat ini : tidak ada
|
|
Pekerjaan
sebelumnya : Karyawan kelapa
sawit
|
|
Sumber
pendapatan saat ini : dari Istri
|
4.
Riwayat Temapt Tinggal (gambar denah
Rumah)
|
Tipe tempat tinggal : Rumah
Panggung
|
Jumlah
tingkat: 1
|
|
Jumlah
Kamar : 3 kamar
|
|
|
Jumlah
orang yang: 5 orang
tinggal di rumah |
Tetangga
terdekat :
|
|
Derajat
privasi :
|
5.
Riwayat Aktivitas di Waktu Luang
|
Hobbi / Minat : nonton Tv ( sepak bola )
|
|
Keanggotaan organisasi : -
|
|
Liburan / Perjalanan : -
|
6.
System Pelayanan Kesehatan Yang
Digunakan
|
Dokter / Perawat : suster Tina
|
|
Rumah sakit / Puskesmas : -
|
|
Klinik : -
|
|
Pelayanan Kesehatan di :
Rumah
Rumah / wisma |
|
Lain-lain : -
|
7.
Deskripsi Aktivitas Selama 24 Jam
|
Tidur malam pukul
20.00 WITA,Makan pagi pukul 07.00 WITA,mandi pagi pukul 08.00 WITA , nonton
Tv ,Makan siang pukul 14.00 WITA, tidur siang pukul 13.00 ,Sholat Lama Waktu,duduk-duduk atau
istirahat siang ,Mandi Sore pukul 16.00 WITA , makan malam pukul 19.00
WITA,nonton Tv
|
|
|
8.
Riwayat Kesehatan
|
Keluhan-keluhan utama
(here and now):
Suaranya kadang nda
kedengaran,banyak pikiran ,susah tidur ,sulit menguyah makanan ,susah buang
air besar
|
|
Pengetahuan /
pemahaman tentang status kesehatannya saat ini: baik,pasien mengatakan bahwa
dia harus tabah dalam menghadapi semua ini karena merupakan bagian dari
proses kehidupan
|
|
Status kesehatan umum
selama setahuan yang lalu: stroke
|
|
Status kesehatan umum
selama 5 tahun yang lalu:
stroke
|
|
Penyakit masa kanak-kanak:
Sakit kepala dan
sakit gigi
|
|
Penyakit serius
kronik:
|
|
Trauma: kaki kanana keseloa dan
kecelakaan / jatuh di kebun yang mana tangan kanan pasien terkena bamboo
sehingga terjadi luka robek
|
|
Perawatan di rumah
sakit (catat alas an masuk, tanggal, tempat, durasi, dokter):
Tidak pernah
|
|
Operasi
(perhatikan jenis, tanggal, tempat alas an operasi, dokter):
Tidak
pernah
|
|
Riwayat
obstetric:
|
Obat-obatan
|
Nama
Obat : Daktazol,melia Propolis,dan salfmen
|
|
Dosis
Obat :900 mg
|
|
Bagaimana
/ kapan menggunakannya : Daktazol di gunakan u/ topical infrksi jamur pada
kulit diolesi pada tubuh pasien,melia propolis untuk membantu pasien
Berbicara ,diminum setiap pagi,siang dan malam sesudah makan ,salfmen
digunakan untuk mengatasi bagian-bagian tubuh yang sakit
|
|
Dokter
yang menginstruksikan : Tina
|
|
Tanggal
resep : 30 nov 2012
|
Masalah-masalah
Berkaitan Dengan Konsumsi Obat
|
Deficit
(uraikan jika ada keterbatasan dalam konsumsi obat) : tidak ada
|
|
Efek
samping yang tidak menyenangkan : tidak ada
|
|
Persepsi
keefektifan obat : tidak ada
|
|
Kesulitan
memperoleh obat : tidak ada karena pasien di bantu oleh keluarga
|
Riwayat
Alergi
|
Obat-obatan
: tidak ada
|
|
Makanan
: tiadak ada
|
|
Alergen
: tidak ada
|
|
Faktor-faktor
lingkungan : tidak ada
|
Nutrisi
|
Ingat
kembali diet 24 jam, (termasuk masukan cairan), diet khusus,
pembatasan makanan atau pilihan :
Pasien
di anjurkan u/ menghindari daging,dan makanan berminyak
|
|
Riwayat
peningkatan / penurunan BB : dari 50 kg turun menjadi 45 kg
|
|
Pola
konsumsi makanan (misal: frekuensi sendiri atau dengan orang lain):
3x
sehari
|
|
Masalah-masalah
yang mempergaruhi masukan makanan (misal: pendapatan tidak adekuat, daya
serap lambat, masalah menelan / mengunyah, stress emosional): masalah menelan
,
/
menguyah
|
|
Kebiasaan
sebelum, saat atau setelah makan : berdoa
|
9.
