Hubungan Insiasi Menyusui Dini Dengan Produksi ASI Pada Ibu Post Partum
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Tinjauan Umum Tentang Inisiasi Menyusu Dini
1.
Definisi
IMD
merupakan kemampuan bayi mulai menyusu sendiri segera setelah dia dilahirkan.
Pada prinsipnya IMD merupakan kontak langsung antara kulit ibu dan kulit
bayi,bayi segera ditengkurapkan didada atau perut ibu setelah seluruh badan
dikeringkan (bukan dimandikan), kecuali pada telapak tangannya. Kedua telapak
tangan bayi dibiarkan tetap terkena cairan ketuban karena bau dan rasa cairan
ketuban ini sama dengan bau yang dikeluarkan payudara ibu yang akan menuntun
bayi untuk menemukan putting (Siswosuharjo dan Chakrawati, 2010). Menurut
UNICEF dan WHO (2014) IMD dilakukan satu jam pertama setelah kelahiran.
Pengertian
IMD menurut Kemenkes (2014) adalah proses bayi menyusu segera setelah
dilahirkan, dimna bayi dibiarkan mencari putting susu ibunya sendiri (tidak
dituntun ke putting susu).24 jam pertama setelah ibu melahirkan adalah saat
yang sangat penting untuk keberhasilan menyusus selanjutnya. Pada jam-jam
pertama setelah melahirkan dikeluarkan hormone oksitosin yang bertanggung jawab
terhadap produksi ASI (Kemenkes RI.2014).
IMD
adalah pemberian air susu ibu dimulai sedini mungkin segera setelah
lahir,setelahtali pusat dipotong,letakkan bayi tengkurap didada ibu dengan
kulit bayi melekat pada kulit ibu. Biarkan kontak kulit bayi kekulit ibu
menetap selama setidaknya 1 jam bahkan lebih sampai bayi dapat menyusu sendiri
(JNPK-KR 2007 dalam Martini, 2012).
Dalam publikasi
oleh breastcrawl.org yang berjudul Breast Crawl: A Scientific Overview
dalam buku Yesie Aprilia (2010), ada beberapa hal yang menyebabkan bayi mampu
menemukan sendiri puting ibunya dan mulai menyusui, yaitu:
a.
Sensory Input
Sensory input terdiri dari:
1) Indra penciuman yaitu bayi sensitif terhadap bau
khas ibunya setelah melahirkan.
2)
Indra
penglihatan, karena bayi baru dapat mengenal pola hitam putih, bayi akan
mengenali putting dan wilayah aerola payudara ibunya karena warna gelapnya.
3)
Indra
pengecap, sejak dari dalam kandungan ia paling mengenal suara ibunya.
4)
Indra
perasa dilakukan melalui sentuhan kulit kekulit yang akan memberi kehangatan
dan rangsangan lainnya
b.
Central Component
Otak
bayi yang baru lahir sudah siap mengeksplorasi lingkungannya dn lingkungan yang
paling dikenalnya adalah tubuh ibunya. Rangsangan ini harus dilakukan karena
jika terlalu lama dibiarkan, bayi akan kehilangan kemampuan ini. Inilah yang
menyebabkan bayi yang langsung dipisah dari ibunya sering menangis dari pada
bayi yang lansung ditempatkan ketubuh ibunya
c.
Motor outputs
Gerakan
bayi yang merangka diatas perut ibunya adalah gerak yang paling alamiah yang
dapat dilakukan bayi setelah lahir. Selain berusaha mencapai putting ibunya, gerakan ini juga memberi
banyak manfaat untuk sang ibu, misalnya mendorong pelepasan plasenta dan
mengurangi perdarahan pada rahim. Motor
outputs dalam prosedur IMD terdiri dari dua komponen utama,yaitu:
1) Kontak antara kulit ibu dan bayi (skin to skin)
2) Upaya menyusu (sucking), sucking atu
reflek mengisap yaitu upaya bayi mencapai putting payudara ibu dan bayi akan
menghisap payudara ibu dengan sendirinya
2.
Prosedur dan Gambaran Proses Inisiasi Menyusui Dini
a.
Tempatkan
bayi di atas perut ibunya dalam 1
jam pertama tanpa pembatas kain di antara keduanya (skin to skin kontak ), lalu
selimuti ibu dan bayi dengan selimut hangat. Posisikan bayi dalam keadaan
tengkurap.
b.
Setelah
bayi stabil dan mulai beradaptasi dengan lingkungan luar uterus, ia akan mulai
mencari puting susu ibunya.
c.
Hembusan
angin dan panas tubuh ibu akan memancarkan bau payudara ibu, secara insting
bayi akan mencari sumber bau tersebut.
d.
Dalam
beberapa menit bayi akan merangkak ke atas dan mencari serta merangsang puting
susu ibunya selanjutnya ia akan mulai menghisap
e.
Selama
proses ini tangan bayi akan memasase payudara ibu dan selama itu pula refleks
pelepasan hormon oksitosin ibu akan terjadi
f.
Selama
prosedur ini bidan tidak boleh meninggalkan ibu dan bayi sendirian. Tahap ini
sangat penting karena bayi dalam kondisi siaga penuh (Elisabeth Siwi Walyani,2014).
3.
Mekanisme Menyusui
Bayi baru lahir yang cukup
bulan dan sehat memiliki 3 refleks yang diperlukan untuk membuat proses
menyusui berhasil, seperti :
a. Refleks Mencari ( Rooting Refleks)
Timbul
saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, dan bayi akan menoleh ke arah sentuhan.
Bibir bayi diransang dengan papila mamae,maka bayi akan membuka mulut dan
berusaha menangkap puting susu.
b. Refleks Menghisap ( Sucking Reflex )
Refleks
ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh puting. Agar puting
mencapai palatum, maka sebagian besar aerola masuk ke dalam mulut bayi. Dengan
demikian sinus laktiferus yang berada di bawah aerola, tertekan antara
gusi,lidah dan palatum sehingga ASI keluar.
c. Refleks Menelan ( Swallowing Reflex )
Pada
saat air susu keluar dari puting susu, akan disusui dengan gerakan mengisap
(tekanan negatif) yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi, sehingga pengeluaran
air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke
lambung. (Damaiyanti.2011).
4.
Fisiologi Menyusui Dini
Sebagai
uapaya untuk tetap mempertahankan kadar prolaktin dalam darah ibu sebelum
setengah jam pertama setelah persalinan, segerah posisikan bayi untuk menghisap
puting susu secara benar. Ketika bayi menghisap pertama kali, bayi sebenarnya
tidak menerima susu. Ternyata, impuls sensorik pertama harus ditransmisikan
melalui saraf somatik dari puting susu ke medula spinalis dan kemudian ke
hipotalamus, dan menyebabkan sekresi oksitosin pada saat yang bersamaan ketika
hipotalamus menyekresi prolaktin. Oksitosin kemudian dibawa dalam darah ke
kelenjar payudara, dimana oksitosin menyebabkan sel-sel mioepitel yang
mengelilingi dinding luar alveoli berkontraksi untuk mengalirkan air susu ke
dalam duktus. Kemudian isapan bayi menjadi efetif dalam mengalirkan air susu.
Pengisapan pada satu kelenjar payudara tidak hanya menyebabkan aliran air susu
pada kelenjar payudara itu tetapi juga apada kelenjar payudara yang lain.
Apabila
bayi tidak mengisap puting susu pada 30 menit pertama setelah persalinan,
hormon prolaktin akan turun dan sulit merangsang prolaktin sehingga ASI baru
akan keluar pada hari ketiga atau lebih. Hal ini akan memaksa perawat dan bidan
memberi makanan pengganti ASI karena bayi tidak mendapat ASI dalam jumlah
cukup. Bayi yang sudah mendapatkan susu tambahan akan tertidur dan tidak akan
terjadi rangsangan pada puting susu berarti membiarkan kadar hormon oksitosin
turun secara prlahan dalam peredaran darah sehingga ASI dalam lobus tidak
terperas yang mengakibatkan hormon prolaktin akan turun dan hilang dari peredaran darah. Keadaan ini
akan menyebabkan ASI yangkeluar sedikit, dan berhenti setelah bayi lahir atau
ASI akan keluar sedikit, dan berhenti sebelum bayi berumur enam bulan (Nurheti
Yuliarti,2010).
5.
Manfaat Inisiasi Menyususi Dini
Terdapat beberapa manfaat pentingnya
Inisiasi Menyususi Dini (IMD), antara lain:
a.
Mengurangi
angka kematian bayi
Inisiai
menyususi dini bisa mempengaruhi resiko kematian pada bayi yang baru lahir
dengan empat mekanisme ( Edmond et al, 2006
Dikutip dalam Yesie Aprilia 2010),yaitu:
1)
Angka
kematian yang lebih rendah pada bayi mungkin terjadi karena ibu yang menyusui
anak mereka segerah setelah lahir memiliki kesempatan lebih besar untuk
berhasil membangun dan mempertahankan menyususi selama bayi (Aritonang
Priharsiwi,2009).
2)
Pemberian
makanan prelaktal dengan antigen yang bukan dari ASI dimungkinkan mengganggu
fisiologi normal susu (Aritonang dan Priharsiwi,2009).
3)
ASI
kaya akan komponen imun dan non imun yang dapat mempercepat maturasi usus,
resisten terhadap infeksi, dan pemulihan jaringan epitel dari infeksi, total
protein dan imunoglobin juga menurun dihari pertama kehidupan (konsentrasi
tertinggi pada hari pertama, setengah hari pada hari kedua, dan menurun secara
perlahan pada hari-hari berikutnya) (Aritonang dan Priharsiwi,2009).
4)
Pemberian
kehangatan dan perlindungan dapat mengurangi resiko kematian akibat hipotermia
selama hari pertama(terutama pada bayi prematur)(Aritonang dan Priharsiwi,2009).
B.
Tinjauan Tentang Produksi ASI
Pada
waktu lahir sampai beberapa bulan sesudahnya,bayi belum dapat membentuk
kekebalan sendiri secara sempurna. ASI merupakan substansi bahan yang hidup
dengan kompleksitas biologis yang luas yang mampu memberikan daya perlindungan
baik secara aktif maupun melalui pengaturan imunologis. ASI tidak hanya
menyediakan perlindungan yang unik terhadap infeksi dan alergi, tetapi juga
menstimuli perkembangan yang memadai dari sistem imunologi bayi sendiri.(Nurul
Chomaria,2011).
ASI
memberikan zat-zat kekebalan yang belum dibuat oleh bayi tersebut. Dengan
demikian agar kebutuhan bayi segera terpenuhi sefera berikan nutrisi pada bayi
baru lahir yaitu dengan Inisiasi Menyusui Dini. Inisiasi Menyusui Dini
merupakan program yang sedang gencar diajukan
pemerintah. Inisiasi Menyusui Dini akan sangat membantu dalam
keberlangsungan pemberian ASI eksklusif (ASI saja) dan lama menyusui. Dengan
demikian bayi akan akan terpenuhi kurang gizi pada bayi. (Nurul Chomaria,2011)
1.
Pengertian
ASI
ASI
adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,laktose dan garam-garam organik
yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama
bagi bayi. (Weni Kristiayansari,2011).
2.
Produksi ASI
Proses
lakatasi atau menyusui adalah proses
pembentukan ASI yang melibatkan hormonprolaktin dan hormon oksitosin. Hormon
prolaktin selama kehamilan akan meningkat akan tetapi ASI belum keluar karena
masih terhambat hormon estrogen yang tinggi.Dan pada saat melahirkan,hormon
estrogen dan progesterone akan menurun dan hormon prolaktin akan lebih dominan
sehingga terjadi sekresi ASI (Rini Yuli Astutik,2014).
3.
Jenis-jenis ASI
ASI dibedakan dalam tiga
stadium yaitu sebagai berikut :
a. ASI
Stadium I
ASI Stadium I adalah
kolostrum yang merupakan cairan dengan viskositas kental,lengket dan berwarna
kekuningan yang pertama disekresi oleh kelenjar payudara dari hari pertama
sampai hari ketiga atau kempat setelah melahirkan.
b. ASI Stadium II
ASI Stadium II adalah ASI
peralihan atau transisi yaitu ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum
ASI matang,yaitu sejak hari ke empat sampai hari ke sepuluh.
c. ASI Stadium III
ASI Stadium III adalah ASI
matur yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya.(Tri Sunarsih,2013)
4.
Komposisi ASI
a.
Protein
Protein
dalam ASI jumlahnya lebih rendah divanding protein dalam Air Susu Sapi.
Merupakan bahan baku untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi karena merupakan
kelompok protein whey yaitu protein yang sangat halus,lembut dan mudah dicerna
sehingga hampir seluruhnya terserap oleh sistem pencernaan bayi. Kandungan
protein dalam ASI terdiri dari:
1)
Gammaglobulin
yang memberi perlindunga terhadap infeksi. Jenis ini juga membuat konsisten ASI
menjadi pekat ataupun padat sehingga bayi lebih lama merasa kenyang meskipun
hanya mendapat sedikit ASI. ASI juga mengandung protein jenis alfa laktolbumin
yang melindungi bayi dari alergi.
2)
Asam
amino Taurin yang merupakan bahan baku untuk pertumbuhan sel otak,retina dan
konjugasi bilirubin. Pada bayi baru lahir biasanya menunjukkan peningkatan
bilirubin karena mereka baru mendapat trauma pada saat melalui jalan lahir
(adanya perdarahan) sedangkan usus bayi belum mampu mensintesis vitamin K untuk
proses pembekuan darah. Artinya Taurin dapan mengurangi atau menurunkan kadar
bilirubin yang tinggi dalam tubuh bayi.
3)
Asam
amino Sistin sangat penting unruk pertumbuhan otak.
4)
Tirosin
dan Fenilalanin dengan kadar yang rendah sangat menguntungkan untuk bayi
terutama bayi prematur. Karena pada bayi yang prematur, kadar tirosin yang
tinggi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan otak.
5)
Laktoferin
yang berfungsi mengangkut zat besi dari ASI ke sistem peredaran darah bayi
sehingga zat besi akan lebih mudah diserap oleh sistem pencernaan bayi. Selain
zat besi, B12 dan asam folat. Laktoferin juga merupakan pelindung karena
membiakkan bakteri yang dalam sistem pencernan bayi tumbuh dan akan
menghancurkan bakteri yang jahat.
6)
Poliamin
dan Nukleotid yang sangat penting untuk sintetis protein dalam ASI
7)
Lizosim
merupakan salah satu kelompok antibodi alami dengan kadar yang cukup tinggi
(sampai 2mg/100 ml), bersama-sama dengan sistem komplemen dan berkhasiat
memecahkan dinding sel bakteri (bakteriolitik) dari kuman-kuman
enterobactericease dan kuman-kuman gram positif. Diduga Lizosim juga melindungi
tubuh bayi terhadap berbagai infeksi virus, antara lain Herpes hominis.
b.
Lemak
Kadar
lemak dalam kolostrum lebih rendah dari ASI matur, kemudian meningkat
jumlahnya. Jenis lemak yang terdapat dalam ASI mengandung lemak rantai panjang
yang merupakan lemak kebutuhan sel jaringan otak dan sangat mudah dicerna serta
mempunyai jumlah yang cukup tinggi. Dalam bentuk Omega 3, Omega 6, DHA (Doca
Hexaenoic Acid) dan AHA ( Arachidonic Acid) merupakan komponen penting untuk melinisasi.
Seluruh asam lemak dapat dibuat oleh tubuh dari protein dan karbihidrat kecuali
asam linoleat. Tanpa asam linoleat, otak tidak dapat memperbaiki mielin dan
dapat mengakibatkan hilangnya koordinasi, daya ingat, gangguan paranoia,
apatis,gemetar dan halusinasi. Asam linoleat terdapat dalam ASI dalam jumlah
yang cukup tinggi.
Lemak
ASI mudah dicerna dan diserap oleh bayi karena mengandung enzim lipase yang
mencerna lemak trigliserida menjadi digliserida dan kemudian menjadi
monogliserida sebelum pencernaan di usus terjadi. Jumlah asam linoleat yang
tinggi akan memacu perkembangan sel saraf otak bayi seoptimal mungkin dan dapat
mencegah terjadinya rangsangan kejang. Kolesterol dan lesitin yang tinggi juga
terdapat dalam kolostrum yang diperkirakan juga berfungsi dalam pembentukan
enzim untuk metabolisme kolesterol yang akan mengendalikan kadar kolesterol
dikelak kemudian hari ( mencegah arteripsklerosis pada usia muda).
c.
Karbohidrat
Karbohidrat
yang utama terdapat dalam ASI adalah Laktosa. Kadar laktosa dalam ASI lebih
tinggi bila dibandingkan dengan kolostrum. Hal ini sangat menguntungkan karena
laktosa ini oleh fermentasi akan diubah menjadi asam laktat. Adanya asam laktat
ini memberikan suasana asam di dalam usus bayi sehingga memberi beberapa keuntungan:
1) Penghambat pertumbuhan bakteri yang
patologis.
2) Memacu pertumbuhan mikroorganisme yang
memproduksi asam organik dan mensintesis vitamin.
3) Memudahkan terjadinya pengendapan dari
Ca-caseinat.
4) Memudahkan absorpsi dari mineral, misalnya
kalsium, fosfor dan magnesium.
Laktosa ini juga relatif tidak larut
sehingga waktu proses digesti di dalam usus bayi lebih lama tetapi dapat
diabsorpsi dengan baik oleh usus bayi. Selain laktosa yang merupakan 7% dari
total ASI juga terdapat glukosa, galaktosa dan glukosamin. Galaktosa ini
penting untuk pertumbuhan otak dan medula spinalis, oleh karena pembentukan
mielin di medula spinalis dan sintetis galaktosida di otak membutuhkan
galaktosa. Glukosamin merupakan bifidus faktor,disamping laktosa,jadi ini
memacu pertumbuhan Laktobasilus bifidusyang
dapat mencegah diare.
d.
Mineral
ASI
mengandung mineral yang lengkap,walaupun kadarnya relatif lebih rendah tetapi
cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan. Total mineral selama masa laktasi adalah
konstan, tetapi beberapa mineral yang spesifik kadarnya tergantung dari diit
dan stadium laktasi. Zat besi dan kalsium paling stabil, tidak dipengaruhi oleh
diit ibu. Garam organik kadar tertinggi yang terdapat dalam kolostrum terutama
adalah kalium dan natrium dari asam klorida dan fosfat. Yang terbanyak adalah
kalium, sedangkan kadar tembaga,zat besi dan mangan yang merupakan bahan
pembentuk tulang kadarnya cukup.
e.
Air
Kira-kira
88% dari ASI terdiri dari air. Air ini berguna untuk melarutkan zat-zat yang
terdapat didalamnya. ASI merupakan sumber air yang secata metabolik adalah
aman. Air yang relatif tinggi dalam ASI ini akan meredakan rangsangan haus dari
bayi.
f.
Vitamin
Vitamin
dalam ASI dapat dikatakan lengkap. Vitamin A,D dan C cukup, sedangkan vitamin B
kecuali riboflavin dan asam pantotenik adalah kurang.
g.
Kalori
Kalori
dalam ASI relatif rendah bila, hanya 77 kalori/100ml ASI. 90% berasal dari
karbohidrat dan lemak, sedangkan 10% berasal dari protein. (Ade Benih
Nirwana,2014).
5.
Manfaat Pemberian ASI
a.
Memperbaiki
saluran cerna
b.
Mencegah
depresi saat dewasa
c.
Mencegah
gangguan mental dan perilaku
d.
ASI
menambah rasa nyaman
e.
Perkembangan
otak dan kecerdasan
f.
IQ,
ED dan SQ lebih tinggi.
g.
ASI
menjadi pelindung yang baik bagi bayi
h.
ASI
akan berubah sesuai kebutuhan
i.
DHA
DAN AA ASI mengandung nutrisi yang mempunyai fungsi spesifik untuk pertumbuhan
otak dan retina, kolesterol untuk melinisasi jaringan saraf, taurin untuk
meurontransmitter inhibitor dan stabilisator membran, laktosa untuk pertumbuhan
otak, koloni untuk meningkatkan memori.
j.
ASI
mengandung lebih dari 100 enzim yang berfungsi membantu menyerap zat gizi yang
terkandung dalam ASI
k.
ASI
dapat mengurangi penyakit jantung
l.
ASI
terbukti ilmiah dapat mencegah berbagai macam penyakit (Ade Benih Nirwana,2014)
H.
Tinjauan Pustaka Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Produksi ASI
1. Faktor Psikologis Ibu
Dimana
masa nifas merupakan salah satu fase yang memerlukan adaptasi psikologis. Perubahan peran seorang ibu
memerlukan adaptasi yang harus dijalani. Tanggungjawab bertambah dengan adanya
bayi yang baru lahir. Dorongan dan perhatian anggota keluarga lainnya merupakan
dorongan positif untuk ibu (Suherini,2009).
Ibu yang selalu sedih, kesal bingung dan tidak
tenang, tidak dapat memberikan ASI-nya secara benar kepada si kecil. Banyak
penelitian membuktikan kondisi psikologis ibu berhubungan dengan jumlah ASI
yang dikeluarkan. Di sinilah pentingnya mengatasi kondisi psikis ibu agar si
kecil tidak terkena dampaknya dan segera mendapat ASI yang lancar sesuai yang dibutuhkan
(Nita Haeriaty, 2010).
Selain
mengkonsumsi makanan yang bergizi, kelancaran produksi ASI juga ditemukan oleh
kondisi psikologi ibu saat menyusui. ASI yang keluar dari puting bukan hanya
karena hisapan mulut bayi, melainkan ada refleks-refleks tertentu yang saling
berhubungan antara otak (hypothalamus hipofisi), kelenjar bawah otak, dengan
kelenjar susu yang menghasilkan susu. Jika ibu dalam kondisi stress saat
menyusui, akan menyebabkan jalur neuro hormonal terganggu, sehingga kelenjar
susu pun tidak akan memproduksi ASI dengan baik (Nita Haeriaty, 2010).
Upaya-upaya yang
dapat dilakukan guna mendukung psikologis ibu antara lain dukung ibu melewati
masa-masa kehamilan dan persalinan, suami dan keluarga dekat membangun hubungan
yang lebih dekat, hindari konflik antara suami istri dan upayakan selalu
suasana tenang serta relaks. Selain itu, suami dapat menemani istri selama
menyusui sehingga dukungan ayah dirasakan oleh si ibu. Dengan demikian
kewajiban menyusui dapat dijalankan dengan baik (Nita Haeriaty, 2010).
Menurut Dewi,
(2011) kondisi psikologis ibu dapat mempengaruhi produksi ASI karena butuh
penyesuaian pada ibu pasca melahirkan khususnya ibu primipara dalam memasuki
fase baru dan pegalaman baru menjadi orang tua juga tidaklah mudah dan tidaklah
selalu menjadi hal yang menyenangkan bagi setiap wanita sehingga dapat mempengaruhi
kondisi ibu dan berdampak pada kelancaran produksi ASI. Oleh karena itu, dalam
hal ini tenaga kesehatan memegang peranan penting untuk tetap meningkatkan
pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan bermutu dengan bekal ilmu dan ketrampilan
yang dimiliki sehingga di harapkan dapat memberi penngetahuan atau informasi
untuk menyiapkan kondisi psikologis ibu agar ibu lancar dalam memberikan ASI
atau menyusui bayi pertama kali sehingga bayi mendapatkan ASI dan ibu yang
sering menyusui akan membantu proses produksi ASI sehingga ASI keluar lancar. Memberikan
ASI juga merupakan keuntungan, semua keuntungan ini tidak hanya dirasakan oleh
bayi, tetapi juga dirasakan oleh ibu, lingkungan bahkan negara.
Hawari (2011)
menyatakan bahwa kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan
perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam. Gejala yang dikeluhkan
didominasi oleh factor psikis tetapi dapat pula oleh faktor fisik. Seseorang
akan mengalami gangguan cemas manakala yang bersangkutan tidak mampu mengatasi
stressor psikososial.
Berdasarkan
penelitian MW Saraung dkk (2017) dengan judul Analisis Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan Produksi Asi Pada Ibu Postpartum Di Puskesmas Ranotana Weru
didapatkan hasil penelitian menggunakan uji statistik chi-square didapatkan
untuk bentuk dan kondisi puting susu dengan produksi ASI nilai P = 0.030 < α
= 0.05, kecemasan dengan produksi ASI nilai P = 0.013 < α = 0.05 dan
dukungan keluarga dengan produksi ASI nilai P = 0.000 < α = 0.05.
Adapun penelitian
Nurul Kamariyah (2014) dengan judul
Kondisi Psikologi Mempengaruhi Produksi Asi Ibu Menyusui Di BPS Aski Pakis Sido
Kumpul Surabaya dengan hasil penelitian menunjukan sebagian besar
(61,1%) ibu mengalami gangguan psikologis dan sebagian besar (72,2%)
ketidaklancaran pada ASI. Hasil p =0,001 artinya p < α =0,05 maka H0
ditolak yaitu ada hubungan antara kondisi psikologis ibu dengan
kelancaran produksi ASI. Semakin baik kondisi psikologis ibu melahirkan semakin
baik pula produksi ASInya.
2. Faktor Pola Makan
Makanan
yang dikonsumsi ibu secara tidak langsung mempengaruhi kualitas, maupun jumlah
air susu yang dihasilkan. Ibu yang menyusui tidak perlu makan berlebihan,
tetapi cukup menjaga keseimbangan konsumsi gizi. Apabila ibu menyusui
mengurangi makan atau menahan rasa lapar maka akan mengurangi produksi ASI.
Pada kenyataanya, tidak ada makanan
minuman khusus yang dapat memproduksi ASI secara ajaib, meskipun banyak
orang yang mempercayai bahwa makanan atau minuman tertentu akan meningkatkan
produksi ASI. Pola makan adalah salah satu penentu keberhasilan ibu dalam
menyusui. Sehingga ibu yang menyusui perlu mengonsumsi makanan dengan gizi
seimbang. Nutrisi yang seimbang akan menghasilkan gizi yang baik dan
berkualitas. Beberapa penelitian membuktikan ibu dengan gizi yang baik, umumnya
mampu menyusui bayinya selama minimal 6 bulan, sebaliknya ibu yang gizinya
kurang, biasanya tidak mampu menyusui selama itu bahkan tidak jarang air
susunya tidak keluar (Proverawati, 2009).
Selain itu pola makan seseorang dipengaruhi
oleh kepercayaan dan juga rasa lapar. Agama atau kepercayaan juga mempengaruhi
jenis makanan yang dikonsumsi. Rasa lapar umumnya merupakan sensasi yang kurang
menyenangkan karena berhubungan dengan kekurangan makanan. Sebaliknya, nafsu
makan merupakan sensasi yang menyenangkan berupa keinginan seseorang untuk
makan. Sedangkan rasa kenyang merupakan perasaan puas karena telah memenuhi
keinginanya untuk makan. Pusat pengaturan dan pengontrolan mekanisme lapar,
nafsu makan dan rasa kenyang dilakukan oleh sistem saraf pusat, yaitu hipotalamus (Irma Yustina Imasrani dkk, 2016).
Makanan yang di konsumsi pada masa nifas
harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makanan yang mengandung
tenaga (energi), sumber pembangun (protein), sumber pangatur dan pelindung
(vitamin dan mineral serta air) (Waryana, 2010). Produksi ASI sangat di
pengaruhi oleh makanan ibu. Apabila ibu makan secara teratur dan cukup
mengandung gizi yang di perlukan maka akan mempengaruhi produksi ASI. Kelenjar
pembuat ASI tidak dapat bekerja dengan sempurna tanpa makanan yang cukup. Untuk
memproduksi ASI yang baik makanan ibu harus memenuhi jumlah kalori, protein,
lemak dan vitamin serta mineral yang cukup.selain itu ibu dianjurkan minum
lebih banyak 8 – 12 gelas / hari ( Heryani, 2010 )
Agar produksi ASI meningkat, ibu yang
menyusui dianjurkan untuk selalu
mengkonsumsi makanan yang mengandung zat-zat gizi yang cukup, terutama
sayuran hijau (Nita Haeriaty, 2010)
Dimana kebutuhan kalori ibu perhari harus
terdiri dari 60-70% karbohidrat, 10-20% protein, dan 20-30% lemak. Kalori ini
didapat dari makanan yang dikonsumsi ibu dalam sehari (Nutrisi Bangsa, 2013).
Selama kehamilan
metabolisme ibu berubah sehingga terjadi penimbunan energi dalam bentuk lemak
sebagai cadangan. Pada wanita hamil yang sehat penimbungan lemak ini kira-kira
sebanyak 4 kg sesuai dengan penyimpangan sebanyak 35.000 kkal yang cukup untuk
menyusui setiap hari. Selama menyusui lemak di ubah menjadi energi dalam air
susu. Energi dibutuhkan menutupi kandungan energi dari ASI yang disekresikan,
ditambah lagi dengan energi yang diperlukan untuk memproduksi ASI. Ibu dengan
gizi yang baik dapat memberikan ASI kepada bayinya pada bulan pertama kurang
lebih 600 cc perhari, untuk itu nutrisi yang baik untuk ibu menyusui sangat diperlukan.
Kebutuhan protein pada ibu menyusui pada enam bulan pertama memerlukan tambahan
16 gram perhari. Pada enam bulan kedua 12 gram perhari, lemak diperlukan 25 % -
40 %, karbohidrat 555 – 75%, cairan minimal 10 gelas perhari dan vitamin(Nita Haeriaty, 2010)
Menu sehari ibu
menyusui (Nita
Haeriaty, 2010) :
a. Nasi / pengganti
: 5 – 6 piring
b. Lauk hewan : 3 –
4 potong dengan berat @ 50 gr
c. Lauk nabati : 2 –
4 potong
d. Sayuran : 1,5 – 2
potong
e. Buah : 2 – 3
potong
f. Ditambah 1 gelas
susu jika memungkinkan
g. Minum kurang
lebih 10 gelas/hari
Berdasarkan Penelitian Irma Yustina Imasrani, dkk (2017) Kaitan
Pola Makan Seimbang Dengan Produksi Asi Ibu Menyusui hasil
disampaikan bahwa produksi ASI ibu yang baik sebanyak 18 orang (56,25%) dan
pola makan seimbang normal sebanyak 24 orang (75%). Berdasar analisis data
disampaikan ada hubungan pola konsumsi makan dengan produksi ASI ibu menyusui,
dengan p value 0,01 < (α) 0,05.
Adapun penelitian Ika Nurhayati, dkk (2013) menunjukan bahwa ada Hubungan antara
Pola Nutrisi pada Ibu nifas dengan Kecukupan ASI pada Bayi di Desa Mejasem
Timur Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal Tahun 2013 dengan responden pola nutrisi
baik dan sebagian besar kecukupan ASI pada bayinya tercukupi.
Sanima, dkk (2017) hasil
penelitiannya membuktikan pola makan ibu menyusui lebih dari separuh (66,7%)
masuk kategori baik dan produksi ASI ibu menyusui lebih dari separuh (60,0%)
masuk kategori sangat baik. Hasil korelasi spearmen rank didapatkan p-value=
(0,002) < (0,050) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pola makan
dengan produksi ASI pada ibu menyusui di Posyandu Mawar Kelurahan Tlogomas
Kecamatan Lowokwaru Kota Malang
3. Faktor Isapan Bayi
Dimana
bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI
dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Sebaiknya menyusui bayi
secara non- jadwal (on demand) karena
bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Kegiatan menyusui yang dijadwalkan
akan berakibat kurang baik karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan isapan
produksi ASI selanjutnya (Jannah,2011).
Cara ibu menyusui bayinya dengan tepat pada saat menyusui, seperti
cara menempatkan posisi mulut pada payudara, sehingga isapan bayi seluruhnya
benar. Jika isapan bayi
benar maka akan menstimulasi hipotalamus yang akan merangsang kelenjar hipofise
anterior menghasilkan hormon prolaktin dan hipofise posterior menghasilkan
hormone oksitosin. Isapan bayi benar adalah : Mulut bayi terbuka lebar, bayi
tampak menghisap kuat, puting susu ibu tidak terasa nyeri. Pipi membulat, lebih
banyak areola diatas mulut, menghisap pelan, dalam dan diselingi istirahat,
dapat mendengar suara saat bayi menelan (Agustina, 2012).
Ibu tidak
memegang atau menyangga payudara, lidah bayi berada dibawah puting susu,
terlihat gerakan sendi rahang bayi yang aktif dalam menyusu (Suherni, 2009).
Faktor yang
mempengaruhi isapan bayi adalah bayi berat lahir rendah, bayi dengan lidah pendek dan masa gestasi saat melahirkan
(Kristiyanasari, 2009). Keberhasilan proses laktasi adalah salah satunya bentuk
puting susu. Bentuk putting susu yang menonjol akan memudahkan bayi saat
menyusu, sehingga bayi tidak mengalami kesulitan mengisap, sedangkan pada
puting susu yang tenggelam bayi mengalami kesulitan mengisap ASI, maka bayi
akan haus dan rewel lalu menangis karena bayi tidak bisa mengisap dengan
optimal.
Bayi lahir diatas
>34 minggu adalah bayi yang sudah mampu hidup diluar kandungan karena
mempunyai organ-organ yang sudah baik. Sehingga kemampuan menghisap lebih
efektif. Sedangkan bayi dengan < 34 minggu tidak mempunyai kemampuan
menghisap secara efektif dan lemah. Bayi lahir pada masa gestasi > 34 minggu
dapat mempengaruhi isapan bayi. Hal ini disebabkan bayi yang lahir prematur
(masa gestasi kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan tidak mampu menghisap
secara efektif (Yanti dkk, 2011).
Berat badan lahir
normal > 2500 gram adalah berat badan yang struktur organnya sudah matur.
Reflek dalam mekanisme isapan bayi sudah baik. Kemampuan isapan dan menelan
juga baik, sehingga saat ibu menyusui bayi dapat menghisap dengan tepat. Bayi
dengan berat lahir normal mempunyai reflek mengisap dan menelan yang sudah
baik. Bayi berat lahir rendah mempunyai masalah menyusui karena refleks
menghisapnya masih relative lemah yang akan mempengaruhi stimulasi hormon
prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI (Kristiyanasari, 2009).
Berdasarkan
penelitian TA
Tauriska (2014) dengan
judul Hubungan Antara Isapan Bayi Dengan
Produksi Asi Pada Ibu Menyusui Di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya dengan Hhasil
penelitian menunjukkan hampir seluruhnya (94,1%) isapan bayi benar dan hampir
seluruhnya (88,2%) mempunyai produksi ASI cukup. Hasil uji statistik didapatkan
bahwa p = 0,018 dengan tingkat signifikan α = 0,05 berarti p < α maka
H0 ditolak. Simpulan dari penelitian semakin sering bayi mengisap payudara
dengan benar, ASI semakin sering diproduksi.
Adapun penelitian yang dilakukan Yeti Bangun Lestari (2011) Dengan Judul Hubungan Antara Isapan Bayi Dengan Produksi ASI Pada Ibu Nifas Di BPS Yuniati Mojo
Surabaya Hasil
penelitian (78,6%) ibu nifas memiliki bayi yang isapannya kuat dan (67,9%) ibu
nifas produksi ASI-nya cukup. Dan Uji chi square diperoleh hasil ρ = 0,007
karena ρ <α maka hipotesis terbukti. Dari data diatas maka dapat disimpulkan
bahwa ada hubungan antara isapan bayi dengan produksi ASI pada ibu nifas. Makin
kuat lemahnya bayi menghisap payudara, makin banyak ASI yang diproduksi, oleh
karena itu yang terpenting adalah memacu produksi ASI sejak dini dengan selalu
menyusui bayinya secara teratur, sehingga rangsangan payudara memproduksi ASI
lebih banyak serta pemberian penyuluhan pada ibu nifas oleh petugas kesehatan
terutama bidan yaitu tentang makanan yang mengandung nutrisi baik untuk ibu
nifas, persiapan psikologis, perawatan payudara, dan istirahat yang cukup.
Hasil penelitian
Fazdria dan MS Harahap (2017) dari 43
responden mayoritas memiliki isapan bayi yang tidak baik sebanyak 24 responden
(55,8%). Peneliti mengasumsikan bahwa ibu yang mengalami ASI terhambat pada 1-3
hari post partum lebih banyak terdapat pada isapan bayi yang tidak baik,
hal ini dikarenakan isapan bayi akan merangsang pengeluaran ASI sehingga ibu post
partum yang memiliki isapan bayi yang tidak baik memiliki risiko yang lebih
besar mengalam hambatan ASI.
Bagi Pembaca Yang ingin Mendapatkan Referensi Bisa Komentar Dibawah dan Masukkan emailnya Terimah Kasih Mohon Cantumkan Didaftar Pustaka Anda Sebagai referensi
0 Response to "Hubungan Insiasi Menyusui Dini Dengan Produksi ASI Pada Ibu Post Partum"
Post a Comment