KELAINAN KATUP JANTUNG
Nama :
Ahmad Suhir
Nim :
P1106003
Nama : Dedi
Purwanto
Nim :
P1106006
LAPORAN
PENDAHULUAN
A. Kelainan Katup Pada Jantung
Kelainan katup jantung merupakan
keadaan dimana katup jantung mengalami kelainan yang membuat aliran darah tidak
dapat diatur dengan maksimal oleh jantung. Katup jantung yang mengalami
kelainan membuat darah yang seharusnya tidak bisa kembali masuk ke bagian
serambi jantung ketika berada di bilik jantung membuat jantung memiliki tekanan
yang cukup kuat untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya orang tersebut
tidak bisa melakukan aktifitas dalam tingkat tertentu.
Kelainan katup jantung yang parah
membuat penderitanya tidak dapat beraktifitas dan juga dapat menimbulkan
kematian karena jantung tidak lagu memiliki kemampuan untuk dapat mengalirkan
darah. Kelainan katup jantung biasanya terjadi karena faktor genetika atau
keturunan dan terjadi sejak masih dalam kandungan. Kelainan pada katup jantung
juga bisa terjadi karena kecelakaan ataupun cedera yang mengenai jantung. Operasi
jantung juga dapat menyebabkan kelainan pada katup jantung jika operasi
tersebut gagal atau terjadi kesalahan teknis maupun prosedur dalam melakukan
oeprasi pada jantung.
Penyakit ini memiliki gejala antara
lain muda lelah dalam beraktifitas, sering pinsan, dan tidak mampu melakukan
aktifitas yang membutuhkan tenaga yang cukup besar.
Kelainan pada katup jantung dapat
disembuhkan dengan cara
melakukan operasi untuk membenahi bentuk dan susunan katup jantung. Sehingga kerja jantung menjadi normal dan orang tersebut dapat kembali beraktifitas seperti biasanya.
melakukan operasi untuk membenahi bentuk dan susunan katup jantung. Sehingga kerja jantung menjadi normal dan orang tersebut dapat kembali beraktifitas seperti biasanya.
Penyakit ini tidak bisa dicegah.
Namun pada janin yang belum lahir, kemungkinan timbulnya penyakit ini dapat
diminimalisir dengan cara memberikan asupan gizi yang cukup, menghindari
penggunaan zat kimia. Dan bagi wanita yang merokok atau memiliki suami perokok
sebaiknya menghindari rokok agar zat kimia dalam asap rokok tidak masuk ke
dalam tubuh anda dan membuat kemungkinan timbulnya penyakit kelainan katup
jantung pada bayi semakin tinggi.
Cara Kerja Klep Jantung
Klepp jantung kita letaknya di pintu-pintu keluar dari keempat
ruangan jantung anda dan mempertahankan satu arah aliran darah didalam jantung.
Keempat klep jantung memastikan
bahwa darah mengalir dengan bebas pada satu arah aliran dan tidak adanya aliran
balik yang bocor. Darah mengalir dari atria (serambi) kanan
dan atria kiri menujuventricles (bilik) melalui klep tricuspid dan
klep mitral yang terbuka. Ketika ventricles penuh, maka klep tricuspid dan klep
mitral menutup. Ini mencegah darah mengalir balik ke atria ketika ventricles
berkontraksi. Ketika ventricles mulai berkontraksi, maka klep
pulmonic dan klep aortic dipaksa buka dan darah dipompa keluar dari ventricles
melalui klep-klep yang terbuka masuk kedalam arteri pulmonary menuju ke paru-paru,
ke aorta dan keseluruh tubuh. Ketika ventricles selesai dengan kontraksi dan
mulai relax, klep-klep aortic dan pulmonary menutup.
Klep-klep ini mencegah
darah mengalir balik ke ventricles.
Pola ini diulangi
terus menerus, menyebabkan darah mengalir terus menerus ke jantung, paru-paru
dan tubuh.
Jenis Kelainan Klep
§
Valvular stenosis. Ini terjadi ketika keterbukaan klep lebih kecil dari normal
karena kelopak klep menjadi kaku (stiff). Pembukaan yang menyempit dapat
menyebabkan jantung harus bekerja berat untuk memompa darah melaluinya. Ini
dapat menuju ke gagal jantung atau gejala lainnya. Semua keempat klep dapat
stenotic(mengeras, membatasi aliran darah). Kondisi-kondisi ini disebut
tricuspid stenosis, pulmonic stenosis, mitral stenosis atau aortic stenosis.
§
Valvular insufficiency.Juga disebut regurgitation, incompetence atau "leaky
valve"(klep bocor). Ini terjadi karen suatu klep tidak menutup dengan
rapat. Jika klep tidak tertutup rapat, maka ada bagian darah yang mengalir
balik melalui klep. Ketika kebocoran ini menjadi parah, maka jantung harus
bekerja keras untun mengatasi kebocoran klep ini dan lebih sedikit darah yang
mengalir ke sisa tubuh lainnya. Tergantung dari klep mana yang terkena, maka
kondisi ini disebut tricuspid regurgitation, pulmonary regurgitation, mitral
regurgitation atau aortic regurgitation.
Penyebab Kelainan Klep Jantung
Kelainan klep dapat berkembang sebelum kelahiran (Genital) atau
didapat suatu ketika semasa hidup seseorang.
Kadang penyebab kelainannya tidak diketahui.
1.
Kelainan Klep Kelahiran. Kebanyakan mempengaruhi klep aortic atau klep pulmonic.
Klep-klep mungkin ukurannya salah, mempunyai bentuk kelopak yang aneh atau
mempunyai kelopak yang tidak secara benar menempel di annulus. Bicuspid
aortic valve disease. Adalah penyakit klep bawaan (genital) yang mempengaruhi
klep aortic. Bukannya tiga kelopak yang normal atau cusps, tapi bicuspid aortic
valve hanya mempunyai dua saja. Tanpa kelopak yang ketiga, klepnya mungkin jadi
kaku (tidak membuka dan menutup secara baik) atau bocor (tidak dapat menutup
dengan rapat)
2.
Penyakit Klep Yang Didapat. Ini termasuk persoalan
yang berkembang dengan klep-klep yang sebelumnya pernah normal. Ini dapat
melibatkan perubahan struktur klep disebabkan oleh penyakit atau infeksi yang
beragam, termasuk demam rematik (rheumatic fever) atau endocarditis .
§ Demam Rematik disebabkan oleh
infeksi bakteri yang tidak diobati (biasanya leher). Untungnya pengenalan dari
antibiotik untuk mengobati infeksi ini telah mengurangi secara drastis jumlah
infeksi ini. Infeksi permulaan umumnya terjadi pada anak-anak, namun persoalan
jantung yang berhubungan dengan infeksi tidak akan terlihat 20 sampai 40 tahun
kemudian. Pada waktu itu, klep jantung meradang, kelopak-kelopaknya menempel
satu sama lain dan menjadi kaku, menebal, memendek dan mempunai bekas luka. Ini
menyebabkan mitral regurgitation (kebocoran mitral).
§ Endocarditis terjadi ketika
germs, terutama bakteri, masuk kedalam aliran darah dan menyerang klep-klep
jantung, menyebabkan penumbuhan dan lubang-lubang di klep-klep dan bekas luka.
Ini menyebabkan klep-klep yang bocor. Germs yang menyebabkan endocarditis masuk
kedalam aliran darah sewaktu prosedur perawatan gigi, operasi, pemakaian obat
atau dengan infeksi yang parah. Orang-orang dengan penyakit klep (kecuali
mitral valve prolapse tanpa penebalan atau kebocoran) menghadapi risiko yang
meningkat untuk mengembangkan infeksi yang mengancam nyawa ini.
Begitu banyak perubahan yang dapat terjadi pada klep-klep
jantung.
Chordae tendinea atau papillary muscles dapat
memuai(memanjang) atau robek;
annulus dari klep dapat membesar(melebar)
kelopak klep dapat menjadi fibrotic (stiff) dan
kalsifikasi.
Mitral valve prolapse (MVP) adalah suatu kondisi
yang sangat umum dan mempengaruhi sekitar 1 sampai 2 % populasi.
MVP menyebabkan kelopak-kelopak dari klep mitral jatuh kembali (flop
back) kedalam atrium kiri waktu jantung sedang berkontraksi. MPV juga
menyebabkan jaringan klep menjadi abormal dan tertarik(stretchy),
menyebabkan klep menjadi bocor. Kondisi ini jarang menyebabkan gejala-gejala
dan umumnya tidak memerlukan perawatan.
Penyebab-penyebab lainnya dari penyakit klep termasuk:
1.
penyakit jantung koroner
2.
serangan jantung
3.
kardiomiopati
4.
syphilis
5.
hipertens
6.
aneurisme aorta.
7.
Penyebab penyakit klep yang lebih jarang termasuk tumor,
beberapa tipe dari obat-obatan dan radiasi.
Gejala-gejala Penyakit Klep Jantung
1.
Sesak Napas. Sesak napas yang paling anda perhatikan ketika waktu anda
sedang aktif(melakukan pekerjaan sehari-hari) atau ketika anda sedang berbaring
rata diatas ranjang. Mungkin anda perlu tidur diatas tumpukan bantal untuk
bernapas lega.
2.
Lesu atau pusing. Kita mungkin merasa terlalu lemah untuk mengerjakan pekerjaan
harian anda. Pusing juga dapat terjadi dan pada beberapa kasus, kehilangan
kesadaran mungkin merupakan suatu gejala.
3.
Perasaan tidak enak di dada. Kita mungkin merasakan suatu tekanan
atau beban diatas dada anda waktu suatu aktivitas atau waktu berjalan keluar di
udara yang dingin.
4.
Palpitasi. Ini rasanya seperti denyut jantung yang cepat, denyut jantung
tidak beraturan, denyutan yang terlewat(skipped) atau perasaan flip-flop didada
anda.
5.
Pembengkakan pergelangan, kaki atau abdomen. Ini disebut edema. Pembengkakan dapat
terjadi di perut yang dapat menyebabkan anda merasa kembung.
6.
Penambahan berat badan yang cepat. Penambahan berat badan dari 1
sampai 3 pound dapat terjadi dalam satu hari.
Gejala-gejala tidak selalu berhubungan dengan tingkat keparahan
penyakit klep jantung . Kita mungkin sama sekali tidak mempunyai gejala, tapi
mempunyai penyakit klep yang parah, memerlukan penanganan segera. Atau seperti
dengan mitral valve prolapse, anda mungkin mempunyai gejala yang berat,
bagaimanapun tes menunjukan kebocoran klep anda tidak signifikan.
Mendiagnosis Penyakit Klep Jantung
Dokter dapat memberitahu bahwa kita mempunyai penyakit klep
jantung dengan berbica dengan anda tentang gejala anda, melakukan tes fisik dan
memberikan pada anda beberapa tes lainnya.
Selama tes fisik, dokter mendengar pada jantung anda untuk mendengar suara yang
dibuat jantung ketika membuka dan menutup klep. Murmur adalah
suara mendesis yang dibuat oleh darah mengalir melewati klep stenotic atau klep
bocor.
Dokter juga dapat memberitahu jika jantungnya membesar atau
denyut jantungnya tidak beraturan.
Dokter akan mendengar paru-paru anda untuk mendengar apakah ada
cairan tertahan di paru-paru anda, yang menandakan jantung anda tidak dapat
memompa sebaik apa yang seharusnya.
Dengan memeriksa fisik anda, dokter dapat mencari petunjuk
tentang sirkulasi dan fungsi dari organ-organ anda lainnya.
Setelah pemeriksaan fisik, dokter mungkin meminta
pemeriksaan-pemeriksaan diagnostik lainnya yang dapat termasuk
sebagai berikut:
§ Echocardiography
§ Transesophageal
Echocardiography
§ Cardiac
Catheterization (juga disebut Angiogram )
§ Radionuclide Scans-
Magnetic Resonance Imaging (MRI )
Dengan melihat hasilnya yang diulang pada suatu periode, dokter
dapat melihat kemajuan penyakit klep jantungnya.
Ini dapat membantunya dalam membuat keputusan tentang perawatan
anda.
Patofisiologi penyakit katup jantung
Faktor predisposisi :
- Respons imunologis terhadap infeksi
- perubahan metabolisme akibat penuaan
- prosedur diagnostik infasif
-pengobatan imunodefresif
-antibiotik jangka panjang
|
Mikroorganisme : bakteri
(streptokokus,enterekokus, pneumokokus, stapilokokus). Fungi, riketsia, dan
streptokokus viridans.
|
Invasi kekatup dan permukaan
ednotel jantung
|
Rematik endokarditis
|
Klasifikasi dan sklerosis
jaringan katup
|
Ruptur otot papilaris oleh
IMA
|
Tekanan hemodinamik lebih
pada katu mitralis dan aorta
|
Derajat perubahan bentuk yang
dialami oleh katup
|
Penutupan/kekakuan katup
tidak sempurna
|
Keruskan bilah jantung
|
Pembentukan modul dan
jaringan parut, penebalan progresif dan pengerutan bilah-bilah katup
|
Fenomena reaksi sensitivitas
: pembengkakan, fibrosis, dan perforasi daun katup serta erosi pinggir daun
katup
|
Mempersulit penutupan katup
|
Lubang katup melebar
|
Kemampuan otot papilaris
untuk mendekatkan daun-daun katup pada waktu katup menutup berkurang
|
Gagal ventrikel, pembesaran
ventrikel, dan bentuk ventrikel
|
Proses penuaan
|
Regurgitasi/infusiensi katup
stenosis katup
|
Menangani Penyakit Klep Jantung
Perawatan untuk penyakit klep jantung tergantung dari tipe dan
seberapa buruk penyakit klepnya.
Ada tiga tujuan dari perawatan penyakit klep jantung :
1.
Melindungi klep jantung dari kerusakan lebih lanjut. Melindungi klep dari
kerusakan lebih lanjutJika anda mempunyai penyakit klep jantung, maka anda
berisiko untuk mengembangkan endocarditis, suatu kondisi yang serius.
Orang-orang dengan mitral valve prolapse tanpa penebalan atau kebocoran, tidak
berisiko mengembangkan endocarditis.
2.
Mengurangi gejala-gejala
3.
Memperbaiki atau mengganti klep-klep.
Kita tetap beriko untuk endocarditis walaupun klep anda sudah
diperbaiki atau diganti melalui operasi.
Untuk melindungi diri kita :
- Beritahu dokter atau dokter gigi anda bahwa anda mempunyai
penyakit klep jantung.
- Kunjungi dokter anda jika anda mendapat gejala-gejala infeksi
(sakit tenggorokan, demam, seluruh tubuh sakit)
- Jagalah kesehatan gigi dan gusi anda untuk mencegah infeksi.
Kunjungi dokter anda secara teratur.
Obat-obatan
Medis
Mungkin diresepkan obat-obatan untuk
merawat gejala-gejala dan untuk mengurangi kemungkinan dari kerusakan klep yang
lebih lanjut. Beberapa obat-obatan mungkin diberhentikan setelah anda menjalani
operasi klep untuk memperbaiki persoalan anda.