Riwayat Keluarga
Gambarlah
sisilah keluarga (Minimal 3 generasi, disertai keterangan)
|
x
|
|
x
|
|
x
|
|
x
|
|
x
|
|
x
|
|
x
|
|
59
|
|
x
|
|
x
|
|
43
|
|
50
|
|
x
|
|
x
|
|
x
|
|
x
|
|
x
|
10.
Tinjauan Sistem
Tanda-tanda Vital:
BP: 130/90 mmHg
T : 36 P: 24 x/i
N : 72 x/i
Beri tanda chek pada YA atau TIDAK untuk
setiap gejala, disertai keterangan jika YA
|
Hemoptik
|
Ya
|
Tidak
|
|
Perdarahan / Memar
|
|
√
|
|
Pembengkakan kelenjar
limfe
|
|
√
|
|
Anemia
|
√
|
|
|
Riwayat transfuse
darah
|
|
√
|
|
Kepala
|
Ya
|
Tidak
|
|
Sakit kepala
|
√
|
|
|
Trauma berat pada
masa lalu
|
|
√
|
|
Pusing
|
√
|
|
|
Gatal kulit kepala
|
√
|
|
|
Leher
|
Ya
|
Tidak
|
|
Kekakuan
|
√
|
|
|
Nyeri / nyeri tekan
|
√
|
|
|
Benjolan / massa
|
|
√
|
|
Keterbatasan gerak
|
√
|
|
|
Mata
|
Ya
|
Tidak
|
|
Perubahan penglihatan
|
√
|
|
|
Kacamata / lensa
kontak
|
√
|
|
|
Nyeri
|
|
√
|
|
Air mata berlebih
|
|
√
|
|
Pruritus
|
|
√
|
|
Bengkak sekitar mata
|
|
√
|
|
Diplopia
|
|
√
|
|
Kabur
|
|
√
|
|
Fotofobia
|
|
√
|
|
Riwayat infeksi
|
|
√
|
|
Tanggal pemeriksaan mata paling akhir
|
|
|
|
Tanggal pemeriksaan glaucoma paling
akhir
|
|
|
|
Dampak pada aktifitas sehari-hari
|
|
|
|
Telinga
|
Ya
|
Tidak
|
|
Perubahan pendengaran
|
|
√
|
|
Rabas
|
|
√
|
|
Tinitus
|
|
√
|
|
Vertigo
|
|
√
|
|
Sensitivitas
pendengaran
|
|
√
|
|
Alat-alat prostesa
|
|
√
|
|
Riwayat infeksi
|
|
√
|
|
Tanggal pemeriksaan paling akhir
|
|
√
|
|
Kebiasaan perawatan telinga
|
√
|
|
|
Dampak pada aktifitas sehari-hari
|
|
|
|
Mulut
dan Tenggorokan
|
Ya
|
Tidak
|
|
Sakit tenggorokan
|
|
|
|
Lesi / ulkus
|
|
|
|
Serak
|
√
|
|
|
Perubahan suara
|
√
|
|
|
Kesulitan menelan
|
√
|
|
|
Perdarahan gusi
|
|
√
|
|
Karies / sudah
tanggal
|
√
|
|
|
Alat-alat postesa
|
|
√
|
|
Riwayat infeksi
|
√
|
|
|
Tanggal pemeriksaan gigi terakhir
|
|
√
|
|
Pola menggosok gigi
|
√
2x sehari
|
|
|
Pola flossing
|
|
√
|
|
Masalah dan kebiasaan membersihkan
gigi palsu
|
|
√
|
|
Hidung
dan Sinus
|
Ya
|
Tidak
|
|
Renorea
|
|
√
|
|
Rabas
|
|
√
|
|
Epistaksis
|
|
√
|
|
Obstruksi
|
|
√
|
|
Mendengkur
|
|
√
|
|
Nyeri pada sinus
|
|
√
|
|
Alergi
|
|
√
|
|
Riwayat infeksi
|
|
√
|
|
Penilaian dari kemampuan olfaktori
|
|
√
|
|
Payudara
|
Ya
|
Tidak
|
|
Benjolan / massa
|
|
√
|
|
Nyeri / nyeri tekan
|
|
√
|
|
Bengkak
|
|
√
|
|
Keluar cairan dari
putting susu
|
|
√
|
|
Perubahan pada
putting susu
|
|
√
|
|
Pola pemeriksaan payudara sendiri
|
|
√
|
|
Tanggal dan hasil
memmograph paling akhir
|
|
√
|
|
Kardiovaskuler
|
Ya
|
Tidak
|
|
Nyeri /
ketidaknyamanan dada
|
|
√
|
|
Palpitasi
|
|
√
|
|
Sesak napas
|
√ malam hari
|
|
|
Dispnea pada
aktivitas
|
|
√
|
|
Dispnea noktural
paroksimal
|
|
√
|
|
Murmur
|
|
√
|
|
Edema
|
|
√
|
|
Varises
|
|
√
|
|
Kaki timpang
|
|
