makalah pemenuhan seksual
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kebutuhan adalah suatu keadaan yang ditandai
oleh perasaan kekurangan dan ingin diperoleh sesuatu yang akan diwujudkan
melalui suatu usaha atau tindakan. Dari segala macam kebutuhan adapun kebutuhan
yang paling mendasar yang harus di penuhi oleh setiap individu, adapun 5
kebutuhan mendasar itu yakni : Kebutuhan Keamanan (Safety Needs), Kebutuhan Seks (Sex Needs), Kebutuhan Ekonomi
(Economical Needs), Kebutuhan Rohani (Spritual Needs),
Kebutuhan
Inovasi (Innovation Needs).
Dari kelima kebutuhan mendasar tersebut
memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya sehingga semua kebutuhan dasar
tersebut harus terpenuhi dengan semestinya, salah satu kebutuhan mendasar yang
kita ketahui adalah kebutuhan seksual karena kebutuhan seksual merupakan yang
harus benar-benar terpenuhi dan apabila kebutuhan seksual ini tidak terpenuhi
semestinya maka akan terjadi sesuatu penyimpangan seksual.
Karena begitu pentingnya
sebuah kebutuhan seksual bagi kelangsungan kehidupan manusia dan banyak masalah
yang ditimbulkan serta pertimbangan-pertimbangan yang sering kita jumpai dalam
kehidupan kita maka dari itu kami
mengangkat sebuah judul makalah tentang “Pemenuhan kebutuhan seksual”
B. RUMUSAN MASALAH
1. Jelaskan definisi sex, seksualitas,
dan kebutuhan seksual ?
2. Jelaskan tinjauan seksual dari
beberapa aspek ?
3. Jelaskan factor-factor yang mempengaruhi
kebutuhan seksual ?
4. Sebutkan dan jelaskan tahap-tahap
perkembangan seksual ?
5. Jelaskan mengenai perilaku seksual
dalam memehuhi kebutuhan seksual ?
6. Jelaskan tahapan respon seksual ?
7. Bagaimana seks pada ibu hami ?
C.
TUJUAN
DAN MANFAAT
1. Untuk mengetahui tentang definisi
sex,seksualitas dan kebutuhan seksual
2. Agar dapat memahami tinajauan
seksual dari beberapa aspek
3. Untuk mengetahui factor-faktor yang
mempengaruhi kebutuhan seksual
4. Agar dapat memahami tahap-tahap
perekembangan seksual
5. Untuk mamahami perilaku seksual
dalam memenuhi kebutuhan seksual
6. Agar dapat mengetahui siklus atau
tahapan respon seksual
7. Untuk mengetahui seksualitas pada
ibu hamil ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Sex, Seksualitas, Kebutuhan Seksual, dan Kesehatan Seksual
1.
Sex
Seks adalah alat kelamin, mengacu pada
sifat-sifat biologis yang secara kasat mata berbentuk fisik yang mendefinisikan
manusia sebagai perempuan atau laki-laki. Istilah seks seringkali diartikan
sebagai kegiatan seksual tetapi dalam konteks perbincangan tentang seksualitas
seks diartikan sebagai jenis kelamin. Penggolongan jenis kelamin:
a. Laki-laki.
b. Perempuan.
c. Interseks
(seseorang memiliki karakteristik jenis kelamin laki-laki dan perempuan).
- Jenis kelamin, kelas-kelas dalam dimorfisme seksual (sexual dimorphism) akibat adanya sistem penentuan kelamin pada organisme.
- Kegiatan yang berkaitan dengan manipulasi organ kelamin, khususnya hubungan seksual; namun dapat juga sesuatu yang mengarah pada hal tersebut (seperti masturbasi dan petting).
2. Seksualitas
Pengertian
seksualitas tidak bisa begitu saja diwakili oleh sebuah kalimat yang bisa
langsung menjelaskan tentang makna dari seksualitas tersebut. Berikut ini bisa
membantu kita memaknai seksualitas:
a.
Salah satu aspek dalam kehidupan manusia sepanjang hidupnya yang
berkaitan dengan alat kelaminnya. Seksualitas
dialami dan diungkapkan dalam pikiran,
khayalan, gairah, kepercayaan, sikap, nilai, perilaku, perbuatan, peran dan
hubungan.
b. Seksualitas lebih dari
sekedar perbuatan seksual atau siapa melakukan
apa dengan siapa.
c. Seksualitas merupakan
salah satu bagian dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhannya.
3. Kebutuhan Seksual
Kebutuhan
adalah suatu keadaan yang ditandai oleh perasaan kekurangan dan ingin diperoleh
sesuatu yang akan diwujudkan melalui suatu usaha atau tindakan (Murray dalam
Bherm, 1996)
Kebutuhan Seks (Sex Needs), yaitu kebutuhan
pelampiasan dorongan seksual, bagi
mereka yang sudah matang fungsi biologisnya. Kebutuhan
akan seks bagi manusia sudah ada sejak lahir. Seks tergolong dalam kebutuhan
primer – yang sama dengan kebutuhan: makan, minum, mandi, berpakaian, tidur,
bangun, bekerja, buang air besar, atau buang air kecil. Aktiviats-aktivitas
rutin ini dilakukan setiap manusia sepanjang hidup. Orang bisa berpuasa tetapi
dalam batas waktu tertentu. Dan itulah yang disebut dengan kebutuhan seks.
Kebutuhan seksual adalah kebutuhan
dasar manusia berupa ekspresi perasaan dua orang individu secara pribadi yang
saling menghargai memperhatikan, dan menyayangi sehingga terjadi hubungan
timbal balik antara kedua individu tersebut ( Alimut , 2006)
B. Tinjauan Seksual pada beberapa aspek
a.Aspekbiologis
Aspek ini memandang dari segi biologi seperti pandangan anatomi dan fisiologi dari sitem reproduksi (seksual), kemampuan organ seks dan adanya hormonal dari sistem syaraf yang berfungsi atau berhubungan dengan kebutuhan seksual b.AspekPsikologis
Aspek ini merupakan pandangan terhadap identitas jenis kelamin, sebuah perasaan dari diri sendiri terhadap kesadaran identitasnya, serta memandang gambaran seksual atau bentuk konsep diri yang lain.
iii.AspekSosialBudaya
Aspek ini merupakan pandangan budaya atau keyakinan yang berlaku di masyarakat terhadap kebutuhan seksual serta perlakuanya di masyarakat.
Aspek ini memandang dari segi biologi seperti pandangan anatomi dan fisiologi dari sitem reproduksi (seksual), kemampuan organ seks dan adanya hormonal dari sistem syaraf yang berfungsi atau berhubungan dengan kebutuhan seksual b.AspekPsikologis
Aspek ini merupakan pandangan terhadap identitas jenis kelamin, sebuah perasaan dari diri sendiri terhadap kesadaran identitasnya, serta memandang gambaran seksual atau bentuk konsep diri yang lain.
iii.AspekSosialBudaya
Aspek ini merupakan pandangan budaya atau keyakinan yang berlaku di masyarakat terhadap kebutuhan seksual serta perlakuanya di masyarakat.
C.
Factor
– factor yang mempengaruhi kebutuhan seksualitas
1. Pertimbangan Perkembangan
- Proses perkembangan manusia mempengaruhi aspek psikososial, emosional dan biologik kehidupan yang selanjutnya akan mempengaruhi seksualitas individu
- Hanya aspek seksualitas yang telah dibedakan sejak fase konsepsi
2. Kebiasaan Hidup Sehat dan Kondisi
Kesehatan
- Tubuh, jiwa dan emosi yang sehat merupakan persyaratan utama untuk dapat mencapai kepuasan seksual
- Trauma atau stress dapat mempengaruhi kemampuan individu untuk melakukan kegiatan atau fungsi kehidupan sehari-hari yang tentunya juga mempengaruhi ekspresi seksualitasnya, termasuk penyakit
- Kebiasaan tidur, istirahat, gizi yang adekuat dan pandangan hidup yang positif mengkontribusi pada kehidupan seksual yang membahagiakan
3. Peran dan Hubungan
- Kualitas hubungan seseorang dengan pasangan hidupnya sangat mempengaruhi kualitas hubungan seksualnya
- Cinta dan rasa percaya merupakan kunci utama yang memfasilitasi rasa nyaman seseorang terhadap seksualitas dan hubungan seksualnya dengan seseorang yang dicintai dan dipercayainya
- Pengalaman dalam berhubungan seksual seringkali ditentukan oleg dengan siapa individu tersebut berhubungan seksual
4. Konsep Diri
- Pandangan individu terhadap dirinya sendiri mempunyai dampak langsung terhadap seksualitas
5. Budaya, Nilai dan Keyakinan
- Faktor budaya, termasuk pandangan masyarakat tentang seksualitas dapat mempengaruhi individu
- Tiap budaya mempunyai norma-norma tertentu tentang identitas dan perilaku seksual
- Budaya turut menentukan lama hubungan seksual, cara stimulasi seksual dan hal lain terkait dengan kegiatan seksual
6. Agama
- Pandangan agama tertenmtu yang diajarkan, ternyata berpengaruh terhadap ekspresi seksualitas seseorang
- Berbagai bentuk ekspresi seksual yang diluar kebiasaan, dianggap tidak wajar
- Konsep tentang keperawanan dapat diartikan sebagai kesucian dan kegiatan seksual dianggap dosa, untuk agama tertentu
7. Etik
- Seksualitas yang sehat menurut Taylor, Lilis & Le Mone (1997) tergantung pada terbebasnya individu dari rasa berssalah dan ansietas
- Apa yang diyakini salah oleh seseorang, bisa saja wajar bagi orang lain
D. Perkembangan seksualitas
Tahapan
perkembangan ini disebut tahapan psikoseksual karena memperesentasikan suatu
kebutuhan(dan pemuasan) seksual yang menonjol pada stiap tahapan perkembangan.
Hambatan yang terjadi pada proses pemenuhan kebutuhan seksual pada setiap
tahapan - disebut fiksasi berpotensi menyebabkan gangguan perilaku pada waktu dewasa.
Tahapan-tahapan
perkembangan psikoseksual:
1)
Tahap oral(0-1 tahun)
Kontak
pertama yag dilakuka oleh bayi setelah kelahirannya adalah melalui mulut(oral).
Kepuasan seksual(kesenangan) pada saat ini diperoleh melalui mulut, yakni
melalui berbagai aktivitas mulut seperti makan, minum, dan menghisap atau
menggigit. Fiksasi pada tahap ini menyebabkan orang mengembangkan kepribadian oral, yakni menjadi orang
yang tergantung dan lebih senang untuk bertindak pasif dan menerima bantuan
dari orang lain.
Tugas perkembangan utama fase oral adalah memperoleh
rasa percaya, baik kepada diri sendiri, dan orang lain. Cinta adalah
perlindungan terbaik terhadap ketakutan dan ketidakamanan. Anak-anak yang
dicintai tidak akan banyak menemui kesulitan dalam menerima dirinya, sebaliknya
anak-anak yang merasa tidak diinginkan, tidak diterima, dan tidak dicintai
cenderung mengalami kesulitan dalam menerima dirinya sendiri, dan belajar untuk
tidak mempercayai orang lain, serta memandang dunia sebagai tempat yang
mengancam. Efek penolakan pada fase oral akan membentuk anak menjadi pribadi
yang penakut, tidak aman, haus akan perhatian, iri, agresif, benci, dan
kesepian.
2)
Tahap anal(1-3 tahun)
Interaksi melalui fungsi
pembuangan isi perut(anal) dan memperoleh kesenangan melalui
aktivitas-aktivitas pembuangan. Pada fase anal anak banyak berhadapan dengan
tuntutan-tuntutan orangtua, terutama yang berhubungan dengan toilet training,
dimana anak memperoleh pengalaman pertama dalam hal kedisiplinan. Fiksasi pada tahapan ini menyebabkan anak
mengembangkan kepribadian anal, yakni menjadi orang yang sangat menekankan
kepatuhan, konformitas, keteraturan, menjadi kikir, dan suka melawan atau memberontak.
Tugas perkembangan pada
fase ini adalah anak harus belajar mandiri, dan belajar mengakui dan menangani
perasaan-perasaan negatif. Banyak sikap terhadap fungsi tubuh sendiri yang
dipelajari anak dari orangtuanya. Selama fase anal anak akan mengalami
perasaan-perasaan negatif seperti benci, hasrat merusak, marah, dan sebagainya,
namun mereka harus belajar bahwa perasaan-perasaan tersebut bisa diterima. Hal
penting lain yang harus dipelajari anak adalah bahwa mereka memiliki
kekuatan, kemandirian, dan otonomi.
3)
Tahap
palis(3-5 tahun)
Pada fase ini anak laki-laki
dan perempuan senang menyentuh (mengeksploitasi) organ kelaminnya untuk
memperoleh kesenangan sambil melakukan fantasi-fantasi seksual. Anak laki-laki
mengembangkan fantasi seksual dengan ibunya disebut oedipus complex dan anak perempuan mengembangkan fantasi seksual
dengan ayahnya disebut electra complex.
Jika konflik oedipal ini tak
terpecahkan, anak laki-laki aka berkembang menjadi homoseksual atau
heteroseksual sedangka anak perempuan akan menjadi wanita genit penggoda pria atau
lesbian.. Fase Phalic juga merupakan periode perkembangan hati nurani, dimana anak
belajar mengenai standar-standar moral. Selama fase ini anak perlu belajar
menerima perasaan seksualnya sebagai hal yang alamiah dan belajar memandang
tubuhnya sendiri secara sehat. Mereka membutuhkan contoh yang memadai bagi
identifikasi peran seksual, untuk mengetahui apa yang benar dan salah, serta
apa yang maskulin dan feminin, sehingga mereka memperoleh perspektif yang benar
tentang peran mereka sebagai anak laki-laki atau anak perempuan.
4)
Tahap laten(6-12 tahun)
Pada tahap ini anak laki-laki
dan anak perempuan menekankan semua isu-isu oedipal dan kehilangan minat
seksualnya. Sebaliknya, mereka mulai melibatkan dirinya ke dalam kelompok
bermain yang terdiri atas anak-anak lain dari jenis kelamin yang sama, baik
kelompok yang kelompok yang bersifat full male atau full female. Namun berkurangnya
perhatian pada masalah seksual itu bersifat laten dan masih akan terus
memberikan pengaruh pada tahap perkembangan kepribadian berikutnya.
5)
Tahap genital(12 tahun keatas)
Fase
genital dimulai pada usia 12 tahun, yaitu pada masa remaja awal dan berlanjut
terus sepanjang hidup. Pada fase ini energi seksual anak mulai terarah kepada
lawan jenis bukan lagi pada kepuasan diri melalui masturbasi, dan anak mulai
mengenal cinta kepada lawan jenis.
Ketika memasuki masa pubertas anak-anak mulai
tertarik satu sama lain dengan lawan jenisnya dan menjadi manusia yang lebih
matang. Mereka saling mengembangkan afeksi (hubungan) dan minat-minat seksual,
cinta, dan bentuk-bentuk keterikatan yang lain.
D.
Perilaku seksual
Seks merupakan suatu kebutuhan yang juga
menuntut adanya pemenuhan yang dalam hal penyalurannya manusia mengekspresikan
dorongan seksual ke dalam bentuk perilaku seksual yang sangat bervariasi.
Perilaku
seksual menurut Sarwono (2010:174) adalah segala tingkah laku yang didorong
oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk
tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga
tingkah laku berkencan, bercumbu dan senggama. Objek seksualnya bisa berupa
orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Nevid, dkk., 1995 (dalam
Amalia, 2007:28) mendefinisikan perilaku seks sebagai semua jenis aktifitas
fisik yang menggunakan tubuh untuk mengekspresikan perasaan erotis atau
perasaan afeksi. Sedangkan perilaku seks pra nikah sendiri adalah aktifitas
seksual dengan pasangan sebelum menikah pada usia remaja (Cavendish, 2009:663) Beberapa
tahapan-tahapan dari perilaku seksual yang biasanya dilakukan, dimana tahapan
selanjutnya adalah lebih berat sifatnya dan semakin mengarah pada perilaku
seksual. Tahapan-tahapan tersebut adalah (London; 1978 dalam Amalia,2007:29):
1.
Awakening and eksploration
Rangsangan terhadap diri sendiri dengan cara
berfantasi, menonton film, dan membaca buku-buku porno.
2.
Autosexuality:Masturbation
Perilaku merangsang diri sendiri dengan
melakukan masturbasi untuk mendapatkan kepuasan seksual.
3.
Heterosexuality:kissing and necking
Saling
merangsang dengan pasangannya, tetapi tidak mengarah ke daerah sensitif
pasangannya, hanya sebatas cium bibir dan leher pasangannya.
4. Heterosexuality
a.
Light petting : perilaku
saling menempelkan anggota tubuh dan masih dalam keadaan memakai pakaian.
b.
Heavy petting : perilaku
saling menggesek-gesekkan alat kelamin dan dalam keadaan tidak memakai pakaian
untuk mencapai kepuasan. Tahap ini adalah awal terjadinya hubungan seks.
5. Heterosexuality : Copulaation
Perilaku melakukan
hubungan seksual dengan melibatkan organ seksual masing-masing.
Sedangkan faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku seksual, menurut Purnawan (2004) yang dikutip dari
berbagai sumber antara lain:
a.Faktor Internal
1.Tingkat perkembangan seksual (fisik/psikologis)
Perbedaan kematangan seksual akan menghasilkan perilaku seksual yang berbeda pula. Misalnya anak yang berusia 4-6 tahun berbeda dengan anak 13 tahun.
a.Faktor Internal
1.Tingkat perkembangan seksual (fisik/psikologis)
Perbedaan kematangan seksual akan menghasilkan perilaku seksual yang berbeda pula. Misalnya anak yang berusia 4-6 tahun berbeda dengan anak 13 tahun.
2. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi
Anak yang memiliki pemahaman secara benar dan proporsional tentang kesehatan reproduksi cenderung memahami resiko perilaku serta alternatif cara yang dapat digunakan untuk menyalurkan dorongan seksualnya
3.Motivasi
Perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan atau termotivasi untuk memperoleh tujuan tertentu. Hersey & Blanchard cit Rusmiati (2001) perilaku seksual seseorang memiliki tujuan untuk memperoleh kesenangan, mendapatkan perasaan aman dan perlindungan, atau untuk memperoleh uang(padagigolo/WTS)
b.FaktorEksternal
1.Keluarga
Menurut Wahyudi (2000) kurangnya komunikasi secara terbuka antara orang tua dengan remaja dapat memperkuat munculnya perilaku yang menyimpang
2.Pergaulan
Menurut Hurlock perilaku seksual sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya, terutama pada masa pubertas/remaja dimana pengaruh teman sebaya lebih besar dibandingkan orangtuanya atau anggota keluarga lain.
3.Media massa
Penelitian yang dilakukan Mc Carthi et al (1975), menunjukan bahwa frekuensi menonton film kekerasan yang disertai adegan-adegan merangsang berkolerasi positif dengan indikator agresi seperti konflik dengan orang tua, berkelahi , dan perilaku lain sebagi manifestasi dari dorongan seksual yang dirasakannya.
Menurut Wahyudi (2000) perilaku seksual merupakan
perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan
kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku. Perilaku seksual yang sehat
dan dianggap normal adalah cara heteroseksual, vaginal, dan dilakukan suka sama
suka. Sedangkan yang tidak normal (menyimpang) antara lain Sodomi, homoseksual.
Selama ini perilaku seksual sering disederhanakan sebagai hubungan seksual
berupa penetrasi dan ejakulasi.
Padahal menurut Wahyudi (2000), perilaku seksual secara
rinci dapat berupa:
·
Berfantasi:
merupakan perilaku membayangkan dan mengimajinasikan aktivitas seksual yang
bertujuan untuk menimbulkan perasaan erotisme.
·
Pegangan Tangan : Aktivitas ini tidak terlalu menimbulkan
rangsangan seksual yang kuat namun biasanya muncul keinginan untuk mencoba
aktivitas yang lain.
·
Cium Kering : Berupa sentuhan pipi dengan pipi atau pipi
dengan bibir.
Cium Basah : Berupa sentuhan bibir ke bibir.
Cium Basah : Berupa sentuhan bibir ke bibir.
·
Meraba
: Merupakan kegiatan bagian-bagian sensitif rangsang seksual, seperti leher,
breast, paha, alat kelamin dan lain-lain.
·
Berpelukan
: Aktivitas ini menimbulkan perasaan tenang, aman, nyaman disertai rangsangan
seksual (terutama bila mengenai daerah aerogen/sensitif)
·
Masturbasi (wanita) atau Onani (laki-laki) : perilaku
merangsang organ kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual.
·
Oral Seks : merupakan aktivitas seksual dengan cara
memaukan alat kelamin ke dalam mulut lawan jenis.
·
Petting : merupakan seluruh aktivitas non intercourse
(hingga menempelkan alat kelamin).
·
Intercourse
: merupakan aktivitas seksual dengan memasukan alat kelamin laki-laki ke dalam
alat kelamin wanita.
E.
Kegiatan atau aktivitas seksual
Keseksualan jantina berbeza
Keseksualan
jantina berbeza melibatkan dua orang daripada
jantina yang berbeza. Orang-orang yang hanya melakukan seks jantina berbeza
tidak semestinya akan mengenal diri sebagai heteroseksual, walaupun (berbeza
dengan
homoseksual yang melakukan seks sama jantina)
kebanyakan takrif "heteroseksual" merangkuminya antara tahap-tahap
kegiatan, kekerapan, dan minat yang berbeza-beza. Sebaliknya, mereka mungkin
akan mengenal diri sebagai heteroseksual, dwiseksual, atau aseksual. Serupa juga, seseorang yang
mengamalkan kedua-dua tabiat seks sama jantina dan seks jantina berbeza mungkin
akan mengenal diri sebagai homoseksual, lesbian, dwiseksual, heteroseksual, atau
aseksual.
Walaupun
seringnya dikaitkan dengan homoseksual lelaki, seks
dubur merupakan suatu
amalan seks jantina berbeza yang kekadang dilakukan kerana dubur
adalah "lebih ketat" berbanding dengan faraj
dan oleh itu, lebih disukai oleh sebilangan heteroseksual semasa penembusan;
selain itu, banyak orang juga suka melanggar pantang
larang seks
kebudayaan. Seks dubur tidak disarankan sebagai suatu kaedah kawalan kelahiran kerana masih terdapat setakat
kemungkinan (walaupun amat kecil) untuk air mani memasuki faraj. Seks dubur jantina
berbeza juga sering diamalkan oleh wanita yang menembuskan lelaki dengan dildo
ikat, suatu amalan
yang dikenali sebagai "pegging atau "memasak" di barat.
Amalan
seks jantina berbeza dibatasi oleh undang-undang di Amerika Syarikat serta di banyak negara yang lain. Undang-undang
perkahwinan Amerika
Syarikat bertindak untuk menggalakkan orang-orang melakukan persetubuhan hanya
dalam perkahwinan. Undang-undang liwat
diperlihatkan sebagai menggalakkan persetubuhan antara jantina yang berbeza.
Undang-undang juga mengharamkan orang-orang dewasa daripada melakukan penganiayaan
seks, melakukan
kegiatan seks dengan orang-orang yang masih belum cukup umur, melakukan kegiatan seks di tempat
awam, serta melakukan kegiatan seks sebagai suatu perdagangan (pelacuran). Walaupun kesemua undang-undang ini
juga merangkumi kegiatan seks sama jantina, undang-undang itu berbeza dari segi
hukuman, dan hanya atau lebih kerapnya dikuatkuasakan pada kegiatan seks sama
jantina. Undang-undang juga mengawal penerbitan dan penontonan fonografi, termasuk fonografi seks jantina
berbeza.
Pemikatan, atau dating, ialah proses
yang sesetengah orang menggunakan untuk mencari pasangan seks atau jodoh yang
berpotensi. Di kalangan remaja heteroseks Amerika Syarikat (biasanya daripada kelas
menengah) pada
pertengahan abad ke-20, "dating" ialah
sesuatu yang dibuat oleh seseorang dengan sebilangan orang yang lain sebelum
memilih salah satu daripada mereka, baik untuk bersetubuh, berkahwin, atau kedua-dua.
Amalan
seks jantina berbeza boleh mengambil bentuk monogami, monogami bersiri, atau poliamori, dan bergantung kepada takrif amalan
seks, boleh merangkumi juga penghindaran
bersetubuh serta autoerotisisme (termasuk pelancapan).
Berbagai-bagai
gerakan moral dan politik telah berjuang untuk perubahan-perubahan dalam amalan
seks jantina berbeza, termasuk pemikatan dan perkahwinan, sungguhpun perubahan-perubahan
tersebut biasanya hanya dibuat sedikit demi sedikit di semua negara. Khususnya
di Amerika
Syarikat,
kempen-kempen itu sering mencetuskan dan dipercepatkan oleh kecemasan
moral. Di sana,
gerakan-gerakan yang tidak menggalakkan amalan seks sama jantina sering
menegaskan bahawa mereka sedang memperjuangkan pengukuhan amalan seks jantina
berbeza dalam perkahwinan, seperti Akta Pertahanan Perkahwinan serta cadangan Pindaan Perkahwinan Persekutuan.
Keseksualan sama jantina
Keseksualan
sama jantina melibatkan dua orang yang sama jantinanya. Perbuatan homoseksual
boleh dilakukan oleh mereka yang menganggap diri sebagai heteroseksual,
umpamanya pelancapan bersaling dalam konteks yang boleh dianggap sebagai
perkembangan remaja heteroseks "biasa". Orang homoseksual yang
berpura-pura mengamalkan hidup keheteroseksualan sering dirujuk dalam bahasa
Inggeris sebagai mengamalkan hidup "almari" (bahasa Inggeris: closeted
), iaitu mereka menyembunyikan keseksualan mereka di dalam "almari".
Walaupun
terdapat stereotaip dan tanggapan salah yang umum, tidak adanya sebarang bentuk
kegiatan seks tersendiri bagi tingkah laku seks sama jantina yang tidak juga
terdapat dalam tingkah laku seks jantina berbeza, kecuali perbuatan-perbuatan
yang melibatkan penyentuhan kemaluan jantina yang sama (sila lihat tribadisme, dan frot).
Sesetengah
keadaan, seperti pemenjaraan atau sekolah jantina tunggal serta
persekitaran pemisahan jantina, sering menyebabkan orang-orang yang biasanya
tidak mencari hubungan jenis dengan pasangan sama jantina, melakukan jenis
tingkah laku seks sama jantina. Ini dikenali sebagai kehomoseksualan
situasi.
Dalam
kes-kes yang lain, sesetengah orang mungkin menguji kaji atau menyelidik
keseksualan mereka melalui kegiatan seks sama jantina (dan/atau berbeza)
sebelum menentukan identiti
jantina mereka.
Kempen-kempen dan pegawai-pegawai kesihatan Amerika Syarikat seringnya
menyasarkan orang-orang yang mengenal diri sebagai "Lelaki yang bersetubuh
dengan Lelaki" heteroseksual atau dwiseksual, berbanding dengan
orang-orang yang mengenal diri sebagai lelaki "homoseksual". Lihat
juga Lesbian selepas mendapat ijazah.
Orang-orang
yang hanya mengamalkan kegiatan seks sama jantina secara eksklusif tidak
semestinya mengenal diri sebagai "homoseksual" atau "lesbian". Bagaimanapun, takrif homoseksual
tetap membawa pengertian "seorang yang berasa ghairah terhadap ahli
yang sama jantina dengannya". Walaupun demikian, tahap tarikan bergantung
kepada kekerapan, kerelaan, dan/atau minat.
Di
kalangan sesetengah sektor orang Amerika-Afrika (digelar "men on the DL"
dalam bahasa Inggeris, dengan "DL" merupakan singkatan untuk "down-low"
), tingkah laku seks sama jantina kekadang diperlihatkan hanya sebagai suatu
keseronokan fizikal. Mereka itu melakukan hubungan jenis dengan lelaki
(seringnya secara terselindung) semasa meneruskan hubungan cinta dan hubungan
jenis dengan kaum wanita. Para lelaki itu seringnya menjauhi diri daripada
gelaran "homoseksual" kerana istilah itu di kawasan mereka membawa
pengertian lelaki ranggi dan kewanita-wanitaan berketurunan Eropah,
sebuah kumpulan yang sesetengah mereka mungkin ingin menjauhi diri.
Keseksualan hubungan pasangan luas
Kes-kes
yang melibatkan melebihi dua orang pasangan dalam sebuah perkongsian seks
termasuk:
- Poliamori yang merupakan hubungan cinta terikat antara lebih daripada satu pasangan.
- Poligami yang agama dan kebudayaan tertentu membenarkan pasangan berbilang. Terdapat tiga senario yang wujud:
- Poligini yang lelaki mempunyai dua atau lebih orang isteri;
- Poliandri yang perempuan mempunyai dua atau lebih orang suami;
- Poliginandri yang terdiri daripada berbilang pasangan lelaki dan perempuan dalam sebuah perkahwinan.
- Seks kumpulan, pejolian, seks sembarangan dan hubungan bersahaja yang biasanya tidak bertujuan untuk membentuk ikatan pasangan.
Keseksualan autoerotik
Autoerotisisme, sebagaimana yang namanya
membayangkan, ialah kegiatan seks yang tidak melibatkan orang lain sebagai
pasangan. Ia boleh mengambil bentuk pelancapan, tetapi banyak jenis parafilia (amalan seks yang luar biasa) juga
serupa tidak memerlukan pasangan.
Kebanyakan
amalan autoerosisme adalah agak selamat atau selamat pada keseluruhannya.
Bagaimanapun, terdapat beberapa bentuknya yang dianggap tidak selamat. Ini
termasuk pengasfiksian
autoerotik dan perhambaan
diri. Kemungkinan
kecederaan atau juga kematian wujud semasa melakukan versi fetisy pasangan (permainan
cekik dan perhambaan) dinaikkan dengan ketara, akibat
keterasingan dan ketiadaan bantuan semasa kecemasan. Pengasfiksian autoerotik
menuntut banyak nyawa pemuda setiap tahun.
Keseksualan alternatif
Terdapat
beberapa bentuk untuk apa yang dipanggil keseksualan
alternatif. Ini
biasanya berdasarkan pilihan masing-masing, dan berbeza-beza antara apa yang
umumnya diterima atau ditoleransi, sehingga jenis yang penuh dengan perbalahan
atau haram di sisi undang-undang.
Contoh-contoh
untuk bentuk keseksualan alternatif yang kurang biasa termasuk kegiatan BDSM yang kegiatan penguasaan dan penyerahan merupakan ciri-ciri utama kegiatan
seks, serta keseksualan
haiwan yang pasangan
jangka panjang merupakan spesies yang lain.
Keseksualan paksaan dan penganiayaan
Kegiatan
seks juga boleh merangkumi penganiayaan
seks, iaitu
menyalahgunakan keseksualan atau menggunakan keseksualan secara paksaan.
Contoh-contohnya termasuk rogol, pembunuhan
nafsu berahi, penganiayaan
seks kanak-kanak, zoosadisme (penganiayaan seks haiwan), serta di
banyak negara, parafilia tanpa sepersetujuan seperti frotaj, skatofilia
telefon (panggilan
telefon yang tak senonoh), serta juga ekshibisionisme tanpa sepersetujuan dan penyakit
intai (juga dikenali
masing-masing sebagai "pendedahan
tak senonoh" dan
"pengintai")
F. Tahapan Respons Seksual
Respons terhadap rangsangan seksual banyak mengacu pada
urutan perubahan fisik dan emosi yang terjadi pada orang yang dirangsang secara
seksual dan ia turut hanyut/larut dalam aktivitas perangsangan tersebut.
Dengan mengetahui respons tubuh anda terhadap rangsangan
seksual anda dapat mengetahui lebih baik untuk mengatasi kelainan yang mungkin
timbul.
Siklus respons rangsangan seksual memiliki empat fase:
Perangsangan, Dataran tinggi (plateau),
Orgasme dan Resolusi. Pria dan wanita sama-sama akan mengalami ke-empat fase
tersebut, walaupun mungkin waktunya biasanya akan berbeda. Contohnya adalah
ketidaksamaan waktu orgasme pria dan wanita. Intensitas respon atau tanggapan
rangsangan juga akan memakan waktu yang berbeda-beda antara satu orang dengan
lainnya. Dengan mengetahui perbedaan dan kebiasaan ini, maka akan dapat
membantu pasangan pasutri untuk memahami satu sama lain.
Fase 1: Perangsangan
Secara umum karakteristiknya adalah tahap ini bisa
berlangsung dari hanya beberapa menit sampai bahkan beberapa jam, termasuk di
dalamnya:
- Meningkatnya tekanan otot-otot
- Denyut jantung yang semakin cepat dan nafas yang memburu
- Kulit yang menjadi memerah (terkadang timbul semburat merah di sekitar dada dan punggung)
- Puting yang mengeras
- Aliran darah menuju organ genital yang meningkat, yang berakibat klitoris dan labia minora (bibir vagina dalam) pada wanita menjadi basah serta penis pria menegang.
- Organ intim (vagina) wanita secara umum menjadi basah.
- Payudara menjadi tegang dan seakan-akan penuh serta organ intim wanita merekah.
- Testis pria akan mengembang dan scrotum akan penuh cairan yang siap dikeluarkan.
Fase 2: Dataran tinggi (plateau)
Karakteristiknya adalah kelanjutan dan titik sebelum
terjadinya orgasme yang ditandai dengan:
- Organ intim wanita yang semakin mengembang karena meningkatnya aliran darah serta perubahan kulit sekitar organ intim menjadi ke-ungu-an dan menjadi lebih gelap.
- Klitoris yang menjadi semakin sensitif (bahkan terkadang nyeri bila disentuh) dan terkadang kembali masuk tertutup klitoris untuk menghindari perangsangan oleh penis.
- Napas, denyut jantung dan tekanan darah yang terus meningkat
- Otot mengejang di kaki, muka dan tangan
- Tekanan otot meningkat
Fase 3: Orgasme
Orgasme adalah puncak dari siklus rangsangan seksual.
Fase ini adalah fase terpendek dan umumnya hanya berlangsung selama beberapa
detik saja. Tanda-tandanya antara lain:
- Kontraksi otot yang tak beraturan dan tidak terkontrol
- Teakan darah, denyut jantung dan nafas berada dalam kondisi puncak dengan kebutuhan oksigen yang masimal.
- Otot sekitar kaki yang mengejang penuh.
- Pelepasan yang tiba-tiba dari tekanan seksual
- Pada wanita organ intim akan berkontraksi, rahim akan terus berkontraksi.
- Pada pria, kontraksi ritmis otot pada pangkal penis akan mengakibatkan ejakulasi dan pengeluaran semen.
- Gerakan tubuh tak beraturan akan berlanjut dan keringat akan cenderung keluar dari pori-pori tubuh.
Fase 4: Resolusi
Selama fase ini, tubuh akan kembali pada kondisi normal.
Bagian-bagian tubuh yang mengembang dan pmeregang lambat laun akan kembali
normal pada ukuran dan warna semula. Tahap ini juga ditandai dengan perasaan
puas oleh pasutri, keintiman dan bahkan kelelahan.
Beberapa wanita mampu melanjutkan fase orgasme tersebut
dengan sedikit rangsangan dan inilah yang disebut sebagai multiple orgasm.
Sebaliknya pri memerlukan waktu setelah orgasme yang disebut dengan periode
refraksi, dimana pada waktu ini pria tidak akan mampu orgasme lagi. Periode
refraksi ini berlangsung berbeda-beda pada pria, biasanya semakin tua umur maka
periode refraksi ini akan berlangsung makin lama.
G.
SEKS
PADA IBU HAMIL
Hal pertama yang dibahas, apakah seks aman dilakukan pada
waktu hamil?
Yang
dimaksud aman disini tentunya adalah keamanan buat si jabang bayi karena seks
yang dilakukan pada waktu hamil tidak hanya melibatkan kedua pasangan namun
juga pihak ketiga yaitu si jabang bayi. Untuk itu, hal pertama yang harus kita
tahu adalah sudah sampai memasuki stadium mana kehamilan tersebut.
Kehamilan
yang tidak beresiko jika dilakukan hubungan seks adalah kehamilan yang
mempunyai resiko kecil untuk terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti
keguguran ataupun kelahiran prematur.
Aktivitas
seks pada masa kehamilan tidaklah menjadi sebuah keharusan, namun terkadang ibu
membutuhkan suatu fluktuasi hormonal pada waktu ia mengandung. Akan tetapi,
banyak wanita hamil yang merasa tidak nyaman dalam berhubungan seksual karena
tubuhnya yang membesar. Kebanyakan wanita kehilangan sensasi berhubungan
seksual pada saat tingkat kehamilan akhir karena sudah memasuki masa untuk
melahirkan dan persiapan menjadi orang tua baru.
Perlu
pembicaraan yang intensif mengenai cara berhubungan seks seperti berciuman,
pelukan yang tidak mengganggu, ataupun posisi yang nyaman diantara pasangan
tersebut.
Hubungan seks yang tidak aman dan pantang dilakukan
Ada
hal yang pantang dilakukan dalam hubungan seks di masa kehamilan:
- Meniup udara ke dalam vagina pada saat melakukan oral seks. Udara yang ditiupkan dapat menyebabkan terjadinya emboli udara yang berbahaya buat ibu dan si jabang bayi.
- Melakukan hubungan seks dengan pasangan yang memiliki penyakit menular seksual seperti herpes, bakterial, kutil genital ataupun positif HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit seperti ini akan berakibat fatal untuk janin.
Selain
itu, sebaiknya hubungan seks tidak dilakukan pada kehamilan resiko tinggi
seperti dibawah ini:
- Riwayat keguguran
- Riwayat premature (lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu) atau gejala yang menunjukkan terjadinya kelahiran premature seperti kontraksi uterus
- Pendarahan dalam vagina yang tidak bisa dicari penyebabnya
- Cairan amnion (cairan yang melindungi bayi dari trauma) yang kurang
- Plasenta previa (kondisi dimana plasenta menutup serviks/jalan lahir)
- Serviks yang lemah dan dilatasi premature
- Kehamilan kembar
Jika
tidak terdapat hal-hal diatas, pasangan yang membutuhkan hubungan seksual dapat
tetap melakukannya karena pada dasarnya seks pada waktu hamil tidak akan
mengganggu janin. Janin dilindungi oleh banyak barrier seperti kantong amnion
(kantong yang menampung cairan amnion dan janin), dinding yang tebal, lapisan
mukus tebal yang mampu melawan infeksi.
Pada
saat berhubungan seksual, penis akan kontak dengan janin. Orgasme tidak akan
mengganggu kehamilan karena kontraksi yang terjadi pada waktu orgasme berbeda
dengan kontraksi pada saat kelahiran. Semen mempunyai zat kimia yang mampu
menstimulasi kontraksi sehingga bisa berakibat terjadinya kehamilan premature.
Jadi, jika tidak ada pemenuhan kebutuhan seks yang mendesak sebaiknya seks
tidak dilakukan pada waktu kehamilan.
Faktor-faktor fisik yang
mempengaruhi dorongan seksual
- Kelelahan
- Morning sickness (mual dan muntah)
- Perut membesar
- Ketegangan pada alat genitalia
- Payudara tegang
- Perdarahan
Faktor-faktor emosional yang
mempengaruhi dorongan seksual :
- Takut keguguran (bayi terluka ??)
- Takut orgasme
- Takut infeksi
Tinjauanliteratur;
Hart,(1961), melaporkan 219 ibu hamil yang melahirkan normal mendapatkan :
Hart,(1961), melaporkan 219 ibu hamil yang melahirkan normal mendapatkan :
- Adanya penurunan libido,frekuensi koitus,orgasme dan lain-lain selama hamil dan nifas
- Dyspareunia lebih dari 50% pada ibu hamil pada trimester 3
- Frekuensi sex oral/anal/masturbasi tidak berubah
- Inisiasi sex meningkat sesuai umur kehamilan dibandingkan dengan sebelum hamil
- Posisi yang paling sering adalah side by –side positions
Ganem (1992) menjelaskan seksualitas
pada kehamilan dibagi dalam 4 fase.
FASE I : masa konsepsi – 12 minggu
FASE I : masa konsepsi – 12 minggu
- penurunan keinginan ok mual,muntah,lelah.
- takut akan terjadi abortus
- boleh melakukan hubungan seks sepanjang tidak ada riwayat perdarahan / komplikasi pada umur kehamilan yang sama sebelumnya
FASE II : pada umur kehamilan 12 – 32 minggu
- Disebut masa khusus(spesial time) Wanita telah beradaptasi dengan perubahan tubuhnya,dan pria sangat mendambakan segera menjadi orang tua.
- Wanita mulai menginginkan hubungan sex.
- Adanya gerakan bayi.
- Adanya sekresi vagina menghilangkan dyspaurenia.
- Karena Kehamilan, merubah posisi seks ada wanita orgasme karena hamil.
- Pria merasakan penurunan libido oleh karena “making love with mother not with women”
- Masa paling ideal untuk berhubungan seksual.
FASE III : umur kehamilan 32 – 36 minggu.
- Pada masa ini wanita hamil lebih banyak cemas.
- Fetus makin besar sehingga ada rasa tidak nyaman dipanggul,nyeri divagina, pubis dan lain-lain yang menurunkan libido.
- Pada masa ini intimasi tidak harus berhenti, bisa dengan berciuman( kissing),berpelukan ( hugging), mengusap atau memijat.
FASE IV : umur kehamilan > 36 minggu
- Masa yang sangat sensitif, kelahiran akan segera tiba,wanita akan berkonsentrasi pada proses ini fetus semakin besar dan berat, ibu merasa semakin capek dan takut libido akan menurun.
- Kongesti pelvikpostcoital pain hilang dalam waktu 48-72 jam,
- Ada kesulitan posisi, dimana pria merasakan penetrasi yang terbatas.Bisa diatasi dengan merubah posisi : rear entry positions / side by side positions.
- Coitus mencegah kehamilan lewat waktu, Semen mengandung PG, bisa diikuti dengan masage putting susu.
Apakah hubungan seks dapat mencetuskan persalinan ?
Orgasme dan semen dapat mencetuskan kontraksi terutama pada trimester ke 3
Pada wanita yang mempunyai riwayat Penyakit PPI, hindari hubungan sexual/ orgasme/manipulasi putting susu,atau gunakan kondom
Pertanyaannya adalah Bagaimana Posisi yang baik selama kehamilan ?
Beberapa posisi yang baik dianjurkan untuk kehamilan adalah :
- Women on top (she goes up)
- Side ways (down side)
- Spooning (man behind women, rear entry)
- Rear entry (dog style)
- Edge of the bed
Beberapa variasi yang bisa dicoba :
- Sitting Position
- Hands and knees position
- Side lying, knee pull up position
Women on Top.
Keuntungan :
- Kendali pada wanita
- Rangsang klitoris lebih baik
- Daya penetrasi bisa diatur
Kerugian :
- Kurang nyaman bagi pria – penetrasi tidak maksimal
- Kurang mesra – kontak tubuh kurang
SPOONING (tempel sendok).
Keuntungan :
- Kontak fisik banyak
- Penetrasi baik dan perlahan
- Nyaman bagi yang bermasalah dengan sendi panggul
Kerugian :
- Daya ungkit kurang
- Kurang bebas bergerak
Side by side.
Keuntungan :
- Kontak fisik lebih banyak
- Nyaman atasi masalah panggul
- Penetrasi kurang
Kerugian :
- Daya dorong kurang
- Kurang bebas
Rear Entry (Dog Style ).
Keuntungan :
- Paling banyak disukai
- Rangsang G-Spot paling baik
- Daya penetrasi tinggi
Kerugian :
- Nyeri lutut
- Kurang mesra – tidak berhadapan
Edge of the bed .
Keuntungan :
- Wanita lebih relaks, nyaman
- Hindari rasa lelah
Kerugian :
- Pria lebih aktif – kontrol kurang
- Terbentur sisi tempat tidur – perlu bantal penyangga
Beberapa petunjuk aman untuk berhubungan seksual :
·
Penetrasi penis yang
dalam tidak boleh membuat ibu tidak nyaman.
·
Tidak diperbolehkan
untuk vaginal douching
·
Pengertian dan empati
·
Hindari bila ada
Pecah ketuban,perdarahan,atau kontraksi rahim.
·
Pada HIV gunakankondom
Sex
dan kehamilan beresiko :
Keputusan untuk melakukan hubungan seks pada kehamilan tergantung dari:
Keputusan untuk melakukan hubungan seks pada kehamilan tergantung dari:
·
kehamilan berisiko atau tidak/jenisnya
·
kesehatan ibu dan janin
·
kebutuhan untuk bed rest
·
tipe aktifitas seksual yang biasa /diinginkan
Kehamilan
berisiko yang tidak disarankan untuk melakukan hubungan seks :
·
KPD (Ketuban pecah
Dini)
·
Riwayat penyakit
infeksi
·
Perdarahan selama
kehamilan atau ada riwayat perdarahan selama hamil
·
Plasenta previa
·
Infeksi pada
kemaluan.
Bagaimana bila pasangan pada masa pasca
persalinan (postpartum), idealnya hubungan seksual dilakukan :
Post partum ibu nifas masih merasakan : Capek,tidak nyaman,lubrikasi vagina kurang,lokia, emosional belum stabil dan lain-lain, oleh karena itu sebaiknya boleh dilakukan : 4- 6 minggu setelah bayi lahir.
Semua praktek seksual boleh saja dilakukan asalkan tidak membahayakan kehamilan dan janin nya, Perlu pengertian antar pasangan agar mendapat kenikmatan bersama (mutual pleasuring). Anal intercourse sebaiknya tidak dilakukan .Bila ingin dilakukan sebaiknya gentleness,gunakan sterile lubricant dan sebaiknya tidak ada menderita hemoroid. Menggunakan alat2 tidak direkomendasikan oleh karena risiko infeksi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
·
Kebutuhan Seks (Sex
Needs), yaitu kebutuhan pelampiasan dorongan
seksual, bagi mereka yang sudah matang fungsi biologisnya. Kebutuhan akan seks bagi manusia sudah ada sejak lahir.
Seks tergolong dalam kebutuhan primer – yang sama dengan kebutuhan: makan,
minum, mandi, berpakaian, tidur, bangun, bekerja, buang air besar, atau buang
air kecil. Kegiatan pemenuhan kebutuhan seksualitas ini dapat dilakukan dengan
berbagai perilaku dan kegiatan seksualitas dan apabila tidah terpenuhi maka akan
timbul penyimpangan seksual. .
B. Saran
·
Untuk mahasiswa
Semoga
makalah ini dapat menjadi referensi bagi mahasiswa yang ingin membuat makalah
tentang sex serta dapat menambah wawasan bagi mahasiswa
·
Untuk dosen pengajar
Bagi
dosen pengajar saya hanya ingin menyampaikan satu hal bahwa dalam memberikan
sebuah tugas tolong diberikan arahan kepada mahasiswa agar terjadi kesalahan
dalam pembuatan makalah
·
Untuk pemerintah
Dengan
dibuatnya makalah ini pemerintah sadar akan pentingnya pengetahuan seksualitas
bagi pendidikan generasi muda dan bisa membuat sebuah program pembelajaran
mengenai sex
DAFTAR PUSTAKA
Crain, W. 1992Theorist of
Development Concept and Applications. 3th ed. New York: Engle Wood Cliffs
Wahyudi,K.2000.Kesehatan Reproduksi Remaja. Lab Ilmu Kedokteran Jiwa FK UGM Jogjakarta.
Purnawan, I. 2004. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Pada Anak Jalanan di Stasiun Kereta Api Lempuyangan Jogjakarta. Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran UGM
Wahyudi,K.2000.Kesehatan Reproduksi Remaja. Lab Ilmu Kedokteran Jiwa FK UGM Jogjakarta.
Purnawan, I. 2004. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Pada Anak Jalanan di Stasiun Kereta Api Lempuyangan Jogjakarta. Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran UGM
http://sexarts.blogspot.com/2008/03/pengertian-sex-secara-sehat.html
http://yoedhasflyingdutchman.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-pasien-dengan_1094.html
Darminto Eko, 2007, Teori-Teori Konseling, Unesa University
Press, Surabaya.
Alwisol, 2009, Psikologi Kepribadian, UMM Press, Malang
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/14/terapi-realitas
http://www.drjaka.com/2010/02/banyak-pertanyaan-dari-pasangan-suami.html
http://www.drjaka.com/2010/02/banyak-pertanyaan-dari-pasangan-suami.html
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete