Iklan adsense

Disqus Shortname

designcart

STRESSOR UMUM HOSPITALISASI PADA USIA BAYI

STRESSOR UMUM HOSPITALISASI PADA USIA BAYI

OLEH :
KELOMPOK I

·     Abdul Rahman syam          syamsul maarif                     
·     Anatasya                             welhelmina de fretes
·     Daniel Darwin mbua           lambertus kopong lolon
·     Didit arifsandi                             vedly Roberth
·     Fanny kainama                   lilian desi Hukom
·     Maria sartiana                     Risnawati
·     onesimus handry                        irfandi syam

PRODI ILMU KEPERAWATAN
STIKES GRAHA EDUKASI
MAKASSAR
2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan tepat pada waktunya.Banyak rintangan dan hambatan yang kelompok hadapi dalam penyusunan makalah ini. Namun berkat bantuan dan dukungan dari teman-teman serta bimbingan dari dosen pembimbing, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini.
Dengan adanya makalah ini di harapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan para pembaca. Penulis juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan dan doa.
Seperti pepatah mengatakan “Tiada gading yang tak retak” begitu pula dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman demi penyempurnaan makalah kelompok kami ini.


                                                                                                                         Penulis



                                                                                                   KELOMPOK 1





BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG

             Mengurangi stersor dan reaksi keluarga terhadap anak yang dihospitalisasi. Karena stresor juga bisa berdampak pada orang tua atau keluarga klien diakibatkan rasa takut,cemas dan frustasi akan keseriusan penyakit yang di derita oleh anggota keluarganya. Pada proses ini perawat melibatkan keluarga dengan cara menciptakankesempatan bagi para anggota keluarga terutama orangtua dari anak tersebut untuk menemani anak dan cara bagi semua anggota keluarga untuk menampilkan kemampuan dan keterampilan yang ada dalam menjalankan fungsinya sebagai keluarga. Sehigga dapat mengurangi rasa cemas akibat perpisahan dengan keluarga pada anak tersebut.Untuk menguragi rasa cemas akibat perpisahan dapat di lakukan dengan cara menerima kehardiran orang tua setiap waktu, melakukan pendekatan kepada klien dengan cara meluangkan waktu secara fisik dekat dengan anak sambil menggunakan suara bernada tenang, pilihan kata yang tepat, kontak mata, dansentuhan dengan cara yang membentuk hubungan dan mengkomunikasikan empati.

B.
Tujuan
Makalah ini di buat guan untuk memenuhi tugas mata kulia “ ILMU Keperawatan” dan untuk menambah wawasan kita mengenai  Stressor hospitalisasi umum pada usia bayi , hal ini penting untuk kita ketahui karena nantinya kitalah yang akan berhubungan langsung dengan pembahasan dalam makalah ini.
                                                                                                                       
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.   DEFENISI

a)  Baby merupakan makhluk hidup mungil calon manusia yang terbentuk dari pertemuan sperma dan sel telur di dalam rahim seorang wanita.
b)  Bayi merupakan manusia yang baru lahir sampai umur 12 bulan, namun tidak ada batasan yang pasti.

B.   CEMAS AKIBAT PERPISAHAN
Hospitalisasi selama kanak-kanak adalah pengalaman yang memiliki efek yang lama kira-kira satu dari tiga anak pernah mengalami hospitalisasi (Fortinas and Warrel, 1995). Hospitalisasi menjadi stresor terbesar bagi anak dan keluarganya yang menimbulkan ketidaknyamanan, jika koping yang biasa digunakan tidak mampu mengatasi atau mengedalikan akan berkembang menjadi krisis. Tetapi besarnya efek tergantung pada masing-masing anak dalam mempersepsikannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi koping anak :
a. Umur dan perkembangan kognitifnya
b. Pengalaman sakit terdahulu
c. Kedekatan anak pada orang tua
d. Lamanya sakit dan seringnya anak dirawat
e. Tipe dan frekwensi tindakan invasif yang dilakukan
f. Tingkat kecemasan orang tua                                                                 
g. Stres yang dialami anak sebelum di rumah sakit
3. Kecemasan anak usia bayi selama dirawat di rumah sakit menurut Hewen Lewer (1996), adalah :
a. Perpisahan dengan orang tua
b. Tidak mengenal petugas dan lingkungan rumah sakit
c. Pembatasan aktifitas dan merasa sebagai hukuman
d. Kehilangan keutuhan/cedera tubuhnya atau nyeri
4. Respon-respon kecemasan pada anak.
Menurut (Borkovee, et all, 1977), reaksi ketakutan dan kecemasan pada anak merupakan suatu yang kompleks, pengorganisasian dari tiga sistem respon yaitu subyektif, motorik dan fisiologi.
Hospitalisasi adalah kebutuhan klien untuk dirawat karena adanya perubahan atau gangguan fisik, psikis, sosial dan adaptasi terhadap lingkungan (Parini, 1999). Hospitalisasi terjadi apabila dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak mengalami suatu gangguan fisik maupun mentalnya yang memungkinkan anak untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Hospitalisasi dapat merupakan satu penyebab stres bagi anak dan keluarganya. Tetapi tingkat stresor terhadap panyakit dan hospitalisasi tersebut berbeda menurut anak secara individu. Mungkin seorang anak menganggap hal itu sebagai hal yang biasa tetapi mungkin yang lainnya menganggap hal tersebut sebagai suatu stresor.
Menurut Sandra R. Mott et all (1990) dampak hospitalisasi pada anak meliputi :
a. Dampak perpisahan
perpisahan dengan orang yang dapat memberinya semangat menimbulkan suatu kecemasan pada anak. Perpisahan dengan figur pemberi kasih sayang selama prosedur yang menakutkan atau menyakitkan akan meningkatkan rasa tidak nyaman pada anak. Lebih jauhnya, anak tidak mampu untuk mengerti bahwa hal tersebut merupakan perpisahan sementara dan alasan ketidakhadiran orang tua berakibat perasaan dibiarkan.
b. Kehilangan kontrol
Hospitalisasi pada anak tanpa melihat usia anak sering menimbulkan kehilangan kontol pada fungsi tubuh tertentu. Anak sering membutuhkan bantuan dalam mengerjakan aktifitas yang dia dapat lakukan sendiri di rumah. Hal ini menyebabkan anak merasa tidak berdaya dan frustasi serta meningkatkn ketergantungan pada orang lain.
c. Gangguan body image
Dimulai pada masa pra sekolah, anak sering merasa tidak nyaman terhadap perubahan penampilan tubuh atau fungsinya yang disebabkan oleh pengobatan, perlukaan, atau ketidakmampuan. Mereka mungkin takut bertemu orang lain dan tidak memperbolehkan orang lain untuk melihatnya.
d. Sakit/pain
prosedur yang menyakitkan dan invasif merupakan stresor bagi anak pada semua usia. Selama masa pra sekolah anak belajar mengasosiasikan nyeri dengan prosedur spesifik misal pengambilan sampel darah, aspirasi sumsum tulang belakang, ganti balutan atau injeksi. Anak yang mendapat suntikan berulang tidak mengerti mengapa tubuhnya selalu disakiti. Pengalaman ini dapat menimbulkan trauma jika orang yang dipercaya anak tidak memberikan rasa nyaman atau menenangkannya.




e. Ketakutan
Terjadinya karena anak berada di lingkungan rumah sakit yang mungkin asing baginya dan karena perpisahan dengan orang-orang yang sudah dikenalnya.
f. Lingkungan Asing
Menurut Wong & Whaley (1996) lingkungan asing merupakan lingkungan yang berbeda dari lingkungan rumah atau tempat tinggalnya dan tidak dikenali sebelumnya. Dalam hal ini adalah lingkungan rumah sakit yang menakutkan atau mengerikan bagi anak, tidak ada orang yang dikenalinya dan banyak terdapat perawat dan dokter yang berbaju putih serta peralatan yang mengerikan seperti jarum suntik, infus, kateter maupun alat-alat pemeriksaan radiologis.
Melestarikan kelanjutan antara lingkungan rumah dan rumah sakit merupakan pemikiran yang sangat penting untuk mengatasi dan meringankan penyakit anak. Tujuannya adalah untuk menyembuhkan (jika mungkin) atau memperbaiki status fisik dan mental sehingga anak dapat berkembang dalam keterbatasannya.
Lingkungan yang ramah, suasana seperti rumah, terbuka pada anak di rumah sakit dan tempat diatur seperti di rumah misalnya seperti tempat makan, tempat minum, duduk dan istirahat sehingga dapat meminimalkan dampak hospitalisasi.
g. Jenis Tindakan/Prosedur
Tindakan/prosedur merupakan pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah ditentukan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal (Carpenito, 1998).
Pelaksanaan tindakan keperawatan dapat dilaksanakan secara langsung yaitu ditangani sendiri oleh perawat yang menemukan masalah kesehatan, dan dapat juga dengan cara delegasi yaitu diserahkan kepada perawat lain atau orang lain yang dapat dipercaya seperti keluarga pasien untuk melakukan tindakan kepada pasien.
Tindakan/prosedur yang menyakitkan merupakan stresor bagi anak pada semua usia. Selama masa pra sekolah anak belajar mengasosiasikan dengan prosedur yang spesifik seperti pengambilan darah, infus, penyuntikan maupun ganti balutan. Pengalaman ini dapat menimbulkan trauma jika orang yang dipercaya tudak memberikan rasa nyaman atau menenangkannya (Mott et al, 1995).
h. Immobilitas Fisik
Immobolitas fisik merupakan pembatasan gerak atau aktifitas dari yang biasanya dilakukan (Carpenito, 1998).
Seorang anak yang di masa pertumbuhan dan perkembangan, dimana dalam kesehariannya ia tampak begitu aktif, harus terganggu karena ia harus dirawat di rumah sakit. Anak harus berbaring di tempat tidur dan tidak dapat bermain dengan teman-teman serta orang-orang terdekatnya. Perilaku anak menjadi tidak kooperatif yang menyebabkan harus diberikan pembatasan fisik dengan cara mengikat.
Bagi anak-anak yang dapat berprilaku kooperatif pengikatan tidak perlu dilaksanakan. Lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga anak tetap merasa aman dengan kelemahan dan kondisinya, untuk meningkatkan kebebasan selama di tempat tidur misalnya dengan meletakkan tempat tidur di dekat pintu dan jendela. Untuk meminimalkan gangguan dalam melakukan aktifitas sehari-hari dapat dibuat jadwal waktu bersama-sama antara anak dan perawat yang akan dipakai pedoman oleh anak dengan tidak mengabaikan kesehatan atau program pengobatan (Depkes, 1998)

 Mengurangi stersor dan reaksi keluarga terhadap anak yang dihospitalisasi. Karena stresor juga bisa berdampak pada orang tua atau keluarga klien diakibatkan rasa takut,cemas dan frustasi akan keseriusan penyakit yang di derita oleh anggota keluarganya :

·         Konsep dasar pada proses family center care
Terdapat 2 konsep dasar pada proses family center care antara lain:

1.       Enabling (melibatkan keluarga)
Stress utama dari masa bayi pertengahan sampai usia prasekolah, terutamauntuk anak-anak yang berusia 6-30 bulan, adalah kecemasaan akibat perpisahan,disebut depresi anak litik. ada beberapa fase perpisahan pada anak yaitu:
                                                                                                                                                               
a.        Fase protesPada fase ini anak-anak bereaksi secara agresif terhadap perpisahandengan orang tua. Mereka menangis dan berteriak memanggil orang tua mereka, menolak perhatian dari orang lain, dan kedudukan mereka tidakdapat ditenangkan.

b.        Fase putus asa Selama fase putus asa, tangisan berhenti, dan muncul depresi. Anak tersebut menjadi kurang begitu aktif, tidak tertarik untuk bermain atau terhadap makana, dan menarik diri dari orang lain.


c.         Fase pelepasan Fase pelepassan disebut juga penyangkalan. Pada tahap ini, secaras uperfisial tampak bahwa anak akhirnya menyesuaikan diri terhadap kehilangan. Anak tersebut menjadi lebih tertarik pada lingkungan sekitar,bermain dengan orang lain, dan tampak membentuk hubungan baru.Akan tetapi perilaku ini merupakan hasil dari kepasrahan dan bukan merupakan tanda-tanda kesenangan.

 Anak memisahkan diri dari orangtua sebagai upaya menghilangkan nyeri emosional karena menginginkan kehadiran yang dangkal dengan orang lain, menjadi makin berpusat padadiri sendiri, dan semakin berhubungan dengan objek materi.Fase-fase tersebut mengakibatkan distress pada orang tua, yang tidakmenyadari arti dari reaksi tersebut. Jika orang tua dianggap pengacau maka orangtua akan menganggap ketidakhadiran mereka sebagai suatu yang bermanfaat bagipenyesuaian dan pemulihan anak. Mereka berespons terhadap perilaku anak dengan hanya tinggal sebentar, tidak sering mengunjungi anak, atau membohongi anak jikatiba saatnya untuk pergi.
                                                                                                                      

 
Pada proses ini perawat melibatkan keluarga dengan cara menciptakankesempatan bagi para anggota keluarga terutama orangtua dari anak tersebut untukmenemani anak dan cara bagi semua anggota keluarga untuk menampilkankemampuan dan keterampilan yang ada dalam menjalankan fungsinya sebagaikeluarga. Sehigga dapat mengurangi rasa cemas akibat perpisahan dengan keluargapada anak tersebut.Untuk menguragi rasa cemas akibat perpisahan dapat di lakukan dengancara menerima kehardiran orang tua setiap waktu, melakukan pendekatan kepadaklien dengan cara meluangkan waktu secara fisik dekat dengan anak sambilmenggunakan suara bernada tenang, pilihan kata yang tepat, kontak mata, dansentuhan dengan cara yang membentuk hubungan dan mengkomunikasikan empati.


2.       Empowering (pengambil keputusan)

Perawat memberikan hak kepada keluarga dalam pengambilan keputusanyang berhubungan dengan masalah kesehatan anaknya dan tidakan-tindakan yangharus dilakukan, namun sebelumnya perawat harus memberikan informasi mengenaikeputusan-keputusan yang seharusnya keluarga putuskan.Pada konsep empowering perawat harus menjalankan fungsinya sebagaipendidik, fasilitator, dan sebagai supervisor pelayanan keperawatan atau sebagaipembina dalam menjalankan sauhan keperawatan untuk menghindari kesenjanganantara keluarga dan unit pelayanan kesehata.Adapun kosep-konsep pendukung lainnya .

                                                                                                                                                                               
:1. Family Strengths (kekuatan keluarga)
Keluarga merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan anak-anak.Perawat mendukung keluarga dalam pengambilan keputusan untuk perawatan anakmereka dan membantu keluarga agar lebih percaya diri dalam menghadapi penyakitanak mereka.

2.              Respect (menghormati)
Keluarga membutuhkan kepercayaan dan dihormati, termasuk menghormatinilai masing-masing keluatga tentang kehatan, kepercayaan, nilai agama, danbudaya. Perawat juga harus menghargai pengetahuan keluarga tentang anakmereka, menngakui otoritas mereka sebagai pengambil keputusan dan menghormatipilihan mereka.



.3. Choice (pilihan)
Perawat menyediakan informasi yang keluarga butuhkan untuk membuat suatu keputusan yang cerdas mengenai pengobatan dan mendukung keputusan yang mereka buat sehingga keluarga mengerti dan mengetahui keuntungan dankerugian dari keputusan yang mereka buat.

4. Information sharing (berbagi informasi)Perawat memberikan informasi medis kepada keluarga mengenai informasipribadi anak mereka. Hal ini bertujuan untuk membangun kepercayaan antaratenaga medis dan keluarga

5. Support (mendukung)Perawat mendukung keluarga dan menghormati keputusan yang merekabuat. Mendukung atau mendorong kemampuan keluarga dalam merawat anakmereka, sehingga keluarga lebih percaya diri.


                                                                                                                                                                               
6. FleksibilitasKeluarga memiliki kepribadian yang berbeda, pengalaman hidup, nilai,kepercayaan, pendidikan dan latar belakang agama dan budaya sehingga familycenter care menekankan bahwa perawat harus fleksibel, tidak membeda-bedakan,sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan preferensi dari semua keluarga.

7. Kolaborasi Sebagai mitra dalam perawatan, staf profesional, dan anggota keluarga bekerjasama sebagai kolabolator dalam kepentingan terbaik anak.






C.   KEHILANGAN KENDALI
                                  

Ketika anak-anak ngambek di tengah sebuah toko ramai, pada acara liburan dengan keluarga besar, atau di rumah, itu bisa membuat Papa dan Mama sangat frustasi. Tetapi orang tua dapat membantu anak belajar mengendalikan diri dan cara untuk menghadapi situasi tersebut.
Mengajar pengendalian diri adalah salah satu hal yang paling penting yang bisa dilakukan orangtua untuk anak-anak mereka karena merupakan keterampilan penting untuk sukses di kemudian hari.

Misalnya, jika Anda mengatakan bahwa Anda tidak melayani permintaan es krim sampai selesai makan malam, anak Anda mungkin menangis, memohon, atau bahkan berteriak dengan harapan  Anda akan mengabulkan.
 Berikut adalah beberapa saran untuk membantu anak-anak belajar mengendalikan perilaku mereka:
A.USIA SAMPAI 2
Bayi dan balita bisa frustasi oleh kesenjangan antara hal-hal yang mereka inginkan dan apa yang mereka bisa lakukan. Mereka sering merespon dengan amarah. Cobalah untuk mencegah ledakan dengan mengalihkan si kecil Anda dengan mainan atau kegiatan lain. Untuk anak-anak diatas umur 2 tahun yang sudah memahami perkataan Anda, cobalah terapkan “timeout” (setrap) di tempat tertentu - seperti kursi dapur- untuk menunjukkan hukuman karena berteriak-teriak, sampai ia menjadi reda dan tenang, baru kemudian ajak bicara baik-baik.
B.Usia 3 sampai 5
 Anda dapat terus menggunakan timeout, tetapi lebih baik menegakkan batas waktu tertentu,  akhiri setelah anak Anda tenang. Hal ini membantu anak-anak meningkatkan pengendalian diri.
C.Usia 6 sampai 9
Sebagai anak-anak sekolah, mereka lebih mampu memahami konsekuensi dan mereka bisa memilih berprilaku baik atau buruk. Ini dapat membantu anak Anda untuk membayangkan perhentian yang harus dipatuhi dan berpikir sebelum menjawab.       
                                                                                                                                                                                                   D.Usia 10 sampai 12
Anak-anak lebih tua biasanya lebih memahami perasaan mereka. Doronglah mereka berpikir tentang apa yang menyebabkan mereka kehilangan kendali dan menganalisanya. Jelaskan bahwa kadang-kadang situasi yang mengecewakan pada awalnya, akhirnya tidak begitu mengerikan. Jelaskan pada anak-anak untuk berpikir sebelum berbuat menanggapi situasi.
E.Usia 13 hingga 17
Sekarang anak-anak harus mampu mengendalikan sebagian besar tindakan mereka. Beritahu mereka agar mereka harus berpikir jangka panjang sebelum melakukan sesuatu. Lebih baik bicara baik-baik daripada kehilangan kendali, membanting pintu, atau berteriak. Jika perlu, disiplinkan remaja Anda dengan jalan tertentu untuk menguatkan pesan bahwa pengendalian diri merupakan keterampilan penting.
·         Ketika Anak Hilang Kendali
 
Mungkin sama sulitnya, menahan keinginan untuk berteriak ketika Anda mendisiplinkan anak-anak Anda. Sebaliknya, Anda haruslah tegas dan sungguh-sungguh. Selama anak-anak ngambek, tetap tenang dan jelaskan bahwa berteriak, membuat ulah, dan membanting pintu adalah perilaku yang tidak dapat diterima yang akan mendapat hukuman - dan katakan apa hukumannya.
                                                                                                      Tindakan Anda akan menunjukkan bahwa amukan tidak akan mendapatkan anak-anak di atas angin. Misalnya, jika anak Anda marah di supermarket setelah Anda menjelaskan mengapa Anda tidak akan membeli permen, jangan menyerah dengan perilaku itu. Ia harus mengerti bahwa kemarahan tidak dapat diterima dan tidak efektif.  
Saran: Sebaiknya buatlah kesepakatan dengan anak sebelum berbelanja jika anda ingin mengajaknya. Misalnya, nanti di toko, adik hanya bisa membeli 1 susu kotak coklat kesukaannya. Dengan adanya kesepakatan, di toko nanti dia tidak akan marah ketika Anda melarangnya mengambil barang lain diluar hal yang telah disepakati.

Juga, pertimbangkan untuk bicara dengan guru anak Anda tentang pengaturan kelas dan perilaku yang sesuai harapan. Tanyakan apakah pemecahan masalah yang diajarkan atau ditunjukkan di sekolah.
Dan model pengendalian diri sendiri yang baik. Jika Anda dalam situasi jengkel dan anak-anak Anda bersama, beritahu mereka mengapa Anda frustrasi dan kemudian membahas solusi untuk masalah ini. Misalnya, jika Anda telah salah menaruh kunci Anda, jangan emosi, katakan pada anak-anak Anda, kunci telah hilang dan anda bisa mencari bersama-sama. Jika mereka tidak ditemukan, gunakan langkah selanjutnya, coba ingat-ingat lagi kapan terakhir Anda membawa kunci itu dan tempat apa yang anda lalui. Tunjukkan bahwa pengendalian emosi yang baik dan pemecahan masalah merupakan cara untuk menghadapi situasi yang sulit.  (Erabaru/art).                                                                                                                                                                                                                                 
D.CEDERA TUBUH & NYERI              
·          Keamanan dan Pencegahan Cedera pada Masa Bayi

A. Aspirasi / tersedak.

Tersedak adalah tersumbatnya trakea seseorang oleh benda asing, muntah, darah, atau cairan lain. Tersedak merupakan keadaan darurat medis.
  •  Cara pencegahan terjadinya sapirasi
  1.  Tidak menaruh benda kecil di tempat yang mudah dijangkau anak.-
  2.  Potong kecil-kecil makanan seperti sosis, anggur, karamel, karena- ukurannya potensial menyumbat jalan napas anak.
  3.  Anak di bawah 4 tahun hendaknya tidak diberi makanan (keras atau lembut) yang bisa menyumbat jalan napas seperti kacang, semangka berbiji, wortel mentah, popcorn, atau permen.
  4.  Para orang tua- juga hendaknya memberi buah yang sudah dikukus bagi bayi yang mulai mengonsumsi makanan padat. Hal ini untuk memudahkan bayi yang masih belajar proses menelan.
  5.  Tunggui anak saat ia makan, ajari- mereka untuk makan sambil duduk. Ajari anak untuk mengunyah yang benar, tidak makan sambil bicara atau berlari-lari.
  6.  Belilah makanan sesuai usia anak, ikuti petunjuk produsennya.
  7. Bila bayi punya kakak, beri tahu sang kakak agar tidak sembarang menaruh mainan yang berukuran kecil.                                                                                                                                                                                                                                    
  8. Simpan kancing, biji-bijian, penutup jarum, dan objek kecil lainnya diluar jangkauan bayi.
  9.  Jangan memberi makanan bayi ketika bayi berbaring.
  10.  Periksa mainan anak akan adanya bagian-bagian yang terlepas.
  11.  Bila menggunakan bedak bayi, simpan diluar jangkauan.
  12.  Buang jauh wadah bahan racun yang digunakan.
  13.  Jangan menyimpan bahan toksik di wadah makanan.
  14.  Pertolongan pertama untuk tersedak adalah menghubungi rumah sakit atau puskesmas setempat menggunakan nomor telepon darurat, lalu membebaskan obstruksi saluran napas menggunakan perasat Heimlich dan/atau pernapasan buatan. Tindakan Heimlich pada bayi atau pada anak dibawah usia lima tahun dilakukan dengan cara segera menelentangkan penderita dipangkuan penolong. Berikan pukulan ringan namun cepat pada punggung penderita diantara kedua tulang belikat sebanyak 4 kali .
·         Lakukan upaya ini beberapa kali hingga penolong yakin benda asing penyebab tersedak telah keluar yang ditandai dengan membaiknya kesadaran penderita, tak tersumbatnya pernafasan yang mengakibatkan rasa lega pada bernafas , hilangnya bunyi mengi pada waktu bernafas. Segera rujukkan kerumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Intubasi adalah prosedur medis lanjutan yang diindikasikan untuk tersedak, yang dapat dilakukan oleh paramedis dalam bidang ini..
·                                                                                                                            B.Sufokasi / mati lemas
Sufokasi atau mati lemas adalah bentuk asfiksia yang merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernafasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbondioksida (hiperkapnea). Dengan demikian organ tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian
·         Cara pencegahan terjadinya sufokasi
  1.  Jangan meninggalkan anak di kamar mandi meskipun hanya sekejap. Jangan menitipkan bayi atau batita kepada kakaknya atau anak yang lebih besar beberapa tahun. Sering kali sang kakak lalai dan terlambat mengetahui adiknya sudah masuk air.
  2.  Tunggui anak selama mereka bermain di dekat air. Jangan tinggalkan mereka walaupun sekejap.
  3.  Tutup sumur dengan penutup yang agak berat dan tidak dapat dibuka atau digeser dengan mudah oleh anak.
  4.  Periksa lingkungan tetangga, apakah ada kolam, sumur, atau kolam ikan.
  5. Bila di rumah ada kolam renang, pasang pagar pengaman di sekeliling kolam dengan pintu yang bisa menutup sendiri. Pasang pula pembatas antara rumah Anda dengan tetangga.                                                                                                          
  6.  Jangan menaruh barang atau mainan di dekat kolam, karena akan menarik perhatian anak untuk mendekati kolam.                                                                                                          
  7.  Jangan ada ember berisi air di sekitar anak.
  • PERTOLONGAN PERTAMA BAYI JATUH
  1. Hati-hati jangan langsung menggendongnya. Pastikan dulu bagaimana
  2. kondisinya!
  3. sederhana,
  4.  Menyaksikan langsung anak terjatuh.Ø
  5.  Perhatikan bagian mana dari tubuh anak yang mengalami benturan.-
  6.  Ingat proses jatuhnya, apakah langsung menghujam ke lantai atau-
  7. terbentur sesuatu terlebih dahulu baru ke lantai.
  8.  Pastikan dari ketinggian berapa meter anak terjatuh dan media apa-
  9. yang menjadi tempat pendaratannya.
  10.  Lihat dan perhatikan baik-baik kondisi si kecil.
  11. jatuh langsung menangis dan menggerak-gerakkan semua anggota
  12. badannya? Jika ya, kita bisa langsung menggendong untuk
  13. menenangkannya. Setelah ia tenang, baru lakukan observasi.

                                                                                                             






ü    BERMAIN DI MASA BAYI :

1.    USIA BAYI
Pada usia bayi terjadi pertumbuhan & perkembangan secara pesat,dia akan lebih suka pada mainan yang menonjol.bayi akan berepon jika bibir di rangsang dengan putting susu,sehingga secara Refleks akan membuka mulut dan meraih putting susu tersebut.
Stimulasi visual merupakan stimulasi awal yang penting pada tahap permulaan perkembangan anak. Anak akan meningkatkan perhatiannya pada lingkungan sekitar melalui penglihatannya. Oleh karena itu orang tua sangat disarankan untuk memberikan mainan berwarna- warni pada usia tiga bulan pertama.
Stimulasi pendengaran (stimulus auditif) sangat penting untuk perkembangan bahasanya.
Memberikan sentuhan (stimulus taktil) yang mencukupi pada anak berarti memberikan kasih sayang yang diperlukan oleh anak. Stimulus ini akan memberikan rasa aman dan percaya diri pada anak sehingga anak akan lebih responsif dan berkembang.
Stimulus kinetik akan membantu anak untuk mengenal lingkungannya yang berbeda.

2.    Umur 1 bulan
·         Visual akan mampu melihat objek dalam jarak yang dekat,dia akan tertarik pada benda-benda yang mempunyai warna mencolok.
·         Auditory,ajak bayi untuk berbicara, dengarkan nasyid dan murotal di telingga bayi.
·         Tactile,berikan bayi kehangatan,peluk dan gendonglah bayi tersebut secara sangat dan mesra.
·         Kinetik , bayi akan menggelayut ketika kita mengajak bayi keliling dengan kreta dorong untuk menikmati udara pagi yang segar.
3.    Umur 2-3 bulan
·     Visual, buat ruangan menjadi terang,tempelkan gambar-gambar yang menarik perhatian bayi,cermin di tembok,ajak bayi untuk memandang ke luar.
·   Auditory,ajak bayi untuk bermain dan ajak berbicara ikut sertakan bayi dalam pertemuan keluarga,kenalakan bayi dengan semua anggota keluarga.
·   Tactile, belai bayi waktu memandikan/mengganti popok,sisr rambut dengan lembut,gosok dengan locition/bedak.

·   Kinetic,ajak jalan-jalan dengan kereta,gerak-gerakan berenang waktu memandikan.

4.    Umur 4-6 bulan
·   Visual berikan cermin,ajak untuk nonton TV,berikan mainan warna terang,
·   Auditory, ajak untuk berbicra,ulangi suara-suara yang di ucapkan leh bayi dengan kata-kata kita,panggil bayi dengan namanya secara mesra,remas kertas di dekat telinga untuk mengetahui fungsi pendengaran bayi,pegang mainan den bunyikan serta lihat reaksi bayi.
·   Tactile berikan mainan sesuai teksture,lembut,kasar,mandikan bayi dengan cara cemplung/cebur ke bak mandi.
·   Kinetic bantu untuk tengkurap,sokong waktu bayi berusaha untuk duduk.
5.    Umur 6-9 bulan
·         Visual,mainan warna,gerak,bunyi yang lebih besar,kaca cermin,bicara sendiri, main petak umpet,berikan kertas untuk di robek-robek.
·         Auditory panggil nama ayah dan ibu, nama-nama anggota tubuh,beri tau bayi apa yang sedang anda lakukan saat ini,ajarkan tepuk tangan,berikan perintah sederhana.
·         Tactile, meraba bermacam-macam teksture,macam ukuran,main yang mengalir,berenang.
·         Kinetic, gunakan baby Walker, letakkan mainan agak jauh dari bayi lalu suruh untuk mengambilnya.

6.    Umur 9-12 bulan
·         Visual, perlihatkan gambar yang lucu,ajak ke berbagai tempat keramaian bermain bola,tunjukan bangunan-bangunan yang agak jauh.
·         Auditory,tunjukan kegiatan-kegiatan dari tubuh,kenalkan dengan suara binatang.
·         Tactile,berikan makanan yang dapat di pegang sendiri,kenalkan pada keadaan dingin atau panas .
·         Kinetic,berikan mainan yang dapt di taruh atau di dorong.






BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN

§  Baby merupakan makhluk hidup mungil calon manusia yang terbentuk dari pertemuan sperma dan sel telur di dalam rahim seorang wanita.
§  Bayi merupakan manusia yang baru lahir sampai umur 12 bulan, namun tidak ada batasan yang pasti.
Hospitalisasi selama kanak-kanak adalah pengalaman yang memiliki efek yang lama kira-kira satu dari tiga anak pernah mengalami hospitalisasi (Fortinas and Warrel, 1995). Hospitalisasi menjadi stresor terbesar bagi anak dan keluarganya yang menimbulkan ketidaknyamanan, jika koping yang biasa digunakan tidak mampu mengatasi atau mengedalikan akan berkembang menjadi krisis. Tetapi besarnya efek tergantung pada masing-masing anak dalam mempersepsikannya.
B.   SARAN

Dari kesimpulan yang ada maka kita sebagai perawat atau calon perawat harus terus dapat memahami bagaimana kehidupan pada masa bayi yang bertumbuh,dan membentuk seorang makhluk hidup yang sempurna dan di berikan oleh TUHAN untuk orang tua kita.



DAFTAR PUSTAKA




§  sastroasmoro,S,2007, “Membina Tumbuh kembang bayi dan balita panduan untuk orangtua”,badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia,Jakarta
§  soetjiningsih, 1998 , “Tumbuh kembang anak” , Penerbit buku kedokteran EGC,Jakarta.
§  Suryani.E, Widyasih.H, 2008 ,’ psikologi ibu dan anak”, Fitramaya,Yogjakarta.













Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "STRESSOR UMUM HOSPITALISASI PADA USIA BAYI"

Post a Comment