√
|
|
Parastesia
|
|
√
|
|
Perubahan warna kaki
|
|
|
|
Pernapasan
|
Ya
|
Tidak
|
|
Batuk
|
√ kadang
|
|
|
Sesak napas
|
√
|
|
|
Hemoptosis
|
|
√
|
|
Sputum
|
|
√
|
|
Mengi
|
|
√
|
|
Asma / alergi
pernapasan
|
|
√
|
|
Tanggal dan hasil
pemeriksaan sinar X terakhir
|
|
√
|
|
Gastrointestinal
|
Ya
|
Tidak
|
|
Disfagia
|
|
√
|
|
Tidak dapat mencerna
|
√
|
|
|
Nyeri ulu hati
|
|
√
|
|
Mual muntah
|
|
√
|
|
Hematemesis
|
|
√
|
|
Perubahan nafsu makan
|
√
|
|
|
Intoleran makanan
|
√
|
|
|
Ulkus
|
|
√
|
|
Nyeri
|
|
√
|
|
Ikterik
|
|
√
|
|
Benjolan / massa
|
|
√
|
|
Perubahan kebiasaan defekasi
|
√
|
|
|
Diare
|
|
√
|
|
Konstipasi
|
√
|
|
|
Melena
|
|
√
|
|
Hemoroid
|
|
√
|
|
Perdarahan rectum
|
|
√
|
|
Pola defekasi
biasanya
|
√
|
|
|
Perkemihan
|
Ya
|
Tidak
|
|
Disuria
|
|
√
|
|
Menetes
|
|
√
|
|
Ragu-ragu
|
√
|
|
|
Dorongan
|
|
√
|
|
Hematuria
|
|
√
|
|
Poliuria
|
|
√
|
|
Oliguria
|
|
√
|
|
Inkotinensis
|
|
√
|
|
Nyeri saat berkemih
|
|
√
|
|
Batu
|
|
√
|
|
Infeksi
|
|
√
|
|
Musculoskeletal
|
Ya
|
Tidak
|
||
|
Nyeri persedian
|
√
|
|
||
|
Kekakuan
|
√
|
|
||
|
Pembengkakan sendi
|
|
√
|
||
|
Deformitas
|
√
|
|
||
|
Spasme
|
√
|
|
||
|
Kram
|
|
√
|
||
|
Kelemahan otot
|
√
|
|
||
|
Masalah cara berjalan
|
√
|
|
||
|
Nyeri punggung
|
√
|
|
||
|
Prostesa
|
|
√
|
||
|
Pola latihan olahraga
|
√
|
|
||
|
Dampak pada aktifitas sehari-hari
|
√
|
|
||
|
Sistem
Endokrin
|
Ya
|
Tidak
|
|
|
Intoleran terhadap
panas
|
|
√
|
|
|
Intoleran terhadap
dingin
|
|
√
|
|
|
Goiter
|
|
√
|
|
|
Pigmentasi kulit /
tekstur
|
√
|
|
|
|
Perubahan rambut
|
√
|
|
|
|
Polifagia
|
|
√
|
|
|
Polidipsia
|
|
√
|
|
|
Poliuria
|
|
√
|
|
|
Sistem
Saraf Pusat
|
Ya
|
Tidak
|
|
|
Sakit kepala
|
√
|
|
|
|
Kejang
|
√
|
|
|
|
Sinkope / serangan
jantung
|
|
√
|
|
|
Paralisis
|
|
√
|
|
|
Paresis
|
|
√
|
|
|
Masalah koordinasi
|
√
|
|
|
|
Tic / tremor / spasme
|
|
√
|
|
|
Parastesia
|
|
√
|
|
|
Cedera kepala
|
|
√
|
|
|
Masalah memori
|
√
|
|
|
|
Psikososial
|
Ya
|
Tidak
|
||
|
Cemas
|
√
|
|
||
|
Depresi
|
√
|
|
||
|
Insomnia
|
√
|
|
||
|
Menangis
|
|
√
|
||
|
Gugup
|
|
√
|
||
|
Takut
|
|
√
|
||
|
Masalah dalam
pengambilan keputusan
|
√
|
|
||
|
Kesulitan dalam berkonsentrasi
|
√
|
|
||
|
Mekanisme koping yang digunakan jika
ada masalah
|
|
√
|
||
|
Stress saat ini
|
|
√
|
||
|
Persepsi tentang kematian
|
√
|
|
||
|
Dampak pada aktifitas sehari-hari
|
√
|
|
||
Skala
Depresi Geriatric Yesavage
1. Apakah
anda puas dengan kehidupan anda? Ya
2. Apakah
anda mengurangi hobi atau aktifitas sehari-hari ? Ya
3. Apakah
anda merasa bahwa hidup anda kosong? tidak
4. Apakah
anda sering bosan? Ya
5. Apakah
anda selalu bersemangat? Ya
6. Apakah
anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada anda? tidak
7. Apakah
anda selalu merasa bahagia? Ya
8. Apakah
anda sering merasa putus asa? tidak
9. Apakah
anda lebih suka tinggal dirumah pada malam hari dari pada keluar dan melakukan
sesuatu yang baru? Ya
10. Apakah
anda merasa mempunyai lebih banyak masalah dengan ingatan disbanding orang
lain? tidak
11. Apakah
anda berpikir bahwa hidup ini sangat menyenangkan? Ya
12. Apakah
anda merasa tidak berguna? Ya
13. Apakah
anda merasa tidak berenergi? Tidak
14. Apakah
anda berpikir bahwa situasi anda tidak ada harapan? tidak
15. Apakah
anda berpikir banyak orang yang lebih baik dari pada anda? Ya
v Skor 1 poin untuk tiap respon yang
sesuai dengan jawaban YA atau TIDAK setelah pertanyaan
v Skor 5 atau lebih menunjukkan
adanya depress
Kesimpulan
Sesuai
dengan Skala Depresi Geriatric Yesavage di atas maka dapat disimpulkan bahwa Tn
H tidak mengalami depresi.
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Konstipasi
sering diartikan sebagai kurangnya frekuensi buang air besar, biasanya kurang
dari 3 kali per minggu dengan feses yang kecil-kecil dan keras dan
kadang-kadang disertai kesulitan sampai rasa sakit saat buang air besar (NIDDK,
2000).
Konstipasi atau sering disebut sembelit pada lansia adalah kelainan pada sistem pencernaan di
mana seorang lansia mengalami pengerasan feses atau tinja yang berlebihan sehingga sulit untuk dibuang
atau dikeluarkan dan dapat menyebabkan kesakitan yang hebat pada lansia.
Beberapa keluhan yang mungkin
berhubungan dengan konstipasi adalah (ASCRS,2002) :
1.
Kesulitan memulai dan menyelesaikan BAB.
2.
Mengejan keras saat BAB.
3.
Massa feses yang keras dan sulit keluar.
4.
Perasaan tidak tuntas saat BAB.
5.
Sakit pada daerah rectum saat BAB.
6.
Rasa sakit pada daerah perut saat BAB.
7.
Menggunakan obat-obat pencahar untuk bisa BAB.
2.
Saran
Lansia dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya harus manjaga kebutuhan nutrisi yang seimbang seperti memenuhi asupan
cairan yang cukup dan makan makanan yang bergizi dan cukup serat, selain itu
lansia harus bisa menjaga aktivitas yang cukup dengan olah raga agar tidak
terjadi konstipasi. Sebagai perawat kita harus dapat memberikan arahan dan
edukasi kepada lansia dan keluarga tentang pencegahan dan penanganan dini bila
terjadi konstipasi.
DAFTAR PUSTAKA
Alimul Aziz. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan
Proses Keperawatan.
Perry, Potter. 2005. Fundamental keperawatan, edisi 4, volume 1. Jakarta :
EGC
Perry, Potter. 2005. Fundamental keperawatan, edisi 4, volume 2. Jakarta :
EGC
Iswadi.
2012. konstipasi-pada-lansia.
Web,http://.keperawatangerontik.blogspot.com/2012/06/konstipasi-pada-lansia.html,20
November 2012,16:56
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete