STRESSOR UMUM HOSPITALISASI PADA USIA BAYI
STRESSOR UMUM HOSPITALISASI PADA USIA BAYI
OLEH :
KELOMPOK I
· Abdul Rahman syam syamsul maarif
· Anatasya welhelmina
de fretes
· Daniel Darwin mbua lambertus kopong lolon
· Didit arifsandi vedly Roberth
· Fanny kainama lilian
desi Hukom
· Maria sartiana Risnawati
· onesimus handry irfandi syam
PRODI ILMU KEPERAWATAN
STIKES GRAHA EDUKASI
MAKASSAR
2012
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan tepat pada
waktunya.Banyak rintangan dan hambatan yang kelompok hadapi dalam penyusunan
makalah ini. Namun berkat bantuan dan dukungan dari teman-teman serta bimbingan
dari dosen pembimbing, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini.
Dengan
adanya makalah ini di harapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran dan
dapat menambah pengetahuan para pembaca. Penulis juga tidak lupa mengucapkan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan
dan doa.
Seperti
pepatah mengatakan “Tiada gading yang tak retak” begitu pula dalam penyusunan
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami mengharapkan kritik
dan saran dari teman-teman demi penyempurnaan makalah kelompok kami ini.
Penulis
KELOMPOK
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Mengurangi stersor dan reaksi
keluarga terhadap anak yang dihospitalisasi. Karena stresor juga bisa berdampak
pada orang tua atau keluarga klien diakibatkan rasa takut,cemas dan frustasi akan keseriusan penyakit yang
di derita oleh anggota keluarganya. Pada proses ini perawat melibatkan
keluarga dengan cara menciptakankesempatan bagi para anggota keluarga terutama
orangtua dari anak tersebut untuk menemani
anak dan cara bagi semua anggota keluarga untuk menampilkan kemampuan dan
keterampilan yang ada dalam menjalankan fungsinya sebagai keluarga. Sehigga
dapat mengurangi rasa cemas akibat perpisahan dengan keluarga pada anak
tersebut.Untuk menguragi rasa cemas akibat
perpisahan dapat di lakukan dengan cara menerima kehardiran orang tua
setiap waktu, melakukan pendekatan kepada klien dengan cara meluangkan waktu
secara fisik dekat dengan anak sambil menggunakan suara bernada tenang, pilihan
kata yang tepat, kontak mata, dansentuhan
dengan cara yang membentuk hubungan dan mengkomunikasikan empati.
B. Tujuan
Makalah ini di buat guan untuk memenuhi
tugas mata kulia “ ILMU Keperawatan” dan untuk menambah wawasan kita
mengenai Stressor hospitalisasi umum
pada usia bayi , hal ini penting untuk kita ketahui karena nantinya kitalah
yang akan berhubungan langsung dengan pembahasan dalam makalah ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
DEFENISI
a) Baby
merupakan makhluk hidup mungil calon manusia yang terbentuk dari pertemuan
sperma dan sel telur di dalam rahim seorang wanita.
b) Bayi merupakan manusia yang baru lahir sampai
umur 12 bulan, namun tidak ada batasan yang pasti.
B.
CEMAS
AKIBAT PERPISAHAN
Hospitalisasi selama kanak-kanak adalah pengalaman yang
memiliki efek yang lama kira-kira satu dari tiga anak pernah mengalami
hospitalisasi (Fortinas and Warrel, 1995). Hospitalisasi menjadi stresor
terbesar bagi anak dan keluarganya yang menimbulkan ketidaknyamanan, jika
koping yang biasa digunakan tidak mampu mengatasi atau mengedalikan akan
berkembang menjadi krisis. Tetapi besarnya efek tergantung pada masing-masing
anak dalam mempersepsikannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi koping anak :
a. Umur dan perkembangan kognitifnya
b. Pengalaman sakit terdahulu
c. Kedekatan anak pada orang tua
d. Lamanya sakit dan seringnya anak dirawat
e. Tipe dan frekwensi tindakan invasif yang dilakukan
f. Tingkat kecemasan orang tua
g. Stres yang dialami anak sebelum di rumah sakit
3. Kecemasan anak usia bayi selama dirawat di rumah sakit
menurut Hewen Lewer (1996), adalah :
a. Perpisahan dengan orang tua
b. Tidak mengenal petugas dan lingkungan rumah sakit
c. Pembatasan aktifitas dan merasa sebagai hukuman
d. Kehilangan keutuhan/cedera tubuhnya atau nyeri
4. Respon-respon kecemasan pada anak.
Menurut (Borkovee, et all, 1977), reaksi ketakutan dan
kecemasan pada anak merupakan suatu yang kompleks, pengorganisasian dari tiga
sistem respon yaitu subyektif, motorik dan fisiologi.