Obat-obatan
yang lain mungkin diperlukan untuk diminum seumur hidup.
Obat-obatan
dapat termasuk:
§ Diuretics mengeluarkan cairan berlebihan dari
jaringan dan aliran darah
§ Mengurangi gejala dari gagal
jantung.
§ Obat-obatan anti aritmia mengontrol
irama jantung.
§ Vasodilators mengurangi kerja jantung. Juga
merangsang darah untuk mengalir kearah depan dari pada kearah belakang melalui
suatu klep yang bocor.
§ ACE inhibitors. Suatu tipe dari vasodilators
yang mengobati tekanan darah tinggi dan gagal jantung.
§ Beta blockers. Mengobati tekanan darah tinggi
dan mengurangi kerja jantung dengan membantu jantung berdenyut lebih perlahan
dan dengan kekuatan yang lebih kecil. Digunakan untuk mengurangi palpitasi pada
beberapa pasien.
§ Anticoagulants (Pengencer darah).
Memperpanjang waktu penggumpalan dari darah, jika anda berisiko mengembangkan penggumpalan
darah pada klep jantung anda.
B.
Jenis Kelainan
katup/klep jantung
Ada beberapa jenis penyakit klep jantung.antara lain :
1. Regurgitasi Katup
Mitral
a.
Definisi
Regurgitasi katup
mitral (inkompetensia Mitral, Insufisiensi Mitral), adalah kebocoran aliran
balik melalui katup mitral setiap kali ventrikel kiri berkontraksi. Pada saat
ventrikel kiri memompa darah dari jantung menuju ke aorta, sebagian darah
mengalir kembali ke dalam atrium kiri dan menyebabkan meningkatnya volume dan
tekanan di atrium kiri. Terjadi peningkatan tekanan darah di dalam pembuluh
yang berasal dari paru-paru, yang mengakibatkan penimbunan cairan (kongesti di
dalam paru-paru).
b.
Etiologi
Berdasarkan
etiologinya insufisiensi atau regurgitasi mitral dapat dibagi atas reumatik dan
non reumatik (degenaratif, endokarditis, penyakit jantung koroner, penyakit
jantung bawaan, trauma dan sebagainya).
1)
Penyakit jantung rematik (PJR/RHD). PJR merupakan salah satu penyebab yang
sering dari insufisiensi mitral berat. Insufisiensi mitral berat akibat PJR
biasanya pada laki-laki. Proses rematik menyebabkan katup mitral kaku,
deformitas, retraksi, komisura melengket/fusi satu sama lain, korda tendinae
memendek, melengket satu dengan yang lain.
2)
Penyakit jantung koroner (PJK). Penyakit jantung koroner dapat menyebabkan
insufisiensi mitral melalui 3 cara:
·
Infark
miokard akut mengenai maksila Papillaris dapat berakibat ruptura dan
terjadi insufisiensi mitral akut dan berat. Terjadi udema paru akut dan dapat
berakibat fatal.
·
Iskemia
maksila papillaris (tanpa infark) dapat menyebabkan regurgitasi
sementara/transient insufisiensi mitral, terjadi pada saat episode iskemia pada
maksila papillaris dan mungkin terjadi pada saat AP.
·
PJK
menyebabkan dilatasi ventrikel kiri (dan mungkin terjadi pada saat AP) dan
terjadi insufisiensi mitral.
3) Dilatasi
ventrikel kiri/kardiomiopati tipe kongestif. Dilatasi LV apapun penyakit yang
mendasari menyebabkan dilatasi annulus mitralis, posisi m. Papillaris berubah
dengan akibat koaptasi katup mitral tidak sempurna dan terjadi MR, adapun
penyakit yang mendasari antara lain : diabetes/kardiomiopati diabetik, iskemia
peripartal, hipertiroidisme, toksik, AIDS.
4) Kardiomiopati
hipertrofik. Daun katup anterior berubah posisi selama sistol dan terjadi MR.
5) Klasifikasi
annulus mitralis. Mungkin akibat degenerasi pada lansia. Dapat diketahui
melalui ekokardiogram' foto thoraks, penemuan biopsi.
6) Prolaps
katup mitral (MVP). Merupakan penyebab sering MR.
7)
Infective Endocarditis (IE). Dapat mengenai daun katup maupun chorda tendinae
dan merupakan penyebab MR akut.
8) Kongenital.
Endocardial Cushion Defect (ECD), insufisiensi mitral pada anomali ini akibat
celah pada katub. Sindrom Marffan yakni akibat kelainan jaringan ikat.
Di amerika utara dan
eropa barat, penyebab yang lebih sering adalah serangan jantung, yang dapat
merusak struktur penyangga dari katup mitral.
Di Indonesia penyebab
terbanyak adalah demam reumatik. Sekitar 30% tidak mempunyai riwayat demam
reumatik yang jelas. Penyebab umum
lainnya adalah regenarasi miksomatus (suatu keadaan dimana katup secara
bertahap menjadi terkulai/terkelepai).
c.
Patofisiologi
Proses patologis
mitral infusiensi adalah sama seperti mitral stenosis, tetapi perubahan
fibrotic dan klasifikasi menyebabkan katup mitral gagal menutup dengan sempurna
dan menyebabkan aliran balik darah. Selama fase sistolik, suatu tekanan yang
besar dihasilkan dalam ventrikal kiri. Ketidakmampuan menutup dari katup mitral
menimbulkan kebocoran aliran darah kedalam atrium kiri selama fase sistolik.
Selama fase diastolic, regurgitan output (aliran kebocoran) ditambah jumlah
darah normal pada atrium kiri, dikembalikan dari atrium kiri ke ventrikel kiri.
Keadaan tersebut akan meningkatkan volume
darah yang harus diejeksikan selama fase systole dan mengakibatkan jantung kiri
berkompensasi (hipertrofi dan dilatasi ruang atrium maupun ventrikel kiri).
Bila keadaan berlanjut, maka akan terjadi kongesti vena pulmonalis, edema paru,
hipertensi arteri pulmonalis, dan hipertrofi ventrikel kanan.
d.
Gejala
Regurgitasi katup
mitral yang ringan bias tidak menunjukkan gejala. Kelainannya bias dikenali
hanya jika dokter melakukan pemeriksaan dengan stetoskop, dimana terdengar
murmur yang khas, yang disebabkan pengaliran kembali darah ke dalam atrium kiri
ketika ventrikal kanan berkontraksi.
Secara bertahap,
ventrikal kiri akan membesar untuk meningkatkan kekuatan denyut jantung, karena
ventrikal kiri harus memompa darah lebih banyak untuk mengimbangi kebocoran
balik ke atrium kiri. Ventrikal yang membesar dapat menyebabkan palpitasi
(jantung berdebar keras), terutama jika penderita berbaring miring ke kiri.
Atrium kiri juga
cenderung membesar untuk menampung darah tambahan yang mengalir kembali dari
ventrikel kiri. Atrium yang sangat membesar sering berdenyut kenjang sangat
cepat dalam pola yang kacau dan tidak teratur (fibrilasi atrium), yang
menyebabkan berkurangnya efisiensi pemompaan jantung. Pada keadaan ini atrium
betul-betul hanya bergetar dan tidak memompa,berkurangnya aliran darah yang
melalui atrium, memungkinkan terbentuknya bekuan darah. Jika suatu bekuan darah
terlepas, ia akan terpompa keluar dari jantung dan dapat menyumbat arteri yang
lebih kecil sehingga terjadi stroke atau kerusakan lainnya. Regurgitasi yang
berat akan menyebabkan berkurangnya aliran darah sehingga terjadi gagal jantung
yang akan menyebabkan batuk, sesak nafas pada saat melakukan aktivitas dan
pembengkakan tungkai.
e.
Diagnose
Regurgitasi katup
mitral biasanya diketahui melalui murmur yang khas, yang bisa terdengar pada pemeriksaan
dengan steteskop ketika ventrikal kiri berkontraksi. Elektrokardiogram (EKG)
dan rontgen dada bisa menunjukkan adanya pembesaran ventrikal kiri. Pemeriksaan
yang paling informative adalah ekokardiografi, yaitu suatu teknik penggambaran
yang menggunakan gelombang ultrasonic. Pemeriksaan ini dapat menggambarkan
katup yang rusak dan mentukan beratnya penyakit.
f.
Pengobatan
Jika regurgitasi
ringan, tidak ada perawtan spesifik diperlukan, namun pasien mungkin perlu
dievaluasi secara berkala dan mungkin perlu minum antibiotic sebelum tindakan
gigi dan medis.
Regurgitasi yang lebih
serius dapat diobati dengan inhibitor angiotesin-converting (ACE) enzim,
seperti Captopril, Enalapril atau lisinopril, dengan atau tanpa Digoksin.
Kadang-kadang operasi diperlukan bagi mereka dengan regurgitasi berat.
Permukaan katup jantung yang rusak mudah terkena infeksi serius (endokarditis
infeksius). Karena itu untuk mencegah terjadinya infeksi, seorang dengan katu;p
yang rusak atau katup buatan harus menkonsumsi antibiotic (seperti sebelum
menjalani tindakan pencabutan gigi atau pembedahan.
Operasi harus dilakukan sebelum ventrikal
kiri menjadi lemah dan tidak bisa kembali. Oleh karena itu dilakukan sebelum
ventrikal kiri menjadi lemah dan tidak bisa kembali. Oleh karena itu,
echocardiography biasanya dilakukan secara berkala untuk menentukan seberapa
cepat ventricle kiri membesar. Pembedahan mungkin dilakukan untuk memperbaiki
katup atau menggantikanya dengan katup (prostetik) buatan. Perbaikan katup
regurgitasi menghilangkan atau cukup mengurangi atau cakup mengurangi untuk
membuat gejala ditoleransi dan mencegah kerusakan jantung. Perbaikan katup
adalah lebih baik dari pada menggantinya, jika mungkin karena katup diperbaiki
biasanya berfungsi lebih baik dari pada katup mekanik / bioprostetik dan pasien
tidak memerlukan minum antikoagulasi seumur hidup.
Gambar : Katup
biologis dan katup mekanis
2. Prolaps katup mitral
(MVP)
a.
Definisi
Prolaps katup mitralis adalah
disfungsi bilah-bilah katup mitralis yang tidak dapat menutup dengan sempurna
dan mengakibatkan regurgitasi, sehingga darah merembes dari ventrikel kiri ke
atrium kiri. Pada Prolaps Katup Mitral (Mitral Valve Prolapse (MVP), selama
ventrikel berkontraksi, daun katup menonjol ke dalam atrium kiri, kadang-kadang
memungkinkan terjadinya kebocoran (regurgitasi) sejumlah kecil darah ke dalam
atrium. Sekitar 2-5% dari populasi mengalami prolaps katup mitral. Prolaps
katup mitral jarang menyebabkan maslah jantung yang serius.
b.
Etiologi
Faktor resiko pada prolaps katup
mitral:
· Wanita kurus yang memiliki kelainan
dinding dada, skoliosis atau penyakit lainnya
· Penderita kelainan septum atrial
yang letaknya tinggi pada dinding jantung (ostium sekundum)
· Kehamilan (karena menyebabkan
meningkatnya volume darah dan beban kerja jantung)
· Kelelahan.
Pada
saat penderita berdiri, tekanan darahnya dapat turun di bawah normal. Palpitasi
terjadi akibat kelainan denyut jantung yang sifatnya ringan.
c.
Patofisiologi
Prolaps katup mitral terjadi karena
daun-daun katup melebar dan prolaps kedalam atrium kiri selama fase sistolik.
Prolaps mitral merupakan kelainan yang tidak berat, tetapi dapat berkembang
lebih berat menjadi mitral insufisiensi.
d.
Tanda
dan gejala
Banyak orang yang mempunyai sindrom
ini tapi tidak menunjukkan gejala. Terkadang gejala pertama kali ditemukan pada
saat pemeriksaan fisik jantung, dengan ditemukannya bunyi jantung tambahan yang
dikenal sebagai mitral click. Adanya klik merupakan tanda awal bahwa jaringan
katup menggelembung ke atrium kiri dan telah terjadi gangguan aliran darah.
Mitral klik dapat berubah menjadi murmur seiring dengan semakin tidak
berfungsinya bilah-bilah katup. Dengan berkembangnya proses penyakit, bunyi
murmur menjadi tanda terjadinya regurgitasi mitral (aliran balik darah).
Prolaps katup mitral terjadi lebih sering pada wanita dibanding pria.
e.
Diagnose
Diagnosis ditegakkan jika terdengar
bunyi 'klik' yang khas melalui stetoskop. Jika terdengar murmur
pada saat ventrikel berkontraksi, berarti terjadi regurgitasi. Ekokardiografi
(teknik penggambaran dengan gelombang ultrasonik), memungkinkan dokter untuk
melihat prolaps dan menentukan beratnya regurgitasi.
f.
Pengobatan
Sebagian besar penderita tidak
memerlukan pengobatan. Jika jantung berdenyut terlalu, beta-blocker (seperti
Acebutolol, Metaprolol, Propanolol, Metaprolol Suksinat, Atenolol,
Bisoprolol)dapat digunakan untuk memperlambat denyut jantung serta mengurangi
palpitasi dan gejala lainnya. Jika terjadi regurgitasi, setiap kali sebelum
menjalani tindakan pencabutan gigi atau pembedahan, penderita harus
mengkonsumsi antibiotic karena terdapat resiko infeksi katup jantung
3. Stenosis Katup Mitral
a.
Definisi
Secara definisi maka stenosis mitral
dapat diartikan sebagai blok aliran darah pada tingkat katup mitral, akibat
adanya perubahan struktur mitral leafleats, yang menyebabkan tidak
membukanya katup mitral secara sempurna pada saat diastolik. (Arjanto
Tjoknegoro. 1996).
Mitral Stenosis (MS) adalah sumbatan
katup mitral yang menyebabkan penyempitan aliran darah ke ventrikel. Pasien
dengan MS secara khas memiliki daun katup mitral yang menebal, kommisura yang
menyatu, dan korda tendineae yang menebal dan memendek. Diameter transversal
jantung biasanya dalam batas normal, tetapi kalsifikasi dari katup mitral dan
pembesaran atrium kiri dapat terlihat. Berikut adalah gambar stenosis katup
mitral.
MS menyebabkan perubahan pada bentuk
jantung dan perubahan-perubahan pada pembuluh darah paru-paru sesuai beratnya
MS dan kondisi jantung. Konveksitas batas kiri jantung mengindikasikan bahwa
stenosis menonjol. Pada kebanyakan kasus terdapat dua kelainan yakni stenosis
mitral dan insufisiensi mitral, umumnya salah satunya menonjol. Ventrikel kiri
juga sangat melebar ketika insufisiensi mitral terlibat sangat signifikan.
Tanda-tanda radiologis klasik dari pasien dengan MS yaitu adanya kontur ganda (double
contour) yang mengarah pada adanya pembesaran atrium kiri, serta adanya
garis-garis septum yang terlokalisasi.
Kondisi ini membuat tekanan vena
pulmonal meningkat sehingga menyebabkan diversi darah, pada foto toraks
terlihat pelebaran relatif pembuluh darah bagian atas paru dibanding pembuluh
darah bawah paru. Penyempitan katup mitral menyebabkan katup tidak terbuka
dengan tepat dan menghambat aliran darah antara ruang-ruang jantung kiri.
Ketika katup mitral menyempit (stenosis), darah tidak dapat dengan efisien
melewati jantung. Kondisi ini menyebabkan seseorang menjadi lemah dan nafas
menjadi pendek serta gejala lainnya.
b.
Etiologi
Stenosis mitral merupakan kelaianan
katup yang paling sering diakubatkan oleh penyakit jantung rheumatik.
Diperkirakan 99 % stenosis mitral didasarkan atas penyakit jantung rheumatik.
Walaupun demikian, sekitar 30 % pasien stenosis mitral tidak dapat ditemukan
adanya riwayat penyakit tersebut sebelumnya.
Pada semua penyakit jantung valvular
stenosis mitral lah yang paling sering di temukan, yaitu ± 40% seluruh penyakit
jantung rheumatik, dan menyerang wanita lebih banyak dari pada pria dengan
perbandingan kira-kira 4 : 1.
Disamping atas dasar penyakit
jantung rheumatik, masih ada beberapa keadaan yang dapat memperlihatkan
gejala-gejala seperti stenosis mitral, misalnya miksoma atrium kiri, bersamaan
dengan ASD (atrium septal defect) seperti pada sindrom Lutembacher,
ball velve thrombi pada atrium kiri yang dapat menyebabkan obstruksi outflow
atrium kiri. Kausa yang sangat jarang sekali ialah stenosis mitral atas
dasar kongenital, dimana terdapat semacam membran di dalam atrium kiri yang
dapat memeprlihatkan keadaan kortri atrium. (Arjanto Tjoknegoro. 1996).
Miksoma (tumor jinak di atrium kiri) atau
bekuan darah dapat menyumbat aliran darah ketika melewati katup mitral dan
menyebabkan efek yang sama seperti stenosis katup mitral.
c.
Patofisologi
Bakteri Streptococcus Beta
Hemolitikus Group A dapat menyebabkan terjadinya demam rheuma. Selain itu,
oleh tubuh bakteri tersebut dianggap antigen yang menyebabkan tubuh
membuat antibodinya. Hanya saja, strukturnya ternyata mirip dengan katup mitral
yang membuat kadangkala antibodi tersebut malah menyerang katup mitral jantung.
Hal ini dapat membuat kerusakan pada katup mitral. Pada proses perbaikannya,
maka akan terdapat jaringan fibrosis pada katup tersebut yang lama kelamaan
akan membuatnya menjadi kaku. Pada saat terbuka dan tertutup akan terdengar
bunyi yang tidak normal seperti bunyi S1 mengeras, bunyi S2 tunggal, dan
opening snap, juga akan terdengar bising jantung ketika darah mengalir. Apabila
kekakuan ini dibiarkan, maka aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri
akan terganggu. Ini membuat tekanan pada atrium kanan meningkat yang membuat
terjadi pembesaran atrium kanan. Keregangan otot-otot atrium ini akan
menyebabkan terjadinya fibrilasi atrium.
Kegagalan atrium kiri memompakan
darah ke ventrikel kiri menyebabakan terjadi aliran darah balik, yaitu dari
atrium kiri kembali ke vena pulmonalis, selanjutnya menuju ke pembuluh darah
paru-paru dan mengakibatkan penurunan curah sekuncup ventrikel sehingga jantung
berkompensasi dengan dilatasi ventrikel kiri, peningkatan kontraksi miokardium,
hipertrofi dinding ventrikel dan dinding atrium. Meningkatnya volume darah pada
pembuluh darah paru-paru ini akan membuat tekanan hidrostatiknya meningkat dan
tekanan onkotiknya menurun. Hal ini akan menyebabkan perpindahan cairan keluar
yang akan menyebabkan udem paru yang kemudian bisa menyebabkan sesak napas pada
penderita. Selain itu, akan menyebabkna hipertensi arteri pulmonalis,
hipertensi ventrikel kanan sehingga dapat mengakibatkan gagal jantung kanan.
d.
Tanda
dan gejala
Timbulnya keluhan pada pasien
stenosis mitral adalah akibat peninggian tekanan vena pulmonal yang diteruskan
ke paru. Gejala-gejala yang timbul pada pasien mitral stenosis antara lain
dispnea, orthopnea, paroxysmal nocturnal dyspnea, hemoptisis, palpitasi, dan
nyeri dada. Gejala-gejala yang muncul tergantung dari derajat MS :
1) MS
(mitral stenosis) ringan
Pada MS ringan ini timbul gejala
sesak nafas pada beban fisik yang sedang, tetapi pada umumnya dapat
mengerjakan aktivitas sehari-hari. Beban fisik berat, kehamilan, infeksi atau
atrial fibrilasi (AF) rapid respon dapat menyebabkan sesak nafas yang hebat.
2) MS
(mitral stenosis) sedang-berat
Gejala pada MS tipe ke dua ini
timbul sesak nafas yang sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, sesak nafas
timbul seperti jalan cepat, jalan menanjak. Infeksi pulmonal, AF (atrial
fibrilasi) dengan QRS rate cepat sebagai pemicu, mendasari terjadinya kongesti
pulmonal, dan memerlukan penanganan emergency dan perawatan di rumah sakit.
Batuk, sesak nafas, suara nafas wheezing, hemoptisis mirip atau disangka
bronchitis karena kadang-kadang bising diastolik tidak terdengar oleh
aukultator yang tidak terlatih. Palpitasi biasanya akibat Atrial fibrilasi.
Selain itu, warna semu kemerahan di
pipi menjadi salah satu tanda yang menunjukkan bahwa seseorang menderita
stenosis mitral.
e.
Diagnose
Dengan menggunakan stetoskop, akan
terdengar murmur jantung yang khas ketika darah mengalir/menyembur melalui
katup yang menyempit dari atrium kiri. Tidak seperti katup normal yang membuka
tanpa suara, pada kelainan ini katup sering menimbulkan bunyi gemertak ketika
membuka untuk mengalirkan darah ke dalam ventrikel kiri.
Diagnosis biasanya diperkuat dengan
pemeriksaan:
a. Elektrokardiogram
Pemeriksaan Elektrokardiogram pada
stenosis mitral mempunyai beberapa aspek :
o
Membantu
menegakkan diagnosis stenosis mitral.
o
Adanya
perubahan pada EKG tidak merupakan suatu indicator akan beratnya perubahan
hemodinamik
o
Dapat
mendeteksi kondisi lain disamping adanya stenosis mitral.
b. Rontgen dada (menunjukkan
pembesaran atrium)
Hal-hal yang terlihat pada
pemeriksaan radiologis adalah :
o
Left
atrial appendage dan
atrium kiri membesar.
o
Vena
pulmonal menonjol, terutama terlihat pada bising jantung
o
Lapangan
baru memperlihatkan tanda-tanda bendungan, kadang-kadang terlihat garis pada
septum interstitial pada daerah kostofrenikus.
c. Ekokardiografi (teknik
penggambaran jantung dengan menggunakan gelombang ultrasonik).
Stenosis mitral umumnya mudah
didiagnosis dengan perekaman ekokardiografi M mode, tetapi pemeriksaan ini
tidak dapat digunakan untuk menduga derajat stenosis mitral.
Kadang perlu dilakukan kateterisasi
jantung untuk menentukan luas dan jenis penyumbatannya.
f.
Pengobatan
·
Terapi
medika mentosa
Obat-obat seperti beta-blocker,
digoxin dan verapamil dapat memperlambat denyut jantung dan membantu
mengendalikan fibrilasi atrium. Jika terjadi gagal jantung, digoxin juga akan
memperkuat denyut jantung.
Diuretik dapat mengurangi tekanan
darah dalam paru-paru dengan cara mengurangi volume sirkulasi darah.
Antibiotik juga di berikan
sebelum menjalani berbagai tindakan pembedahan untuk mengurangi resiko
terjadinya infeksi katub jantung.
· Terapi pembedahan
Jika terapi obat tidak dapat
mengurangi gejala secara memuaskan, mungkin perlu dilakukan perbaikan atau
penggantian katub. Pada prosedur valvuloplasti balon, lubang katub
diregangkan. Kateter yang pada ujungnya terpasang balon, dimasukkan melalui
vena menuju ke jantung. Ketika berada di dalam katup, balon digelembungkan dan
akan memisahkan daun katup yang menyatu. Pemisahan daun katup yang
menyatu juga bisa dilakukan melalui pembedahan.
Jika kerusakan katubnya terlalu
parah, bisa diganti dengan katup mekanik atau katup yang sebagian dibuat dari
katup babi.
4. Regugitasi
katup aorta
a.
Definisi
Insufisiensi katub Aorta
(Regurgitasi ) adalah kembalinya darah ke ventrikel kiri dari aorta selama
diastol ( relaksasi ). Insufisiensi aorta adalah suatu keadaan dimana terjadi
refluk ( aliran balik ) darah dari aorta ke dalam ventrikel kiri sewaktu relaksasi.
Insufisiensi aorta adalah penyakit katup jantung di mana katup aorta
atau balon melemah, mencegah katup menutup erat-erat. Hal ini menyebabkan
mundur aliran darah dari aorta (pembuluh darah terbesar) ke dalam ventrikel
kiri (ruang bawah kiri jantung).
b.
Etiologi
Penyebab terbanyak adalah demam
rematik . Kelainan katub dan pangkal aorta juga bisa menimbulkan
insufisiensi aorta. Pada insufisiensi aorta kronik terlihat fibrosis dan
retraksi daun-daun katub atau tanpa kalsifikasi, yang umumnya merupakan sekuele
dari demam rematik.
1. Demam reumatik
Rheumatic fever (demam rhematik)
adalah suatu kondisi yang berakibat dari infeksi oleh kelompok streptococcal
bacteria yang tidak dirawat . Kerusakan pada kelopak-kelopak klep dari demam
rhematik menyebabkan pergolakan yang meningkat diseluruh klep dan lebih banyak
kerusakan. Penyempitan dari demam rhematik terjadi dari peleburan dari
tepi-tepi (commissures) dari kelopak-kelopak klep.
Dibawah keadaan-keadaan normal, klep
aortic menutup untuk mencegah darah di aorta dari mengalir balik ke ventricle
kiri. Pada aortic regurgitation, klep yang sakit mengizinkan kebocoran dari
darah balik kedalam ventricle kiri ketika otot-otot ventricle mengendur (relax)
setelah memompa. Pasien-pasien ini juga mempunyai beberapa derajat dari
kerusakan rhematik pada klep mitral. Penyakit jantung rhematik adalah suatu
kejadian yang relatif tidak umum di Amerika, kecuali pada orang-orang yang
telah berimigrasi dari negara-negara kurang maju.
2. Kelainan bawaan
(kongenital)
Kelainan bawaan yang dibawa bayi
sejak lahir, misalnya kelainan katup yang tidak bisa menutup secara sempurna
saat dalam kandungan, menyebabkan aliran darah dari ventrikel kiri tidak bisa
mengalir secara sempurna.
3. Proses penuaan
Dengan penuaan, protein
collagen dari kelopak-kelopak klep dihancurkan, dan kalsium mengendap pada
kelopak-kelopak. Pergolakan diseluruh klep-klep meningkatkan penyebab luka
parut, dan penebalan. Penyakit yang progresif yang menyebabkan kalsifikasi
aorta tidak ada sangkut pautnya dengan pilihan-pilihan gaya hidup yang sehat,
tidak seperti kalsium yang dapat mengendap pada arteri koroner untuk
menyebabkan serangan jantung.
c.
Patofisiologi
Insufisiensi aorta disebabkan oleh
lesi peradangan yang merusak bentuk bilah katup aorta, sehingga masing-masing
bilah tidak bisa menutup lumen aorta dengan rapat selama diastole dan akibatnya
menyebabkan aliran balik darah dari aorta ke ventrikel kiri .
Karena kebocoran katup aorta saat
diastole, maka sebagian darah dalam aorta, yang biasanya bertekanan tinggi,
akan mengalir ventrikel kiri, sehingga ventrikel kiri harus mengatasi keduanya,
yaitu mengirim darah yang secara normal diterima dari atrium kiri maupun darah
yang kembali dari aorta. Ventrikel kiri kemudian melebar dan hipertrofi untuk
mengakomodasi peningkatan volume ini, demikian juga akibat tenaga mendorong
yang lebih dari normal untuk memompa darah, menyebabkan tekanan darah sistolik
meningkat. Sistem kardiovaskuler berusaha mengkompensasi melalui refleks
dilatasi pembuluh darah dan arteri perifer melemas, sehingga tahanan perifer
menurun dan tekanan diastolik turun drastis .
Perubahan hemodinamik keadaan akut
dapat dibedakan dengan keadaan kronik. Kerusakan akut timbul pada pasien tanpa
riwayat insufisiensi sebelumnya. Ventrikel kiri tidak punya cukup waktu untuk
beradaptasi terhadap insufisiensi aorta. Peningkatan secara tiba-tiba dari
tekanan diastolik akhir ventrikel kiri bisa timbul dengan sedikit dilatasi
ventrikel .
d.
Tanda
dan gejala
Klien datang dengan keluhan dengan
adanya pulsasi arteri karotis yang nyata serta denyut pada apeks pada saat
klien berbaring ke sebelah kiri. Bisa juga timbul denyut jantung prematur, oleh
karena isi sekuncup besar setelah sistolik yang panjang. Pada klien
insufisiensi aorta kronik bisa timbul gejala – gejala gagal jantung, termasuk
dypsnea saat beraktifitas, ortopnea, dypsnea noptural paroksimal, edema paru
dan kelelahan. Angina cenderung timbul waktu istirahat saja timbulnya
bradikardi dan lebih lama menghilang dari pada angina akibat penyakit koroner
saja.
Pada pemeriksaan fisik ditemukandenyut arteri karotis yang cepat dan perbedaan
tekanan darah yang besar bisa timbul pada keadaan hiperdinamik dengan pulsus
bisferiens. Jika insufisiensi berat, timbul efek nyata pada pulsasi arteri perifer.
Jika gagal jantung berat, tekanan diastolik bisa normal akibat peningkatan
tekanan diastolik pada ventrikel kiri. Jantung bisa berukuran normal jika bila
insufisiensi aorta kronik ringan atau jika insufisensinya akut. Pada klien
dengan insufisiensi sedang atau berat,jantung tampak membesar, impuls apeks
bergeser ke inferolateral dan bersifal hiperdinamik.
Bunyi jantung yang pertama menurunkan intesitasnya terutama jika interval PR
memanjang. Bunyi ejeksi sistolik bisa terdengar sepanjang perbatasan sternum
kiri akibat distensi tiba-tiba dari aorta. Sekunder dan insufisiensi bisa
timbul bising diastolik aorta di sela iga 2 kiri, bising sistolik di apeks,
bising austi flint (diastolic rumble/Bising diastolis pada apeks mirip pada
stenosis mitral) di apeks dan bising sisitolik trikuspid. Karakteristik
bising diastoliknya adalah bunyi bernada tinggi, paling jelas terdengar
diperbatasan sternum kiri, menggunakan diafragma stetoskop dengan penekanan
yang cukup dan klien condong ke depan setelah ekspirasi. Jika terdapat penyakit
pangkal aorta, bising paling jelas terdengan di sternum kanan. Bisisng
diastolik nada tinggi bisa terdengar jika daun katubitu terbuka, timbul lubang
karena endokarditis. Bising tersebut sering terdengar pada insufisiensi aorta
akut. Biasanya bunyi melemah karena penutupan dini katub mitral. Irama derap
ventrikel yang terdengar di apeks biasanya merupakan tanda disfungsi ventrikel
kiri. Bising austin flint timbul akibat pergeseran aliran balik aorta terhadap
daun katub interior dari katub mitral, yang menimbulkan stenosis mitral
fungsional.
e.
Diagnose
Diagnosis regurgitasi katup aorta
biasanya ditegakkan bila:
1. Pada pemeriksaan dengan stetoskop
terdengar bunyi murmur jantung yang khas
2. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
kelainan yang menunjukkan adanya regurgitasi katup aorta (misalnya kelainan
denyut nadi tertentu)
3. Pada rontgen dada ditemukan
pembesaran jantung.
Elektrokardiogram dapat menunjukkan perubahan dari
irama jantung dan tanda-tanda dari pembesaran ventrikel kiri.
Ekokardiografi dapat memberikan gambaran katup
yang rusak dan bisa menunjukkan beratnya penyakit.
f.
Pengobatan
Penggantian katup aorta adalah
terapi pilihan, tetapi kapan waktu yang tepat untuk penggantian katup masih
kontroversial. Pilihan untuk katup buatan ditentukan berdasarkan umur,
kebutuhan, kontraindikasi untuk koagulan, serta lamanya umur katup. Pembedahan
dianjurkan pada semua pasien dengan hipertrofi ventrikel kiri tanpa
memperhatikan ada atau tidaknya gejala lain. Bila pasien mengalami gejala gagal
jantung kongestif, harus diberikan penatalaksanaan medis sampai dilakukannya
pembedahan.
Penggantian katub prostetik dimulai
pada tahum 1960-an, bila valvuloplasti atau perbaikan katub tidak bisa
dilakukan seperti misalnya pada kalsifikasi, maka perlu dilakukan penggantian
katub. Semua penggantian katub memerlukan anestesia umum dan pintasan
kardiopulmonal. Kebanyakan prosedur ini dilakukan melalui sternotomi median (
insisi melalui sternum).
Begitu katub terlihat, bilah-bilah
dan struktur katub lainnya seperti chordae dan otot papilaris diangkat. Jahitan
dilakukan di seputar anulus dan kemudian ke katub protesis. Katub pengganti
ditekan ke bawah sesuai letak yang tepat dan jahitan dikencangkan. Insisi
ditutup dan dokter bedah mengevaluasi fungsi jantung dan kualitas
perbaikan protetik. Pasien mulai dilepaskan dari pintasan jantung paru
dan pembedahan selesai. Komplikasi yang khas pada penggantian katub
adalah yang berhubungan dengan perbahan tekanan intrakardial yang
mendadak akibat kompensasi jantung yang telah secara bertahap menyesuaikan
dengan kelianan yang terjadi, namun dengan tiba-tiba aliran darah dalam jantung
membaik setelah dilakukan pembedahan.
Macam-macam katub prostetik. Ada 4
macam katub prostetik yang serng digunakan yaitu katub mekanis, katub
xenograf, katub homograf dan katub otograf. Katub mekanis dapat berbentuk
bola dan kurungan atau cakram. Katub mekanis dianggap lebih kuat dibanding
katub prostetik lainnya dan biasnya digunakan pada pasien muda. Tromboemboli
merupakan komplikasi yang bermakna pada katub mekanis, sehingga perlu
diberikan antikoagulan jangka panjang dengan warfarin. Katub xenograf adalah
katub jaringan (bioprostesis, heterograf)biasanya dari babi (porsin) tapi dapat
pula dipakai katub dari sapi (bovin). Viabilitasnya bisa mencapai 7 sampai 10
tahun. Tidak menyebabkan trombus sehingga tidak memerlukan antikoagulan jangka
panjang. Digunakan pada wanita usia subur karena mempunyai komplikasi potensial
pemberian antikoagulan jangka panjang sehubungan dengan menstruasi dan
pemindahan melalui plasenta ke janin dan hubungannya dengan persalinan.
Xenograf juga digunakan untuk pasien di atas 70 tahun, pasien dengan riwayat
ulkus peptikum, dan mereka yang tidak bisa mentoleransi antikoagulan jangka
panjang ( khusus katub trikuspidalis)
Katub homograf ( katub dari manusia
)diperoleh dari donor jaringan kadaver. Katub aorta dan sebagian aorta atau
katub pulmonal atau arteri pulmonalis diambil dan disimpan secara kriogenik.
Homograf sulit di dapat dan sangat mahal. Homograf dapat bertahan 10 sampai 15
tahun, sedikit lebih banyak dibanding xenograf. Homograf tidak bersifat
trombogenik dan tahan terhadap endokarditis bakterial subakut. Homograf
digunakan untuk penggantian katub aorta dan pulmonal.
Katub otograf (katub otolog) diperoleh
dengan memotong katup pulmonal pasien yang bersangkutan dan sebagian arteri
pulmonalis untuk digunakan sebagai katub aorta. Tidak memerlukan antikoagulan
karena berasal dari jaringan pasien sendiri dan tidak bersifat trombogenik.
Otograf merupakan pilihan bagi anak-anak, wanita usia subur, dewasa muda,
pasien dengan riwayat penyakit ulkus peptikum dan mereka yang tidak
mentoleransi antikoagulan. Otograf katub aorta dapat tetap hidup sampai labih
dari 20 tahun. Kebanyakan pembedahan otograf katub aorta merupakan prosedur
penggantian katub ganda, karena juga dilakukan homograf pada penggantian katub
pulmonal.
.
5. Stenosis
katup aorta.
a.
Definisi
Stenosis Katup Aorta (Aortic
Stenosis) adalah penyempitan pada lubang katup aorta, yang menyebabkan
meningkatnya tahanan terhadap aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta
(Stewart WJ and Carabello BA, 2002: 509-516).
Aortic stenosis adalah penyempitan
abnormal dari klep (katup) aorta (aortic valve). Sejumlah dari kondisi-kondisi
menyebabkan penyakit yang berakibat pada penyempitan dari klep aorta. Ketika
derajat dari penyempitan menjadi cukup signifikan untuk menghalangi aliran
darah dari bilik kiri ke arteri-arteri, yang mengakibatkan persoalan-persoalan
jantung berkembang. (Otto,CM,Aortic, 2004;25:185-187).
Stenosis Katup Aorta adalah suatu
penyempitan atau penyumbatan pada katup aorta. Penyempitan pada Katup aorta ini
mencegah katup aorta membuka secara maksimal sehingga menghalangi aliran darah
mengalir dari jantung menuju aorta. Dalam keadaan normal, katup aorta terdiri
dari 3 kuncup yang akan menutup dan membuka sehingga darah bisa melewatinya.
Pada stenosis katup aorta, biasanya
katup hanya terdiri dari 2 kuncup sehingga lubangnya lebih sempit dan bisa
menghambat aliran darah. Akibatnya ventrikel kiri harus memompa lebih kuat agar
darah bisa melewati katup aorta.
b.
Etiologi
Stenosis katup aorta adalah suatu penyempitan katup aorta
sehingga menghalangi darah masuk ke aorta. Penyebab atau etiologi dari
stenosisi ini bisa bermacam-macam. Namun yang paling sering adalah RHD
(Rheumatic Heeart Disease) atau yang biasa kita kenal dengan demam rematik.
Berikut etiologi stenosis katup aorta lebih lengkap :
·
Kelainan
kongenital
Tidak banyak bayi lahir dengan kelainan kongenital berupa
penyempitan katup aorta . sedangkan sebagian kecil lainnya dilahirkan dengan
katup aorta yang hanya mempunyai dua daun (normal katup aorta terdiri dari tiga
daun). Pada katup aorta dengan dua daun dapat tidak menimbulkan masalah
atauupun gejala yang berarti sampai ia dewasa dimana katup mengalami
kelemahan dan penyempitan sehingga membutuhkan penanganan medis.
·
Penumpukan
kalsium pada daun katup
Seiring usia katup pada jantung dapat mengalami akumulasi
kalsium (kalsifikasi katup aorta). Kalsium merupakan mineral yang dapat
ditemukan pada darah. Seiring dengan aliran darah yang melewati katup aorta
maka menimbulkan akumulasi kalsium pada katup jantung yang kemudian dapat
menimbulkan penyempitan pada katup aorta jantung. Oleh karena itulah stenosis
aorta yang berasla dari proses kalsifikasi banyak terjadi pada lansia di atas
65 tahun, namun gejalanya beru timbul saat klien berusia 70 tahun.
·
Demam
rheumatik
Komplikasi dari demam rematik adalah adanya sepsis atau
menyebarnya kuman atau bakteri melalui aliran darah ke seluruh tubuh sehingga
menyebabkan sampainya kuman datau bakteri tersebut ke jantung. Saat kuman
tersebut mencapai katup aorta maka terjadilah kematian jaringan pada katup
aorta. Jaringan yang mati ini dapat menyebabkan penumpukan kalsium yang
dikemudian hari dapat menyebabkan stenosis aorta. Demam reumatik dapat
menyebabkan kerusakan pada lebih dari satu katup jantung dalam berbegai cara.
Kerusakan katup jantung dapat berupa ketidakmampuan katup untuk membuka atau
menutup bahkan keduanya.
c.
Patofisiologi
Ukuran normal orifisium aorta 2-3 cm2.
Stenosis aorta menyebabkan tahanan dan perbedaan tekanan selama sistolik antara
ventrikel kiri dan aorta. Peningkatan tekanan ventrikel kiri menghasilkan tekanan
yang berlebihan pada ventrikel kiri, yang dicoba diatasi dengan meningkatkan
ketebalan dinding ventrikel kiri (hipertrofi ventrikel kiri). Pelebaran ruang
ventrikel kiri terjadi sampai kontraktilitas miokard menurun. Tekanan akhir
diastolik ventrikel kiri meningkat. Kontraksi atrium menambah volume darah
diastolik ventrikel kiri. Hal ini akan mengakibatkan pembesaran atrium kiri.
Akhirnya beban ventrikel kiri yang terus menerus akan menyebabkan pelebaran
ventrikel kiri dan menurunkan kontraktilitas miokard. Iskemia miokard timbul
timbul akibat kurangnya aliran darah koroner ke miokard yang hipertrofi.
Area katup aorta normal berkisar
2-4cm2,Gradien ventrikel kiri dengan aorta mulai trlihat bila area katup aorta
<1.5cm2. Bila area katup mitral <1cm2,maka stenosis
aorta sudah disebut berat. Kemampuan adaptasi miokard menghadapi stenosis
aorta meyebabkan manifestasi baru muncul bertahun tahun kemudian. Hambatan
aliran darah pada stenosis katup aorta(progressive pressure overload of left
ventricle akibat stenosis aorta) akan merangtsang mekanisme
RAA(Renin-Angiotensin-Aldosteron) beserta mekanisme lainnya agar miokard
mengalami hipertrofi.Penambahan massa otot ventrikel kiri ini akan menigkatkan
tekanan intra-ventrikel agar dapat melampaui tahanan stenosis aorta tersebut
dan mempertahankan wall stress yang normal berdasarkan rumus Laplace: Stress=
(pressurexradius): 2xthickness. Namun bila tahanan aorta bertambah,maka
hipertrofi akan berkembang menjadi patologik disertai penambahan jaringan
kolagen dan menyebabkan kekakuan dinding ventrikel,penurunan cadangan
diastolic,penigkatan kebutuhan miokard dan iskemia miokard .Pada akhirnya
performa ventrikel kiri akan tergangu akibat dari asinkroni gerak dinding
ventrikel dan after load mismatch. Gradien trans-valvular menurun,tekanan
arteri pulmonalis dan atrium kiri meningkat menyebabkan sesak nafas.Gejala yang
mentolok adalah sinkope,iskemia sub-endokard yang menghasilkan angina dan
berakhir dengan gagal miokard (gagal jantung kongestif). Angina timbul karena
iskemia miokard akibat dari kebutuhan yang meningkat hipertrofi ventrikel kiri,
penurunan suplai oksigen akibat dari penurunan cadangan koroner, penurunan
waktu perfusi miokard akibat dari tahanan katup aorta.
Sinkop umumnya timbul saat aktifitas
karena ketidak mampuan jantung memenuhi peningkatan curah jantung saat
aktifitas ditambah dengan reaksi penurunan resistensi perifer. Aritmia supra
maupun ventricular, rangsangan baroreseptor karena peningkatan tekanan akhir
diastolik dapat menimbulkan hipotensi dan sinkop.
Gangguan fungsi diastolic maupun
sistolik ventrikel kiri dapat terjadi pada stenosis aorta yang dapat
diidentifikasi dari pemeriksaan jasmani,foto toraks dan enongkatan Peptida
Natriuretik. Hipertrofi ventrikel akan menigkatkan kekakuan seluruh dinding
jantung. Deposisi kolagen akan menambah kekauan miokard dan menyebabkan
gisfungsi diastolik. Setelah penebalan miokard maksimal, maka wall stress tidak
lagi dinormalisasi sehingga terjadi peninggian tekanan diastolic ventrikel kiri
menghasilkan penurunan fraksi ejeksi dan penurunan curah jantung yang disebut
sebagai disfungsi sistolik
d.
Tanda
dan gejala
Stenosis katup aorta dapat terjadi dari tahap ringan hingga
berat. Tipe gejala dari stenosis katup aorta berkembang ketika penyempitan
katup semakin parah. Regurgitasi katup aorta terjadi secara bertahap terkadang
bahkan tanpa gejala hal ini dikarenakan jantung telah dapat mengkompensasi
penurunan kondisi katup aorta. Berikut manifestasi klinis dari stenosis katup
aorta :
·
Nyeri
dada
Nyeri dada adalah gejala pertama pada sepertiga dari
pasien-pasien dan akhirnya pada setengah dari pasien-pasien dengan aortic
stenosis. Nyeri dada pada pasien-pasien dengan aortic stenosis adalah sama
dengan nyeri dada (angina) yang dialami oleh pasien-pasien dengan penyakit
arteri koroner (coronary artery disease). Pada keduanya dari kondisi-kondisi
ini, nyeri digambarkan sebagai tekanan dibahwah tulang dada yang dicetuskan
oleh pengerahan tenaga dan dihilangkan dengan beristirahat. Pada pasien-pasien
dengan penyakit arteri koroner, nyeri dada disebabkan oleh suplai darah yang
tidak cukup ke otot-otot jantung karena arteri-arteri koroner yang menyempit.
Pada pasien-pasien dengan aortic stenosis, nyeri dada seringkali terjadi tanpa
segala penyempitan dari arteri-arteri koroner yang mendasarinya. Otot jantung
yang menebal harus memompa melawan tekanan yang tinggi untuk mendorong darah
melalui klep aortic yang menyempit. Ini meningkatkan permintaan oksigen otot
jantung yang melebihi suplai yang dikirim dalam darah, menyebabkan nyeri dada
(angina).
Ciri-ciri angina :
Biasanya penderita merasakan angina sebagai rasa tertekan
atau rasa sakit di bawah tulang dada (sternum).
Nyeri juga bisa dirasakan di:
- Bahu kiri atau di
lengan kiri sebelah dalam.
- Punggung
- Tenggorokan, rahang
atau gigi
- Lengan kanan
(kadang-kadang).
Banyak penderita yang menggambarkan perasaan ini sebagai
rasa tidak nyaman dan bukan nyeri.
Yang khas adalah bahwa angina:
- dipicu oleh aktivitas
fisik
- berlangsung tidak
lebih dari beberapa menit
- akan menghilang jika penderita beristirahat.
Kadang penderita bisa meramalkan akan terjadinya angina
setelah melakukan kegiatan tertentu.
Angina seringkali memburuk jika:
- aktivitas fisik
dilakukan setelah makan
- cuaca dingin
- stres emosional.
·
Pingsan
(syncope)
Pingsan (syncope) yang berhubungan dengan aortic stenosis
biasanya dihubungkan dengan pengerahan tenaga atau kegembiraan. Kondisi-kondisi
ini menyebabkan relaksasi (pengenduran) dari pembuluh-pembuluh darah tubuh
(vasodilation), menurunkan tekanan darah. Pada aortic stenosis, jantung tidak
mampu untuk meningkatkan hasil untuk mengkompensasi jatuhnya tekanan darah.
Oleh karenanya, aliran darah ke otak berkurang, menyebabkan pingsan. Pingsan
dapat juga terjadi ketika cardiac output berkurang oleh suatu denyut jantung
yang tidak teratur (arrhythmia). Tanpa perawatan yang efektif, harapan hidup
rata-rata adalah kurang dari tiga tahun setelah timbulnya nyeri dada atau
gejala-gejala syncope.
·
Sesak
napas
Sesak nafas dari gagal jantung
adalah tanda yang paling tidak menyenangkan. Ia mencerminkan kegagalan otot
jantung untuk mengkompensasi beban tekanan yang ekstrim dari aortic stenosis.
Sesak napas disebabkan oleh tekanan yang meningkat pada pembuluh-pembuluh darah
dari paru yang disebabkan oleh tekanan yang meningkat yang diperlukan untuk
mengisi ventricle kiri. Awalnya, sesak napas terjadi hanya sewaktu aktivitas.
Ketika penyakit berlanjut, sesak napas terjadi waktu istirahat. Pasien-pasien dapat
menemukannya sulit untuk berbaring tanpa menjadi sesak napas (orthopnea). Tanpa
perawatan, harapan hidup rata-rata setelah timbulnya gagal jantung yang
disebabkan oleh aortic stenosis adalah antara 6 sampai 24 bulan.
e.
Diagnose
·
Electrocardiogram
(EKG)
EKG adalah suatu perekaman dari
aktivitas elektrik jantung. Pola-pola abnormal pada EKG dapat mencerminkan
suatu otot jantung yang menebal dan menyarankan diagnosis dari aortic stenosis.
Pada kejadian-kejadian yang jarang, kelainan konduksi elektrik dapat juga
terlihat.
·
Chest
x-ray
Chest x-ray (x-ray dada) biasanya
menunjukan suatu bayangan jantung yang normal. Aorta diatas klep aortic
seringkali membesar. Jika gagal jantung hadir, cairan di jaringan paru dan
pembuluh-pembuluh darah yang lebih besar di daerah-daerah paru bagian atas
seringkali terlihat.
·
Echocardiography
Echocardiography menggunakan
gelombang-gelombang ultrasound untuk memperoleh gambar-gambar (images) dari
ruang-ruang jantung, klep-klep, dan struktur-struktur yang mengelilinginya. Ii
adalah suatu alat non-invasive yang berguna, yang membntu dokter-dokter
mendiagnosa penyakit klep aortic. Suatu echocardiogram dapat menunjukan suatu
klep aortic yang menebal dan kalsifikasi yang membuka dengan buruk. Ia dapat
juga menunjukan ukuran dan kefungsian dari ruang-ruang jantung. Suatu teknik
yang disebut Doppler dapat digunakan untuk menentukan perbedaan tekanan pada
setiap sisi dari klep aortic dan untuk menaksir area klep aortic.
·
Cardiac
catheterization
Cardiac catheterization adalah
standar emas dalam mengevaluasi aortic stenosis. Tabung-tabung plastik berongga
yang kecil (catheters) dimasukan dibawah tuntunan x-ray ke klep aortic dan
kedalam ventricle kiri. Bersama tekanan-tekanan diukur pada kedua sisi dari
klep aortic. Kecepatan dari aliran darah diseluruh klep aortic dapat juga
diukur menggunakan suatu kateter khusus.
f.
Pengobatan
Tidak ada pengobatan medikamentosa untuk Stenosis Aorta
asimtomatik, tetapi begitu timbul gejala seperti sinkop, angina atau gagal
jantung segera harus dilakukan operasi katup, tergantung pada kemampuan dokter
bedah jantung. Dapat dilakukan reparasi(repair) atau replace(mengganti katup
dengan katup artificial). Penderita asimtomatik perlu dirujuk untuk pemeriksaan
Doppler-Ekokardiografi. Trans-valvular velocity lebih dari 4m/detik dianjurkan
untuk menjalani operasi. Selama katup aorta masih dalam tingkatan perkembangan,
sulit memberikan nasihat operasi yang dapat dipertanggung jawabkan.
Komisurotomi sederhana biasanya kurang menolong. Penyempitan katup bawaan
begitu keras, sehingga dengan melebarkan saja tidak dapat diharapkan hasil yang
memuaskan. Penggantian katup harus dipertimbangkan. Disinilah letak
kesukarannya untuk penggantian katup dengan profesa masih sangat mengerikan.
Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa indikasi operasi pada anak dan
remaja jika terdapat perbedaan tekanan lebih dari 70 mmHg pada katup yang
menyempit. Dari pihak lain tantangan terhadp anggapan tersebut bahwa stenosis
aorta membahayakan kehidupan. Pembatasan aktifitas serta larangan berolahraga
terpaksa diharuskan, tetapi kemudian akan mengakibatkan hal-hal yang tidak
diinginkan dalam proses perkembangan rohani dan jasmani. Pada saat ini masih
masih tidak diketahui dengan pasti nasib katup buatan tersebut. Lebih mudah
menentukan sikap pada kelainan stenosis subvalvular dari pada membran murni,
yaitu dengan membelah membran diperoleh hasil optimal. Lebih sukar lagi dari
pada stenosis supavalvular yang mortalitas tinggi.
Sekarang terdapat teknik baru, yakni melebarkan daerah yang
menyempit dengan kateter yang dilengkapi dengan balon. Cara ini dilaporkan
cukup efektif, meskipun kemungkinan terjadinya penyempitan kembali sering.
Berikut
bebearpa cara penatalaksanaan yang dapat dilakukan antara lain:
1.
Teknik
nonsurgical (tanpa tindakan operatif)
2.
Balloon
Valvuloplasty (valvulotomy).
Seringnya
tindakan yang bertujuan untuk membenarkan kembali katup tanpa
menggantinya merupakan tindakan yang paling sering digunakan. Balloon
valvuloplasty dilakukan dengan kateter tipis dan lembut yang ujungnya diberi
balon yang dapat dikembangkan ketika mencapai katup. Balon yang mengembang
tersebut akan menekan katup yang menyempit sehingga dapat terbuka kembali dan
memungkinkan darah dapat mengalir dengan normal kembali. Balon valvuloplasty
merupakan salah satu cara untuk menyembuhkan stenosis katup aorta beserta
manifestasi klinis yang timbul karenanya terutama efektif pada infant dan
anak-anak. Bagaimanapun juga pada dewasa metode ini tidak selalu berhasil
karena stenosis dapat muncul kembali setelah dilakukan balon valvuloplasty.
Oleh karena alasan di atas, untuk penyembuhan stenosis katup aorta pada dewasa
jarang dilakukan balon valvuloplasty terkecuali pada klien yang tidak
memungkinkan untuk dilakukan operasi penggantian katup atau valvuloplasty.
3. Percutaneous aortic valve replacement.
Percutaneous
aortic valve replacement atau Penempatan kembali katup aorta percutan merupakan
penatalaksanaan yang tersering yang dilakukan pada klien dengan stenosis katup
aorta. Pendekatan terbaru dengan metode ini memungkinkan untuk melakukan metode
ini dengan menggunakan kateter. Metode ini dilakukan jika terjadi pada klien
dengan resiko tinggi timbulnya komplikasi dari stenosis katup aorta
Pembedahan
katup aorta dilakukan dengan beberapa metode antara lain :
·
Penempatan
kembali katup aorta.
Metode
ini merupakan metode primer untuk menangani kasus stenosis katup aorta.
Pembedahan dilakukan dengan mengambil katup yang rusak dengan katup mekanik
baru atau bagian dari jaringan katup. Katiup mekanik terbuat dari metal, dapat
bertahan lama tetapi dapat pula menyebabkan resiko penggumpalan darah pada
katup atau daerah yang dekat dengan katup. Oleh karena itu untuk mengatasinya
klien harus mengkonsumsi obat anti koagulan seperti warfarin (caumadin) seumur
hidup untuk untuk mencegah penggumpalan darah. Sedangkan penggantian dengan
katup jaringan ini dapat diambil dari babi, sapi atau berasal dari cadaver
manusia. Tipe lainnya menggunakan jaringan katup yang berasal dari katup
pulmonary klien itu sendiri jika dimungkinkan.
·
Valvuloplasty.
Dalam
kasus yang jarang ditemui penggunaan metode valvuloplasty lebih baik untuk
dilakukan daripada penggunaan metode balon valvuloplasty. Seperti pada bayi
yang baru lahir yang mengalami kelainan dimana daun katup aorta menyatu. Dengan
menggunakan cara operasi bedah cardiac pada katup aorta untuk memisahkan daun
katup yang menyatu dan meningkatkan kembali aliran darah yang melewati katup.
Atau cara lain dengan memperbaiki katup yaitu menghilangkan kalsium berlebih
yang terdapat pada daerah sekitar katup.
6. Regurgitasi
Katup Trikuspidalis
a.
Definisi
Regurgitasi Katup Trikuspidalis (Inkompetensia
Trikuspidalis, Insuffisiensi Trikuspidalis),(Tricuspid
Regurgitation) adalah kebocoran pada katup trikuspidalis yang
terjadi setiap kali ventrikel kanan berkontraksi.
Pada regurgitasi katup
trikuspidalis, ketika ventrikel kanan berkontraksi, yang terjadi bukan hanya
pemompaan darah ke paru-paru, tetapi juga pengaliran kembali sejumlah darah ke atrium
kanan.
Kebocoran ini akan menyebabkan meningkatnya tekanan di dalam atrium kanan dan menyebabkan pembesaran atrium kanan. Tekanan yang tinggi ini diteruskan ke dalam vena yang memasuki atrium, sehingga menimbulkan tahanan terhadap aliran darah dari tubuh yang masuk ke jantung.
Kebocoran ini akan menyebabkan meningkatnya tekanan di dalam atrium kanan dan menyebabkan pembesaran atrium kanan. Tekanan yang tinggi ini diteruskan ke dalam vena yang memasuki atrium, sehingga menimbulkan tahanan terhadap aliran darah dari tubuh yang masuk ke jantung.
b.
Etiologi
Penyebab yang sering ditemukan adalah
tertahannya aliran darah dari ventrikel kanan akibat penyakit paru-paru yang
berat atau penyempitan pada katup pulmoner (stenosis katup pulmoner). Sebagai akibatnya, agar bisa memompa lebih
kuat dan agar lubang katup meregang, ventrikel kanan menjadi membesar.
c.
Tanda
dan gejala
Selain gejala yang samar, yang
berupa kelemahan dan kelelahan karena rendahnya curah jantung; gejala lainnya
biasanya adalah rasa tidak enak di perut kanan bagian atas karena pembesaran
hati dan pulsasi (denyutan nadi) di leher. Gejala-gejala tersebut merupakan
akibat dari aliran balik darah ke dalam vena. Pembesaran atrium kanan dapat
menyebabkan fibrilasi atrium (denyut jantung yang cepat dan tidak
teratur). Pada akhirnya akan terjadi gagal jantung dan penahanan cairan
oleh tubuh, terutama di tungkai.
d. Diagnose
Diagnosis ditegakkan berdasarkan:
- riwayat kesehatan penderita
- pemeriksaan fisik
- elektrokardiogram
- rontgen dada,.
Kebocoran katup menyebabkan suara murmur
jantung yang dapat didengar melalui stetoskop. Ekokardiografi
dapat memberikan gambaran kebocoran dan beratnya penyakit.
e.
Pengobatan
Biasanya, regurgitasi katup
trikuspidalis tidak memerlukan pengobatan atau hanya memerlukan sedikit
pengobatan. Tetapi penyakit paru-paru atau kelainan katup pulmoner yang mendasarinya,
mungkin membutuhkan pengobatan. Irama jantung yang tidak teratur dan gagal
jantung biasanya diobati tanpa pembedahan pada katup trikuspidalis.
7. Stenosis
katup trikuspidalis
a.
Definisi
Stenosis Katup Trikuspidalis (Tricuspid
Stenosis) merupakan penyempitan lubang katup trikuspidalis, yang
menyebabkan meningkatnya tahanan aliran darah dari atrium kanan ke ventrikel
kanan. Stenosis katup trikuspidalis menyebabkan atrium kanan membesar dan
ventrikel kanan mengecil. Jumlah darah
yang kembali ke jantung berkurang dan tekanan di dalam vena yang membawa darah
kembali ke jantung meningkat.
b.
Etiologi
Hampir semua kasus disebabkan oleh demam
rematik, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan di Amerika Utara dan
Eropa Barat.
Penyebab lainnya adalah:
Penyebab lainnya adalah:
- tumor di atrium kanan
- penyakit jaringan ikat
- kelainan bawaan.
c.Patofisiologi
Stenosis katup trikuspidalis
menghambat aliran darah dari atrium kanan ke ventrikel kanan selama fase
diastolic dan mengakibatkan peningkatan tekanan dan beban kerja atrium kanan.
Hal ini merangsang atrium kanan untuk berkompensasi (dilatasi ruang dan
hipertrofi) guna mempertahankan aliran darah melalui katup yang rusak. Akibat
lebih lanjut adalah dekompensasi sehingga meningkatkan tekanan dan bendungan
vena sistemik. Keadaan ini akan menimbulkan gagal jantung kanan.
d.
Tanda
dan gejala
Dinding ventrikel kiri
menebal karena ventrikel berusaha memompa sejumlah darah melalui katup aorta
yang sempit. Otot jantung yang membesar membutuhkan lebih banyak darah dari
arteri koroner. Persediaan darah yang tidak mencukupi akhirnya akan menyebabkan
terjadinya nyeri dada
(angina)
pada waktu penderita melakukan aktivitas.
Berkurangnya aliran darah
juga dapat merusak otot jantung, sehingga curah jantung tidak mampu memenuhi
kebutuhan tubuh.
Gagal jantung yang terjadi menyebabkan kelemahan dan sesak nafas ketika melakukan aktivitas.
Gagal jantung yang terjadi menyebabkan kelemahan dan sesak nafas ketika melakukan aktivitas.
Penderita stenosis katup
aorta yang berat bisa mengalami pingsan
ketika melakukan aktivitas, karena katup yang sempit menghalangi ventrikel
untuk memompa cukup darah ke arteri di otot, yang telah melebar untuk menerima
darah yang kaya akan oksigen.
Gejala umumnya ringan.
Penderita bisa mengalami palpitasi
(jantung berdebar) atau pulsasi (denyut nadi yang keras) di leher, dan seluruh
badan terasa lelah.
Rasa tidak enak di perut bisa
terjadi jika peningkatan tekanan di dalam vena menyebabkan pembesaran hati.
e.
Diagnose
Pada pemeriksaan dengan stetoskop, akan terdengar
bunyi murmur jantung.
Rontgen dada menunjukkan pembesaran atrium kanan.
Rontgen dada menunjukkan pembesaran atrium kanan.
Ekokardiogram
memberikan gambaran stenosis dan beratnya penyakit. Elektrokardiogram menunjukkan perubahan
yang menunjukkan adanya peregangan pada atrium kanan.
f. Pengobatan
Stenosis katup trikuspidalis jarang memerlukan tindakan
pembedahan.
Dalam
pengobatan stenosis trikuspid, perawatan medis dan pengobatan
tergantung dari penilaian penyebab yang mendasari patologi katup.
·
Obati endokarditis bakteri dengan antibiotik yang tepat
sebagaimana ditentukan oleh sensitivitas kultur organisme.
·
Gunakan obat aritmia jantung tergantung pada
karakterisasi mereka.
·
Turunkan kelebihan volume yang tepat pada atrium dengan
diuresis dan diet garam membantu mengurangi gejala dan meningkatkan fungsi
hati.
Pemberian obat
bertujuan untuk mengurangi kematian dan mencegah komplikasi. Berikut jenis obat
yang dapat digunakan untuk Stenosis Katup Trikuspidalis.
·
Senyawa
Antiaritmia
Mengubah
mekanisme elektropsikologi yang menyebabkan aritmia. Obat yang sering digunakan
adalah Digoxin.
·
Antikoagulan
Digunakan untuk
profilaksis dan pengobatan trombosis vena, emboli paru, dan gangguan
tromboemboli. Obat yang sering digunakan adalah Warfarin.
8. Stenosis
katup pulmonal
a.
Definisi
Stenosis pulmonal adalah cacat
(hadir sejak lahir) bawaan yang terjadi akibat perkembangan abnormal dari
jantung janin selama 8 minggu pertama kehamilan.
Katup pulmonal ditemukan antara ventrikel
kanan dan arteri pulmonalis. Ini memiliki tiga selebaran yang berfungsi
seperti pintu satu arah, memungkinkan darah mengalir ke depan ke arteri
pulmonalis, tetapi tidak mundur ke ventrikel kanan.
Dengan stenosis pulmonal, masalah
dengan katup paru membuat lebih sulit bagi selebaran untuk membuka dan
memungkinkan darah mengalir ke depan dari ventrikel kanan ke
paru-paru. Pada anak-anak, masalah ini dapat mencakup:
·
katup yang memiliki selebaran yang sebagian menyatu
bersama-sama.
·
katup yang telah selebaran tebal yang tidak membuka semua
jalan.
·
daerah atas atau di bawah katup paru yang menyempit.
Ada empat jenis stenosis
pulmonal:
·
stenosis
katup pulmonal - selebaran katup menebal dan / atau
menyempit
·
supravalvar
stenosis pulmonal - arteri
paru-paru tepat di atas katup paru menyempit
·
subvalvar
(infundibular) stenosis pulmonal - otot
bawah area katup menebal, penyempitan saluran keluar dari ventrikel kanan
·
stenosis
pulmonal cabang perifer - arteri
paru-paru kanan atau kiri menyempit
Stenosis pulmonal mungkin hadir
dalam berbagai derajat, diklasifikasikan sesuai dengan berapa banyak obstruksi
aliran darah hadir. Seorang anak dengan stenosis pulmonal berat bisa
sangat sakit, dengan gejala utama mencatat awal kehidupan. Seorang anak dengan
stenosis pulmonal ringan bisa memiliki sedikit atau tanpa gejala, atau mungkin
tidak ada sampai nanti di masa dewasa. Gelar sedang atau berat obstruksi
dapat menjadi lebih buruk dengan waktu.
Stenosis pulmonal adalah komponen
dari setengah dari semua cacat jantung bawaan yang kompleks. Stenosis
pulmonal adalah cacat yang paling umum jantung kedua bawaan, terdiri dari 5
persen menjadi 10 persen dari semua kasus.
b. Etiologi
Pada sebagian
besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaan tidak diketahui secara pasti. diduga
karena adanya faktor endogen dan eksogen. Faktor –faktor tersebut antara lain :
1.
Faktor
endogen
·
Berbagai jenis penyakit genetik : kelainan kromosom
·
Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung
bawaan
·
Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes
melitus, hipertensi, penyakit jantung atau kelainan bawaan.
2.
Faktor
eksogen
·
Riwayat
kehamilan ibu : sebelumnya ikut program KB oral atau suntik,minum obat-obatan
tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine. aminopterin, amethopterin, jamu)
·
Ibu
menderita penyakit infeksi : rubella
·
Pajanan
terhadap sinar –X
Para ahli
berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen tersebut jarang terpisah
menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus penyebab
adaah multifaktor. Apapun sebabnya, pajanan terhadap faktor penyebab harus ada
sebelum akhir bulan kedua kehamilan , oleh karena pada minggu ke delapan
kehamilan pembentukan jantung janin sudah selesai.
c. Patofisiologi
Karena
stenosis yang terjadi pada katup pulmonal ( tipe valvuler ), atau pada pangkal
arteri pulmonal ( tipe supravalvuler ), atau pada infundibulum ventrikel kanan
( tipe subvalveler ), maka ventrikel kanan akan menghadapi beban tekanan
berlebihan yang kronis. Dilatasi pasca stenotik pada arteri pulmonal merupakan
pertanda yang karakteristik bagi stenosis pulmonal tipe valvuler dan tidak
ditemukan pada tipe stenosis pulmonal yang lain. Katup pulmonal tampak doming
pada waktu systole, tebal dan mengalami fibrosis, tapi jarang sekali disertai
klasifikasi. Jika ditemukan proses klasifikasi, biasanya disebabkan oleh
infiksi endokarditis bacterial.
Adanya
hipertrofi ventrikel kanan menunjukkan bahwa stenosis pulmonal cukup
signifikan. Bagian infundibuler akan mengalami hipertrofi pula dan hal ini akan
memperberat stenosis pulmonal. Tekanan akhir diastolic dalam ventrikel kanan
pun meninggi. Elastisitas miokard berkurang dan akhirnya timbul gejala gagal
jantung kanan.
Severitas
stenosis pulmonal umumnya dibedakan sebagai stenosis pulmonal yang ringan, yang
moderat dan yang berat, walaupun perbedaan ini hanya bersifat arbitrer dan
sering overlapping, bahkan mengalami perubahan yang progresif. Pada stenosis
pulmonal yang ringan, tekanan sistolik di ventrikel kanan biasanya kurang dari
50 mmHg dan itu berarti kurang dari 50% tekanan sistemik. Pada stenosis
pulmonal yang moderat, tekanan sistolik ventrikel kanan berkisar antara 50-75%
dari tekanan sistemik, atau antara 50-75mmHg. Dan stenosis pulmonal dianggap
berat, apabila tekanan sistolik ventrikel kanan lebih dari 75% tekanan
sistemik, atau lebih dari 75 mmHg. Kemudian stenosis pulmonal dianggap sudah
kritis apabila tekanan sistolik ventrikel kanan melebihi tekanan sistemik.
Pada
pasien PS, tentu dapat dilakukan upaya agar pembukaannya dapat lebih lebar.
Pertama dengan jalan operasi. Tetapi dalam 15 tahun terakhir ini dapat
dilakukan pula dengan upaya non-bedah yakni dengan balonisasi katup untuk
melebarkan katup yang sempit tersebut (pasien datang pagi hari, dan pulang
keesokan harinya). Dapat dilakukan di RS2 yang ada fasilitas kateterisasi dan
dilakukan dokter jantung yang berpengalaman melakukan tindakan ini.
d. Tanda dan gejala
Pasien
stenosis pulmonal biasanya asimtomatik, kecuali keluhan cepat capek karena
curah jantung berkurang. Apabila stenosis pulmonal cukup berat, disertai dengan
defek septum atrium atau defek septum ventrikel, maka kelainan seperti itu
dapat memberikan gejala sianosis yang signifikan, yang disebabkan oleh
terjadinya pirau aliran darah dari kanan ke kiri.
Pada
pemeriksaan fisik, komponen pulmonal bunyi jantung ke-2 terdengar lemah atau
bahkan tidak terdengar sama sekali, sehingga bunyi jantung ke-2 terdengar
seperti tunggal. Murmur ejeksi sistolik dapat di deteksi di daerah pulmonal,
pada sela iga 2-3 kiri parasternal, didahului sebelumnya oleh klik ejeksi
sistolik dan dapat diraba sebagai thrill.
Elektrokardiografi
menunjukkan adanya hipertrofi ventikel kanan karena beban tekanan berlebih.
Gelombang P tampak tinggi, karena hipertrofi atrium kanan. Foto thorak pada
stenosis pulmonal tanpa kelainan konginental yang lain, biasanya memberikan
gambaran jantung yang relative normal, dengan vaskulerisasi paru yang normal
pula. Pada stenosis pulmonal yang sangtat berat apalagi disertai pirau dari
kanan ke kiri-vaskularisasi paru bisa tampak oligemik. Hanya konus pulmonal
tampak sangat menonjol, yang disebabkan oleh dilatasai pasca stenotik. Apabila
hipertrofi ventrilkel kanan sudah begitu lanjut, bahkan mulai timbul gejala
gagal jantung kanan, maka rekaman foto thorak menunjukkan dilatasi ventrikel
kanan dean atrium kanan, disertai tanda-tanda bendungan pada paru.
Pada
stenosis pulmonal yang ringan, elektrokardiografi dan foto torak mungkin tidak
berubah dan masih berada dalam batas-batas normal. Kadang-kadang beberapa
kelainan memberikan gejala yang mirip dengan stenosis pulmonal, seperti
straight back syndrome, dilatasi ideopatik arteri pulmonal, dan sebagainya.
e. Diagnose
a.
Pemeriksaan
ekokardiografi
Dengan
ekokardiografi M-mode dinding ventrikel kanan tampak tebal dan mungkin
dilatasi. Hipertrofi dan dilatasi ini disebabkan oleh beban tekanan berlebih
yang kronis yang dihadapi oleh ventrikel kanan. Pada stenosis pulmonal
valvuler, katup pulmonal menunjukkan multiple echoes pada saat diastole
disertai gelombang A yang dalam. Pada stenosis pulmonal infundibuler, tampak
fluttering daun katup pulmonal pada saat systole dan gelombang A mungkin tidak
begitu dalam atau menghilang.
Daerah
ekokardiografi 2-D, dan posisi pengambilan aksis lintang di daerah pulmonal,
akan terekam daun katup pulmonal yang tebal disetai doming pada saat systole,
penebalan infundibulum ventrikel kanan, atau stenosis arteri pulmonal
supravalvuler. Pada stenosis pulmonal yang lanjut, kadang-kadang ditemukan pula
adanya klasifikasi pada katup.
Dengan
pemeriksaan Doppler, turbolensi aliran darah dan meningkatnya kecepatan aliran
darah yang melewati katup pulmonal pada saat systole, menunjukkan adanya
stenosis pulmonal yang signifikan. Rewkaman Doppler dilakukan dengan posisi
pengambilan aksis lintang di daerah pulmonal ataupun posisi suprasternal kea
rah arteri pulmonal kanan. Pada stenosis pulmonal valvuler, rekaman turbulensi
aliran darah akan tampak jelas apabila volume sampel diletakkan persis di balik
katup pulmonal dan aliran darah akan tampak laminal apabila volume sampel
diletakkan di infundibulum ventrikel kanan didepan katup pulmonal
b.
Penggunaan
kateterisasi
Pada
stenosis pulmonal yang ringan dan asimtomatik, kateterisasi tidak perlu segera
dilakukan. Tapi pada stenosis pulmonal yang cukup berat, kateterisasi harus
segera dilakukan untuk mengetahui gradient tekanan antara ventrikel kanan
dengan arteri pulmonal, perbedaan saturasi antar ruang dan kemungkinan adanya
kelainan jantung yang lain.
Tekanan
di ventrikel kanan tampak meningkat, tapi tekanan dalam arteri pulmonal
relative normal atau bahkan berkurang, sehingga terjadi gradient tekanan
sistolik antara kedua ruangan itu diatas 10mmHg. Tekanan ventrikel kanan
biasanya kurang dari 50mmHg, tapi belum melebihi tekanan sistemik, dianggap
stenosis pulmonal masih moderat. Dan stenosis pilmonal dianggap berat, apabila
tekanan di ventrikel kanan menyamai atau bahkan sudah melebihi tekanan
sistemik, sementara tekanan rata-rata dalam arteri pulmonal rendah sekali.
Angiografi
ventrikel kanan dengan posisi lateral dapat memperlihatkan letaknya stenosis.
Katop pulmonal tampak tebal, doming, dengan pancaran kontras yang nyata pada
saat systole melalui lubang katup yang kecil. Dengan jelas tampak pula dilatasi
arteri pulmonal pasca stenotik.
c.
Pemeriksaan laboratorium
Ditemukan
adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat saturasi oksigen yang
rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan 16-18 gr/dl dan hematokrit antara
50-65 %. Nilai BGA menunjukkan peningkatan tekanan partial karbondioksida
(PCO2), penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) dan penurunan PH.pasien dengan
Hn dan Ht normal atau rendah mungkin menderita defisiensi besi.
d.
Radiologis
Sinar
X pada thoraks menunjukkan penurunan aliran darah pulmonal, tidak ada
pembesaran jantung . gambaran khas jantung tampak apeks jantung terangkat
sehingga seperti sepatu.
e.
Elektrokardiogram
Pada
EKG sumbu QRS hampir selalu berdeviasi ke kanan. Tampak pula hipertrofi
ventrikel kanan. Pada anak besar dijumpai pulmonal
f. Pengobatan
1.Istirahat
2.Diet
3.Medikamentosa
2.Diet
3.Medikamentosa
4.Operasi
Operasi (valvulotomi)
Operasi (valvulotomi)
9. Pulmonal
regurgitasi
Pulmonal (paru) regurgitasi (PR) adalah inkompetensi dari katup pulmonal menyebabkan aliran
darah dari arteri pulmonalis ke dalam ventrikel kanan selama diastol. Penyebab
paling umum adalah hipertensi paru. PR biasanya tanpa gejala. Tanda termasuk
decrescendo murmur diastolik. Diagnosis adalah dengan ekokardiografi. Biasanya,
tidak ada pengobatan khusus yang diperlukan kecuali untuk manajemen kondisi
menyebabkan hipertensi paru.
DIAGNOSIS
A.Keluhan Pokok
A.Keluhan Pokok
·
Rasa
lelah
B.Tanda
Penting
·
Bising
diastolik yang meniup atau kasar dapat terdengar
·
Bising
lebih keras terdengar saat inspirasi
·
Bandingkan
bising akibat hipertensi pulmonal :Bising graham Steel.
·
Denyutan
ventrikel kanan terasa sepanjang dada sebelah kiri.
C.Pemeriksaan Laboratorium –
D.Pemeriksaan Khusus
·
EKG
·
Foto
dada
·
Ekokardiografi
·
Angiografi
pulmonal
PENATALAKSANAAN
A.Terapi Umum
A.Terapi Umum
1.Istirahat
2.Diet
3.Medikamentosa
Antibiotik profilaksis menjelang operasi atau tindakan dentral.
2.Diet
3.Medikamentosa
Antibiotik profilaksis menjelang operasi atau tindakan dentral.
·
Obat
pertama : -
·
Obat
alternative : -
C.
ASUHAN
KEPERAWATAN KLIEN DENGAN STENOSIS MITRALIS
Prognosis penyakit ini bervariasi.
Gangguan dapat saja ringan, tanpa gejala, atau menjadi berat. Riwayat yang
banyak terjadi pada mitral stenosis adalah:
a) Timbulnya murmur 10 tahun setelah
masa demam rematik
b) 10 tahun berikutnya gejala
berkembang
c) 10 tahun berikutnya sebelum
penderita mengalami sakit serius.
Komplikasi dapat berat atau mengancam
jiwa. Mitral stenosis biasanya dapat dikontrol dengan pengobatan dan membaik
dengan valvuloplasty atau pembedahan. Tingkat mortalitas post operatif pada
mitral commisurotomy adalah 1-2% dan pada mitral valve replacement adalah 2-5%.
Tidak ada pengobatan yang dibutuhkan
jika gejala-gejala tidak ditemukan atau hanya ringan saja. Rujukan ke rumah
sakit hanya dibutuhkan untuk diagnosis atau penanganan gejala yang berat. Tak
ada obat yang dapat mengoreksi suatu defek katup mitral. Hanya saja obat-obatan
tertentu dapat digunakan untuk mengurangi gejala dengan mempermudah kerja
pemompaan jantung dan mengatur irama jantung, misalnya diuretik untuk
mengurangi akumulasi cairan di paru. Antikoagulan dapat membantu mencegah
terbentuknya bekuan darah pada jantung dengan kerusakan katup. Antibiotik
diberikan bila pasien akan menjalani tindakan bedah, tindakan dentologi, atau
tindakan medis tertentu lainnya.
Tindakan bedah dapat dilakukan untuk
mengoreksi kelainan ini. Kadang-kadang katup dapat dibuka teregang dengan suatu
prosedur yang disebut dengan balloon valvuloplasty. Pada balloon valvuloplasty,
sebuah balon berujung kateter disusupkan melewati vena dan akhirnya sampai ke
jantung. Ketika berada di dalam katup balon dikembangkan lalu memisahkan daun
katup. Pilihan lainnya adalah bedah jantung untuk memisahkan fusi kommisura.
Jika katup rusak berat dapat dilakukan mitral valve repair atau mitral valve
replacement.
a.
Pengkajian keperawatan
Pengkajian fokus yang dapat dilakukan
terkait kasus stenosis mitral adalah sebagai berikut :
Auskultasi memperdengarkan bising diastolik dan bunyi jantung pertama (sewaktu
katup AV menutup) mengeras dan opening snap akibat hilangnya kelenturan
daun katup.
Elektrokardiogram menggambarkan pembesaran atriun kiri (gelombang P melebar dan
bertakik, deikenal sebagai P mitrale) bila iramanya sinus normal,
hipertrofi ventrikel kanan, dan fibrilasi atrium.
Radiogram thorax menunjukkan pembesaran atrium kiri dan ventrikel kanan,
kongesti vena pulmonalis, edema paru-paru interstitial, redistribusi vaskular
paru-paru ke lobus atas, kalsifikasi katup mitral.
Temuan
hemodinamika menunjukkan peningkatan selisih tekanan pada kedua sisi katup
mitral, peningkatan tekanan atrium kiri dan tekanan baji kapiler pulmonalis
dengan gelombang a yang prominent peningkatan tekanan arteria
paru-paru, curah jantung rendah, peningkatan tekanan jantung sebelah kanan dan
tekanan vena jugularis, dengan gelombang a yang bermakna di bagian
atrium kanan atau vena jugularis, jika ada insufisiensi trikuspidalis.
Pengkajian lainnya dapat berupa :
Data
Subyektif
1)
Biodata pasien dan penanggung jawab
2)
Keluhan utama :Dyspnea atau orthopnea,
Kelemahan fisik
(lelah) biasanya menjadi keluhan utama
pasien dengan stenosis mitral.
3)
Riwayat kesehatan yang meliputi riwayat penyakit sekarang (klien dengan
stenosis mitral biasanya mengeluh sesak napas dan kelelahan), riwayat penyakit
dahulu (kaji adanya riwayat demam rematik dan infeksi pernapasan atas), riwayat
penyakit keluarga.
4)
Basic promoting physiology of health yang meliputi aktivitas dan latihan (klien
biasanya mengeluh sesak napas dan kelelahan saat beraktivitas), tidur dan
istirahat (biasanya pola istirahat klien bertambah karena klien akan sering
beristirahat karena kelelahan belum lagi klien akan sering terbangun di malam
hari karena sesak), kenyamanan dan nyeri, nutrisi, cairan, elektrolit dan asam
basa, oksigenasi (klien biasanya mengeluh sesak saat beraktivitas dan juga
dapat sering terbangun pada malam hari karena sesak napas), eliminasi
fekal/bowel, eliminasi urin, sensori, persepsi, dan kognitif.
5)
Pemeriksaan fisik, yang meliputi keadaan umum (dapat dinilai meliputi kesadaran
klien, GCS, vital sign), kepala, leher (bias diperiksa adanya distensi JVP),
dada (dapat dipakai untuk menilai pulmo dan jantung), abdomen, genitalia,
rectum, ekstremitas
6)
Psiko sosio budaya dan spiritual
7)
Pemeriksaan penunjang
Data Obyektif
1) Gangguan mental : lemas, gelisah,
tidak berdaya, lemah dan capek.
2) Gangguan perfusi perifer : Kulit
pucat, lembab, sianosis, diaporesis.
3) Gangguan hemodenamik : tachycardia,
bising mediastolik yang kasar, dan bunyi jantung satu yang mengeras, terdengar
bunyi opening snap, mur-mur/S3, bunyi jantung dua dapat mengeras disertai
bising sistole karena adanya hipertensi pulmunal, bunyi bising sistole dini
dari katup pulmunal dapat terdengar jika sudah terjadi insufisiensi pulmunal,
CVP, PAP, PCWP dapat meningkat, gambaran EKG dapat terlihat P mitral, fibrilasi
artrial dan takikardia ventrikal.
4) Gangguan fungsi pulmunary :
hyperpnea, orthopnea, crackles pada basal.
b.
Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin
muncul pada klien dengan stenosis mitral antara lain:
a.
Koping individu tidak efektif b/d krisis situasional; sistem pendukung tidak
adekuat;
metode koping tidak efektif.
b. Kurang
pengetahuan (kebutuhan belajar) b/d kurang pengetahuan; misinterpretasi
informasi; keterbatasan kognitif;
menyangkal diagnosa.
c.
Perubahan penampilan peran b/d krisis situasional; proses penyembuhan;
ragu-ragu akan masa depan.
d. Resiko
kelebihan volume cairan b/d adanya perpindahan tekanan pada kongestif vena pulmonal;
Penurunan perfusi organ (ginjal); peningaktan retensi natrium/air; peningakatn
tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma (menyerap cairan dalam area
interstitial/jaringan).
e.
Resiko kerusakan pertukaran gas b/d perubahan membran kapiler-alveolus
(perpindahan cairan ke dalam area interstitial/alveoli).
f.
Pola nafas tidak efektif b/d penurunan ekspansi paru, perembesan cairan,
kongesti paru akibat sekunder dari perubahan membran alveoli, dan resistensi
cairan interstitial.
g.
Ansietas b/d ancaman kehilangan/kematian; krisis situasional; ancaman terhadap
konsep diri (citra diri).
h.
Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan sirkulasi darah perifer; penghentian
aliran arteri-vena; penurunan aktifitas.
i.
Penurunan curah jantung b/d adanya hambatan aliran darah dari atrium kiri
keventrikel kiri, adanya takikardi ventrikel, pemendekan fase distolik.
j.
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d sesak
napas.
k.
Gangguan eleminasi urine b/d penurunan perfusi glomerulus; penurunan kardiak
output.
l.
Resiko kurang volume cairan tubuh b/d penurunan kardiak output; penurunan
filtrasi glomerulus.
m. Intoleran
aktifitas b/d adanya penurunan curah jantung, kongestif pulmunal.
n.
Gangguan pemenuhan ADL b/d immobilisasi; kelemahan fisik
o.
Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan sekresi mukus
yang kental, hemoptisis, kelemahan, upaya batuk buruk edema trakeal/faringeal.
c.
Rencana perawatan
1. Penurunan
curah jantung b/d adanya hambatan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel
kiri, adanya takikardi ventrikel, pemendekan fase distolik.
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari, penurunan curah
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari, penurunan curah
jantung dapat diminimalkan.
Kriteria hasil: Vital sign dalam batas
normal, Gambaran ECG normal, bebas gejala gagal jantung, urine output adekuat
0,5-2 ml/kgBB, klien ikut serta dalam aktifitas yang mengurangi beban kerja
jantung.
Intervensi
1. Kaji
frekuensi nadi, RR, TD secara teratur setiap 4 jam.
2. Catat
bunyi jantung.
3. Kaji
perubahan warna kulit terhadap sianosis dan pucat.
4. Pantau
intake dan output setiap 24 jam.
5. Batasi
aktifitas secara adekuat.
6.
Berikan kondisi psikologis lingkungan yang tenang.
Rasional
1.
Memonitor adanya perubahan sirkulasi jantung sedini mungkin.
2.
Mengetahui adanya perubahan irama jantung.
3. Pucat
menunjukkan adanya penurunan perfusi perifer terhadap tidak adekuatnya curah
jantung. Sianosis terjadi sebagai akibat adanya obstruksi aliran darah pada
ventrikel.
4. Ginjal
berespon untuk menurunkna curah jantung dengan menahan produksi cairan dan
natrium.
5.
Istirahat memadai diperlukan untuk memperbaiki efisiensi kontraksi jantung dan
menurunkan komsumsi O2 dan kerja berlebihan.
6. Stres
emosi menghasilkan vasokontriksi yang meningkatkan TD dan meningkatkan kerja
jantung.
2.
Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan sirkulasi darah perifer; penghentian
aliran arteri-vena; penurunan aktifitas.
Tujuan: Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 3 hari perfusi jaringan adekuat.
Kriteria hasil: vital sign dalam batas yang dapat diterima, intake output seimbang, akral teraba hangat, sianosis (-), nadi perifer kuat, pasien sadar/terorientasi, tidak ada
Kriteria hasil: vital sign dalam batas yang dapat diterima, intake output seimbang, akral teraba hangat, sianosis (-), nadi perifer kuat, pasien sadar/terorientasi, tidak ada
oedem, bebas nyeri/ketidaknyamanan.
Intervensi
1.
Monitor perubahan tiba-tiba atau gangguan mental kontinu (camas, bingung,
letargi, pinsan).
2.
Observasi adanya pucat, sianosis, belang, kulit dingin/lembab, catat kekuatan
nadi perifer.
3. Kaji
tanda Homan (nyeri pada betis dengan posisi dorsofleksi), eritema, edema.
4. Dorong
latihan kaki aktif/pasif.
5. Pantau
pernafasan.
6. Kaji
fungsi GI, catat anoreksia, penurunan bising usus, mual/muntah, distensi
abdomen, konstipasi.
7. Pantau
masukan dan perubahan keluaran urine.
Rasional
1.
Perfusi serebral secara langsung berhubungan dengan curah jantung, dipengaruhi
oleh elektrolit/variasi asam basa, hipoksia atau emboli sistemik.
2.
Vasokonstriksi sistemik diakibatkan oleh penurunan curah jantung mungkin
dibuktikan oleh penurunan perfusi kulit dan penurunan nadi.
3.
Indikator adanya trombosis vena dalam.
4.
Menurunkan stasis vena, meningkatkan aliran balik vena dan menurunkan resiko
tromboplebitis.
5. Pompa
jantung gagal dapat mencetuskan distres pernafasan. Namun dispnea
tiba-tiba/berlanjut menunjukkan komplikasi tromboemboli paru.
6.
Penurunan aliran darah ke mesentrika dapat mengakibatkan disfungsi GI, contoh
kehilangan peristaltik.
7.
Penurunan pemasukan/mual terus-menerus dapat mengakibatkan penurunan volume
sirkulasi, yang berdampak negatif pada perfusi dan organ.
3.
Intoleran aktifitas b/d adanya penurunan curah jantung, kongestif pulmunal
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan
selama 3 hari, klien dapat beraktifitas sesuai batas toleransi yang dapat
diukur.
Kriteria hasil: menunjukkan peningaktan
dalam beraktifitas, dengan frekuensi jantung/irama dan TD dalam batas normal,
kulit hangat, merah muda dan kering.
Intervensi
1.
Kaji toleransi pasien terhadap aktifitas menggunakan parameter berikut: nadi
20/mnt di atas frek nadi istirahat, catat peningaktan TD, dispnea, nyeri dada,
kelelahan berat, kelemahan, berkeringat, pusing atau pinsan.
2.
Tingkatkan istirahat dan batasi aktifitas.
3.
Pertahankan klien tirah baring selama sakit akut
4.
Tingkatkan klien duduk di kursi dan tinggikan kaki klien
5.
Pertahankan rentang gerak pasif selama sakit kritis
6.
Evaluasi tanda vital ketika kemajuan aktivitas terjadi
7.
Berikan waktu istirahat diantara waktu aktifitas
8.
