Hospitalisasi Pada Anak Usia Toddler dan Prasekolah
KATA PENGANTAR
Penyusun ucapkan Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga
Makalah ini dapat terwujud. Paparan
materi yang saya sajikan dalam Makalah ini mengacu pada “Hospitalisasi Pada Anak Usia
Toddler dan Prasekolah”
Makalah ini kami buat dengan sebaik- baiknya agar dapat dimengerti
oleh seluruh pembacanya. Namun saya sadar bahwa Makalah ini masih banyak
kekurangannya, sehingga saran pembaca sangat saya harapkan untuk pembuatan
Makalah selanjutnya.
Kami mengucapkan
banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu sehinnga makalah ini dapat
terselesaikan pada waktu yang telah ditentukan
Harapan penyusun
kiranya Makalah ini bermanfaat serta dapat meningkatkan mutu dan daya saing
pendidikan kesehatan.
Makassar,Mei
2012
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………………..1
DAFTAR ISI………………………………………………………………………….2
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG…………………………………………………………3
B. RUMUSAN MASALAH……………………………………………………..5
C. TUJUAN……………………………………………………………………...5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. TODDLER……………………………………………………………………6
B. PRASEKOLAH………………………………………………………………8
C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN TODDLER DAN
PRASEKOLAH…………………………………………14
BAB III PEMBAHASAN
A. KONSEP HOSPITALISASI……………………………………………….17
B. STRESSOR UMUM HOSPITALISASI PADA MASA TODDLER DAN
PRASEKOLAH……………………………………………………………..17
C. BERMAIN PADA USIA TODDLER DAN PRASEKOLAH……………..25
BAB IV PENUTUP
A. KESIMPULAN……………………………………………………………...30
B. SARAN……………………………………………………………………...31
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………….32
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Keluarga merupakan unsur penting dalam perawatan, khususnya
perawatan pada anak. Oleh karena anak merupakan bagian dari keluarga, maka
perawat harus mampu mengenal keluarga sebagai tempat tinggal atau konstanta
tetap dalam kehidupan anak (Wong, Perry and Hockenberry, 2002). Sebagai
perawat, dalam memberikan pelayanan keperawatan, harus mampu memfasilitasi
keluarga dalam berbagai bentuk pelayanan kesehatan baik berupa pemberian
tindakan keperawatan langsung, maupun pendidikan kesehatan bagi anak. Selain
itu, perawat harus memperhatikan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi keluarga
yang dapat menentukan pola kehidupan anak selanjutnya. Faktor-faktor tersebut
sangat menentukan perkembangan anak dalam kehidupan (Alimul, 2005).
Kehidupan anak juga sangat ditentukan keberadaannya bentuk
dukungan dari keluarga, hal ini dapat terlihat bila dukungan keluarga yang
sangat baik maka pertumbuhan dan perkembangan anak relatif stabil, tetapi
apabila dukungan keluarga anak kurang baik, maka anak akan mengalami hambatan
pada dirinya yang dapat mengganggu psikologis anak (Alimul,2005).
Populasi anak yang dirawat di rumah sakit menurut Wong (2001),
mengalami peningkatan yang sangat dramatis. Persentase anak yang dirawatdi
rumah sakit saat ini mengalami masalah yang lebih serius dan kompleks
dibandingkan kejadian hospitalisasi pada tahun-tahun sebelumnya. Mc Cherty dan
Kozak mengatakan hampir empat juta anak dalam satu tahun mengalami hospitalisasi
(Lawrence J. cit Hikmawati, 2000). Rata-rata anak mendapat perawatan
selama enam hari. Selain membutuhkan perawatan yang special dibanding pasien
lain, anak sakit juga mempunyai keistimewaan dan karakteristik tersendiri
karena anak-anak bukanlah miniatur dari orang dewasa atau dewasa kecil. Dan
waktu yang dibutuhkan untuk merawat penderita anak-anak 20-45% lebih banyak
daripada waktu untuk merawat orang dewasa (Speirscit Hikmawati 2000).
Menurut Supartini (2004) perawatan anak di rumah sakit merupakan
pengalaman yang penuh dengan stress, baik bagi anak maupun orang tua.
Lingkungan rumah sakit itu sendiri merupakan penyebab stress dan kecemasan pada
anak. Pada anak yang dirawat di rumah sakit akan muncul tantangan-tantangan
yang harus dihadapinya seperti mengatasi suatu perpisahan, penyesuaian dengan
lingkungan yang asing baginya, penyesuaian dengan banyak orang yang
mengurusinya, dan kerapkali harus berhubungan dan bergaul dengan anak-anak yang
sakit serta pengalaman mengikuti terapi yang menyakitkan.
Pada anak usia pra sekolah, kecemasan yang paling besar dialami
adalah ketika pertama kali mereka masuk sekolah dan kondisi sakit yang dialami
anak. Apabila anak mengalami kecemasan tinggi saat dirawat di rumah sakit maka
besar sekali kemungkinan anak akan mengalami disfungsi perkembangan. Anak akan
mengalami gangguan, seperti gangguan somatik, emosional dan psikomotor (Nelson cit
Isranil Laili.2006). Reaksi terhadap penyakit atau masalah diri yang
dialami anak pra sekolah seperti perpisahan, tidak mengenal lingkungan atau
lingkungan yang asing, hilangnya kasih sayang, body image maka akan
bereaksi seperti regresi yaitu hilangnya kontrol, displacement, agresi
(menyangkal), menarik diri, tingkah laku protes, serta lebih peka dan pasif
seperti menolak makan dan lain-lain (Alimul, 2005).
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah konsep toddler
2. Bagaimanakah konsep prasekolah
3. Apakah factor-faktor yang mempengaruhu pertumbuhan toddler dan
prasekolah
4. Bagaimanakah konsep hospitalisasi
5. Bagaimanakah stressor umum pada masa toddler dan prasekolah
6. Bagaimanakah konsep bermain pada usia toddler dan prasekolah
C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui konsep toddler
2. Untuk mengetahui konsep prasekolah
3. Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
toddler dan prasekolah
4. Untuk mengetahui konsep hospitalisasi
5. Untuk mengetahui stressor umum hospitalisasi pada masa toddler dan
prasekolah
6. Untuk mwngetahui konsep bermain pada usia toddler dan Prasekolah
BAB I
TIJAUAN PUSTAKA
A. TODDLER
1. Pengertian
Anak usia toddler adalah anak usia 12 – 36 bulan
(1-3 tahun) pada periode ini anak berusaha mencari tahu bagaimana sesuatu
bekerja dan bagaimana mengontrol orang lain melalui kemarahan, penolakan dan
tindakan keras kepala. Hal ini merupakan periode yang sangat penting untuk
mencapai pertumbuhan dan perkembangan intelektual secara optimal (Perry, 1998).
2. Pertumbuhan dan Perkembangan Toddler
Whaley
dan Wong’s (2000) mengemukakan pertumbuhan merupakan bertambah jumlah dan
besarnya sel seluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur.
Sedangkan perkembangan merupakan bertambahnya sempurnanya fungsi alat tubuh
yang dapat dicapai melalui tumbuh kematangan belajar.
Usia
1 tahun merupakan usia yang penuh berbagai hal yang menarik antara lain berubah
dalam cara makan, cara bergerak, juga dalam keinginan dan sikap atau perasaan
si kecil apabila disuruh melakukan sesuatu yang tidak ia sukai, ini akan
menyatakan sikap dan nalurinya mengatakan " tidak" baik dengan
kata-kata maupun perbuatan, meskipun sebetulnya hal itu di sukai (Psikolog
menyebutnya Negatifisme). Kenyataan ini berbeda pada saat usia di bawah sate
tahun, si kecil akan menjadi seorang penyidik yang sangat menjengkelkan, mereka
akan menyelinap keluar masuk setiap sudut rumah, menyentuh semua benda yang
ditemukannya, menggoyangkan meja dan kursi, menjatuhkan benda apapun yang dapat
dijatuhkan, memanjat apa yang bisa dipanjat, memasukkan benda-benda kecil
kedalam benda yang lebih besar dan sabagainya. Pendek kata tangannya tidak bisa
diam setiap hari (Hurlock, 2002:98).
Pada
usia 2 tahun si kecil akan cenderung mengikuti orang tuanya kesana-kemari, ikut
ikutan menyapu, mengepel, menyiram tanaman, semua ini di lakukan dengan penuh
kesungguhan. Pada usia 2 tahun anak sudah mulai belajar bergaul, ia senang
sekali menonton anak lain bermain, perasaan takut dan cemas sering terjadi
apabila orang tuanya meninggalkan anak sendiri. Seandainya orang tua harus
bepergian lama atau memutuskan untuk kembali bekerja dan meminta bantuan orang
lain untuk mengawasi anaknya, biasanya anak tidak rewel pada saat orang tua
pergi tetapi pada saat mereka kembali anak akan terus-menerus melekat pada ayah
dan ibunya dan tidak mengizinkan siapapun juga mendekatinya, karena ia takut
orang tuanya akan pergi lagi. Perasaan takut akan semakin menghambat pada saat
tidur ia mau berbaring jika ayah atau ibunya duduk di sampingnya ( Hurlock,
2002:101).
Anak
pada usia 3 tahun biasanya lebih mudah dikendalikan karena anak sudah dalam
perkembangan emosi, sehingga mereka menganggap ayah dan ibunya sebagai orang
yang istimewa. Sikap permusuhan dan kebandelan yang muncul pada usia antara 2 ½
- 3 tahun tampaknya makin berkurang, Sikap pada orang tua bukan saja bersahabat
tetapi sangat ramah dan hangat. Anak menjadi sangat patuh pada orang tuanya,
sehingga mereka akan bertingkah laku baik dan menurut sekali. Jika keinginan
mereka bertentangan dengan kehendak orang tuanya karena mereka tetap makluk
hidup yang mempunyai pendapat sendiri. Pada usia 3 tahun anak cenderung meniru
siapa pun yang dilakukan orang tuanya sehari-hari disebut proses identifikasi.
Dalam proses inilah karakter anak di bentuk jauh lebih banyak dari petunjuk
yang diterima dari orang tuanya, seperti membentuk model diri mereka, membina
kepribadian, membentuk sikap dasar, baik terhadap pekerjaan, orang tua dan
dirinya sendiri (Hurlock, 2002:111).
Secara umum
perkembangan anak Toddler (Thompson, 2003:58) di bagi menjadi 3 yaitu :
a. Perkembangan Kognitif
Menurut Jean Piagiet pada usia 1-3 tahun anak sudah dapat :
-
Membedakan diri sendiri dengan setiap objek.
-
Mengenal diri sebagai pelaku kegiatan dan mulai bertindak dengan
tujuan tertentu contohnya : menarik seutas tali untuk menggerakkan sebuah mobil
atau menggerakkan mainan supaya
bersuara.
-
Menguasai keadaan tetap dari objek misalnya : menyadari bahwa
benda tetap ada meskipun tidak terjangkau oleh mata.
b. Bahasa
Pada usia Toddler,
anak mulai menggunakan bahasa, kata-kata sebagai symbol dapat menunjukan
benda-benda atau kelompok benda dan satu objek dapat menunjukkan benda lain.
c. Sosial
Sebagian besar anak
toddler merasa cukup aman tanpa kehadiran orang tuanya mereka dapat enak
berinteraksi dengan anak lain maupun dengan orang dewasa.
B. PRASEKOLAH
1. Pengertian
. Anak prasekolah adalah mereka yang
berusia anatara 3-5 tahun. Pada masa ini, terjadi pertumbuhan biologis,
psikososial, kognitif, dan spiritual yang begitu signifikan. Kemampuan mereka
dalam mengontrol diri, berinteraksi dengan orang lain, dan penggunaan bahasa
dalam berinteraksi merupakan modal awal anak dalam mempersiapkan tahap
perkembangan berikutnya, yaitu tahap sekolah. (Whaley dan Wong, 1995).
Masa prasekolah merupakan fase
ketika anak mulai terlepas dari orang tuanya, dan mulai berinteraksi dengan
lingkungannya (sayogo, 2007). Tugas perkembangan pada anak prasekolah adalah
mencapai otonomi yang cukup, memenuhi dan menangani diri sendiri tanpa campur
tangan orang tua secara penuh. Pada tahap ini, anak dapat dilibatkan dalam
kegiatan atau pekerjaan rumah tangga untuk membantu orang tua (whaley dan Wong,
1999). Keberhasilan pada tahap prasekolah akan berpengaruh sangat besar dalam
kesuksesan anak dalam menghadapi perkembangan berikutnya.
2. Pertumbuhan dan
Perkembangan Prasekolah
Awal
masa kanak-kanak, selain mendapat sebutan menyulitkan, masa bermain, disebut
pula dengan aesthetis, yaitu masa berkembangnya rasa keindahan. Hal ini karena
masa prasekolah, panca indera anak sedang dalam keadaan peka, sehingga perlu
dilatih dengan berbagai permainan yang menarik, yang indah, karena anak senang
dengan permainan yang indah. Para pendidik member sebutan usia prasekolah,
karena belum mempunyai kewajiban mengikuti sekolah formal.
Anak
prasekolah mempunyai sifat perkembangan, senang menentang, sulit diatur. Orang
psikolo menyebutnya dengan tempertantrum, yang artinya luapan kemarahan. Pada
masa prasekolah, emosi anak sangat kuat, ditandai dengan tantrum (luapan
kemarahan), ketakutan yang hebat, iri hati.
Anak
prasekolah adalah pribadi yang mempunyai potensi, dimana potensi ini dirangsang
dan dikembangkan agar pribadi anak tersebut berkembang secara optimal. Tertunda
atau terhambatnya perkembangan potensi-potensi itu akan mengakibatkan timbulnya
masalah. Usia prasekolah bertujuan membantu meletakkan dasar kearah
perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan
untuk anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan
serta perkembangan selanjutnya.
Snowman
dalam patmonodewo (1995) menemukan cirri-ciri anak prasekolah, diantaranya :
1. Cirri-ciri fisik
Anak prasekoah
memperguanakan keterampilan gerak dasae (berlari,, memanjat, melompat dan
sebagainya) sebagai bagian dari permainan mereka. Mereka masih sangat aktif,
tetapi lebih bertujuan dan tidak terlalu mementingkan untuk bias beraktivitas
sendiri.
2. Cirri social
Pada umumnya anak
dalam tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi shabat ini cepat
berganti. Kelompok bermainnya cenderung kecil dan tidak terlalu terorganisir
secara baik, tetapi mereka mampu berkomunikasi lebih baik dengan anak lain.
Anak lebih menikmati permainan situasi kehidupan nyata, dan dapat bermain
bersama dengan dengan saling member serta menerima arahan. Perasaan empati dan
simpati terhadap teman juga berkembang, mampu berbagi dan bergiliran dengan
inisiatif mereka sendiri, anak menjadi lebih sosialis
3. Cirri emosional
Anak terdorong
mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering
diperlihatkan dan iri hati pada anak prasekolah sering terjadi. Mereka seringkali
memperebutkan perhatian guru dan berebutan makanan atau mainannya.
4. Ciri kognitif
Anak prasekolah
umumnya terampil dalam berbahasa. Sebagian besar dari mereka senang berbicara
dan sebagian lagi menjadi pendengar yang baik. Kompetensi anak perlu dikembangkan
melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi dan kasih saying. Anak mampu
menangani secara lebih efektif dengan ide-idenya melalui bahasa, dan mulai
mampu mendeskripsikan konsep-konsep yang lebih abstrak. Mereka menyesuaikan dan
mengubah konsep secara konstan. Contoh, konsep mereka mengenai waktu menjadi
semakinm luas. Mereka bias memahami hari, minggu, bahkan bulan.
Adapun
cirri-ciri tumbuh kembang anak usia prasekolah menurut Cecily (2002) adalah :
1. Karakteristik fisik
-
Berat badan : penambahan berat badan anak prasekolah dari 2 kg
pertahun, berat rata-rata adal 18 kg
-
Tinggi badan : pertumbuhan tinggi badan anak samapai 7 cm
pertahun, tinggi rata-rata adalah 108 cm.
-
Postur tidak ada lordosis lagi
-
Gigi-gigi susu mulai tanggal
2. Perkembangan motorik
kasar
-
Usia 36 bulan : pakai baju dan ganti baju sendiri, berjalan
mundur, naik turun tangga, berganti-ganti kaki, berdiri sesaat diatas satu
kaki.
-
Usia 4 tahun : melompat dengan satu kaki, memanjat dan melompat,
melempar bola cukup baik.
-
Usia 5 tahun : melompat melewati tali, berlari tanpa kesulitan,
bermain lompat tali dengan cukup baik, mainan tangkap.
3. Perkembangan motorik
halus
-
Usia 36 bulan : memasang manic-manik besar, melukis tanda silang
dan bulatan, membuka kancing depan dan samping, menyusun 10 balok tanpa jatuh.
-
Usia 4 tahun : menggunakan gunting, menggunting gambar
sederhana, menggambar bujur sangkar.
-
Usia 5 tahun : memukul kepala paku dengan palu, mengikat tali
sepatu, dapat menulis beberapa huruf alfhabet, dapat menulis nama.
4. Perkembangan sensorid
Persepsi ruang sangat terbatas, sedikitnya dapat mengenali 4
warba, dapat mebedakan objek berdasarkan beratnya, dapat mengidentifikasi satu
dua warna, dan memerankan orang tua dan orang dewasa lainnya.
5. Perkembangan kognitif
Anak berkembang dari perilaku sensori motorik sebagai alat
pembelajaran dan berinteraksi dengan lingkungan ,enjadi pembentukanpikiran
simbolitik.
-
Mengembangkan kemampuan untuk membentuk representasi mental
terhadap objek dan orang.
-
Mengembangkan konsep waktu.
-
Memiliki perspektif egosentri, member arti sendiri untuk
realita.
6. Perkembangan bahasa
-
Usia 3 tahun : banyak bertanya, berbicara saat ada maupun tidak
ada orang, menggunakan pembicaraan telegrafis (tanpa kata preporis, kata sifat,
kata keterangan, dll). Mengucapkan konsonan d, b, t, k, dan y, menghilangkan w
dari pembicaraannya, mempunyai perbendaharaan kata sebanyak 900 kata, memakai
kalimat tiga kata, menyatakan namanya sendiri, membuat kesalahan suara spesifik
(s, sh, ch, z, th, r, dan l), menjamakakan kata-kata, mengulangi ungkapan dan
kata-kata tanpa tujuan.
-
Usia 4 tahun : perbendaharaan kata sejumlah 1500 kata,
menghitung sampai tiga, menceritakan cerita panjang, mengerti pertanyaan
sederhana, mengerti dasar hubungan sebab akibat dari perasaan, pembicaraan
egosentris, membuat keslahan suara spesifik (s, sh, ch, th, r, dan l), memakai
kalimat empat kata.
-
Usia 5 tahun : perbendaharaan kata sebanayak 2100 kata,memakai
kalimat lima kata, memakai kata depan dan kata penghubung, memakai kalimat
lengkap, mengerti pertanyaan yang berkaitan dengan waktu dan jumlah, tetap
mebuat kesalahan suara, belajar untuk berpartisipasi dalam percakapan social,
dapat meneybutkan hari-hari dalam seminggu.
Masa
prasekolah meripakan periode kritis untuk efektivitas uppaya-upaya pencegahan
dan penanganan tumbuh kembang anak. Berbagai jenis perkembangan anak dengan
berbagai derajatnya seringkali dapat terlihat pada anak prasekolah. Oleh karena
itu, orang tua perlu deteksi dini terhadap gangguan pada anak untuk dapat
segera memberikan rujukan kepada tenaga professional seperti dokter tumbang
nak, psikologi, ataupun perawat untuk menangani maslah anak.
Masalah
perilaku pada anak prasekolah banyak terjadi karena tugas-tugas perkembangan
pada suatu periode tertentu tidak terpenuhi sehingga menimbulkan masalah anak.
Mittman
dalam nakita (1981;2008) mwngemukakan beberapa masalah umum yang terjadi pada
usia prasekolah :
1. Tidak patuh
2. Tempertantrum
3. Agresif
4. Menarik diri
5. Terlalu aktif
6. Kurang mampu
berkonsentrasi
7. Suka melamun
8. Egois
C. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan toddler dan prasekolah
Faktor-faktor yang
mempengaruhi tumbuh kembang menurut Supartini (2004) adalah
1. Factor herediter
Factor
pertumbuhan yang dapat diturunkan (herediter) adalah jenis kelamin, ras, dan
kebangsaan (marlow dalam supartini 2004). Jenis kelamin ditentukan sejak awal
dalam kandungan (fase konsepsi) dan setelah lahir, anak laki-laki cenderung
lebih tinggi dan berat dari pada anak perempuan dan hal ini bertahan hingga
usia tertentu karena anak perempuan biasanya lebih awal mengalami masa pubertas
sehingga kebanyakan pada usia tersebut, anak perempuan lebih tinggi dan besar.
Akan tetapi begitu anak laki-laki memasuki masa pubertas, mereka akan berubah
lebih tinggi dan besar daripada anak perempuan.
Ras atau suku dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak. Beberapa suku bangsa menunjukkan
karakterisitik tertentu.
2. Faktor lingkungan
Factor lingkungan yang
dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak adalah prenatal,
lingkungan eksternal, dan lingkun gan internal.
3. Faktor internal
-
Kecerdasan
Kecerdasan dimiliki oleh seorang anak sejak ia dilahirkan. Anak
yang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan yang rendah tidak akan mencapai
prestasi cemerlang walaupun stimulus yang diberian lingkungan demikian tinggi.
Sementara anak yang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan tinggi dapat didorong
oleh stimulus untuk berpestasi secara cemerlang.
-
Pengaruh hormonal
Terdapat tiga hormone yang berperan dalam pertumbuhan dan
perkembangan anak yaitu :
a. Hormone somatotropik
b. Hormone tiroid
c. Hormone gonadotropin
-
Pengaruh emosi
Orang tua terutam ibu adalah orang terdekat tempat belajar anak
untuk tumbuh dan berkembang. Anak belajar mengekspresikan perasaan dan emosinya
dengan meniru perilaku orang tuanya. Apabila pola seperti ini dibiarkan, anak
akan mengembangkan perilaku emosional karena maturasi atau pemandangan
kepribadian diperoleh anak melalui proses belajar dari lingkungan keluarganya.
Oleh karena itu orang tua harus berhati-hati dalam bersikap karena apabila
orang tua senang membentak, anak akan belajar untuk berbicara kasar kepada
orang lain.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP HOSPITALISASI
Hospitalisasi adalah suatu keadaan di mana seseorang dalam
menjalani perawatan di rumah sakit (Dorland, 1994). Hospitalisasi merupakan
suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan
anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai
pemulangannya kembali ke rumah. Hospitalisasi merupakan stressor baik bagi anak
maupun keluarga, yang diikuti ketidaktahuan, lingkungan yang asing serta
kebiasaan berbeda, dan tersebut menyebabkan anak dan keluarga tertekan
(Supartini, 2004).
Selama proses tersebut bukan saja anak tetapi orang tua juga mengalami
kebiasaan yang asing, lingkungannya yang asing, orang tua yang kurang mendapat
dukungan emosi akan menunjukkan rasa cemas. Rasa cemas pada orang tua akan
membuat stress anak meningkat. Dengan demikian asuhan keperawatan tidak hanya
terfokus pada anak tetapi juga pada orang tuanya (Alawin, 2008).
B. STRESSOR UMUM HOSPITALISASI PADA MASA TODDLER DAN PRASEKOLAH
Ø Pada Masa Toddler
Sakit dan dirawat di rumah sakit (hospitalisasi) merupakan krisis
utama pada anak usia toddler, serta stress akibat perubahan pada status
kesehatan maupun lingkungan dalam kebiasaan sehari-hari. Selain itu anak usia
toddler juga mempunyai keterbatasan dalam mekanisme koping untuk mengatasi
masalah maupun kejadian-kejadian yang bersifat menekan (Nur Salam, dkk, 2005).
Akibatnya akan menimbulkan reaksi yang berbeda-beda, yang bersifat individual
dan sangat tergantung pada tahap perkembangan anak. Selain itu ditambahkan oleh
kennetlyen dan Zhang (2003), bahwa perawatan dirumah sakit juga bias menjadi
pengalaman yang menakutkan, baik bagi orang tua maupun bagi anak 2-3 tahun.
Anak usia toddler bereaksi terhadap hospitalisasi karena cemas
akibat perpisahan, kehilangan kendali, serta luka pada tubuh dan rasa sakit
atau nyeri (Supartini, 2004).
Pada umumnya reaksi anak terhadap adalah kecemasan karena
perpisahan, kehilangan kontrol, perlukaan tubuh dan nyeri. Pembatasan terhadap
pergerakannya, anak akan kehilangan kemampuannya untuk mengontrol diri dan kan
menjadi tergantung pada lingkungannya. Akibatnya, anak akan kembali pada kemampuan
sebelumnya atau regresi. Terhadap perlukaan yang dialami atau nyeri
Yang dirasakan karena
mendapatkan tindakan invasif, seperti injeksi, infus, pengambilan darah, anak
akan meringis, menggigit bibirnya dan memukul. Walaupun demikian, anak dapat
menunjukkan lokasi rasa nyeri dan mengkomunikasikan rasa nyerinya (Supartini,
2004). Anak usia toddler bereaksi terhadap hospitalisasi, sumber stressor yang
utama adalah perpisahan. Reaksi anak terhadap hospitalisasi dipengaruhi oleh perkembangan usia,
pengalaman sebelumnya, support sistem yang tersedia dan ketrampilan koping.
Pada usia toddler (1-3 tahun) yang dirawat di rumah sakit, respon kecemasan
lebih tampak daripada anak usia prasekolah, yaitu anak rewel, tidak mau
ditinggal oleh ibu, minta digendong terus, takut terhadap lingkungan rumah
sakit termasuk pada dokter dan perawat yang merawatnya (Wong, 1995).
1. Kecemasan Akibat Perpisahan
Kecemasan akibat perpisahan, yaitu perpisahan
dengan orang tua atau orang terdekat bagi anak, respon anak toddler terhadap
kecemasan perpisahan ini menurut Nursalam (2005) dalam Asuhan Keperawatan Bayi
dan Anak dibagi dalam 3 fase, yaitu:
a. Fase protes (Ph Phase of protes), perilaku yang dapat
dilihat pada anak diantaranya :
-
Menangis kuat.
-
Menjerit.
-
Memanggil ibunya.
-
Menggunakan tingkah laku agresif,
seperti menendang, menggigit, memukul, mencubit, dan menolak perhatian orang
lain.
-
Secara verbal, anak menyerang
orang asing dengan rasa marah (misalnya dengan mengatakan “pergi”).
-
Perilaku protes seperti menangis
akan berlanjut dan hanya akan berhenti bila anak merasa kelelahan.
-
Berusaha secara fisik menahan
orang tua untuk tetap tinggal.
-
Pendekatan dengan orang asing
yang tergesa-gesa akan meningkatkan protes.
Toddler secara verbal menangis kepada orang tua, menyerang orang
lain secara verbal atau fisik, berusaha untuk menemukan orang tua, memegang
orang tua erat-erat, dan tidak dapat ditenangkan (Muscari, 2005).
b. Fase putus asa (Phase of despair), perilaku yang tampak diantaranya
:
-
Tidak aktif, cenderung diam dan
tidak mau beraktifitas.
-
Menarik diri dari orang lain.
-
Depresi, sedih (cenderung
diam/murung dan tidak mau beraktifitas).
-
Tidak tertarik pada lingkungan.
-
Tidak komunikatif (tidak menjawab
sapaan/menyapa).
-
Regresi, keprilaku terdahulu
seperti : menghisap jari, ngompol dan lainlain.
-
Menolak makan minum.
-
Tangis anak mulai berkurang.
-
Menghindari kontak mata.
Toddler tidak tertarik dengan lingkungan dan permainan serta
menunjukkan sikap yang pasif, depresi, dan kehilangan nafsu makan (Muscari,
2005).
c. Fase menolak (Phase of denial), perilaku yang tampak diantaranya:
-
Secara samar-samar anak menerima
perpisahan.
-
Mulai tertarik dengan apa yang
ada di sekitarnya.
-
Membina hubungan dangkal dengan
orang lain.
-
Anak mulai kelihatan gembira.
Toddler membuat keputusan yang dangkal dan menunjukkan minat
dengan jelas. Fase ini biasanya terjadi setelah perpisahan dalam waktu lama dan
jarang terlihat pada anak yang dirawat (Muscari, 2005).
2. Kehilangan Kendali/Kontrol
Toddler merupakan masa dimana anak mencari otonomi yang ditampakan dengan
tingkahlaku antaralain: ketrampilan motorik, permainan, hubungan interpersonal,
aktivitas sehari-hari dan komunikasi. Tetapi mereka sebaliknya menunjukan
reaksi negatifisme seperti tempertantrum karena sikap egosentris anak. Anak
merasa gagal dan kehilangan kendali jika ketrampilan yang disukainya tidak
dapat dilakukan. Hal ini akan menurunkan rasa percaya diri pada anak. Anak yang
sedang meningkatan aktivitas motoriknya
akan merasa cemas jika keterampilan yang disukainya tidak dapat
dilakukan (Nur Salam 2004).
Akibat sakit/ dirawat dirumah sakit, anak
usia toddler juga dapat bereaksi karena kehilangan kendali. Anak akan
kehilangan kebebasan dalam mengembangkan otonominya, sehingga anak bereaksi
negative terhadap ketergantungan yang dialaminya, terutama anak menjadi cepat
marah dan agresif.
Dengan adanya kehilangan fungsi sehubungan
dengan terganggunya fungsi motorik biasanya mengakibatkan berkurangnya percaya
diri pada anak sehingga tugas perkembangan yang sudah dicapai dapat terhambat.
Hal ini membuat anak menjadi regresi; ngompol lagi, suka menghisap jari dan
menolak untuk makan(http://akper-akbid.blogspot.com).
3. Cidera Tubuh dan Nyeri
Anak sudah mampu mengkomunikasikan rasa nyeri yang mereka alami
dan mampu menunjukkan lokasinya (Nur Salam, dkk, 2005). Kecemasan akan
meningkat karena adanya rasa nyeri dan perasaan takut akan mati (Supratini,
2004). Anak akan mengalami penurunan keaktifan serta kemampuan dalam tahap
perkembangannya terhadap perlakuan yang dialami atau nyeri yang dirasakan
karena mendapatkan tindakan invasive, seperti injeksi, infuse, pengambilan
darah, anak akan menangis bahkan sampai menyerang, baik secara verbal maupun
secara fisik, seperti menggigit, memukul, mencubit, dan menentang perawata
(supratini.2004).
Ø Pada Masa Prasekolah
Anak usia pra sekolah
adalah anak yang berusia antara 3 sampai 6 tahun. Bagi anak usia pra sekolah,
sakit adalah sesuatu yang menakutkan. Selain itu, perawatan di rumah sakit
dapat menimbulkan cemas karena anak merasa kehilangan lingkungan yang dirasakanya
aman, penuh kasih sayang dan menyenangkan. Anak juga harus meninggalkan
lingkungan rumah yang dikenalnya, permainan, dan teman sepermainannya
(Supartini, 2004).
Perilaku anak untuk beradaptasi terhadap sakit dan dirawat di
rumah sakit dengan cara :
-
Penolakan (Advoidance);
perilaku dimana anak berusaha menghindar dari situasi yang membuat anak
tertekan, anak berusaha menolak treatment yang diberikan seperti : disuntik,
tidak mau dipasang infus, menolak minum obat, bersikap tidak kooperatif kepada
petugas medis.
-
Mengalihkan perhatian (Distraction);
anak berusaha mengalihkan perhatian dari pikiran atau sumber yang
membuatnya tertekan. Perilaku yang dilakukan anak misalnya meminta cerita saat dirumah
sakit, menonton tv saat dipasang infus atau bermain mainan yang disukai.
-
Berupaya aktif (active); anak
berusaha mencari jalan keluar dengan melakukan sesuatu secara aktif. Perilaku
yang sering dilakukan misalnya menanyakan kondisi kepada tenaga medis atau
orang tuanya, bersikap kooperatif pada tenaga medis, minum obat secara teratur
dan beristirahat sesuai dengan peraturan yang diberikan.
-
Mencari dukungan (Support
Seeking); anak mencari dukungan dari orang lain untuk melepaskan tekanan
atas penyakit yang dideritanya. Anak biasanya akan meminta dukungan pada orang
yang dekat dengannya, misalnya orang tua atau saudaranya. Biasanya anak minta
di temani selama di rumah sakit, didampingi saat dilakukan treatment padanya,
minta dielus saat merasa kesakitan (Wahyunin, 2001).
1.
Kecemasan
Terhadap Perpisahan
Saat anak prasekolah dirawat di rumah sakit,
kondisi ini memaksa anak untuk berpisah dari lingkungan rumah yang dirasakannya
aman, penuh kasih sayang, dan menyenangkan serta hilangnya waktu bermain
bersama teman-teman sepermainannya. Adapun reaksi terhadap perpisahan yang
ditunjukkan anak usia prasekolah selama dirawat di rumah sakit adalah dengan
menolak makan, sering bertanya kepada orang tuanya tentang hal-hal yang tidak
dipahaminya, menangis dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan. Dampak dari perpisahan yang
dialami anak prasekolah saat dirawat di rumah sakit akan menimbulkan rasa
kecemasan pada anak tersebut (Moersintowati, dkk, 2008).
Menurut Supartini (2004), perawatan di rumah
sakit seringkali dipersepsikan anak prasekolah sebagai hukuman sehingga anak
merasa malu, bersalah, cemas dan takut. Anak juga sering merasa takut pada
hal-hal yang tidak logis, seperti takut gelap, monster, dll. Berbagai perasaan
yang sering muncul pada anak usia prasekolah yaitu cemas, marah, sedih, takut
dan rasa bersalah. Perasaan tersebut dapat timbul karena menghadapi sesuatu
yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya, rasa tidak aman dan tidak
nyaman, perasaan kehilangan sesuatu yang dialaminya, dan sesuatu yang dirasakan
menyakitkan serta lingkungan rumah sakit (Wong, 2000).
2. Kehilangan
Kendali/ Kontrol
Selain kecemasan akibat perpisahan, anak juga mengalami cemas
akibat kehilangan kendali atas dirinya. Akibat sakit dan dirawat di rumah
sakit, anak akan kehilangan kebebasan dalam mengembangkan otonominya. Anak akan
bereaksi negatif terhadap ketergantungan yang dialaminya, terutama anak akan
menjadi cepat marah dan agresif (Nursalam, Susilaningrum, dan Utami, 2005).
Kecemasan yang muncul merupakan respon emosional terhadap penilaian sesuatu
yang berbahaya, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Stuart
& Sundeen, 1998). Sedangkan menurut Gunarso (1995), kecemasan juga dapat
diartikan rasa khawatir takut tidak jelas sebabnya.
Anak usia prasekolah merasa (kehilangan kendali) karena mereka
mengalami ketakutan mereka sendiri. Potter
(2005) juga mengemukakan bahwa selama waktu sakit, anak usia prasekolah mungkin
kembali ngompol, atau menghisap ibu jari dan menginginkan orang tua mereka
untuk menyuapi, memakaikan pakaian dan memeluk mereka.
3. Cidera Tubuh dan Nyeri
Apabila anak pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan
dirawat di rumah sakit sebelumnya akan menyebabkan anak takut dan trauma.
Sebaliknya apabila anak dirawat di rumah sakit mendapatkan perawatan yang baik
dan menyenangkan anak akan lebih kooperatif pada perawat dan dokter (Supartini,
2004). Sistem pendukung (support system) yang tersedia akan membantu
anak beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit dimana ia dirawat. Anak akan
mencari dukungan yang ada dari orang lain untuk melepaskan tekanan akibat
penyakit yang dideritanya. Anak biasanya akan minta dukungan kepada orang terdekat
dengannya misalnya orang tua atau saudaranya. Perilaku ini biasanya ditandai
dengan permintaan anak untuk ditunggui selama dirawat di rumah sakit,
didampingi saat dilakukan treatment padanya, minta dipeluk saat merasa
takut dan cemas bahkan saat merasa kesakitan. Reaksi anak usia prasekolah
terhadap rasa nyeri sama seperti sewaktu masih bayi. Anak akan bereaksi
terhadap nyeri dengan menyeringaikan wajah, menangis, mengatupkan gigi,
menggigit bibir, membuka mata dengan lebar, atau melakukan tindakan agresif
seperti menendang dan memukul. Namun, pada akhir periode balita anak biasanya
sudah mampu mengkomunikasikan rasa nyeri yang mereka alami dan menunjukkan
lokasi nyeri (Nursalam, Susilaningrum, dan Utami, 2005).
C. BERMAIN PADA USIA TODDLER DAN PRASEKOLAH
Ø Defenisi Bermain
Bermain
merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan,
tanpa mempertimbangkan hasil akhir (Iqeq, 2003). Supartini (2004) menjelaskan
bahwa bermain sebagai aktivitas yang dapat dilakukan anak sebagai upaya
stimulasi pertumbuhan dan perkembangannya dan bermain pada anak di rumah sakit
menjadi media bagi anak untuk mengekspresikan perasaan, relaksasi dan distraksi
perasaan yang tidak nyaman.
Ø Fungsi Bermain
Wong (2003)
mengemukakan bahwa fungsi bermain antara lain Perkembangan Sensori Motorik;
memperbaiki keterampilan motorik kasar dan halus serta koordinasi, meningkatkan
perkembangan semua indera, mendorong eksplorasi pada sifat fisik dunia,
memberikan pelampiasan kelebihan energi; Perkembangan Intelektual; memberikan
sumber-sumber yang beranekaragam untuk pembelajaran, eksplorasi dan manipulasi bentuk,
ukuran, tekstur dan warna, pengalaman dengan angka, hubungan yang renggang,
konsep abstrak, kesempatan untuk mempraktekkan dan
memperluas
ketrampilan berbahasa, memberikan kesempatan untuk melatih pengalaman masa lalu
dalam upaya mengasimilasinya ke dalam persepsi dan hubungan baru, membantu anak
memahami dunia dimana mereka hidup dan membedakan antara fantasi dan realita.
Perkembangan Sosialisasi dan Moral; mengajarkan peran orang dewasa, termasuk perilaku
peran seks, memberikan kesempatan untuk menguji hubungan,mengembangkan
ketrampilan sosial, mendorong interaksi dan perkembangan sikap yang positif
tehadap orang lain, menguatkan pola perilaku yang telah disetujui oleh standar
moral.
Fungsi bermain yang lain antara lain : Kreativitas; memberikan saluran
ekspresif untuk ide dan minat yang kreatif, memungkinkan fantasi dan imajinasi,
meningkatkan perkembangan bakat dan minat khusus. Kesadaran Diri; memudahkan perkembangan
identitas diri, mendorong pengaturan perilaku sendiri, memungkinkan pengujian
pada kemampuan sendiri (keahlian sendiri), memberikan perbandingan antara
kemampuan sendiri dan kemampuan orang lain, memungkinkan kesempatan untuk
belajar bagaimana perilaku sendiri dapat mempengaruhi orang lain. Nilai
Terapeutik; memberikan pelepasan stress dan ketegangan, mendorong percobaan
dan pengujian situasi yang menakutkan dengan cara yang aman, memudahkan
komunikasi verbal tidak langsung dan non verbal tentang kebutuhan rasa takut
dan keinginan.
Ø Tujuan Bermain
Supartini (2004)
mengemukakan beberapa tujuan dari terapi bermain antara lain :
a. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada
saat sakit anak mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangannya, walaupun
demikian selama anak dirawat di rumah sakit, kegiatan stimulasi pertumbuhan dan
perkembangan masih harus tetap di lanjutkan untuk menjaga kesinambungannya.
b. Mengespresikan perasaan, keinginan dan fantasi, serta ide-idenya
pada saat anak sakit dan dirawat di rumah sakit anak mengalami berbagai perasaan
yang sangat tidak menyenangkan. Pada anak yang belum dapat mengespresikannya
secara verbal, permainan adalah media yang sangat efektif untuk
mengeskpresikannya.
c. Mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah,
permainan akan menstimulasi daya pikir, imajinasi dan fantasinya untuk
menciptakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya.
d. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap sters karena sakit dan
dirawat di rumah sakit.
1. Bermain Pada Usia Toddler
-
Usia 1-2 tahun
Jenis permainan
yang dapat digunakan pada usia 1-2 tahun pada dasarnya bertujuan untuk melatih
anak melakukan gerakan mendorong atau menarik, melatih melakukan imajinasi,
melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari dan memperkenalkan beberapa bunyi
dan mampu membedakannya. Jenis permainan ini seperti semua alat permainan yang
dapat didorong dan ditarik, berupa alat rumah tangga balok-balok, buku
bergambar, kertas, pensil berwarna, dan lain-lain.
-
Usia 2-3 tahun
Usia ini
dianjurkan untuk bermain dengan tujuan menyalurkan perasaan atau emosi anak,
mengembangkan keterampilan berbahasa, melatih motorik kasar dan halus,
mengembangkan kecerdasan, melatih daya imajinasi dan melatih kemampuan,
membedakan permukaan dan warna benda. Adapun jenis permainan pada usia ini yang
dapat digunakan antara lain: alat-alat untuk gambar, puzzle sederhana,
manik-manik ukuran besar, berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna
yang berbeda-beda dan lain-lain.
-
Mainan yang
dapat ditarik dan didorong
-
Alat masak
-
Malam,lilin
-
Boneka,Blockies,Telepon,gambar
dalam buku,bola,dram yang dapat dipukul,krayon,kertas.
Ketika masa anak sudah memasuki masa todler anak
selalu membutuhkan kesenangan pada dirinya dan anak membutuhkan suatu
permainan. Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan
anak. Sekarang banyak dijual macam-macam alat permainan, jika orang tua tidak
selektif dan kurang memahami fungsinya maka alat permainan yang dibelinya tidak
akan berfungsi efektif. Alat permaianan hendaknya disesuaikan dengan jenis
kelamin dan usia anak, sehingga dapat merangsang perkembangan anak dengan
optimal. Dalam kondisi sakitpun aktivitas bermaian tetap perlu dilaksanakan
namun harus disesuaikan dengan kondisi anak.
2. Bermain Pada Usia Prasekolah
Menurut supratini (2004) klasifikasi bermain untuk usia anak
prasekolah (3-<6 tahun) adalah
a. Associative play merupakan permainan yang sudah terjadi komunikasi
antara satu anak dengan anak lain, tetapi tetap terorganisasi, tidak ada
pemimpin atau yang memimpin permainan dan tujuan permainan tidak jelas. Contoh
permainan ini adalah bermain boneka, hujan-hujanan, dan bermain masak-masakan.
b. Dramatic play merupakan permainan yang memainkan peran sebagai
orang lain melalui permainannya. Anak berceloteh sambil memakai pakaian yang
meniru kebiasaan oran dewasa pada berpakaian misalnya, ibu guru, ayahnya,
ibunya, kakaknya, dan sebagainya yang ingin anak tiru. Permainan ini penting
untuk proses identifikasi anak terhadap peran tertentu.
c. Skill play merupakan permainan yang akan meningkatkan
keterampilan, khususnya motorik kasar dan halus. Misalnya anak akan terampil
memegang benda-benda tertentu, memindahkan dari satu tempat ke tempat tertentu
dan anak terampil naik sepeda. Jadi keterampilan tersebut diperoleh melalui
pengulangan kegiatan permainan yang dilakukan. Semakin sering anak melkukannya
maka semakin terampil.
-
Peralatan rumah
tangga
-
Sepeda roda Tiga
-
Papan
tulis/kapur
-
Lilin,boneka,kertas
-
Drum,buku dengan
kata simple,kapal terbang,mobil,truk
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
-
Anak usia toddler adalah anak
usia 12 – 36 bulan (1-3 tahun) pada periode ini anak berusaha mencari tahu
bagaimana sesuatu bekerja dan bagaimana mengontrol orang lain melalui
kemarahan, penolakan dan tindakan keras kepala.
-
Anak prasekolah adalah mereka yang berusia anatara 3-5 tahun.
Pada masa ini, terjadi pertumbuhan biologis, psikososial, kognitif, dan
spiritual yang begitu signifikan. Kemampuan mereka dalam mengontrol diri,
berinteraksi dengan orang lain, dan penggunaan bahasa dalam berinteraksi
merupakan modal awal anak dalam mempersiapkan tahap perkembangan berikutnya,
yaitu tahap sekolah. (Whaley dan Wong, 1995).
-
Hospitalisasi merupakan stressor
baik bagi anak maupun keluarga, yang diikuti ketidaktahuan, lingkungan yang
asing serta kebiasaan berbeda, dan tersebut menyebabkan anak dan keluarga
tertekan (Supartini, 2004).
-
Bermain merupakan suatu kegiatan
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan
hasil akhir (Iqeq, 2003). Supartini (2004) menjelaskan bahwa bermain sebagai aktivitas
yang dapat dilakukan anak sebagai upaya stimulasi pertumbuhan dan
perkembangannya dan bermain pada anak di rumah sakit menjadi media bagi anak
untuk mengekspresikan perasaan, relaksasi dan distraksi perasaan yang tidak
nyaman.
B. SARAN
-
Bagi Pendidikan
Makalah ini
sebagai tugas mata kuliah ilmu keperawatan yang membahas tentang keperawatan
anak.
-
Bagi Penulis
Semoga makalah
ini dapat menambah pengetahuan, wawasan,tentang gambaran stressor umum
hospitalisasi anak pada masa toddler dan prasekolah.
-
Bagi Masyarakat dan Orang Tua
Semoga dengan
ditulisnya makalah ini masyarakat dan orang tua mengerti dan memahami stressor
umu hospitalisasi anak pada usia toddler dan prasekolah
DAFTAR PUSTAKA
Alimul.H.A (2005) . Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2 ; Jakarta :
Salemba
Hurlock, Elizabeth B (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Ilmu
Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
Perry, potter (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep,
Proses, dan Praktik. Edisi 4. Alih bahasa Yasmin Asih, dkk. Jakarta.EGC
Supratini, Yupi (2004). Buku Ajar Konsep Keperawatan Anaka.
Jakarta : EGC
Whaley and Wony (____). Nursing Care of Infants and Children. St.
Louis. Mosby Year Book.
Wong, Donna L (2008). Kinerja : Buku Ajar Keperawatan Pediatrik.
Edisi 6. Jakarta : EGC
Wong, Donnal (2003). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta
: EGC
0 Response to "Hospitalisasi Pada Anak Usia Toddler dan Prasekolah"
Post a Comment