Hospitalisasi adalah kebutuhan klien untuk dirawat karena
adanya perubahan atau gangguan fisik, psikis, sosial dan adaptasi terhadap
lingkungan (Parini, 1999). Hospitalisasi terjadi apabila dalam masa pertumbuhan
dan perkembangan anak mengalami suatu gangguan fisik maupun mentalnya yang
memungkinkan anak untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Hospitalisasi dapat merupakan satu penyebab stres bagi
anak dan keluarganya. Tetapi tingkat stresor terhadap panyakit dan
hospitalisasi tersebut berbeda menurut anak secara individu. Mungkin seorang
anak menganggap hal itu sebagai hal yang biasa tetapi mungkin yang lainnya
menganggap hal tersebut sebagai suatu stresor.
Menurut Sandra R. Mott et all (1990) dampak hospitalisasi
pada anak meliputi :
a. Dampak perpisahan
perpisahan dengan orang yang dapat memberinya semangat
menimbulkan suatu kecemasan pada anak. Perpisahan dengan figur pemberi kasih
sayang selama prosedur yang menakutkan atau menyakitkan akan meningkatkan rasa
tidak nyaman pada anak. Lebih jauhnya, anak tidak mampu untuk mengerti bahwa
hal tersebut merupakan perpisahan sementara dan alasan ketidakhadiran orang tua
berakibat perasaan dibiarkan.
b. Kehilangan kontrol
Hospitalisasi pada anak tanpa melihat usia anak sering
menimbulkan kehilangan kontol pada fungsi tubuh tertentu. Anak sering
membutuhkan bantuan dalam mengerjakan aktifitas yang dia dapat lakukan sendiri
di rumah. Hal ini menyebabkan anak merasa tidak berdaya dan frustasi serta
meningkatkn ketergantungan pada orang lain.
c. Gangguan body image
Dimulai pada masa pra sekolah, anak sering merasa tidak
nyaman terhadap perubahan penampilan tubuh atau fungsinya yang disebabkan oleh
pengobatan, perlukaan, atau ketidakmampuan. Mereka mungkin takut bertemu orang
lain dan tidak memperbolehkan orang lain untuk melihatnya.
d. Sakit/pain
prosedur yang menyakitkan dan invasif merupakan stresor
bagi anak pada semua usia. Selama masa pra sekolah anak belajar mengasosiasikan
nyeri dengan prosedur spesifik misal pengambilan sampel darah, aspirasi sumsum
tulang belakang, ganti balutan atau injeksi. Anak yang mendapat suntikan
berulang tidak mengerti mengapa tubuhnya selalu disakiti. Pengalaman ini dapat
menimbulkan trauma jika orang yang dipercaya anak tidak memberikan rasa nyaman
atau menenangkannya.
e. Ketakutan
Terjadinya karena anak berada di lingkungan rumah sakit
yang mungkin asing baginya dan karena perpisahan dengan orang-orang yang sudah
dikenalnya.
f. Lingkungan Asing
Menurut Wong & Whaley (1996) lingkungan asing
merupakan lingkungan yang berbeda dari lingkungan rumah atau tempat tinggalnya
dan tidak dikenali sebelumnya. Dalam hal ini adalah lingkungan rumah sakit yang
menakutkan atau mengerikan bagi anak, tidak ada orang yang dikenalinya dan
banyak terdapat perawat dan dokter yang berbaju putih serta peralatan yang
mengerikan seperti jarum suntik, infus, kateter maupun alat-alat pemeriksaan
radiologis.
Melestarikan kelanjutan antara lingkungan rumah dan rumah
sakit merupakan pemikiran yang sangat penting untuk mengatasi dan meringankan
penyakit anak. Tujuannya adalah untuk menyembuhkan (jika mungkin) atau
memperbaiki status fisik dan mental sehingga anak dapat berkembang dalam
keterbatasannya.
Lingkungan yang ramah, suasana seperti rumah, terbuka
pada anak di rumah sakit dan tempat diatur seperti di rumah misalnya seperti
tempat makan, tempat minum, duduk dan istirahat sehingga dapat meminimalkan
dampak hospitalisasi.
g. Jenis Tindakan/Prosedur
Tindakan/prosedur merupakan pelaksanaan dari perencanaan
keperawatan yang telah ditentukan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan
pasien secara optimal (Carpenito, 1998).
Pelaksanaan tindakan keperawatan dapat dilaksanakan
secara langsung yaitu ditangani sendiri oleh perawat yang menemukan masalah
kesehatan, dan dapat juga dengan cara delegasi yaitu diserahkan kepada perawat
lain atau orang lain yang dapat dipercaya seperti keluarga pasien untuk
melakukan tindakan kepada pasien.
Tindakan/prosedur yang menyakitkan merupakan stresor bagi
anak pada semua usia. Selama masa pra sekolah anak belajar mengasosiasikan
dengan prosedur yang spesifik seperti pengambilan darah, infus, penyuntikan
maupun ganti balutan. Pengalaman ini dapat menimbulkan trauma jika orang yang
dipercaya tudak memberikan rasa nyaman atau menenangkannya (Mott et al, 1995).
h. Immobilitas Fisik
Immobolitas fisik merupakan pembatasan gerak atau
aktifitas dari yang biasanya dilakukan (Carpenito, 1998).
Seorang anak yang di masa pertumbuhan dan perkembangan,
dimana dalam kesehariannya ia tampak begitu aktif, harus terganggu karena ia
harus dirawat di rumah sakit. Anak harus berbaring di tempat tidur dan tidak
dapat bermain dengan teman-teman serta orang-orang terdekatnya. Perilaku anak
menjadi tidak kooperatif yang menyebabkan harus diberikan pembatasan fisik
dengan cara mengikat.
Bagi anak-anak yang dapat berprilaku kooperatif
pengikatan tidak perlu dilaksanakan. Lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga
anak tetap merasa aman dengan kelemahan dan kondisinya, untuk meningkatkan
kebebasan selama di tempat tidur misalnya dengan meletakkan tempat tidur di
dekat pintu dan jendela. Untuk meminimalkan gangguan dalam melakukan aktifitas
sehari-hari dapat dibuat jadwal waktu bersama-sama antara anak dan perawat yang
akan dipakai pedoman oleh anak dengan tidak mengabaikan kesehatan atau program
pengobatan (Depkes, 1998)
Mengurangi stersor dan reaksi keluarga
terhadap anak yang dihospitalisasi. Karena stresor juga bisa berdampak pada
orang tua atau keluarga klien diakibatkan rasa takut,cemas dan frustasi akan keseriusan penyakit yang di derita oleh anggota
keluarganya :
·
Konsep dasar pada proses family
center care
Terdapat 2 konsep dasar pada proses family center care antara lain:
1.
Enabling (melibatkan keluarga)
Stress utama dari masa bayi pertengahan sampai usia
prasekolah, terutamauntuk anak-anak yang
berusia 6-30 bulan, adalah kecemasaan akibat perpisahan,disebut depresi anak
litik. ada beberapa fase perpisahan pada anak yaitu:
a.
Fase protesPada
fase ini anak-anak bereaksi secara agresif terhadap perpisahandengan orang tua.
Mereka menangis dan berteriak memanggil orang tua mereka, menolak perhatian
dari orang lain, dan kedudukan mereka tidakdapat ditenangkan.
b.
Fase putus asa Selama fase putus asa, tangisan
berhenti, dan muncul depresi. Anak tersebut menjadi kurang begitu aktif, tidak
tertarik untuk bermain atau terhadap makana,
dan menarik diri dari orang lain.
c.
Fase pelepasan Fase pelepassan disebut juga
penyangkalan. Pada tahap ini, secaras uperfisial tampak bahwa anak akhirnya
menyesuaikan diri terhadap kehilangan. Anak tersebut menjadi lebih tertarik pada
lingkungan sekitar,bermain dengan orang
lain, dan tampak membentuk hubungan baru.Akan tetapi perilaku ini merupakan
hasil dari kepasrahan dan bukan merupakan tanda-tanda kesenangan.
Anak
memisahkan diri dari orangtua sebagai upaya menghilangkan nyeri emosional
karena menginginkan kehadiran yang dangkal dengan orang lain, menjadi
makin berpusat padadiri sendiri, dan semakin
berhubungan dengan objek materi.Fase-fase tersebut mengakibatkan
distress pada orang tua, yang tidakmenyadari arti dari reaksi tersebut. Jika
orang tua dianggap pengacau maka orangtua akan menganggap ketidakhadiran mereka
sebagai suatu yang bermanfaat bagipenyesuaian
dan pemulihan anak. Mereka berespons terhadap perilaku anak dengan hanya
tinggal sebentar, tidak sering mengunjungi anak, atau membohongi anak jikatiba
saatnya untuk pergi.
Pada proses
ini perawat melibatkan keluarga dengan cara menciptakankesempatan bagi para
anggota keluarga terutama orangtua dari anak tersebut untukmenemani anak dan cara bagi semua anggota keluarga
untuk menampilkankemampuan dan keterampilan yang ada dalam menjalankan
fungsinya sebagaikeluarga. Sehigga dapat mengurangi rasa cemas akibat
perpisahan dengan keluargapada anak tersebut.Untuk menguragi rasa cemas akibat perpisahan dapat di lakukan dengancara
menerima kehardiran orang tua setiap waktu, melakukan pendekatan kepadaklien
dengan cara meluangkan waktu secara fisik dekat dengan anak sambilmenggunakan
suara bernada tenang, pilihan kata yang tepat, kontak mata, dansentuhan dengan cara yang membentuk hubungan dan
mengkomunikasikan empati.
2.
Empowering (pengambil keputusan)
Perawat
memberikan hak kepada keluarga dalam pengambilan keputusanyang berhubungan
dengan masalah kesehatan anaknya dan tidakan-tindakan yangharus dilakukan,
namun sebelumnya perawat harus memberikan informasi mengenaikeputusan-keputusan
yang seharusnya keluarga putuskan.Pada
konsep empowering perawat harus menjalankan fungsinya sebagaipendidik,
fasilitator, dan sebagai supervisor pelayanan keperawatan atau sebagaipembina dalam menjalankan sauhan keperawatan untuk
menghindari kesenjanganantara keluarga dan unit pelayanan kesehata.Adapun
kosep-konsep pendukung lainnya .
:1. Family
Strengths (kekuatan keluarga)
Keluarga merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan
anak-anak.Perawat mendukung keluarga dalam pengambilan keputusan untuk
perawatan anakmereka dan membantu keluarga agar lebih percaya diri dalam
menghadapi penyakitanak mereka.
2.
Respect (menghormati)
Keluarga membutuhkan kepercayaan dan dihormati, termasuk menghormatinilai masing-masing keluatga tentang kehatan,
kepercayaan, nilai agama, danbudaya. Perawat juga harus menghargai pengetahuan
keluarga tentang anakmereka, menngakui otoritas mereka sebagai pengambil
keputusan dan menghormatipilihan mereka.
.3. Choice (pilihan)
Perawat
menyediakan informasi yang keluarga butuhkan untuk membuat suatu keputusan yang
cerdas mengenai pengobatan dan mendukung keputusan yang mereka buat sehingga
keluarga mengerti dan mengetahui keuntungan dankerugian dari keputusan yang mereka buat.
4.
Information sharing (berbagi informasi)Perawat
memberikan informasi medis kepada keluarga mengenai informasipribadi
anak mereka. Hal ini bertujuan untuk membangun kepercayaan antaratenaga medis dan keluarga
5. Support
(mendukung)Perawat mendukung keluarga dan menghormati keputusan yang merekabuat. Mendukung atau mendorong kemampuan keluarga
dalam merawat anakmereka, sehingga keluarga lebih percaya diri.
6.
FleksibilitasKeluarga memiliki kepribadian
yang berbeda, pengalaman hidup, nilai,kepercayaan, pendidikan dan latar
belakang agama dan budaya sehingga familycenter care menekankan bahwa perawat
harus fleksibel, tidak membeda-bedakan,sehingga
dapat memenuhi kebutuhan dan preferensi dari semua keluarga.
7. Kolaborasi Sebagai mitra dalam perawatan, staf profesional, dan
anggota keluarga bekerjasama sebagai
kolabolator dalam kepentingan terbaik anak.
C.
KEHILANGAN
KENDALI
|
Ketika anak-anak ngambek di tengah
sebuah toko ramai, pada acara liburan dengan keluarga besar, atau di rumah,
itu bisa membuat Papa dan Mama sangat frustasi. Tetapi orang tua dapat
membantu anak belajar mengendalikan diri dan cara untuk menghadapi situasi
tersebut.
Mengajar pengendalian diri adalah
salah satu hal yang paling penting yang bisa dilakukan orangtua untuk
anak-anak mereka karena merupakan keterampilan penting untuk sukses di
kemudian hari.
Misalnya, jika Anda mengatakan bahwa Anda tidak melayani permintaan es krim sampai selesai makan malam, anak Anda mungkin menangis, memohon, atau bahkan berteriak dengan harapan Anda akan mengabulkan.
Berikut adalah beberapa saran untuk membantu
anak-anak belajar mengendalikan perilaku mereka:
A.USIA SAMPAI 2
Bayi dan balita bisa frustasi oleh
kesenjangan antara hal-hal yang mereka inginkan dan apa yang mereka bisa
lakukan. Mereka sering merespon dengan amarah. Cobalah untuk mencegah ledakan
dengan mengalihkan si kecil Anda dengan mainan atau kegiatan lain. Untuk
anak-anak diatas umur 2 tahun yang sudah memahami perkataan Anda, cobalah
terapkan “timeout” (setrap) di tempat tertentu - seperti kursi dapur-
untuk menunjukkan hukuman karena berteriak-teriak, sampai ia menjadi reda dan
tenang, baru kemudian ajak bicara baik-baik.
B.Usia 3
sampai 5
Anda dapat terus menggunakan timeout, tetapi lebih
baik menegakkan batas waktu tertentu, akhiri setelah anak Anda tenang.
Hal ini membantu anak-anak meningkatkan pengendalian diri.
C.Usia 6 sampai 9
Sebagai anak-anak sekolah, mereka
lebih mampu memahami konsekuensi dan mereka bisa memilih berprilaku baik atau
buruk. Ini dapat membantu anak Anda untuk membayangkan perhentian yang harus
dipatuhi dan berpikir sebelum menjawab.
D.Usia
10 sampai 12
Anak-anak lebih tua biasanya lebih
memahami perasaan mereka. Doronglah mereka berpikir tentang apa yang
menyebabkan mereka kehilangan kendali dan menganalisanya. Jelaskan bahwa
kadang-kadang situasi yang mengecewakan pada awalnya, akhirnya tidak begitu
mengerikan. Jelaskan pada anak-anak untuk berpikir sebelum berbuat menanggapi
situasi.
E.Usia 13 hingga 17
Sekarang anak-anak harus mampu
mengendalikan sebagian besar tindakan mereka. Beritahu mereka agar mereka
harus berpikir jangka panjang sebelum melakukan sesuatu. Lebih baik bicara
baik-baik daripada kehilangan kendali, membanting pintu, atau berteriak. Jika
perlu, disiplinkan remaja Anda dengan jalan tertentu untuk menguatkan pesan
bahwa pengendalian diri merupakan keterampilan penting.
·
Ketika
Anak Hilang Kendali
Mungkin sama sulitnya, menahan keinginan untuk berteriak ketika Anda mendisiplinkan anak-anak Anda. Sebaliknya, Anda haruslah tegas dan sungguh-sungguh. Selama anak-anak ngambek, tetap tenang dan jelaskan bahwa berteriak, membuat ulah, dan membanting pintu adalah perilaku yang tidak dapat diterima yang akan mendapat hukuman - dan katakan apa hukumannya.
Tindakan
Anda akan menunjukkan bahwa amukan tidak akan mendapatkan anak-anak di atas
angin. Misalnya, jika anak Anda marah di supermarket setelah Anda menjelaskan
mengapa Anda tidak akan membeli permen, jangan menyerah dengan perilaku itu.
Ia harus mengerti bahwa kemarahan tidak dapat diterima dan tidak efektif.
Saran: Sebaiknya buatlah
kesepakatan dengan anak sebelum berbelanja jika anda ingin mengajaknya.
Misalnya, nanti di toko, adik hanya bisa membeli 1 susu kotak coklat
kesukaannya. Dengan adanya kesepakatan, di toko nanti dia tidak akan marah
ketika Anda melarangnya mengambil barang lain diluar hal yang telah
disepakati.
Juga, pertimbangkan untuk bicara
dengan guru anak Anda tentang pengaturan kelas dan perilaku yang sesuai
harapan. Tanyakan apakah pemecahan masalah yang diajarkan atau ditunjukkan di
sekolah.
Dan model pengendalian diri
sendiri yang baik. Jika Anda dalam situasi jengkel dan anak-anak Anda
bersama, beritahu mereka mengapa Anda frustrasi dan kemudian membahas solusi
untuk masalah ini. Misalnya, jika Anda telah salah menaruh kunci Anda, jangan
emosi, katakan pada anak-anak Anda, kunci telah hilang dan anda bisa mencari
bersama-sama. Jika mereka tidak ditemukan, gunakan langkah selanjutnya, coba
ingat-ingat lagi kapan terakhir Anda membawa kunci itu dan tempat apa yang
anda lalui. Tunjukkan bahwa pengendalian emosi yang baik dan pemecahan
masalah merupakan cara untuk menghadapi situasi yang sulit.
(Erabaru/art).
D.CEDERA TUBUH & NYERI
·
Keamanan dan Pencegahan Cedera pada Masa
Bayi
A. Aspirasi / tersedak.
Tersedak adalah tersumbatnya
trakea seseorang oleh benda asing, muntah, darah, atau cairan lain. Tersedak merupakan
keadaan darurat medis.
·
Lakukan
upaya ini beberapa kali hingga penolong yakin benda asing penyebab tersedak
telah keluar yang ditandai dengan membaiknya kesadaran penderita, tak
tersumbatnya pernafasan yang mengakibatkan rasa lega pada bernafas ,
hilangnya bunyi mengi pada waktu bernafas. Segera rujukkan kerumah sakit
untuk pemeriksaan lebih lanjut. Intubasi adalah prosedur medis lanjutan yang
diindikasikan untuk tersedak, yang dapat dilakukan oleh paramedis dalam
bidang ini..
·
B.Sufokasi / mati
lemas
Sufokasi atau mati lemas adalah bentuk asfiksia yang
merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran
udara pernafasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai
dengan peningkatan karbondioksida (hiperkapnea). Dengan demikian organ tubuh
mengalami kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian
·
Cara
pencegahan terjadinya sufokasi
ü BERMAIN
DI MASA BAYI
:
1.
USIA
BAYI
Pada usia bayi terjadi pertumbuhan
& perkembangan secara pesat,dia akan lebih suka pada mainan yang
menonjol.bayi akan berepon jika bibir di rangsang dengan putting susu,sehingga
secara Refleks akan membuka mulut dan meraih putting susu tersebut.
Stimulasi visual merupakan stimulasi awal yang
penting pada tahap permulaan perkembangan anak. Anak akan meningkatkan
perhatiannya pada lingkungan sekitar melalui penglihatannya. Oleh karena itu
orang tua sangat disarankan untuk memberikan mainan berwarna- warni pada usia
tiga bulan pertama.
Stimulasi pendengaran (stimulus auditif) sangat penting
untuk perkembangan bahasanya.
Memberikan sentuhan (stimulus taktil) yang mencukupi
pada anak berarti memberikan kasih sayang yang diperlukan oleh anak. Stimulus
ini akan memberikan rasa aman dan percaya diri pada anak sehingga anak akan
lebih responsif dan berkembang.
Stimulus kinetik akan membantu anak untuk mengenal
lingkungannya yang berbeda.
2.
Umur
1 bulan
·
Visual
akan mampu melihat objek dalam jarak yang dekat,dia akan tertarik pada
benda-benda yang mempunyai warna mencolok.
·
Auditory,ajak
bayi untuk berbicara, dengarkan nasyid dan murotal di telingga bayi.
·
Tactile,berikan
bayi kehangatan,peluk dan gendonglah bayi tersebut secara sangat dan mesra.
·
Kinetik
, bayi akan menggelayut ketika kita mengajak bayi keliling dengan kreta
dorong untuk menikmati udara pagi yang segar.
3.
Umur
2-3 bulan
·
Visual, buat ruangan menjadi
terang,tempelkan gambar-gambar yang menarik perhatian bayi,cermin di
tembok,ajak bayi untuk memandang ke luar.
·
Auditory,ajak
bayi untuk bermain dan ajak berbicara ikut sertakan bayi dalam pertemuan
keluarga,kenalakan bayi dengan semua anggota keluarga.
·
Tactile,
belai bayi waktu memandikan/mengganti popok,sisr rambut dengan lembut,gosok
dengan locition/bedak.
·
Kinetic,ajak
jalan-jalan dengan kereta,gerak-gerakan berenang waktu memandikan.
4.
Umur
4-6 bulan
· Visual berikan cermin,ajak untuk
nonton TV,berikan mainan warna terang,
· Auditory, ajak untuk
berbicra,ulangi suara-suara yang di ucapkan leh bayi dengan kata-kata kita,panggil
bayi dengan namanya secara mesra,remas kertas di dekat telinga untuk
mengetahui fungsi pendengaran bayi,pegang mainan den bunyikan serta lihat
reaksi bayi.
· Tactile berikan mainan sesuai
teksture,lembut,kasar,mandikan bayi dengan cara cemplung/cebur ke bak mandi.
· Kinetic bantu untuk
tengkurap,sokong waktu bayi berusaha untuk duduk.
5.
Umur
6-9 bulan
·
Visual,mainan
warna,gerak,bunyi yang lebih besar,kaca cermin,bicara sendiri, main petak
umpet,berikan kertas untuk di robek-robek.
·
Auditory
panggil nama ayah dan ibu, nama-nama anggota tubuh,beri tau bayi apa yang
sedang anda lakukan saat ini,ajarkan tepuk tangan,berikan perintah sederhana.
·
Tactile,
meraba bermacam-macam teksture,macam ukuran,main yang mengalir,berenang.
·
Kinetic,
gunakan baby Walker, letakkan mainan agak jauh dari bayi lalu suruh untuk
mengambilnya.
6. Umur 9-12 bulan
·
Visual,
perlihatkan gambar yang lucu,ajak ke berbagai tempat keramaian bermain
bola,tunjukan bangunan-bangunan yang agak jauh.
·
Auditory,tunjukan
kegiatan-kegiatan dari tubuh,kenalkan dengan suara binatang.
·
Tactile,berikan
makanan yang dapat di pegang sendiri,kenalkan pada keadaan dingin atau panas
.
·
Kinetic,berikan
mainan yang dapt di taruh atau di dorong.
BAB
III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
§ Baby
merupakan makhluk hidup mungil calon manusia yang terbentuk dari pertemuan
sperma dan sel telur di dalam rahim seorang wanita.
§ Bayi merupakan manusia yang
baru lahir sampai umur 12 bulan, namun tidak ada batasan yang pasti.
Hospitalisasi
selama kanak-kanak adalah pengalaman yang memiliki efek yang lama kira-kira
satu dari tiga anak pernah mengalami hospitalisasi (Fortinas and Warrel,
1995). Hospitalisasi menjadi stresor terbesar bagi anak dan keluarganya yang
menimbulkan ketidaknyamanan, jika koping yang biasa digunakan tidak mampu
mengatasi atau mengedalikan akan berkembang menjadi krisis. Tetapi besarnya
efek tergantung pada masing-masing anak dalam mempersepsikannya.
B. SARAN
Dari
kesimpulan yang ada maka kita sebagai perawat atau calon perawat harus terus
dapat memahami bagaimana kehidupan pada masa bayi yang
bertumbuh,dan membentuk seorang makhluk hidup yang sempurna dan di berikan
oleh TUHAN untuk orang tua kita.
DAFTAR PUSTAKA
§ sastroasmoro,S,2007, “Membina Tumbuh kembang bayi dan balita
panduan untuk orangtua”,badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia,Jakarta
§ soetjiningsih, 1998 , “Tumbuh kembang anak” , Penerbit buku
kedokteran EGC,Jakarta.
§ Suryani.E, Widyasih.H, 2008 ,’ psikologi ibu dan anak”,
Fitramaya,Yogjakarta.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
0 Response to "STRESSOR UMUM HOSPITALISASI PADA USIA BAYI"
Post a Comment