ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN APENDISITIS
BAB
I
PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN
Apendisitis
adalah peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis, dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering. Pada masyarakat umum,sering juga
disebut dengan istilah radang usus buntu. Akan tetapi, istilah usus buntu yang
selama ini dikenal dan digunakan di masyarakat kurang tepat, karena yang
merupakan usus buntu sebenarnya adalah sekum (caecum).
Sedangkan apendiks atau yang sering disebut
juga dengan umbai cacing adalah organ tambahan pada usus buntu. Umbai cacing
atau dalam bahasa Inggris, vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah
ujung buntu tabung yang menyambung dengan caecum.
B. ANATOMI
Umbai
cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Apendiks merupakan organ yang
berbentuk tabung panjang dan sempit. Panjangnya kira-kira 10cm (kisaran 3-15cm)
dan pada orang dewasa umbai cacing berukuran sekitar 10 cm. Walaupun lokasi
apendiks selalu tetap yaitu berpangkal di sekum, lokasi ujung umbai cacing bisa
berbeda-beda, yaitu di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang pasti tetap
terletak di peritoneum.
Apendiks
memiliki lumen sempit dibagian proximal dan melebar pada bagian distal. Saat
lahir, apendiks pendek dan melebar dipersambungan dengan sekum. Selama
anak-anak, pertumbuhannya biasanya berotasi ke dalam retrocaecal tapi masih
dalam intraperitoneal. Pada apendiks terdapat 3 tanea coli yang menyatu
dipersambungan caecum dan bisa berguna dalam menandakan tempat untuk mendeteksi
apendiks. Posisi apendiks terbanyak adalah Retrocaecal (74%) lalu menyusul Pelvic
(21%), Patileal(5%), Paracaecal (2%), subcaecal(1,5%) dan preleal (1%).
Apendiks
dialiri darah oleh arteri apendicular yang merupakan cabang dari bagian bawah
arteri ileocolica. Arteri apendiks termasuk arteri akhir atau ujung. Apendiks
memiliki lebih dari 6 saluran limfe melintangi mesoapendiks menuju ke nodus
limfe ileocaecal.
C. FUNGSI
APENDIKS
Organ
apendiks pada awalnya dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai
fungsi. Tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ
imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu
kekebalan tubuh). Immunoglobulin sekretoal merupakan zat pelindung yang efektif
terhadap infeksi (berperan dalam sistem imun). Dan immunoglobulin yang banyak
terdapat di dalam apendiks adalah Ig-A. Namun demikian, adanya pengangkatan
terhadap apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh. Ini dikarenakan jumlah
jaringan limfe yang terdapat pada apendiks kecil sekali bila dibandingkan
dengan yang ada pada saluran cerna lain.
Selain itu, apendiks menghasilkan lendir 1 – 2
ml per hari. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya
dialirkan ke sekum. Adanya hambatan dalam pengaliran tersebut merupakan salah satu penyebab timbulnya
appendisitis.
Fungsi appendiks masih mengalami banyak perdebatan, namun
para ahli meyakini antara lain sebagai berikut :
1.
Berkaitan
dengan sistem kekebalan tubuh
Antara lain menghasilkan Immunoglobulin A (IgA) seperti
halnya bagian lain dari usus. IgA merupakan salah satu immunoglobulin (antibodi)
yang sangat efektif melindungi tubuh dari infeksi kuman penyakit. Loren G.
Martin, professor fisiologi dari Oklahoma State University, berpendapat bahwa
appendiks memiliki fungsi pada fetus dan dewasa. Telah ditemukan sel
endokrinpada appendiks dari fetus umur 11 minggu yang berperanan dalam
mekanisme kontrol biologis (homeostasis). Pada dewasa, Martin berpendapat bahwa
appendiks sebagai organ limfatik. Dalam penelitiannya terbukti appendiks kaya
akan sel limfoid, yang menunjukkan bahwa appendiks mungkin memainkan peranan
pada sistem imun. Pada dekade terakhir para ahli bedah berhenti mengangkat
appendiks saat melakukan prosedur pembedahan lainnya sebagai suatu tindakan
pencegahan rutin, pengangkatan appendiks hanya dilakukan dengan indikasi yang
kuat, oleh karena pada kelainan saluran kencing tertentu yang membutuhkan
kemampuan menahan kencing yang baik (kontinen), apendiks telah terbukti
berhasil ditransplantasikan kedalam saluran kencing yang menghubungkan buli
(kandung kencing) dengan perut sehingga menghasilkan saluran yang kontinen dan
dapat mengembalikan fungsional dari buli.
2.
Apendiks
dianggap sebagai struktur vestigial (sisihan) yang tidak memiliki fungsi apapun bagi tubuh.
Dalam teori evolusi, Joseph
McCabe mengatakan:
The vermiform appendage—in which some recent medical writers have
vainly endeavoured to find a utility—is the shrunken remainder of a large and
normal intestine of a remote ancestor. This interpretation of it would stand
even if it were found to have a certain use in the human body. Vestigial organs
are sometimes pressed into a secondary use when their original function has
been lost.
Menurut Darwin, Appendiks dulunya berguna dalam mencerna dedaunan seperti halnya pada
primata. Sejalan dengan waktu, kita memakan lebih sedikit sayuran dan mulai
mengalami evolusi, selama ratusan tahun, organ ini menjadi semakin kecil untuk
memberi ruang bagi perkembangan lambung. appendiks kemungkinan merupakan organ
vestigial dari manusia prasejarahyang mengalami degradasi dan hampir menghilang
dalam evolusinya. Bukti dapat ditemukan pada hewan herbivora seperti halnya
Koala. Sekum dari koala melekat pada perbatasan antara usus besar dan halus
seperti halnya manusia, namun sangat panjang, memungkinkan baginya untuk
menjadi tempat bagi bakteria spesifik untuk pemecahan selulosa. Sejalan dengan
manusia yang semakin banyak memakan makanan yang mudah dicerna, mereka semakin
sedikit memakan tanaman yang tinggi selulosa sebagai energi. Sekum menjadi
semakin tidak berguna bagi pencernaan hal ini menyebabkan sebagian dari sekum
semakin mengecil dan terbentuklah appendiks.
Teori evolusi menjelaskan seleksi natural bagi appendiks
yang lebih besar oleh karena appendiks yang lebih kecil dan tipis akan lebih
baik bagi inflamasi dan penyakit.
3.
Menjaga
Flora Usus
William Parker, Randy Bollinger, and colleagues at Duke
University mengajukan teori bahwa appendiks menjadi surga bagi bakteri yang
berguna, saat
penyakit menghilangkan semua bakteria tersebut dari seluruh usus. Teori ini
berdasarkan pada pemahaman baru bagaimana sistem imun mendukung pertumbuhan
dari bakteri usus yang berguna. Terdapat bukti bahwa appendiks
sebagai alat yang berfungsi dalam memulihkan bakteri yang berguna setelah
menderita diare.
Pada akhirnya semua makhluk yang diciptakan Allah adalah
dengan maksud dan tujuan tertentu. Kita harus menghargai setiap spesies dan
organ yang ada padanya sebagai sesuatu yang memiliki fungsi dan kegunaannya
masing-masing.
D. KLASIFIKASI
APENDISITIS
Klasifikasi Apendisitis ada 2, yaitu :
1. Apendisitis Akut, dibagi
atas :
a. Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan
timbul striktur lokal.
b.
Appendisitis purulenta difusi,
yaitu sudah bertumpuk nanah.
Appendisitis akut dalam 48 jam dapat menjadi :
a. Sembuh
b.
Kronik
c.
Perforasi
d. Infiltrat
2.
Apendisitis
Kronis, dibagi atas :
a.
Apendisitis kronis fokalis atau
parsial, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal.
b.
Apendisitis kronis obliteritiva, yaitu appendiks miring dimana biasanya ditemukan
pada usia tua.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. PENYEBAB
Kita
sering mengasumsikan bahwa apendisitis berkaitan dengan makan biji cabai. Hal
ini tidak sepenuhnya salah. Namun yang mendasari terjadinya apendisitis adalah
adanya sumbatan pada saluran apendiks. Yang menjadi penyebab tersering
terjadinya sumbatan tersebut adalah fekalit. Fekalit terbentuk dari feses yang
terperangkap di dalam saluran apendiks. Selain fekalit, yang dapat menyebabkan
terjadinya sumbatan adalah cacing atau benda asing yang tertelan. Beberapa
penelitian menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat terhadap
timbulnya apendisitis. Kebiasaan makan makanan rendah serat dapat mengakibatkan
kesulitan dalam buang air besar, sehingga akan meningkatkan tekanan di dalam
rongga usus yang pada akhirnya akan menyebabkan sumbatan pada saluran apendiks.
Selain
penyebab di atas apendisitis ini pada umumnya karena infeksi bakteri atau kuman. Infeksi kuman
dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan streptococcus. Penyebab
lain yang diduga menimbulkan apendisitis adalah ulserasi mukosa apendiks oleh
parasit E. Histolytica.
Berbagai
hal berperan sebagai faktor penyebab terjadinya apendisitis. Diantaranya adalah
obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi ini biasanya disebabkan
karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit), hiperplasia jaringan limfoid,
tumor apendiks, striktur, benda asing dalam tubuh, dan cacing askaris dapat
pula menyebabkan terjadinya sumbatan. Apendisitis merupakan salah satu penyakit
patologis.
Patologi
apendisitis berawal di jaringan mukosa dan kemudian menyebar ke seluruh lapisan
dinding apendiks. Jaringan mukosa pada apendiks menghasilkan mukus (lendir)
setiap harinya. Terjadinya obstruksi menyebabkan pengaliran mukus dari lumen
apendiks ke sekum menjadi terhambat. Makin lama mukus makin bertambah
banyak dan kemudian terbentuklah bendungan mukus di dalam lumen. Namun, karena
keterbatasan elastisitas dinding apendiks, sehingga hal tersebut menyebabkan
terjadinya peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut
akan menyebabkan terhambatnya aliran limfe, sehingga mengakibatkan
timbulnya edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah
terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri di daerah epigastrium
di sekitar umbilikus.
Jika
sekresi mukus terus berlanjut, tekanan intralumen akan terus meningkat. Hal ini
akan menyebabkan terjadinya obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan
menembus dinding apendiks. Peradangan yang timbul pun semakin meluas dan
mengenai peritoneum setempat, sehingga menimbulkan nyeri di daerah perut kanan
bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian
aliran arteri terganggu, maka akan terjadi infark dinding apendiks yang disusul
dengan terjadinya gangren. Keadaan ini disebut dengan apendisitis ganggrenosa.
Jika dinding apendiks yang telah mengalami ganggren ini pecah, itu berarti
apendisitis berada dalam keadaan perforasi.
Sebenarnya
tubuh juga melakukan usaha pertahanan untuk membatasi proses peradangan ini.
Caranya adalah dengan menutup apendiks dengan omentum, dan usus halus, sehingga
terbentuk massa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah
infiltrat apendiks. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses
yang dapat mengalami perforasi. Namun, jika tidak terbentuk abses, apendisitis
akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang dan selanjutnya akan
mengurai diri secara lambat.
B. GEJALA
Gejala utama
terjadinya apendisitis adalah adanya nyeri perut. Nyeri perut yang klasik pada
apendisitis adalah nyeri yang dimulai dari ulu hati, lalu setelah 4-6 jam akan
dirasakan berpindah ke daerah perut kanan bawah (sesuai lokasi apendiks). Namun
pada beberapa keadaan tertentu (bentuk apendiks yang lainnya), nyeri dapat
dirasakan di daerah lain (sesuai posisi apendiks). Ujung apendiks yang panjang
dapat berada pada daerah perut kiri bawah, punggung, atau di bawah pusar.
Anoreksia (penurunan nafsu makan) biasanya selalu menyertai apendisitis. Mual
dan muntah dapat terjadi, tetapi gejala ini tidak menonjol atau berlangsung
cukup lama, kebanyakan pasien hanya muntah satu atau dua kali. Dapat juga
dirasakan keinginan untuk buang air besar atau buang angin. Demam juga dapat
timbul, tetapi biasanya kenaikan suhu tubuh yang terjadi tidak lebih dari 1
C (37,8 – 38,8
C). Jika terjadi peningkatan suhu yang melebihi 38,8
C. Maka kemungkinan besar sudah terjadi peradangan
yang lebih luas di daerah perut (peritonitis). Pada bayi dan anak-anak,
nyerinya bersifat menyeluruh, di semua bagian perut. Pada orang tua dan wanita
hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak
terlalu terasa. Bila apendiks pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat.
Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok.
Ada beberapa hal yang penting dalam gejala penyakit apendisitis yaitu:
1.
Nyeri mula-mula di epigastrium
(nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah. Nyeri
berhubungan dengan anatomi ureter yang berdekatan dengan apendiks oleh
inflamasi.
2.
Muntah dan mual oleh karena nyeri
viseral. Nutrisi kurang dan volume cairan yang kurang dari kebutuhan juga berpengaruh dengan terjadinya
mual dan muntah.
3.
Suhu tubuh
meningkat dan nadi cepat (karena kuman yang menetap di
dinding usus).
4.
Rasa sakit hilang timbul
5.
Diare atau konstipasi
6.
Tungkai kanan tidak dapat atau terasa sakit jika diluruskan
7.
Perut kembung
8.
Hasil pemeriksaan leukosit
meningkat 10.000 - 12.000 /ui dan 13.000/ui bila sudah terjadi perforasi
9.
Gejala lain adalah badan lemah dan
kurang nafsu makan, penderita nampak sakit, menghindarkan pergerakan.
Selain gejala tersebut masih ada beberapa gejala lain yang
dapat timbul sebagai akibat dari apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung
pada letak apendiks ketika meradang. Berikut gejala yang timbul tersebut.
1.
Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal,
yaitu di belakang sekum (terlindung oleh sekum). Tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan
peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat
melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri
ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.
2.
Bila apendiks
terletak di rongga pelvis
a.
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel
pada rektum, akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga
peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan
berulang-ulang (diare).
b.
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel
pada kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena
rangsangannya dindingnya.
Gejala
apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit dilakukan
diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada waktunya,
sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi perforasi. Berikut beberapa
keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas.
1.
Pada anak-anak
Gejala
awalnya sering hanya menangis dan tidak mau makan. Seringkali anak tidak bisa
menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam kemudian akan terjadi muntah-muntah
dan anak menjadi lemah. Karena ketidakjelasan gejala ini, sering apendisitis
diketahui setelah perforasi. Begitupun pada bayi, 80-90 % apendisitis baru
diketahui setelah terjadi perforasi.
2.
Pada orang tua berusia lanjut
Gejala
sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga lebih dari separuh penderita
baru dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi.
3.
Pada wanita
Gejala
apendisitis sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang gejalanya serupa
dengan apendisitis, yaitu mulai dari alat genital (proses ovulasi, menstruasi),
radang panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia
kehamilan trimester, gejala apendisitis berupa nyeri perut, mual, dan muntah,
dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa timbul pada kehamilan usia ini.
Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral,
sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke
regio lumbal kanan.
C.
PEMERIKSAAN
1.
Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi,
pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling,
sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut.
b. Palpasi, pada daerah perut kanan bawah
apabila ditekan akan terasa nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan
terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis dari
apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut
kanan bawah. Ini disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). Dan apabila
tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan
bawah.Ini disebut tanda Blumberg (Blumberg Sign).
c. Pemeriksaan uji psoas dan uji
obturator, pemeriksaan
ini juga dilakukan untuk mengetahui letak apendiks yang meradang. Uji psoas
dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan
atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila
appendiks yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan tersebut akan
menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan
endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila apendiks yang meradang
kontak dengan m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil, maka
tindakan ini akan menimbulkan nyeri. Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis
pelvika.
d. Pemeriksaan colok dubur, pemeriksaan ini dilakukan pada
apendisitis, untuk menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui.
Jika saat dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri, maka kemungkinan apendiks
yang meradang terletak didaerah pelvis. Pemeriksaan ini merupakan kunci
diagnosis pada apendisitis pelvika.
2. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium, terdiri dari pemeriksaan darah
lengkap dan test protein reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap
ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil
diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.
b. Radiologi, terdiri dari pemeriksaan
ultrasonografi dan CT-scan. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan
bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks.
Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan
apendikalit serta perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya
pelebaran sekum.
D. DIAGNOSIS
Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti,
diagnosis klinis apendisitis masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus. Kesalahan
diagnosis lebih sering terjadi ada perempuan dibanding laki-laki. Hal ini dapat
disadari mengingat pada perempuan terutama yang masih muda sering mengalami
gangguan yang mirip apendisitis. Keluhan itu berasal dari genitalia interna
karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis, atau penyakit ginekologik
lain.Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis apendisitis meragukan,
sebaiknya dilakukan observasi penderita di rumah sakit dengan pengamatan setiap
1-2 jam. Foto barium kurang dapat dipercaya. Ultrasonografi dan laparoskopi
bisa meningkatkan akurasi diagnosis pada kasus yang meragukan.
Bila dari hasil diagnosis positif apendisitis akut, maka
tindakan yang paling tepat adalah segera dilakukan apendektomi. Apendektomi
dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu cara terbuka dan cara laparoskopi.
Apabila apendisitis baru diketahui setelah terbentuk massa periapendikuler,
maka tindakan yang pertama kali harus dilakukan adalah pemberian/terapi
antibiotik kombinasi terhadap penderita. Antibiotik ini merupakan antibiotik
yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Setelah gejala membaik, yaitu
sekitar 6-8 minggu, barulah apendektomi dapat dilakukan. Jika gejala berlanjut,
yang ditandai dengan terbentuknya abses, maka dianjurkan melakukan drainase dan
sekitar 6-8 minggu kemudian dilakukan apendisektomi. Namun, apabila ternyata
tidak ada keluhan atau gejala apapun dan pemeriksaan klinis serta pemeriksaan
laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses setelah dilakukan terapi
antibiotik, maka dapat dipertimbangkan untuk membatalkan tindakan bedah.
E. PENATALAKSANAAN/PENGOBATAN
Penatalaksanaan standar untuk apendisitis adalah operasi.
Pernah dicoba pengobatan dengan antibiotik, walaupun sembuh namun tingkat
kekambuhannya mencapai 35 %. Pembedahan dapat dilakukan secara terbuka atau
semi-tertutup (laparoskopi). Setelah dilakukan pembedahan atau apendektomi, harus
diberikan antibiotika selama 7 – 10 hari.
Pembedahan segera dilakukan, untuk mencegah terjadinya ruptur
(pecah), terbentuknya abses atau peradangan pada selaput rongga perut (peritonitis).
Pada hampir 15% pembedahan apendiks, apendiksnya ditemukan normal. Tetapi penundaan
pembedahan sampai ditemukan penyebab nyeri perutnya, dapat berakibat fatal. Apendiks yang terinfeksi
bisa pecah dalam waktu kurang dari 24 jam setelah gejalanya timbul. Bahkan
meskipun apendisitis bukan penyebabnya, apendiks tetap diangkat. Lalu dokter bedah akan
memeriksa perut dan mencoba menentukan penyebab nyeri yang sebenarnya.
Pembedahan yang segera dilakukan bisa mengurangi angka
kematian pada apendisitis. Penderita dapat pulang dari rumah sakit dalam waktu
2-3 hari dan penyembuhan biasanya cepat dan sempurna. Apendiks yang pecah,
prognosisnya lebih serius. 50 tahun yang lalu, kasus yang ruptur sering
berakhir fatal. Dengan pemberian antibiotik, angka kematian mendekati nol.
F.
KOMPLIKASI
Pada kebanyakan kasus, peradangan dan infeksi apendiks mungkin didahului
oleh adanya penyumbatan di dalam apendiks. Bila peradangan berlanjut tanpa pengobatan, apendiks bisa pecah. Apendiks yang pecah bisa
menyebabkan :
1.
Perforasi dengan pembentukan
abses.
2.
Peritonitis generalisata, masuknya kuman usus ke
dalam perut, menyebabkan peritonitis, yang bisa berakibat fatal.
3.
Masuknya kuman ke dalam pembuluh darah (septikemia), yang bisa
berakibat fatal.
4.
Pada wanita, indung telur dan salurannya bisa terinfeksi dan menyebabkan
penyumbatan pada saluran indung
telur yang bisa menyebabkan kemandulan.
5.
Pieloflebitis dan abses hati, tapi
jarang terjadi.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks
vermiformis, dan bukan peradangan
usus buntu. apendiks atau yang sering disebut juga dengan
umbai cacing adalah organ tambahan pada usus buntu. fungsi apendiks adalah
sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin
(suatu kekebalan tubuh).
Apendisitis ada 2 macam, yaitu apendisitis akut dan apendisitis kronis. Yang mendasari terjadinya
apendisitis adalah adanya sumbatan pada saluran apendiks. Selain penyebab di atas
apendisitis ini pada umumnya karena
infeksi bakteri atau kuman. Infeksi kuman dari colon yang paling sering
adalah E. Coli dan streptococcus. Penyebab lain yang diduga
menimbulkan apendisitis adalah ulserasi mukosa apendiks oleh parasit E.
Histolytica.
Ada beberapa hal yang penting dalam gejala penyakit
apendisitis, yaitu nyeri, muntah dan mual, suhu tubuh meningkat, nadi cepat, sasa
sakit hilang timbul, diare atau konstipasi, tungkai kanan tidak dapat atau
terasa sakit jika diluruskan, perut kembung, hasil leukosit meningkat. Gejala
lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit,
menghindarkan pergerakan.
Pemeriksaan apendisitis dapat
dilakukan melalui pemeriksaan fisik yaitu inspeksi, palpasi, pemeriksaan
uji psoas dan uji obturator, pemeriksaan
colok dubur. Selain pemeriksaan fisik juga dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan laboratorium
dan radiologi.
Kesalahan diagnosis lebih sering terjadi ada perempuan
dibanding laki-laki. Hal ini dapat disadari mengingat pada perempuan terutama
yang masih muda sering mengalami gangguan yang mirip apendisitis. Bila dari
hasil diagnosis positif apendisitis akut, maka tindakan yang paling tepat
adalah segera dilakukan apendektomi. Pembedahan segera dilakukan, untuk
mencegah terjadinya ruptur (pecah), terbentuknya abses atau
peradangan pada selaput rongga perut (peritonitis). Setelah dilakukan
pembedahan, harus diberikan antibiotika selama 7 – 10 hari.
Pada komplikasi apendiks yang pecah bisa menyebabkan,
perforasi, peritonitis, septikemia, pada wanita terjadi penyumbatan pada saluran indung telur yang bisa
menyebabkan kemandulan serta
terjadi pieloflebitis dan abses hati, tapi jarang terjadi.
.
DAFTAR
PUSTAKA
Anita, Tengku,
S.Ked. 2008. http://www.wordpress.com/tanya_jawab_apendicitis
(diunduh tanggal 28 Maret 2010 pkl. 09.11).
Anonim.http://www.wikipedia_bahasa_Indonesia_ensiklopedia_bebas/apendisitis.html
(diunduh tanggal 28 Maret 2010 pkl. 08.20).
Erik,
Prabowo. 2009. http://www.bedah.info/bedah_digestif/usus_buntu_
_apendiks_tercipta_bagi_ahli_bedah/ (diunduh tangal 28
Maret 2010 pkl 10.05).
Guyton,
Arthur C. 1996. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta:EGC
(Penerbit Buku Kedokteran).
Soleman,
Sani Rachman. 2009. http://www.apendicitis_welcome_to_Sani_
Rachman's_house/Appendicitis_Akut_dan_Appendicitis_Infiltrat.html
(diunduh tanggal 28 Maret 2010 pkl. 08.48).
Syamsuri,
Istamar. 2004. Biologi Jilid 2A Untuk SMA kelas XI. Jakarta:Erlangga.
LAMPIRAN





0 Response to "ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN APENDISITIS"
Post a Comment