Pertahankan pertambahan oksigen sesuai instruksi
9.
Berikan diet sesuai pesanan (pembatasan cairan dan natrium)
10. Batasi pengunjung
atau kunjungan oleh pasien
11. Kaji kesiapan
untuk meningaktkan aktifitas contoh: penurunan kelemahan/kelelahan, TD
stabil/frek nadi, peningaktan perhatian pada aktifitas dan perawatan diri.
12. Dorong memajukan
aktifitas/toleransi perawatan diri.
13. Berikan bantuan
sesuai kebutuhan (makan, mandi, berpakaian, eleminasi).
14. Anjurkan pasien
menghindari peningkatan tekanan abdomen, mengejan saat defekasi.
15. Jelaskan pola
peningkatan bertahap dari aktifitas, contoh: posisi duduk ditempat tidur bila
tidak pusing dan tidak ada nyeri, bangun dari tempat tidur, belajar berdiri
dst.
Rasional
1.
Parameter menunjukkan respon fisiologis pasien terhadap stres aktifitas dan
indikator derajat pengaruh kelebihan kerja jantung. Selain itu juga respon
klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokardium.
2.
Menghindari terjadinya takikardi dan pemendekan fase distole. Selain itu juga
menurunkan kerja miokardium/konsumsi oksigen.
3. Untuk
mengurangi beban jantung
4. Untuk
meningkatkan aliran balik vena
5.
Meningkatkan kontraksi otot sehingga membantu aliran balik vena
6. Untuk
mengetahui fungsi jantung, bila dikaitkan dengan aktifitas
7. Untuk
mendapatkan cukup waktu resolusi bagi tubuh dan tidak terlalu memaksa kerja
jantung
8. Untuk
meningkatkan oksigenasi jaringan
9. Untuk
mencegah retensi cairan dan edema akibat penurunan kontraktilitas jantung
10. Pembicaraan yang panjang
sangat mempengaruhi pasien, naum periode kunjungan yang tenang bersifat
terapeutik.
11. Stabilitas fisiologis pada
istirahat penting untuk menunjukkan tingkat aktifitas individu.
12. Konsumsi oksigen miokardia
selama berbagai aktifitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan
aktifitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung.
13. Teknik penghematan energi
menurunkan penggunaan energi dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan
oksigen.
14. Aktifitas yang memerlukan
menahan nafas dan menunduk (manuver valsava) dapat mengakibatkan bradikardia,
menurunkan curah jantung, takikardia dengan peningaktan TD. Selain itu juga
mengejan mengakibatkan kontraksi otot dan vasokontriksi yang dapat meningkatkan
preload, tahanan vaskular sistemis, dan beban jantung.
15. Aktifitas yang maju
memberikan kontrol jantung, meningaktkan regangan dan mencegah aktifitas
berlebihan.
4.
Resiko kelebihan volume cairan b/d adanya perpindahan tekanan pada kongestif
vena pulmonal, Penurunan perfusi organ (ginjal); peningaktan retensi
natrium/air; peningakatn tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma
(menyerap cairan dalam area interstitial/jaringan)
Tujuan: Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 3 hari kelebihan volume cairan tidak terjadi.
Kriteria hasil: balance cairan masuk
dan keluar, vital sign dalam batas yang dapat diterima, tanda-tanda edema tidak
ada, suara nafas bersih.
Intervensi
1.
Auskultasi bunyi nafas untuk adanya krekels.
2.
Catat adanya DVJ, adanya edema dependen.
3.
Ukur masukan/keluaran, catat penurunan pengeluaran, sifat konsentrasi. Hitung
keseimbnagan cairan.
4.
Pertahankan pemasukan total cairan 2000 cc/24 jam dalam toleransi
kardiovaskuler.
5.
Berikan diet rendah natrium/garam.
6.
Delegatif pemberian diiretik.
Rasional
1.
Mengindikaiskan edema paru skunder akibat dekompensasi jantung.
2.
Dicurigai adanya gagal jantung kongestif.kelebihan volume cairan.
3.
Penurunan curah jantung mengakibatkan gangguan perfusi ginjal, retensi
cairan/Na, dan penurunan keluaran urine. Keseimbangan cairan positif berulang
pada adanya gejala lain menunjukkan klebihan volume/gagal jantung.
4.
Memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa tetapi memerlukan pembatasan pada
adanya dekompensasi jantung.
5.
Na meningkatkan retensi cairan dan harus dibatasi.
6.
Mungkin perlu untuk memperbaiki kelebihan cairan.
5.
Resiko kerusakan pertukaran gas b/d perubahan membran kapiler-alveolus
(perpindahan cairan ke dalam area interstitial/alveoli).
Tujuan: Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 3 hari pertukaran gas adekuat.
Kriteria hasil: sianosis tidak ada,
edema tidak ada, vital sign dalam batas dapat diterima, akral hangat, suara
nafas bersih, oksimetri dalam rentang normal.
Intervensi
1.
Auskultasi bunyi nafas, catat krekels, mengii.
2.
Anjurkan pasien batuk efektif, nafas dalam.
3.
Dorong perubahan posisi sering.
4.
Pertahankan posisi semifowler, sokong tangan dengan bantal.
5.
Pantau GDA (kolaborasi tim medis), nadi oksimetri.
6.
Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
7.
Delegatif pemberian diuretik.
Rasional
1.
Menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan sekret menunjukkan kebutuhan untuk
intervensi lanjut.
2.
Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran oksigen.
3. Membantu
mencegah atelektasis dan pneumonia.
4.
Menurunkan komsumsi oksigen/kebutuhan dan meningkatkan ekspansi paru maksimal.
5.
Hipoksemia dapat menjadi berat selama edema paru.
6.
Meningkatkan konsentrasi oksigen pada bagian paru yaitu pada bagian alveolar,
yang dapat memperbaiki/menurunkan hipoksemia jaringan.
7.
Menurunkan kongesti alveolar, meningkatkan pertukaran gas.
6.
Pola nafas tidak efektif b/d penurunan ekspansi paru, perembesan cairan,
kongesti paru akibat sekunder dari perubahan membran alveoli, dan resistensi
cairan interstitial.
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam pola
napas kembali efektif.
Kriteria hasil : klien tidak sesak
napas, frekuensi pernapasan dalam batas normal 16-24x/menit, respon batuk
berkurang, output urine 30ml/jam.
Intervensi
1. Auskultasi bunyi
napas (cracles)
2. Kaji adanya edema
3. Ukur intake dan
output cairan
4. Timbang berat
badan
5. Pertahankan total
pemasukan cairan 2000ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskular
6. Kolaborasi :
Berikan
diet tanpa garam
Berikan
diuretik, seperti : furosemid, sprinolakton, hidronolakton
Pantau
data elektrolit kalium
Rasional
1. Indikasi edema
paru, akibat sekunder dekompensasi jantung
2. Waspadai adanya
gagal kongesti/kelebihan volume cairan
3. Penurunan curah
jantung mengakibatkan gangguan perfusi ginjal, retensi natrium/air, dan
penurunan output urin
4. Perubahan berat
badab tiba-tiba menunjukkan gangguan keseimbangan cairan
5. Memenuhi kebutuhan
cairan tubuh orang dewasa, tetapi memerlukan pembatasan dengan adanya
dekompensasi jantung
6. Natrium
meningkatkan retensi cairan dan meningkatkan volume plasma yang berdampak
terhadap peningkatan beban kerja jantung dan akan meningkatkan kebutuhan
miokardium
7. Diuretik bertujuan
untuk menurunkan volume plasma dan menurunkan retensi cairan di jaringan
sehingga menrunkan resiko terjadinya edema paru
8. Hipokalemia dapat
membatasi efektifitas terapi
F.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Stenosis mitral yang murni (isolated)
dapat didengar bising diastolik yang bersifat kasar, bising menggenderang
(Rumble), Aksentuasi presistolik dan bunyi jantung satu yang mengeras. Jika
terdengar bunyi tambahan opening snap berarti katup masih relatif lemas
(pliable) sehingga waktu terbuka mendadak saat distole menimbulkan bunyi yang
menyentak (seperti tali putus). Jarak bunyi jantung dua dengan opening snap
memberikan gambaran beratnya stenosis. Makin pendek jarak ini berarti makin
berat derajat penyempitannya. Komponen pulmunal bunyi jantung kedua dapat
mengeras disertai bising sistolik karena adanya hipertensi pulmunal. jika sudah
terjadi insufisiensi pulmunal maka dapat terdengar bising diastolik dini dari
katup pulmunal.
1.
Kateterisasi jantung : Gradien tekanan (pada distole) antara atrium kiri dan
ventrikel kiri melewati katup mitral, penurununan orivisium katup (1,2 cm),
peninggian tekanan atrium kiri, arteri pulmunal, dan ventrikel kanan ;
penurunan curah jantung.
2.
Ventrikulografi kiri : Digunakan untuk mendemontrasikan prolaps katup mitral.
3. ECG :
Pembesaran atrium kiri (P mitral berupa takik), hipertropi ventrikel kanan,
fibrilasi atrium kronis.
4. Sinar
X dada : Pembesaran ventrikel kanan dan atrium kiri, peningkatan vaskular,
tanda-tanda kongesti/edema pulmunal.
5.
Ekokardiogram : Dua dimensi dan ekokardiografi doppler dapat memastikan masalah
katup. Pada stenosis mitral pembesaran atrium kiri, perubahan gerakan daun-daun
katup
6.
Gambaran Radiologi
Mitral stenosis menyebabkan perubahan
pada bentuk jantung dan perubahan-perubahan pada pembuluh darah paru-paru.
Perubahan pembuluh darah paru ini tergantung pada beratnya mitral stenosis dan
kondisi dari jantung. Konveksitas dari dari batas kiri jantung mengindikasikan
bahwa stenosis menonjol. Pada kebanyakan kasus terdapat dua kelainan yakni
stenosis mitral dan insufisiensi mitral, dimana salah satunya menonjol.
Ventrikel kiri juga sangat melebar ketika insufisiensi mitral terlibat secara
signifikan.
Tanda-tanda radiologis klasik dari
pasien dengan mitral stenosis yaitu adanya double contour yang mengarah pada
adanya pembesaran atrium kiri, serta adanya garis-garis septa yang
terlokalisasi.
Pada keadaan yang moderat dan berat
tampak perubahan perubahan sebagai berikut;
Perubahan pada jantung:
1.
Proyeksi Postero-Anterior (PA)
Terlihat batas kanan jantung menonjol
(Panah) dan batas kiri jantung mencembung karena pembesaran atrium kiri (Panah
ganda). Bronkus utama kiri terangkat (Panah bulat).
2.
Proyeksi Lateral.
Pada proyeksi ini dengan menggunakan
kontras tampak pembesaran atrium kiri yang mendorong esofagus 1/3 tengah ke
belakang. Batas ventrikel kiri di bagian bawah belakang, tidak melewati vena
cava inferior.
3.
Proyeksi Oblik Kanan Depan(RAO)
Deviasi yang minimal dari esophagus
disebabkan oleh pembesaran atrium kiri. Posisi ini tidak begitu membantu untuk
diagnosis mitral stenosis.
4.
Proyeksi Oblik Kiri Depan(LAO)
Daerah terang yang normal antara
antrium kiri dengan bronkus utama kiri menghilang disertai dengan elevasi
bronkus utama kiri. Ventrikel kiri normal. Teradapat sedikit penonjlan dari
atrium kanan. Tetapi secara umum jantung kanan dalam keadaan normal.
Perubahan pada paru dan
pembuluh-pembuluh darahnya
1. Perubahan pada
pembuluh darah
Baik arteri maupun vena menjadi lebih
menonjol terutama arteri, dengan ujung pembuluh yang berdekatan dengan hilus
menjadi lebih terlihat, dan pembuluh distal memanjang keluar ke perifer paru.
2. Edema paru
Pada mitral stenosis udema paru dapat
terjadi pada jaringan interstitial dan dalam ruangan alveolar. Udema
interstitial menyebabkan paru berbercak-bercak tipis, halus, sehingga gambaran
radiolusensi dari paru berubah menjadi suram.
3. Garis Kerley
(garis septa)
Garis ini muncul di lapangan paru
bagian tepi-tepi dan kebanyakan di lapangan bawah. Garis-garis ini disebut
garis kerley atau garis septa. Garis ini sering terdapat pada sinus
kostoprenikus dan mewakili adanya cairan dalam jaringan interlobaris. Garis ini
disebut juga “Kerley B lines”, agak spesifik untuk stenosis mitral dengan edema
paru.
4. Hemosiderosis
Mitral stenosis yang disertai dengan hipertensi pulmonal yang kronis akan menyebabkan dilatasi kapiler dan hemorage. Akibatnya besi bebas akan terkumpul pada daerah interstitial jaringan yang akan tampak sebagai bayangan nodul pada radiograf.
Mitral stenosis yang disertai dengan hipertensi pulmonal yang kronis akan menyebabkan dilatasi kapiler dan hemorage. Akibatnya besi bebas akan terkumpul pada daerah interstitial jaringan yang akan tampak sebagai bayangan nodul pada radiograf.
Ekokardiografi adalah metode noninvasif
yang paling sensitif dan spesifik untuk
mendiagnosa
mitral stenosis, tetapi tidak dapat digunakan untuk menentukan derajat
keparahan dari stenosis mitral. Daun katup menebal dan nampak paralel, dengan
densitas echo agak nampak sebagai garis tipis yang bergerak dengan cepat.
Fusikomisura nampak sebagai gerakan anterior paralel dari daun katup posterior.
Terlihat Hockey stick appearance dari
katup mitral anterior. Dengan menggunakan teknik dua dimensi, seluruh bagian
katup mitral dan orifisiumnya dapat divisualisasikan. Teknik color Doppler
dapat mengevaluasi gradien transvalvuler,tekanan arteri pulmonalis, dan ada
tidaknya regurgitasi mitral yang menyertai.
Ekokardiografi sangat bermanfaat dalam
evaluasi stenosis katup mitral:
1) Pertama, pada pasien yang sakit berat, gambaran ekokardiografi gerakan mitral yang normal menyingkirkan stenosis mitral sebagai penyebab untuk distress pasien.
1) Pertama, pada pasien yang sakit berat, gambaran ekokardiografi gerakan mitral yang normal menyingkirkan stenosis mitral sebagai penyebab untuk distress pasien.
2) Kedua, sewaktu stenosis mitral ada,
maka ekokardiogram dapat memperlihatkan pembesaran atrium kiri, gerakan
bersamaan daun mitral anterior dan posterior, penguranagn gerakan katup mitral
yang mengurangi lereng EF daun mitral anterior dan kalsifikasi katup; perkiraan
kasar keparahan obstruksi dapat dibuat dengan 2D Echo.
3) Ketiga, ekokardiografi Doppler dapat
mendeteksi keparahan stenosis mitral dengan pengukuran tekanan setengah hari,
yang merupakan waktu yang diperlukan agar tekanan diastolic seketika turun
mencapai setengah nilai puncaknya; lebih parah obstruksi, lebih memanjang
tekanan setengah hari.
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete