Iklan adsense

Disqus Shortname

designcart

Konstipasi

“Konstipasi”

Disusun
Oleh :

Kelompok 2
1.      Herni Tetrapoik
2.      Sultan




STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR
2012

KATA PENGANTAR


Segala puji dan syukur kami naikkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa ,Karena atas Kasih Karunia-Nyalah sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.

Makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas yang dibarikan oleh dosen kami : Ns Evayanti Karoma,S.Kep.Yang akan melakukan penilian untuk Ujian MID semester. Selain itu makalah ini juga membahas tentang gangguan system pencernaan pada Lansia , khususnya Konstipasi untuk kami pelajari bersama dalam kegiatan pembelajaran kami yang nantinya kedapan ilmu yang kami dapatkan akan diaplikasikan dalam kehidupan kami selaku Perawat .

Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang mana tidak dapat disebutkan  satu per satu karena telah membantu dalam penyusunan makalah ini .

Kami menyadari sungguh bahwa makalah ini masih jauh dari KESEMPURNAAN ,untuk itu kritik dan saran dari semua pembaca sangatlah kami harapkan guna perbaikan makalah kami,agar kedepannya pembuatan makalah kami lebih baik lagi.

Kami sangat berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua .selamat belajar

Salam sukses Luar biasa !!!!!! dan tetap semangat ya J
           
Makassar ,2012


Kelompok II






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR   ……………………………………………………...                     1                                                                                                                                                            
DAFTAR ISI  …………………………………………………………………        2

BAB I PENDAHULUAN
1.      Latar belakang…………………………………………………………        3
2.      Anatomi dan fisiologi sistem pencernaaan……………………………         4-18

BAB II PEMBAHASAN
1.      Defenisi.....……………………………………………………………          19
2.      Etiologi…………………………………………………………………      19
3.      Manifestasi klinis……………………………………………………...         20
4.      Patofisiologi.........................................................................................  .        21
5.      Pemeriksaan penunjuang ……………………………………………...         21-22
6.      Penatalaksanaan……………………………………………………….         22-25
7.      Pencegahan …………………………………………………………...         25
8.      Asuhan Keperawatan pada Klien Lansia …………………………….          26-41

BAB III PENUTUP
1.      Kesimpulan    ……………………………………………………..               42
2.      Saran  ……… ……………………………………………………..              42

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Usia lanjut merupakan proses yang tidak dapat dihindari. Konstipasi sering terjadi pada usia lanjut. Konstipasi yang terjadi pada lansia sebagian besai berhubungan dengan penurunan mobilitas colon terbatas ke a-norektum. Pencegahan yang sederhana untuk mengatasi terjadinya konstipasi aCalah dengan meningkatkan konsumsi serat yang cukup dan diinjurkan minum air seirai dengan kebutuhan tubuh. Tujuan dari penyusunan makalah  ini adalah untuk mengetahui masalah konstipasi pada lansia.. Hasil penelitian univariat menunjukkan lebih dari separuh 37 orang (37,4%) mengalami kejadian konstipasi, sebagian besar 79 orang (79,8%) mengkonsumsi asupan serat kurang, lebih dari separuh 52 orang (52,5%) yang mengkonsumsi asupan cairan kurang. Dan pada hasil bivariat menunjukkan terdapat hubungan yung bermakna antara kebutuhan cairan dengan kejadian konstipasi dengan nilai p = 0,035 dan berdasarkan uji Chi-Square ditemukan tidek adanya hubungan yang bermakna antara konsumsi serat dengan kejadian konstipasi dengan nilai p 0,99. Mengingat pentingnya mengkonsumsi serat yang cukup (10 gram) harus disertai dengan intake cairan yang cukup (8-10 gelas/hari) untuk membantu proses pencernaan dalam tubuh.
2.      Anatomi Dan Fisiologi System Pencernaan
Definisi
           Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh Sistem pencernaan (mulai dari mulut sampai anus) berfungsi sebagai berikut:
Ø  Menerima makanan
Ø  Memecah makanan menjadi zat-zat gizi (suatu proses yang disebut pencernaan)
Ø  Menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah
Ø  Membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna dari tubuh.
              
Saluran pencernaan makanan menerima makanan dari luar dan mempersiapkan bahan makanan untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan (mengunyah, menelan dan menyerap) dengan bantuan zat cair yang terdapat mulai dari mulut sampai ke anus. Setiap sel dalam tubuh memerlukan suplai makanan yang terus-menerus untuk bertahan hidup. Makanan tersebut memberikan energy, menambah jaringan baru, mengganti jaringan yang rusak dan untuk pertumbuhan.

               Fungsi utama system pencernaan adalah menyediakan zat nutrisi yang sudah dicerna secara berkesinambungan untuk didistribusikan kedalam sel melalui sirkulasi dengan unsure-unsur air, elektrolit, dan zat gizi. Sebelum zat ini diserap oleh tubuh, makanan harus bergerak sepanjang saluran cerna.Makanan yang kita makan harus diubah terlebih menjadi benda cair agar dapat diserap (diabsorpsi). Zat makanan tersebut mengalami perubahan kimiawi dan fisik sepanjang saluran pencernaan. Zat makanan merupakan sumber energy dari sel yang membentuk adenosine trifosfat (ATP) untuk melaksanakan berbagai kegiatan dalam tubuh, untuk mempertahankan suhu tubuh dan energy untuk bekerja dan bergerak.
              
               Pembuangan sisa makanan dari metabolism akan diekskresikan melalui saluran akhir sitem pencernaan dalam bentuk feces. Selain itu juga melalui paru-paru dan ginjal dalam bentuk karbondioksida dan urine.

Proses Pencernaan :
               Peristiwa yang terjadi dalam system pencernaan meliputi pergerakan makan, sekresi getah cerna, pencernaan dan absorpsi.
1)      Ingestion:proses pemasukan makanan/minuman kedalam tubuh (KH, lemak, protein, air, vit, mineral )
2)      Pergerakan makan
Mendorong isinya kedepan dengan kecepatan yang tidak sama, mencampur makanan dengan liur, dan membantu observasi dengan cara mendekatkan seluruh isi lumen kepermukaan saluran pencernaan dengan bantuan kontraksi otot polos dinding saluran pencernaan.
3)      Sekresi getah cerna
Sekresi getah cerna ini dilakukan oleh kelenjar-kelenjar mulai dari mulut sampai ke ileum. Getah yang disekresikan antara lain air, elektrolit dan bahan-bahan tertentu seperti enzim dan getah empedu (mucus).
4)      Pencernaan
Proses pencernaan adalah proses pemecahan secara mekanik dan kimia. Molekul-molekul besar yang masuk saluran pencernaan diubah menjadi molekul yang lebih kecil sehingga dapat diserap oleh dinding saluran pencernaan.
5)      Absorpsi
Makanan yang telah mengalami perubahan dalam proses penyerapan hasil pencernaan dari lumen akan menembus lapisan epitel dan masuk kedalam darah atau cairan limfe. Permukaan saluran pencernaan biasanya tidak rata/licin tetapi berlekuk-lekuk sehingga menambah luas permukaan yang tersedia untuk absorpsi.


Lapisan Dinding Saluran Pencernaan
               Secara umum dinding saluran pencernaan terdiri atas empat lapisan yang mempunyai fungsi berbeda-beda
a)      Tunika mukosa
Merupakan mukosa lapisan dalam yang diliputi lapisan epitel, menyekresi mucus, dan melepaskan hormone kedalam darah membentuk kelenjar eksokrin untuk menyekresi asam, enzim, air, dan ion-ion kedalam lumen. Lapisan ini berfungsi melindungi saluran pencernaan terhadap gesekan makanan yang keras.
b)      Tunika submukosa
Merupakan jaringan ikat kedua sebelah dalam yang dilalui pembuluh darah dan pembuluh limfe yang besar, cabangnya menembus lapisan mukosa. Pada bagian dalam submukosa terdapat jala-jala sel saraf (pleksus submukosa). Lapisan ini mempunyai dua lapisan yaitu lapisan otot longitudinal dan sirkuler (oblique)
c)      Tunika muskularis
Lapisan ini merupakan lapisan otot. Kontraksinya menimbulkan gaya mendorong untuk memindahkan isi saluran pencernaan. Lapisan ini membentuk system saraf enteric untuk membantu mengintegrasikan keaktifan motorik dan sekretorik system pencernaan.
d)     Tunika serosa
Lapisan tunika serosa ini merupakan lapisan luar jaringan ikat yang mengelilingi saluran pencernaan. Lapisan yang sangat tipis disebut peritoneum (adventisia). Lapisan ini menyekresi cairan serosa untuk membasahi dan mencegah gesekan organ pencernaan dan alat dalam sekitarnya.
Saluran pencernaan terdiri dari  :
1.      Mulut,
2.      faring
3.      Kerongkongan/ esofagus
4.      Lambung,
5.      Usus halus,
6.      Usus besar,
7.      Rektum
8.      Anus.
Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
1.                 Mulut

Mulut merupakan saluran pertama yang dilalui makanan. Pada rongga mulut, dilengkapi alat pencernaan dan kelenjar pencernaan untuk membantu pencernaan makanan. Pada Mulut terdapat:

a.      Gigi
Memiliki fungsi memotong, mengoyak dan menggiling makanan menjadi partikel yang kecil-kecil. Perhatikan gambar disamping.  Gigi di bagi menjadi 3 macam, antara lain:
1)      Gigi seri (dens insisivus), berjumlah 8 buah, berfungsi memotong makanan.
2)      Gigi taring (dens caninus), berjumlah 4 buah, berfungsi merobek makanan.
3)      Gigi geraham kecil (dens premolare), berjumlah 8 buah, berfungsi mengunyah makanan.
b.      Lidah
Memiliki peran mengatur letak makanan di dalam mulut serta mengecap rasa    makanan.
c.       Kelenjar Ludah
Ada 3 kelenjar ludah pada rongga mulut. Ketiga kelenjar ludah tersebut menghasilkan ludah setiap harinya sekitar 1 sampai 2,5 liter ludah. Kandungan ludah pada manusia adalah : air, mucus, enzim amilase, zat antibakteri, dll.

Keterangan:
*         Glandula parotis merupakan kelenjar ludah di dekat telinga, menyekresikanludah yang mengandung enzim ptialin (amilase).
*         Glandula submaksilaris merupakan kelenjar ludah di samping rahang atas,menyekresikan ludah yang mengandung air dan lendir.
*         Glandula submandibularis merupakan kelenjar ludah di bawah lidah, menyekresikan ludah yang mengandung air dan lendir.

Fungsi ludah adalah melumasi rongga mulut serta mencerna karbohidrat menjadi disakarida.

2.                 Faring
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal dari bahasa yunani yaitu Pharynk. Skema melintang mulut, hidung, faring, dan laring. Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama koana, keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium.
Tekak terdiri dari; Bagian superior =bagian yang sangat tinggi dengan hidung, bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian inferior = bagian yang sama tinggi dengan laring. Bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga,Bagian media disebut orofaring,bagian ini berbatas kedepan sampai diakar lidah bagian inferior disebut laring gofaring yang menghubungkan orofaring

3. Kerongkongan (Esofagus)

Merupakan saluran yang menghubungkan antara rongga mulut dengan lambung. Pada ujung saluran esophagus setelah mulut terdapat daerah yang disebut faring. Pada faring terdapat klep, yaitu epiglotis yang mengatur makanan agar tidak masuk ke trakea (tenggorokan). Fungsi esofagus adalah menyalurkan makanan ke lambung. Agar makanan dapat berjalan sepanjang esophagus, terdapat gerakan peristaltik sehingga makanan dapat berjalan menuju lambung.Sekresi esophagus bersifat mukoid yaitu member pelumas untuk pergerakan makanan melalui esophagus. Pada permulaan esophagus terdapat kelenjar mukosa komposita. Bagian badan utamanya dibatasi oleh banyak kelenjar mukosa komposita. Bagian badan utamanya dibatasi oleh banyak kelenjar mukosa simplek yang berfungsi untuk mencegah sekresi mukosa oleh makanan yang baru masuk. Kelenjar komposita yang terletak pada perbatasan esophagus dengan lambung berfungsi untuk melindungi dinding esophagus dari pencernaan getah lambung.
Pada peralihan esophagus kelambung terdapat sfingter kardiak yang dibentuk oleh lapisan otot sirkuler esophagus. Sfingter ini terbuka secara reflex pada akhir proses menelan. Tunika mukosa esophagus mempunyai epitel gepeng berlapis yang mengandung kelenjar-kelenjar (landula esophagus).

Lapisan dinding esophagus dari dalam keluar:
1)      Lapisan selaput (mukosa)
2)      Lapisan submukosa
3)      Lapisan otot melingkar (muscular sirkuler)
4)      Lapisan otot memanjang (muscular longitudinal).

4. Lambung
Lambung merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai, terdiri dari 3 bagian yaitu kardia, fundus dan antrum. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting:
Ø  Lendir
Ø  Asam klorida
Ø  Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein). Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung dan enzim.

Ada 3 jenis otot polos yang menyusun lambung, yaitu otot memanjang, otot melingkar, dan otot menyerong. Selain pencernaan mekanik, pada lambung terjadi pencernaan kimiawi dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan lambung. Senyawa kimiawi yang dihasilkan lambung adalah :
1.         Asam HCl ,Mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin. Sebagai disinfektan, serta merangsang pengeluaran hormon sekretin dan kolesistokinin pada usus halus.
2.         Lipase , Memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Namun lipase yang dihasilkan sangat sedikit.
3.         Renin , Mengendapkan protein pada susu (kasein) dari air susu (ASI). Hanya dimiliki oleh bayi.
4.         Mukus , Melindungi dinding lambung dari kerusakan akibat asam HCl

5.         Usus Halus

Usus halus merupakan  kelanjutan  dari lambung. Usus halus memiliki panjang sekitar 6-8 meter. Usus halus terbagi menjadi 3 bagian yaitu duodenum (± 25 cm), jejunum (± 2,5 m), serta ileum (± 3,6 m). Pada usus halus hanya terjadi pencernaan secara kimiawi saja, dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan oleh usus halus serta senyawa kimia dari kelenjar pankreas yang dilepaskan ke usus halus.

Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum).
1.      Usus dua belas jari (Duodenum)
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz.
2.      Usus Kosong (Jejenum)
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium.

3.      Usus Penyerapan (Illeum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem pencernaan manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.

6.         Usus Besar

Usus besar terdiri dari:
v  Kolon asendens (kanan)
v  Kolon transversum
v   Kolon desendens (kiri)
v  Kolon sigmoid (b/d rektum).

Apendiks (usus buntu) merupakan suatu tonjolan kecil berbentuk seperti tabung, yang terletak di kolon asendens, pada perbatasan kolon asendens dengan usus halus. Usus besar menghasilkan lendir dan berfungsi menyerap air dan elektrolit dari tinja. Ketika mencapai usus besar, isi usus berbentuk cairan, tetapi ketika mencapai rektum bentuknya menjadi padat.

Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri di dalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.

7.         Rectum

 Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar.Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda buang air besar.
8.         Anus
Merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lainnya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingter anal) menjaga agar anus tetap tertutup.
Anus berfungsi sebagai tempat pembuangan sisa hasil proses pencernaan


GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
1.      Apendikitis-Radang usus buntu.
2.      Diare- Feses yang sangat cair akibat peristaltik yang terlalu cepat.
3.      Kontipasi -Kesukaran dalam proses Defekasi (buang air besar)
4.      Maldigesti-Terlalu banyak makan atau makan suatu zat yang merangsang lambung.
5.      Parotitis-Infeksi pada kelenjar parotis disebut juga Gondong
6.      Tukak Lambung/Maag-”Radang” pada dinding lambung, umumnya diakibatkan infeksi Helicobacter pylori.

Zat-zat yang diekskresikan oleh organ-organ sistem pencernaan :
Setiap makhluk hidup termasuk manusia memerlukan makanan untuk menjaga kelangsungan  hidupnya. Makanan yang kita konsumsi sehari-hari terdiri dari atas beberapa zat makanan (nutrient). Sebagian dari makanan itu diperlukan dalam jumlah yang besar sehingga disebut makronutrien dan sebagian hanya diperlukan dalam jumlah yang kecil sehingga disebut mikronutrien.
Fungsi makanan bagi tubuh adalah sebagai berikut :
1.      Sebagai sumber bahan bakar.
  1. Sebagai sumber bahan pengatur.
  2. Sebagai bahan pembangun.
Macam-macam Zat Makanan (Nutrien) yang Diperlukan Tubuh :
Karbohidrat
Karbohidrat ini merupakan senyawa organic yang terdiri atas unsure C, H, dan O. zat makanan ini berfungsi sebagai sumber energi yang utama di dalam sel-sel tubuh. Bahan makanan yang mengandung kerbohidrat contohnya ubi-ubian, sereal (biji-bijian), dan buah-buahan.
Menurut kompleksitasnya karbohidrat dapat dibedakan menajdi tiga macam :
1). Monosakarida, yaitu karbohidrat yang hanya disusun oleh satu molekul gula, misalnya glukosa, fruktosa, dan galaktosa.
2). Disakarida, yaitu karbohidrat yang terdiri dari dua molekul gula, misalnya sukrosa terdiri dari glukosa dan fruktosa, maltose terdiri dari dua molekul glukosa, dan laktosa terdiri dari glukosa dan galaktosa.
3). Polisakarida, yaitu karbohidrat yang terdiri dari banyak molekul gula sederhana, misalnya selulosa, kitin, glikenon, dan amilum.

Lemak
Lemak merupakan senyawa organic yang terdiri atas atom C, H, dan O dengan susunan yang kompleks dibanding karbohidrat. Lemak merupakan ester gliserol dan asam lemak. Senyawa ini berperan sebagai sumber energi sebagai bahan pembangun membrane sel, sebagai cadangan makanan dan sebagai pelarut vitamin A, D, E, dan K.
Protein
Protein merupakan senyawa organik kompleks yang terdiri atas unsur C, H, O, N dan sering kali terdapat unsur S dan P. Protein merupakan polimer dari asam-asam amino, yang mempunyai fungsi sebagai berikut:
*   Sebagai sumber energi.
*   Sebagai bahan pembangun sel-sel tubuh.
*    Sebagai bahan pembentuk antibodi.
*   Membentuk enzim.
*   Mengatur kesetimbangan cairan tubuh.
*   Menjaga kesetimbangan pH darah.
Air
Air merupakan zat makanan yang diperlukan dalam jumlah relatif banyak. Di dalam tubuh fungsi air adalah sebagai berikut :
·         Membantu dalam setiap metabolisme tubuh.
·         Sebagai bahan pelarut berbagai macam bahan di dalam tubuh.
·         Untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang karena pengeluaran keringat, dan pengeluaran air dalam bentuk lain.
·         Sebagai bahan pembangun sel-sel tubuh karena sebagian besar komponen yang menyusun isi sel makhluk hidup adalah air.
 Vitamin
Vitamin merupakan senyawa organik yang diperlukan tubuh dalam jumlah sedikit. Fungsi vitamin bagi tubuh adalah untuk mengatur berbagai macam aktivitas dan metabolismes dalam sel. Vitamin tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga dalam setiap intake makanan sehari-hari harus mengandung vitamin yang diperlukan tubuh. Apabila tubuh kekurangan vitamin dapat menimbulkan gejala hipovitaminosis bahkan lebih parah lagi dapat menimbulkan gejala avitaminosis.
Mineral
Merupakan bahan makanan yang berfungsi untuk bahan pengatur berbagai aktivitas di dalam tubuh dan sebagai bahan pembangun. Berdasarkan jumlah yang diperlukan tubuh, mineral dikelompokkan menjadi dua macam :
v  Makroelemen, yaitu mineral yang diperlukan dalam jumlah yang besar. Contoh kalium, fosfor, magnesium, belerang, klor, natrium, dan kalsium.
v  Mikroelemen, yaitu mineral yang diperlukan dalam jumlah sedikit tetapi harus ada karena apabila kebutuhan tubuh tidak tercukupi akan timbul gangguan dalam metabolisme dan Pertumbuhan. Contoh zat besi, flour, iodium, dan tembaga.
Zat Aditif Makanan :
Zat aditif makanan adalah zat yang secara sengaja maupun tanpa sengaja ditambahkan dalam bahan makanan guna memperbaiki nilai gizi dan cita rasa, mengawetkan bahan makanan, atau memberikan rasa mantap serta memperbaiki penampilan.
Zat aditif menurut tujuannya dapat dibedakan menjadi berikut :
a.        Zat aditif sebagai bahan pengawet
Zat aditif yang aman digunakan sebagai bahan pengawet makanan secara alami adalah gula, garam dapur, dan asam jawa. Selain itu bahan pengawet yang relatif aman bagi kesehatan adalah larutan cuka 4%, asam benzoat atau garam natriumnya.

Dalam industri makanan seperti industri keju, kornet dan daging asap seringkali menggunakan garam nitrat atau nitric sebagai pengawet. Penggunaan bahan ini selain mencegah munculnya gas oleh aktivitas bakteri pembentuk asam butirat juga dapat mencegah pertumbuhan bakteri Clostridium butilinum. Namun dikhawatirkan penggunaan bahan ini sebagai pengawet dapat bereaksi dengan senyawa amina sekunder dalam tubuh dan menghasilkan senyawa yang bersifat karsinogenik. Kerusakan makanan karena adanya reaksi oksidasi terhadap makarian dapat dicegah dengan pemberian zat anti oksidan seperti vitamin C, Vitamin E, BHA, dan BHT.

Pemberian warna pada makanan dapat meningkatkan penampilan makanan sehingga menggugah minat konsumen. Zat warna yang ditambahkan dalam bahan rnakanan dapat bersifat alami maupun sintetik. Pewarna alami yang biasa ditambahkan pada bahan makanan adalah kunyit, cabe, daun suji, wortel, buah cokelat dan biji kopi. Zat warna alami lebih aman digunakan dari pada zat warna sintetis.

b.       Zat aditif sebagai penambah aroma
Untuk menambah aroma ke dalam bahan makanan dapat ditambahkan senyawa ester, terutama aroma buah-buahan.

c.       Zat aditif pembangkit cita rasa
Rasa mantap pada makanan dapat ditingkatkan dengan penambahan bahan penyedap yang dapat meningkatkan rasa enak dan menekan rasa yang tidak diinginkan dalam makanan. Pada umumnya orang menggunakan vitsin (moto) atau MSG. Monosodium glutamate merupakan bahan aditif yang tidak berbau dan mempunyai rasa campuran antara asin dan manis. Penggunaan MSG yang berlebihan dapat merusak sel saraf otak.Bahan alami yang dapat meningkatkan cita rasa lebih aman digunakan daripada bahan sintetis. Bahan tersebut antara lain garam dapur, terasi, asam jawa, dan asam cuka.

d.       Zat aditif pemberi rasa asam
Bahan pengasam dapat digunakan dalam makanan untuk menambah rasa asam, pengawet makanan, memperbaiki warna dan rasa atau untuk mempermudah pengolahan. Bahan pengasam yang biasa digunakan dalam makanan adalah asam sitrat, asam laktat asam fumarat dan asam asetat.

e.       Zat aditif pemucat makanan
Bahan pemucat pada umumnya digunakan dalam produksi terigu. Bahan ini digunakan untuk menghilangkan pengaruh yang dibawa oleh berbagai pigmen yang ada dalam biji gandum.


f.        Zat aditif pen,gernbang bahan makanan
Dalam pembuatan berbagai macam roti dan kue digunakan bahan yang berfungsi untuk mengembangkan adonan. Bahan pengembang ini dapat berupa senyawa kimia maupun mahluk hidup yang dapat melakukan fermentasi, Baik senyawa kimia maupun makhluk hidup yang digunakan dalam mengembangkan adonan roti dapat menghasilkan CO2 yang dapat menyebabkan adonan mengembang. Bahan pengembang biologis dapat menggunakan yeast / ragi sedangkan untuk bahan kimia dapat menggunakan natrium bikarbonat.

GANGGUAN  SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA LANSIA
Gangguan  sistem pencernaan makanan pada lansia dapat disebabkan oleh pola makan yang salah, infeksi bakteri, dan kelainan alat pencernaan/karena penurunan alat dan fungsi sistem pencernaan pada lansia. Di antara gangguan-gangguan ini adalah diare, sembelit, tukak lambung, peritonitis, kolik, sampai pada infeksi usus buntu (apendisitis).
a.      Diare
Apabila kim dari perut mengalir ke usus terlalu cepat maka defekasi menjadi lebih sering dengan feses yang mengandung banyak air. Keadaan seperti ini disebut diare. Penyebab diare antara lain ansietas (stres), makanan tertentu, atau organisme perusak yang melukai dinding usus. Diare dalam waktu lama menyebabkan hilangnya air dan garam-garam mineral, sehingga terjadi dehidrasi.
b.      Konstipasi (Sembelit)
Konstipasi/ Sembelit terjadi pada lansia karena berbagai faktor penyebab ,salah satunya yaitu : terjadinya penurunan fungsi kerja dari alat pencernaan lansia.Jika kim masuk ke usus dengan sangat lambat. Akibatnya, air terlalu banyak diserap usus, maka feses menjadi keras dan kering. Sembelit ini disebabkan karena kurang mengkonsumsi makanan yang berupa tumbuhan berserat dan banyak mengkonsumsi daging.


c.       Tukak Lambung (Ulkus)
Dinding lambung diselubungi mukus yang di dalamnya juga terkandung enzim. Jika pertahanan mukus rusak, enzim pencernaan akan memakan bagian-bagian kecil dari lapisan permukaan lambung. Hasil dari kegiatan ini adalah terjadinya tukak lambung. Tukak lambung menyebabkan berlubangnya dinding lambung sehingga isi lambung jatuh di rongga perut. Sebagian besar tukak lambung ini disebabkan oleh infeksi bakteri jenis tertentu. Beberapa gangguan lain pada sistem pencernaan antara lain sebagai berikut: Peritonitis; merupakan peradangan pada selaput perut (peritonium).
Gangguan lain adalah salah cerna akibat makan makanan yang merangsang lambung, seperti alkohol dan cabe yang mengakibatkan rasa nyeri yang disebut kolik. Sedangkan produksi HCl yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya gesekan pada dinding lambung dan usus halus, sehingga timbul rasa nyeri yang disebut tukak lambung. Gesekan akan lebih parah kalau lambung dalam keadaan kosong akibat makan tidak teratur yang pada akhirnya akan mengakibatkan pendarahan pada lambung. Gangguan lain pada lambung adalah gastritis atau peradangan pada lambung. Dapat pula apendiks terinfeksi sehingga terjadi peradangan yang disebut apendisitis














BAB II
PEMBAHASAN
1.Defenisi
            Konstipasi sering diartikan sebagai kurangnya frekuensi buang air besar, biasanya kurang dari 3 kali per minggu dengan feses yang kecil-kecil dan keras dan kadang-kadang disertai kesulitan sampai rasa sakit saat buang air besar (NIDDK, 2000).
Konstipasi  atau sering disebut sembelit pada lansia  adalah kelainan pada sistem pencernaan di mana seorang lansia mengalami pengerasan feses atau tinja yang berlebihan sehingga sulit untuk dibuang atau dikeluarkan dan dapat menyebabkan kesakitan yang hebat pada lansia.
2.Etiologi
Banyak lansia mengalami konstipasi sebagai akibat dari penumpukan sensasi saraf, tidak sempurnanya pengosongan usus, atau kegagalan dalam menanggapi sinyal untuk defekasi. Konstipasi merupakan masalah umum yang disebabkan oleh penurunan motilitas, kurang aktivitas, penurunan kekuatan dan tonus otot.
Faktor-faktor risiko konstipasi pada usia lanjut:
ü  Obat-obatan: golongan antikolinergik, golongan narkotik, golongan analgetik,golongan diuretik, NSAID, kalsium antagonis, preparat kalsium, preparat besi, antasida aluminium, penyalahgunaan pencahar.
ü  Kondisi neurologik: stroke, penyakit parkinson, trauma medula spinalis, neuropati diabetic.
ü  Gangguan metabolic : hiperkalsemia, hipokalemia, hipotiroidisme.
ü  Kausa psikologik: psikosis, depresi, demensia, kurang privasi untuk BAB, mengabaikan dorongan BAB, konstipasi imajiner.
ü  Penyakit-penyakit saluran cerna: kanker kolon, divertikel, ileus, hernia, volvulus, iritable bowel syndrome, rektokel, wasir, fistula/fisura ani, inersiakolon.
ü  Lain-lain: defisiensi diet dalam asupan cairan dan serat, imobilitas / kurang olahraga, bepergian jauh, paska tindakan bedah parut .

3.Manifestasi Klinis
Beberapa keluhan yang mungkin berhubungan dengan konstipasi adalah (ASCRS,2002) :
1.      Kesulitan memulai dan menyelesaikan BAB.
2.      Mengejan keras saat BAB.
3.      Massa feses yang keras dan sulit keluar.
4.      Perasaan tidak tuntas saat BAB.
5.      Sakit pada daerah rectum saat BAB.
6.      Rasa sakit pada daerah perut saat BAB.
7.      Menggunakan obat-obat pencahar untuk bisa BAB.
Gejala dan  tanda akan berbeda antara seseorang dengan seseorang yang lain, karena pola makanhormon, gaya hidup dan bentuk usus besar setiap orang berbeda-beda, tetapi biasanya gejala dan tanda yang umum ditemukan pada sebagian besar atau kadang-kadang beberapa penderitanya adalah sebagai berikut :
1.      Perut terasa begah, penuh, dan bahkan terasa kaku karena tumpukan tinja (jika tinja sudah tertumpuk sekitar 1 minggu atau lebih, perut penderita dapat terlihat seperti sedang hamil).
2.      Tinja menjadi lebih keras, panas, dan berwarna lebih gelap daripada biasanya, dan jumlahnya lebih sedikit daripada biasanya (bahkan dapat berbentuk bulat-bulat kecil bila sudah parah).
3.      Pada saat buang air besar tinja sulit dikeluarkan atau dibuang, kadang-kadang harus mengejan ataupun  menekan-nekan  perut  terlebih dahulu supaya dapat mengeluarkan tinja.
4.      Terdengar bunyi-bunyian dalam perut.
5.      Bagian anus terasa penuh, dan seperti terganjal sesuatu disertai sakit akibat bergesekan dengan tinja yang panas dan keras.
6.      Frekuensi buang angin meningkat disertai bau yang lebih busuk daripada biasanya (jika kram perutnya parah, bahkan penderita akan kesulitan atau sama sekali tidak bisa buang angin).
7.      Menurunnya frekuensi buang air besar, dan meningkatnya waktu transit buang air besar (biasanya buang air besar menjadi 3 hari sekali atau lebih).
8.      Terkadang mengalami mual bahkan muntah jika sudah parah.

4.Patofisiologi
            Defekasi merupakan suatu proses fisiologi yang menyertakan kerja otot-otot polos dan serat lintang, persarafan, sentral dan perifer, koordinasi sisitem reflek, kesadranyang baik dan kemampuan fisik untuk mencari tempat BAB. Defekasi dimulai dari gerakan peristaltik usus besar yang menghantarkan feses kerektum untuk dikeluarkan. Feses masuk dan meregangkan ampula rektum yang diikuti relaksasi sfingter anus interna. Untuk menghindarkan pengeluaran feses yang spontan, terjadi refleks kontraksi refleks anus eksterna dan kontraksi otot dasar pelvis yang dilayani oleh syaraf pudendus. Otak menerima rangsang keinginan untuk  BAB  dan  sfingter anus eksterna diperintahkan untuk relaksasi, dan rektum mengeluarkan isinya dengan bantuan kontraksi otot dinding perut. Kontraksi ini akan menaikkan tekanan dalam perut, relaksasi sfingter dan otot elevator ani. Baik persyarafan simpatis ataupun Parasimpatis terlibat dalam proses ini. Patogenesis konstipasi bervariasi macam-macam, penyebabnya multipel, mencakup beberapa faktor yang tumpah tindih, motilitas kolon tidak terpengaruh dengan bertambahnya usia. Proses menua yang normal tidak mengakibatkan perlambatan perjalanan saluran cerna.
            Pengurangan respon motorik sigmoid disebabkan karena berkurangnya inervasi instinsik akibat degenerasi pleksus myenterikus, sedangkan pengurangan rangsang saraf pada otot polos sirkuler menyebabkan memanjangnya waktu gerakan usus. Pada lansia mempunyai kadar plasma beta-endorfin yang meningkat, disertai peningkatan ikatan pada reseptor opiat endogen di usus. Ini dibuktikan dengan efek konstipasif sediaan opiat karena dapat menyebabkan relaksasi tonus otot kolon, motilitas berkurang dan menghambat refleks gaster-kolon. Terdapat kecenderungan  menurunnya tonus sfingter dan kekuatan otot-otot polos berkaitan dengan usia khususnya pada wanita. Pada penderita konstipasi mempunyai kesulitan lebih besar untuk  mengeluarkan  feses yang kecil dan keras, menyebabkan upaya mengejan lebih keras dan lebih lama. Hal ini berakibat penekanan pada saraf  pudendus dengan kelemahan lebih lanjut.
5.Pemeriksaan penunjang
            Pemeriksaan laboratorium dikaitkan dengan upaya mendeteksi faktor risiko konstipasi seperti gula darah, kadar hormon tiroid, elektrolit, anemia akibat keluarnya darah dari dubur.
ü  Anoskopi dianjurkan untuk menemukan hubungan abnormal pada saluran cerna, tukak, wasir, dan tumor.
ü  Foto polos perut harus dikerjakan pada penderita konstipasi untuk mendeteksi adanya pemadatan tinja atau tinja keras yang menyumbat bahkan melubangi usus.
ü  Kolonskopi
         Perlu dilakukan ,Jika ada penurunan berat badan, anemia, keluarnya darah dari dubur atau riwayat keluarga dengan kanker usus besar. Bagi sebagian orang konstipasi hanya sekadar mengganggu. Tapi, bagi sebagian kecil dapat menimbulkan komplikasi serius. Tinja dapat mengeras sekeras batu di poros usus (70 persen), usus besar (20 persen), dan pangkal usus besar (10 persen). Hal ini menyebabkan kesakitan dan meningkatkan risiko perawatan di rumah sakit dan berpotensi menimbulkan akibat yang fatal. Pada konstipasi kronis kadang-kadang terjadi demam sampai 39,5 derajat celcius, delirium (kebingungan dan penurunan kesadaran), perut tegang, bunyi usus melemah, penyimpangan irama jantung, pernapasan cepat karena peregangan sekat rongga badan. Pemadatan dan pengerasan tinja berat di muara usus besar bisa menekan kandung kemih menyebabkan retensi urine bahkan gagal ginjal serta hilangnya kendali otot lingkar dubur, sehingga keluar tinja tak terkontrol. Sering mengejan berlebihan menyebabkan turunnya poros usus.
6.Penatalaksanaan Medis    
ü  Non farmakologik
a).Cairan
Keadaan status hidrasi  yang buruk dapat menyebabkan konstipasi. Kecuali ada kontraindikasi, orang lanjut usia perlu diingatkan untuk minum sekurang kurangnya 6-8 gelas sehari (1500 ml cairan perhari) untuk mencegah dehidrasi. Asupan cairan dapat dicapai bila tersedia cairan / minuman yang dibutuhkan di dekat pasien, demikian pula cairan yang berasal dari sup, sirup dan es. Asupan cairan perlu lebih banyak bagi mereka yang mengkonsumsi diuretik tetapi kondisi jantungnya stabil.
b).Serat
Pada orang usia lanjut , serat berguna menurunkan waktu transit (transit time). Pada orang lanjut usia disarankan agar mengkonsumsi serat skitar 6-10 gram per hari. Ada juga yang menyarankan agar mengkonsumsi serat sebanyak 15-20 gr per hari. Serat berasal dari biji-bijian, sereal, beras merah, buah, sayur, kacang-kacangan. Serat akan memfasilitasi gerakan usus dengan meningkatkan masa tinja dan mengurangi waktu transit usus.
 Serat juga menyediakan substrat untuk bakteri kolon, dengan produksi gas dan asam lemak rantai pendek yang meningkatkan gumpalan tinja. Perlu diingat serat tidaklah efektif tanpa cairan yang cukup, dan dikontraindikasikan pada pasien dengan impaksi tinja (skibala) atau dilatasi kolon. Peningkatan jumlah serat dapat menyebabkan gejala kembung, banyak gas dan buang besar tidak teratur terutama pada 2-3 minggu pertama, yang sering kali menimbulkan ketidak patuhan obat.
c).Bowel training.
Pada pasien yang  mengalami  penurunan  sensasi akan mudah lupa untuk buang air  besar. Hal tersebut akan menyebabkan rektum lebih mengembang karena adanya  penumpukan feses. Membuat jadwal untuk buang air besar merupakan langkah awal yang lebih baik  untuk dilakukan pada pasien tersebut, dan baik juga diterapkan  pada pasien usia lanjut yang mengalami gangguan kognitif. Pada pasien yang sudah memiliki kebiasaan buang air besar pada waktu yang teratur, dianjurkan meneruskan kebiasaan  teresebut. Sedangkan pada pasien yang tidak memiliki jadwal teratur untuk  buang air besar, waktu yang baik untuk buang air besar adalah setelah sarapan dan makan malam.
d).Latihan jasmani   
Jalan kaki setiap pagi adalah bentuk  latihan jasmani yang sederhana tetapi bermanfat bagi orang  usia  lanjut yang masih mampu berjalan. Jalan kaki satu setengah  jam setelah makan cukup membantu. Bagi mereka yang tidak mampu bangun dari tampat tidur, dapat didudukkan atau didudukkan atau diberdirikan disekitar tempat tidur.Positioning bagi pasien usia lanjut yang tidak dapat bergerak, meninggalkan tempat tidurnya menuju ke kursi beberapa kali dengan interval 15 menit, adalah salah satu cara untuk mencegah ulkus dekubitus. Tentu saja pasien yang mengalami tirah baring dapat dibantu dengan menyediakan  toilet  atau komod  dengan tempat tidur, jangan diberi bed pan.
 Mengurut perut dengan hati-hati mungkin dapat pula dilakukan untuk merangsang gerakan usus.
e).Evaluasi penggunaan obat
Evaluasi yang seksama tentang penggunaan obat-obatan perlu dilakukan untuk mengeliminasi, mengurangi dosis, atau mengganti obat yang diperkirakan menimbulkan konstipasi. Obat anti depresan, obat Parkinson merupakan obat yang potensial menimbulkan konstipasi. Obat yang mengandung zat besi juga cenderung  menimbulkan konstipasi, demikian obat anti hipertensi (antagonis kalsium). Anti kolinergik lain dan juga narkotik merupakan obat-obatan yang sering pula menyebabkan konstipasi. 
ü  Farmakologik
a)Pencahar penggumpal /pembentuk  tinja (pencahar bulk/bulk laxative) .
Pencahar bulk merupakan 25% pencahar yang beredar di pasaran. Sediaan yang ada merupakan bentuk serat alamiah non-wheat seperti pysilium dan isophagula husk, dan senyawa sintetik seperti metal selulosa. Bulking agent sistetik dan serat natural sama-sama efektif dalam meningkatkan frekuensi dan volume tinja.
Obat ini tidak menyebabkan malabsorbsi zat besi atau kalsium pada orang usia lanjut, tidak seperti bran yang tidak diproses. Pencahar bulk  terbukti  menurunkan  konstipasi pada orang usia lanjut dan nyeri defekai pada hemoroid. Sama  halnya dengan serat, obat ini juga harus diimbangi dengan asupan cairan. 
b)Pelembut tinja
Docusate  sering kali direkomendasikan dan digunakan oleh orang lanjut usia sebagai pencahar dan sebagai pelembut tinja. Docusate sodium bertindak sebagai surfaktan, menurunkan  tegangan permukaan feses untuk membiarakan air masuk dan memperlunak feses. Docusate sebenarnya tidak dapat menolong  konstipasi yang kronik, penggunaannya sebaiknya dibatasi pada situasi dimana mangedan harus dicegah.
c)Pencahar
Stimulan senna merupakan obat yang aman digunakan oleh orang usia lanjut. Senna meningkatkan peristaltik di kolon distal dan menstimulasi peristaltik diikuti dengan evakuasi feses yang lunak. Pemberian 20 mg senna per hari selama 6 bulan oleh pasien berusia lebih dari 80 tahun tidak menyebabkan kehilangan protein atauelektrolit. Senna umumnya menginduksi evakuasi tinja 8-12 jam setelah pemberian.Orang usia lanjut biasanya memerlukan waktu yang lebih lama yakni sampai dengan10 minggu sebelum  mencapai kebiasaan defekasi yang teratur. Pemberian sebelum tidur malam mengurangi risiko inkontininsia fekal malam hari dan dosis juga harus ditritasi berdasarkan respon  individu. Terapi dengan kodil supositoria memiliki absorbsi sistemik minimal dan sangat menolong untuk mengatasi diskezia rectal pada usia lanjut. Sebaiknya diberikan  segera setelah  makan pagi secara supositoria untuk  mendapatkan  efek refleks gastrokolik. Penggunaan rutin setiap hari dapat menyebabkan sensasi terbakar pada rectum, jadi sebaiknya digunakan secara rutin, melainkan sekitar 3 kali seminggu.
Ada 4 tipe golongan obat pencahar :
  1. Memperbesar dan melunakkan massa feses, antara lain : Cereal, Methyl selulose, Psilium.
  2. Melunakkan dan melicinkan feses, obat ini bekerja dengan menurunkan tegangan permukaan feses, sehingga mempermudah penyerapan air. Contohnya : minyak kastor, golongan dochusate.
  3. Golongan osmotik yang tidak diserap, sehingga cukup aman untuk digunakan, misalnya pada penderita gagal ginjal, antara lain : sorbitol, laktulose, gliseri
  4. Merangsang peristaltik, sehingga meningkatkan motilitas usus besar. Golongan ini yang banyak dipakai. Perlu diperhatikan bahwa pencahar golongan ini bisa dipakai untuk jangka panjang, dapat merusak pleksusmesenterikus dan berakibat dismotilitas kolon. Contohnya : Bisakodil, Fenolptalein.
7.Pencegahan
·         Hindari makanan yang kandungan lemak / berminyak.
·         Minum air putih minimal 1,5 sampai 2 liter air (kira-kira 8 gelas) sehari dan cairan lainnya setiap hari.
·         Olahraga, seperti jalan kaki (jogging) bisa dilakukan. Minimal 10-15 menit untuk olahraga ringan, dan minimal 2 jam untuk olahraga yang lebih berat.
·         Biasakan buang air besar secara teratur dan jangan suka menahan buang air besar.
·         Konsumsi makanan yang mengandung serat secukupnya, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.
·         Tidur minimal 4 jam sehari.




ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN KONSTIPASI
1.      Pengkajian
Riwayat kesehatan dibuat untuk mendapatkan informasi tentang awitan dan durasi konstipasi, pola emliminasi saat ini dan masa lalu, serta harapan pasien tentang elininasi defekasi. Informasi gaya hidup harus dikaji, termasuk latihan dan tingkat aktifitas, pekerjaan, asupan nutrisi dan cairan, serta stress.
Riwayat medis dan bedah masa lalu, terapi obat-obatan saat ini, dan penggunaan laksatif serta enema adalah penting. Pasien harus ditanya tentang adanya tekanan rektal atau rasa penuh, nyeri abdomen, mengejan berlebihan saat defekasi, flatulens, atau diare encer.
Pemeriksaan fisik :
·         Inspeksi  feses terhadap warna, bau, konsistensi, ukuran, bentuk, dan komponen.
·         Palpasi permukaan perut untuk menilai kekuatan otot perut.  Perabaan  lebih dalam dapat mengetahui massa tinja di usus besar, adanya tumor atau pelebaran batang nadi.
·         Auskultasi abdomen terhadap adanya bising usus dan karakternya. Distensi abdomen diperhatikan.
·         Perkusi abdomen untuk mengetahui  pengumpulan gas berlebihan, pembesaran organ, cairan dalam rongga perut atau adanya massa tinja.

Sedang pemeriksaan dubur untuk mengetahui adanya wasir, hernia, fissure (retakan) atau fistula (hubungan abnormal pada saluran cerna), juga kemungkinan tumor di dubur yang bisa mengganggu proses buang air besar. Colok dubur memberi informasi tentang tegangan otot, dubur, adanya timbunan tinja, atau adanya darah.

2.      Diagnosa keperawatan

1)      Konstipasi berhubungan dengan pola defekasi tidak teratur
2)      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan   hilangnya nafsu makan
3)      Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada abdomen
4)      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang pola diet yang sehat


3.      Intervensi Keperawatan
1) Konstipasi berhubungan dengan pola defekasi tidak teratur.
Tujuan : pasien dapat defekasi dengan teratur (setiap hari)
Kriteria hasil :
ü  Defekasi dapat dilakukan satu kali sehari
ü  Konsistensi feses lembut
ü  Eliminasi feses tanpa perlu mengejan berlebihan
Intervensi:
Mandiri
1.      Tentukan pola defekasi bagi klien dan latih klien untuk menjalankannya
2.      Atur waktu yang tepat untuk defekasi klien seperti sesudah makan
3.      Berikan cakupan nutrisi berserat sesuai dengan indikasi
4.      Berikan cairan jika tidak kontra indikasi 2-3 liter per hari
Kolaborasi
Pemberian laksatif atau enema sesuai indikasi   
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hilangnya nafsu                makan.
Tujuan : menunjukkan status gizi baik
Kriteria Hasil :
ü  Toleransi terhadap diet yang dibutuhkan
ü  Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam batas normal
ü  Nilai laboratorium dalam batas normal
ü  Melaporkan keadekuatan tingkat energy
Intervensi:
Mandiri
1.      Buat perencanaan makan dengan pasien untuk dimasukkan ke dalam jadwal            makan.
2.      Dukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien dari    rumah.
3.      Tawarkan makanan porsi besar disiang hari ketika nafsu makan tinggi
4.      Pastikan diet memenuhi kebutuhan tubuh sesuai indikasi.
5.      Pastikan pola diet yang pasien yang disukai atau tidak disukai.
6.      Pantau masukan dan pengeluaran dan berat badan secara periodik.
7.      Kaji turgor kulit pasien

Kolaborasi
1.      Pantau nilai laboratorium, seperti Hb, albumin, dan kadar glukosa darah
2.      Ajarkan metode untuk perencanaan makanan   
3)  Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada abdomen.
Tujuan : menunjukkan nyeri telah berkurang .
Kriteria Hasil :
ü  Menunjukkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan.
ü  Mempertahankan tingkat nyeri pada skala kecil.
ü  Melaporkan kesehatan fisik dan psikologisi.
ü  Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri
ü  Menggunakan tindakan mengurangi nyeri dengan analgesik dan non-analgesik secara tepat
Intervensi :
Mandiri
1.      Bantu pasien untuk lebih berfokus pada aktivitas dari nyeri dengan melakukan penggalihan melalui televisi atau  radio
2.      Perhatikan bahwa lansia mengalami peningkatan sensitifitas terhadap efek analgesik opiate
3.      Perhatikan kemungkinan interaksi obat – obat dan obat penyakit pada lansia   
4) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang pola diet yang sehat.
Tujuan :
Klien dapat mengetahui faktor predisposisi, pencegahan, kekambuhan, deteksi, serta terapi farmakologi.
 Kriteria Hasil:
1.      Klien dapat memahami proses penyakit/prognosis
2.      Klien dapat mengidentifikasi hubungan tanda/gejala proses penyakit.
3.      Klien mampu melakukan perubahan pola hidup.
4.      Klien mampu ikut aktif dalam berpartisipasi dalam program pengobatan.
Intervensi :
1.            Kaji ulang proses penyakit, pengalaman klien.
2.            Dorong klien/orang terdekat untuk menyatakan rasa takut/perasaan dan perhatian.
3.            Dorong keluarga secara aktif dalam proses perawatan dan pengobatan klien.
4.            Berikan informasi tentang pola diet yang sehat dan tinggi serat.




























LAMPIRAN :
FORMAT PENGKAJIAN
1.      Riwayat Klien/ Data Biografis
Nama                     : Tn H
Suku                      : Bugis
Tempat/ Tgl Lahir  : Enrekang ,12 Des 1953
Agama                   : Islam
Jenis Kelamin        : Laki-laki
Status Pernikahan: Menikah
Pendidikan            : SPG
Orang yang paling
dekat dihubungi     : Adik pasien dan istrinya
Alamat/ no. telp     : Enrekang ,dekat Sekolah Tk

2.      Riwayat Hidup
Pasangan
Anak-anak
Hidup                    : Hidup
Hidup                : 6 orang
Status Kesehatan: sakit kepala
Nama & Alamat : enrekang
·         Nurasya 19 tahun
·         Hadirman 17 tahun
·         Hasnah 15 tahun
·         Wahidin 13 tahun
·         Sulasmi 11 tahun
·         Edy 7 tahun
Umur                    : 53
Pekerjaan             : petani ,dan peternak Kambing
Kematian :
Nama anak : Nn
Kematian
Tahun Meninggal     : 2007
Tahun Meninggal     : -
Penyebab Kematian: Aborsi
Penyebab Kematian : -

3.      Riwayat Pekerjaan
Status pekerjaan saat ini      : tidak ada
Pekerjaan sebelumnya         : Karyawan kelapa sawit
Sumber pendapatan saat ini : dari Istri

4.      Riwayat Temapt Tinggal (gambar denah Rumah)
Tipe tempat tinggal : Rumah Panggung
Jumlah tingkat: 1
Jumlah Kamar        : 3 kamar
Jumlah orang yang: 5 orang
tinggal di rumah    
Tetangga terdekat :
Derajat privasi        :
                                                                                                 
5.      Riwayat Aktivitas di Waktu Luang
Hobbi / Minat                   : nonton Tv ( sepak bola )
Keanggotaan organisasi : -
Liburan / Perjalanan         : -

6.      System Pelayanan Kesehatan Yang Digunakan
Dokter / Perawat                : suster Tina
Rumah sakit / Puskesmas : -
Klinik                                  : -
Pelayanan Kesehatan di   :  Rumah
Rumah / wisma
Lain-lain                            : -

7.      Deskripsi Aktivitas Selama 24 Jam
Tidur malam pukul 20.00 WITA,Makan pagi pukul 07.00 WITA,mandi pagi pukul 08.00 WITA , nonton Tv ,Makan siang pukul 14.00 WITA, tidur siang pukul 13.00  ,Sholat Lama Waktu,duduk-duduk atau istirahat siang ,Mandi Sore pukul 16.00 WITA , makan malam pukul 19.00 WITA,nonton Tv





8.      Riwayat Kesehatan
Keluhan-keluhan utama (here and now):
Suaranya kadang nda kedengaran,banyak pikiran ,susah tidur ,sulit menguyah makanan ,susah buang air besar


Pengetahuan / pemahaman tentang status kesehatannya saat ini: baik,pasien mengatakan bahwa dia harus tabah dalam menghadapi semua ini karena merupakan bagian dari proses kehidupan


Status kesehatan umum selama setahuan yang lalu: stroke



Status kesehatan umum selama 5 tahun yang lalu:
stroke

Penyakit masa kanak-kanak:
Sakit kepala dan sakit gigi
Penyakit serius kronik:

Trauma: kaki kanana keseloa dan kecelakaan / jatuh di kebun yang mana tangan kanan pasien terkena bamboo sehingga terjadi luka robek
Perawatan di rumah sakit (catat alas an masuk, tanggal, tempat, durasi, dokter):
Tidak pernah
Operasi (perhatikan jenis, tanggal, tempat alas an operasi, dokter):
Tidak pernah
Riwayat obstetric:




Obat-obatan
Nama Obat : Daktazol,melia Propolis,dan salfmen
Dosis Obat :900 mg
Bagaimana / kapan menggunakannya : Daktazol di gunakan u/ topical infrksi jamur pada kulit diolesi pada tubuh pasien,melia propolis untuk membantu pasien Berbicara ,diminum setiap pagi,siang dan malam sesudah makan ,salfmen digunakan untuk mengatasi bagian-bagian tubuh yang sakit 
Dokter yang menginstruksikan : Tina
Tanggal resep : 30 nov 2012

Masalah-masalah Berkaitan Dengan Konsumsi Obat
Deficit (uraikan jika ada keterbatasan dalam konsumsi obat) : tidak ada

Efek samping yang tidak menyenangkan : tidak ada
Persepsi keefektifan obat : tidak ada
Kesulitan memperoleh obat : tidak ada karena pasien di bantu oleh keluarga

Riwayat Alergi
Obat-obatan : tidak ada
Makanan : tiadak ada
Alergen : tidak ada
Faktor-faktor lingkungan : tidak ada

Nutrisi
Ingat kembali diet 24 jam, (termasuk masukan cairan), diet khusus,
pembatasan makanan atau pilihan :
Pasien di anjurkan u/ menghindari daging,dan makanan berminyak
Riwayat peningkatan / penurunan BB : dari 50 kg turun menjadi 45 kg
Pola konsumsi makanan (misal: frekuensi sendiri atau dengan orang lain):
3x sehari
Masalah-masalah yang mempergaruhi masukan makanan (misal: pendapatan tidak adekuat, daya serap lambat, masalah menelan / mengunyah, stress emosional): masalah menelan ,
/ menguyah
Kebiasaan sebelum, saat atau setelah makan : berdoa

9.      Riwayat Keluarga
Gambarlah sisilah keluarga (Minimal 3 generasi, disertai keterangan)
x
x
x
x

 


x

x
x
x
59
x
x
43
  50
x
   x
x
    x
x
 























10.   Tinjauan Sistem
Tanda-tanda Vital:
BP: 130/90 mmHg
T : 36   P: 24 x/i
N : 72 x/i

Beri tanda chek pada YA atau TIDAK untuk setiap gejala, disertai keterangan jika  YA

Hemoptik
Ya
Tidak
Perdarahan / Memar

Pembengkakan kelenjar limfe

Anemia

Riwayat transfuse darah


Kepala
Ya
Tidak
Sakit kepala

Trauma berat pada masa lalu

Pusing

Gatal kulit kepala

                                       
Leher           
Ya
Tidak
Kekakuan

Nyeri / nyeri tekan

Benjolan / massa

Keterbatasan gerak


Mata
Ya
Tidak
Perubahan penglihatan

Kacamata / lensa kontak

Nyeri

Air mata berlebih

Pruritus

Bengkak sekitar mata

Diplopia

Kabur

Fotofobia

Riwayat infeksi

Tanggal pemeriksaan mata paling akhir


Tanggal pemeriksaan glaucoma paling akhir


Dampak pada aktifitas sehari-hari



Telinga
Ya
Tidak
Perubahan pendengaran

Rabas

Tinitus

Vertigo

Sensitivitas pendengaran

Alat-alat prostesa

Riwayat infeksi

Tanggal pemeriksaan paling akhir

Kebiasaan perawatan telinga

Dampak pada aktifitas sehari-hari



Mulut dan Tenggorokan
Ya
Tidak
Sakit tenggorokan


Lesi / ulkus


Serak

Perubahan suara

Kesulitan menelan

Perdarahan gusi

Karies / sudah tanggal

Alat-alat postesa

Riwayat infeksi

Tanggal pemeriksaan gigi terakhir

Pola menggosok gigi
√ 2x sehari

Pola flossing

Masalah dan kebiasaan membersihkan gigi palsu


Hidung dan Sinus
Ya
Tidak
Renorea

Rabas

Epistaksis

Obstruksi

Mendengkur

Nyeri pada sinus

Alergi

Riwayat infeksi

Penilaian dari kemampuan olfaktori


Payudara
Ya
Tidak
Benjolan / massa

Nyeri / nyeri tekan

Bengkak

Keluar cairan dari putting susu

Perubahan pada putting susu

Pola  pemeriksaan payudara sendiri

Tanggal dan hasil memmograph paling akhir


Kardiovaskuler
Ya
Tidak
Nyeri / ketidaknyamanan dada

Palpitasi

Sesak napas
√ malam hari

Dispnea pada aktivitas

Dispnea noktural paroksimal

Murmur

Edema

Varises

Kaki timpang

Parastesia

Perubahan warna kaki




Pernapasan
Ya
Tidak
Batuk
√ kadang

Sesak napas

Hemoptosis

Sputum

Mengi

Asma / alergi pernapasan

Tanggal dan hasil pemeriksaan sinar X terakhir


Gastrointestinal
Ya
Tidak
Disfagia

Tidak dapat mencerna

Nyeri ulu hati

Mual muntah

Hematemesis

Perubahan nafsu makan

Intoleran makanan

Ulkus

Nyeri

Ikterik

Benjolan / massa

Perubahan kebiasaan defekasi

Diare

Konstipasi

Melena

Hemoroid

Perdarahan rectum

Pola defekasi biasanya       


Perkemihan
Ya
Tidak
Disuria

Menetes

Ragu-ragu

Dorongan

Hematuria

Poliuria

Oliguria

Inkotinensis

Nyeri saat berkemih

Batu

Infeksi


Musculoskeletal          
Ya
Tidak
Nyeri persedian

Kekakuan

Pembengkakan sendi

Deformitas

Spasme

Kram

Kelemahan otot

Masalah cara berjalan


Nyeri punggung


Prostesa


Pola latihan olahraga


Dampak pada aktifitas sehari-hari



Sistem Endokrin 
Ya
Tidak
Intoleran terhadap panas

Intoleran terhadap dingin

Goiter

Pigmentasi kulit / tekstur

Perubahan rambut

Polifagia

Polidipsia

Poliuria



Sistem Saraf Pusat
Ya
Tidak
Sakit kepala

Kejang

Sinkope / serangan jantung

Paralisis

Paresis

Masalah koordinasi

Tic / tremor / spasme

Parastesia


Cedera kepala


Masalah memori



Psikososial
Ya
Tidak
Cemas

Depresi

Insomnia

Menangis

Gugup

Takut

Masalah dalam pengambilan keputusan

Kesulitan dalam berkonsentrasi


Mekanisme koping yang digunakan jika ada masalah


Stress saat ini


Persepsi tentang kematian


Dampak pada aktifitas sehari-hari



Skala Depresi Geriatric Yesavage

1.      Apakah anda puas dengan kehidupan anda? Ya
2.      Apakah anda mengurangi hobi atau aktifitas sehari-hari ? Ya
3.      Apakah anda merasa bahwa hidup anda kosong? tidak
4.      Apakah anda sering bosan? Ya
5.      Apakah anda selalu bersemangat? Ya
6.      Apakah anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada anda? tidak
7.      Apakah anda selalu merasa bahagia? Ya
8.      Apakah anda sering merasa putus asa? tidak
9.      Apakah anda lebih suka tinggal dirumah pada malam hari dari pada keluar dan melakukan sesuatu yang baru? Ya
10.  Apakah anda merasa mempunyai lebih banyak masalah dengan ingatan disbanding orang lain? tidak
11.  Apakah anda berpikir bahwa hidup ini sangat menyenangkan? Ya
12.  Apakah anda merasa tidak berguna? Ya
13.  Apakah anda merasa tidak berenergi? Tidak
14.  Apakah anda berpikir bahwa situasi anda tidak ada harapan? tidak
15.  Apakah anda berpikir banyak orang yang lebih baik dari pada anda? Ya

v  Skor 1 poin untuk tiap respon yang sesuai dengan jawaban YA atau TIDAK setelah pertanyaan
v  Skor 5 atau lebih menunjukkan adanya depress


Kesimpulan
           Sesuai dengan Skala Depresi Geriatric Yesavage di atas maka dapat disimpulkan bahwa Tn H tidak mengalami depresi.





BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
            Konstipasi sering diartikan sebagai kurangnya frekuensi buang air besar, biasanya kurang dari 3 kali per minggu dengan feses yang kecil-kecil dan keras dan kadang-kadang disertai kesulitan sampai rasa sakit saat buang air besar (NIDDK, 2000).
            Konstipasi  atau sering disebut sembelit pada lansia  adalah kelainan pada sistem pencernaan di mana seorang lansia mengalami pengerasan feses atau tinja yang berlebihan sehingga sulit untuk dibuang atau dikeluarkan dan dapat menyebabkan kesakitan yang hebat pada lansia.
                        Beberapa keluhan yang mungkin berhubungan dengan konstipasi adalah     (ASCRS,2002) :
1.      Kesulitan memulai dan menyelesaikan BAB.
2.      Mengejan keras saat BAB.
3.      Massa feses yang keras dan sulit keluar.
4.      Perasaan tidak tuntas saat BAB.
5.      Sakit pada daerah rectum saat BAB.
6.      Rasa sakit pada daerah perut saat BAB.
7.      Menggunakan obat-obat pencahar untuk bisa BAB.

2.      Saran

            Lansia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya harus manjaga kebutuhan nutrisi yang seimbang seperti memenuhi asupan cairan yang cukup dan makan makanan yang bergizi dan cukup serat, selain itu lansia harus bisa menjaga aktivitas yang cukup dengan olah raga agar tidak terjadi konstipasi. Sebagai perawat kita harus dapat memberikan arahan dan edukasi kepada lansia dan keluarga tentang pencegahan dan penanganan dini bila terjadi konstipasi.


DAFTAR PUSTAKA

Alimul Aziz. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan.
Perry, Potter. 2005. Fundamental keperawatan, edisi 4, volume 1. Jakarta : EGC
Perry, Potter. 2005. Fundamental keperawatan, edisi 4, volume 2. Jakarta : EGC
Iswadi. 2012. konstipasi-pada-lansia. Web,http://.keperawatangerontik.blogspot.com/2012/06/konstipasi-pada-lansia.html,20 November 2012,16:56




Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Konstipasi"

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete